Senin, 30 Juli 2012

Kisah Cinta Banowati




CINTA TRAPESIUM ALA BANOWATI


Lelaki itu bernama Aswatama. Ia anak Pandita Drona. Ia punya rindu-dendam terhadap perempuan. Mengapa? Inilah kisahnya.

Syahdan, Prabu Salya raja Mandaraka mempunyai tiga orang putri. Semuanya rupawan. Ialah Erawati, Surthikanti dan Banowati. Yang paling cantik sekaligus binal namanya Banowati. Disamping cantik dan binal ia molek. Banyak lelaki melambungkan khayalan padanya. Hukum dunia telah digariskan, wanita cantik berjodoh dengan lelaki rupawan. Yang binal dapat yang jalang. Banowati juga tahu hukum dunia itu. Karenanya ia berani jatuh hati pada Arjuna, sang penengah Pandawa, lelananging jagad – pejantan dunia, lelaki paling jalang diantara yang jalang. Gayung bersambut. Playboy dunia wayang itu tidak menampik Banowati. Maka terjadilah percintaan yang membirahi.

Di tempat lain Prabu Drupada raja Panchala terluka hatinya karena ulah Pandita Drona. Drupada lantas melakukan ritual Putrakama Yadnya, ritual memohon anak, dengan tujuan anak tersebut kelak sebagai sarana untuk membunuh Drona. Lahirlah dua orang, yang lelaki diberi nama Drestajumna, yang perempuan Dropadi. Malang nian anak-anak ini, mereka dimohonkan lahir kedunia dengan ungkapan dendam.
“Wahai Drestajumna pergilah ke penjuru bumi. Timbalah ilmu dari guru-guru sakti karena kelak takdir menuntutmu untuk membunuh Drona, guru yang sombong dan tidak adil itu.”

Drestajumna menuruti ayahandanya. Ia harus kukuh sebagai mesin pembunuh. Berat rasanya menjadi calon pembunuh secara sadar sejak awal. Kenapa pula harus Drona. Guru para Pandawa sekaligus Kurawa. Tetapi ia harus patuh pada ayahnya. Ia pergi. Mempersiapkan pembunuhan yang menentukan itu.
Sebagai ayah, Drona begitu sayang pada Aswatama. Seisi dunia akan ditampiknya jika harus diganti dengan Aswatama, kebanggaannya. Drona bersumpah akan rela menyusul mati jika Aswatama mati. Sumpah itu – seperti biasa – dicatat oleh dewa, dan, seperti biasa akan dibocorkan kelak pada saatnya.

Drona memang seorang guru yang mumpuni. Tetapi ia tidak adil. Kepada Aswatama ia memberi pelajaran lebih, melebihi apa yang ia berikan kepada Pandawa dan Kurawa. Lambat namun pasti Aswatama telah menjelma menjadi paling tangkas dan sakti. Tetapi Aswatama tahu diri, ia bukan kasta ksatria, ia lebih baik tidak menonjolkan diri. Biarlah para ksatria dunia yang menonjol, ia cukup dibelakang layar saja. Toh ia bisa mengambil peran lain.

Sesungguhnya Aswatama tak luput dari pesona Banowati. Ia tergila-gila. Tetapi ia selalu diajari untuk tampil dibelakang layar. Mental seperti inilah yang menjadikan Aswatama tidak berani menyatakan cinta pada Banowati. Aswatama tahu diri, ia bukan ksatria. Aswatama menanggung pilu saat Banowati semakin dekat dengan Arjuna. Aswatama dendam, tetapi tidak berdaya. Nyatalah sudah bahwa di jaman kuno, kasta adalah segalanya.

Malam telah gelap memekat bersenggama dengan bau wangi dupa yang menaburi dingin. Suasana yang sempurna bagi insan yang menyimpan rahasia. Tetapi tidak bagi mata Aswatama. Ia bisa memahami dan memastikan, di sudut sana, pujaan hatinya tengah berdua dengan Arjuna. Saat-saat yang selalu dilanjutkan dengan percumbuan dan persetubuhan. Asawatama terluka, tetapi tidak berdaya. Oh Banowati, mengapa kau begitu hina. Tetapi…tetapi…aku cinta.

Pertentangan Pandawa dan Kurawa semakin hebat. Kedua kubu semakin aktif membangun aliansi. Pada pertemuan di Balairung Hastina, Sangkuni memberi petuah pada Doryudana.

“Wahai raja Astina memang sudah menjadi kehendak dewata jika perang bakal meletus. Perang tentu akan dimenangkan oleh pihak yang lebih kuat dan lebih banyak mendapat dukungan dari negara sahabat. 

Hendaknya sang prabu membangun persekutuan dengan cara apapun. Ada satu kerajaan yang harus segera paduka dekati karena disamping mereka kuat juga telah condong hatinya kepada Pandawa, ialah negeri Mandaraka yang dipimpin Prabu Salya.”

“Bagaimana mungkin kita bisa merebut hati Prabu Salya, sedangkan mereka bertetangga dengan Pandawa sejak jaman kuno, wahai patihku. Bukankah Salya itu juga ipar Pandu, ayah Pandawa.
Sangkuni terkekeh. Dari mulutnya yang bau kemenyan meluncurlah saran yang jitu.

“Paduka jangan berkecil hati. Prabu Salya punya tiga orang putri. Pinanglah salah satunya. Perkawinan paduka akan menyatukan dua kerajaan.” Doryudana terkesima.

Tetapi memang Balairung itu terlalu terbuka. Banyak kuping yang mendengar. Dalam tempo tidak seberapa lama setelah pertemuan itu muncul kabar, Erawati diculik oleh Baladewa untuk diperistri, sedangkan Surthikanti dilarikan Karna untuk maksud yang sama. Salya yang sombong keberatan jika Erawati diperistri oleh Baladewa, keberatan mana baru mencair setelah Salya tahu bahwa Baladewa juga raja di Mandura.
Sedangkan Surthikanti diikhlaskan menjadi milik Karna sebagai jaminan kesetiaan agar bersedia membela Kurawa saat bharatayuda. Tinggal satu yang tersisa : Banowati. Tetapi Doryudana ragu, bukankah ia telah berpacaran dengan Arjuna, musuh besarnya. Tetapi ini politik. Keraguan harus disimpan dilaci kusam.
Pinangan segera dilakukan. Salya akhirnya menerima pinangan itu karena Doryudana memberikan seserahan harta yang berlimpah. Tetapi Banowati menolak dengan cara sangat halus. Banowati menetapkan syarat yang pastinya akan ditolak oleh Doryudana. Apakah itu?

“Rama Prabu, saya akan menerima pinangan Doryudana tetapi dengan satu syarat yaitu kelak menjelang perkawinan, saya minta dalam ritual siraman dimandikan diruang tertutup.” Mendengar penuturan putrinya Salya tersenyum. Itu hal yang mudah.

“Yang memandikan adalah Arjuna.” Salya terdiam.

Itu mustahil.

Mendengar syarat itu Doryudana begitu terpukul. Harga dirinya tersinggung dahsyat. Bagaimana mungkin calon pengantinnya mandi siraman dengan Arjuna. Tetapi Patih Sangkuni segera menengahi.

“Paduka, sebaiknya syarat itu diterima saja. Kemenangan di Kurusetra jauh lebih penting dari pada persyaratan yang remeh-temeh itu. Ingatlah bahwa Paduka adalah seorang raja yang bertugas melindungi seluruh Hastina. Para Nabi dan bijak bestari pun sejak dahulu hingga kedepan senantiasa melangsungkan perkawinan politik, demi negara, ingat itu sang Prabu.”

“Tetapi bukan dengan cara seperti ini paman patih.”

“Coba Sang Prabu pikir kembali, Mandaraka punya seratus ribu prajurit. Jumlah sebanyak itu akan jatuh ketangan Pandawa manakala Banowati diperistri Arjuna. Sang Prabu harus bertindak cepat, jangan sampai Banowati terlepas seperti halnya Erawati dan Surthikanti. Toh nanti sang Prabu bisa mengambil istri lagi.” Kalimat terakhir ini diucapkan Sangkuni dengan mata berkedip-kedip.

Doryudana yang lemah itu akhirnya menuruti kata Sangkuni. Godaan kekuasaan menutupi kehormatan. Pernikahan tanpa cinta dari kedua belah pihak akhirnya dilangsungkan juga. Sejak itu, Aswatama semakin tenggelam dalam perasaannya sendiri yang tidak jelas. Sebagai pelampiasan Aswatama giat berlatih olah keprajuritan. Ia merasa akan mengambil peran menentukan dalam bharatayuda. Ia semakin tak tertandingi.
Banowati walau telah menjadi istri Doryudana tetap membuka hati, baju dan kutangnya untuk Arjuna. Ini dilakukan tidak sekali, tetapi berkali-kali, saat Doryudana bertugas menghimpun koalisi atau berburu di hutan. Dan Aswatamalah yang paling tahu tentang rahasial itu. Rasa cintanya belumlah pupus, karenanya ia selalu mengamati sang dewi, termasuk kala Arjuna menyelinap ke taman sari. Aswatama tahu, cemburu, dendam, tetapi tidak mampu. Wahai dewata, apa yang harus aku perbuat dengan kenyataan ini. Aswatama pernah melaporkan ihwal perselingkuhan itu kepada sidang kerajaan, tetapi dimentahkan oleh Salya, dikatakan bahwa Aswatama hanya cemburu dan berhalusinasi.

Sampailah saat yang mengguncang marcapada. Banowati melahirkan bayi laki-laki. Kebetulan saat itu Doryudana dan keluarga Kurawa sedang di luar kerajaan sehingga tidak melihat langsung rupa bayi yang baru dilahirkan, ia begitu mirip dengan Arjuna. Dengan cepat Banowati mengirim pesan ke Arjuna, bahwa aib dan hukuman akan menimpanya karena rupa bayi itu. Lelananging jagad itu berdoa agar diberi perlindungan. Alhasil bayi itu berubah wajah menjadi figur yang sedemikian berbeda. Bayi itu diberi nama Lesmana Mandrakumara. Sekali lagi – dalam pewayangan – saya menyaksikan dewa-dewa tanpa malu senantiasa menutupi aib para jagoannya.

Karena doa Arjuna pula bayi itu tumbuh menjadi pemuda yang idiot. Kelak dalam perang bharatayuda Lesmana Mandrakumara mati dibunuh oleh Abimanyu – putra Arjuna dengan Sumbadra.
Akhirnya Bharatayuda memasuki hari keempat belas. Kurawa menampilkan senopati tangguh, Drona. Kubu Pandawa mengalami kerusakan hebat. Siapa yang bisa menandingi kesaktian Drona? Hanya Kresna – titisan wisnu – yang sanggup membendung Drona. Tetapi Kresna sudah berjanji tidak akan turun langsung dalam kancah peperangan. Kresna diam, seperti biasa ia memohon agar dibuka rahasia langit.

“Kabarkan pada Drona bahwa Aswatama telah mati. Berbohonglah karena ini siasat perang.”

“Aswatama mati! Aswatama mati!.” Kurusetra gempar, Drona terguncang. Drona melolong bagai anjing mencium arwah.

“Wahai manusia benarkah Aswatama anakku sudah mati?” Teriakan itu begitu nyaring. “Dimanakah dikau wahai Aswatama putra terkasihku?” Tidak ada jawaban. Berulang-ulang tetap tidak ada jawaban. Akhirnya Drona terpaksa menemui Pandawa, pribadi-pribadi yang dikenalnya jujur. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa semua mengatakan Aswatama telah mati sesuai pesan Kresna. Drona melolong perih. Ia lebih baik mati saja menyusul Aswatama sesuai sumpahnya. Tetapi Drona tidak lantas percaya sebelum menyaksikan sendiri jasad putranya.

“Dimana Yudistira? Aku harus menanyakan padanya karena ia paling jujur di muka bumi.”

Yudistira sengaja bersembunyi menghindari pertanyaan Drona. Walau ini strategi perang ia tetap tidak mau berbohong. Apapun yang terjadi ia harus jujur. Itu sudah darmanya. Kresna memahami, cepat atau lambat Drona akan menemukan Yudistira dan akan terbongkarlah rahasia itu, bahwa Aswatama memang belum mati. Ditemuinya Yudistira.

“Wahai putra Pandu, katakan pada Drona bahwa Aswatama telah mati.”

“Tidak kakang, bagaimana dunia menilaiku kelak jika aku harus berbohong.”

Kresna memahami bahwa Yudistira bukan pribadi yang bisa ditawar. Dengan perhitungan yang luar biasa Kresna membawa seekor gajah yang langsung dibawa kehadapan Yudistira.

“Ketahuilah gajah ini aku beri nama Aswatama.”

Lalu gajah itu dibunuhnya.

“Lihatlah Gajah Aswatama telah mati. Jika kau ditanya Drona, ceritakan bahwa Gajah Aswatama telah mati. Namun pada saat dinda mengucapkan kata “Gajah” hendaknya dipelankan sehingga kuping tua Drona hanya mendengar Aswatama telah mati.”

Sejurus kemudian Drona datang.

“Wahai Yudistira, benarkah Aswatama telah mati?”

“Benar, (Gajah) Aswatama telah mati.” Pengucapan gajah begitu pelan sehingga Drona yakin bahwa Yudistira, sang manusia jujur, telah menjadi saksi kematian Aswatama.

Drona menjerit. Ia tidak lagi menghiraukan statusnya sebagai senopati, ia berlari sambil berteriak seperti orang gila. Kresna menyimpulkan inilah saat yang tepat untuk membunuh Drona. Saat kewaspadaan telah menguap dari raganya. Saat Aswatama sejati belum muncul di medan perang. Tetapi siapa yang sanggup membunuhnya? Drona tetap berbahaya. Tidak ada yang berani menyongsong tubuh yang terus melolong itu dari arah depan.

“Panggil Drestajumna”, titah Kresna pasti.

Dilangit tinggi puluhan gagak melayang kesana-kemari. Suaranya yang buruk membuat gigil pendengarnya. Drestajumna, mesin pembunuh itu, telah menunggu peran dan takdirnya. Sebagai mesin pembunuh ia merasa tidak terikat darma dan hukum perang. Tanpa perasaan Drona yang tengah kalang kabut ditebasnya dari belakang. Perlahan tubuh itu tumbang. Semua terdiam. Kurusetra terkesima. Babak baru akan terjadi.
Dengan cepat senja sore mengundurkan diri berganti malam layu yang sendu. Yudistira menunduk pilu. Di langit tinggi para dewa pura-pura tidak tahu.
Kehilangan benteng terbaiknya Kurawa akhirnya kalah.

**********

Cinta berbirahi memang tidak mengenal malu. Begitu perang usai, Banowati – permaisuri Doryudana – menyeberang ke kubu Pandawa dan diperistri oleh Arjuna. Aswatama yang luput dari maut karena bukan termasuk figur yang diincar menyimpan dendam kesumat pada Pandawa yang telah membunuh ayahnya secara licik. Ia merencanakan balas dendam dengan cara membunuh bayi Parikesit, cucu Arjuna. Dengan terbunuhnya Parikesit dipastikan klan Bharata akan punah dan menjadikan kemenangan Pandawa tidak berarti lagi.

Bersama Kartamarma, sahabatnya, ia menggali lubang di tanah, meniru landak, menembus benteng Pandawa. Saat Aswatama muncul ditengah Benteng alangkah terkejutnya ia tatkala matanya bersirobok dengan tubuh cantik yang dikenalnya, Banowati. Karena hendak menjerit disongsongnya tubuh Banowati dengan keris. Wanita pujaannya itu meregang nyawa dalam pelukannya. Aswatama menyadari betul ia masih mencintai wanita itu. Ia peluk erat tubuh yang nyaris kehilangan denyut itu. Ini pelukan yang pertama sekaligus terakhir. Pelukan kematian, pelukan yang susah untuk ditafsirkan. “Banowati, mengapa harus seperti ini?”

Terjadi kegaduhan didalam benteng, rupanya Kartamarma telah ketahuan pihak musuh. Aswatama segera berkelebat cepat. Dalam sedih dan guncang ia tetaplah anak Drona.

Akhirnya Aswatama menemukan kamar Parikesit. Tanpa pikir panjang ia serbu bayi itu dengan hujaman keris. Kurang beberapa langkah, bayi yang terkejut itu menyepak senjata pasopati yang dipersiapkan di kakinya, meluncur deras menghantam dada Aswatama. Dalam regangan nyawa Aswatama berucap lirih, “tunggu aku Banowati.”

-Margono Dwi Susilo-

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Minggu, 29 Juli 2012

Arya Udawa

 Arya Udawa merupakan putra Prabu Basudewa, dan menjadi patih di Dwarawati, yaitu patihnya Prabu Krisna. Patih Udawa berasal dari Widara kandang, dia adalah anak prabu Basudewa dengan nyai Sagopi yang pernikahanya dirahasiakan. Karena nyai Sagopi dulu adalah penari kraton yang sangat cantik parasnya, dan secara diam-diam prabu Basudewa menaruh hati padanya (nyai Sagopi). Alhasil dengan hubungan secara diam-diam tersebut, Nyai Sagopi melahirkan seorang putra yang diberi nama Udawa. Akan tetapi waktu Udawa masih dalam kandungan, ibundanya Nyai Segopi diserahkan kepada Antagopa, dan Udawa terlahir sebagai anak dari Antagopa.

Sejak kecil Udawa sudah berkumpul dengan saudara-saudaranya, yaitu Kakrasana, Narayana dan Roroireng. Sejak kecil sampai dewasa Udawa sering mengikuti kemanapun Narayana (Kresna) pergi, mulai dari Narayana bertapa hingga sampai Narayana diangkat menjadi raja di Dwarawati. Karena kesetianya, maka Udawa diangkat menjadi patih di Dwarawati. Patih Udawa tergolong juga patih yang sakti, jujur, dan selalu mentaati perintah rajanya.

==================================================

Udawa adalah putra dari nyai Segopi. Adalah rahasia besar kerajaan Mandura pada masa prabu Basudewa. Rahasia yang menyatakan bahwa Udawa adalah putra raja Mandura, Basudewa dengan nyai Segopi. Seorang abdi dalem yang berwajah cantik itu telah membuat sang raja terpesona dan jatuh cinta padanya. Hingga suatu hari akhirnya terjadi lah peristiwa yang akhirnya menyebabkan Nyai Segopi mengandung dan melahirkan anak laki – laki yang tampan. Oleh prabu Basudewa diberi nama Udawa dan di beri pusaka kyai Gondo Ludiro, pusaka berwujud keris ligan. Kemudian Nyai Segopi dan bayinya akhirnya di berikan kepada Demang Sagopa atau Antyagopa di Widarakandang.

Pada saat masih muda, Udawa selalu bersama Narayana (Kresna muda) yang saat itu bersama kakaknya, Kakrasana dan adiknya Bratajaya juga diasuh oleh demang Antyagopa. Kemana saja Narayana pergi, Udawa selalu mengikutinya.

Sampai pada saat Narayana berguru kepada Begawan Padmanaba, Udawa pun ikut berguru. Sehingga saat setelah Begawan Padmanaba yang merupakan jelmaan bathara Wisnu memberikan cakra dan wijaya kusuma lalu bersatu dengan Narayana. Narayana kemudian berkata pada Udawa, bahwa suatu saat jika dia menjadi raja, maka Udawa lah yang berhak menjadi patihnya.

Sabda itupun terjadi, setelah berhasil mengalahkan prabu Yudakalakresna dari kerajaan Dwarakawestri atau Dwarawati, Narayana pun menjadi raja di Dwarawati bergelar sri Kresna, dan patihnya tidak lain adalah Udawa.

Setelah resmi menjadi patih di Dwarawati, saat itu Udawa berkeinginan untuk membebaskan bumi Widarakandang dari Negara Mandura, yang saat itu rajanya adalah saudara seayah, prabu Balarama atau Baladewa. Namun keinginan itu membuat prabu Baladewa marah besar karena merasa Udawa akan memberontak. Puncaknya, terjadi pertempuran sengit antara Prabu Baladewa dan patih Udawa yang menginginkan kemerdekaan bumi Widarakandang. Keduanya sama – sama sakti dan tidak ada yang menang dan kalah. Akhirnya Baladewa mengeluarkan senjata pamungkasnya, tombak Nenggala dan Udawa mengeluarkan pusaka warisan ayahnya, keris kyai Gondo Ludiro. Saat kedua pusaka tersebut bertabrakan timbullah api yang sangat dasyat dan menimbulkan Goro – Goro di kahyangan Suralaya. Hyang Narada pun akhirnya menuju ke alam kaswargan mencari sukma Basudewa agar melerai mereka dan menjelaskan semuanya.

Akhirya keduanya pun dilerai oleh sukma Basudewa. Dan Basudewa pun menjelaskan pada Baladewa bahwa bumi Widarakandang sudah di bebaskan dan dimerdekakan sepenuhnya dan di bawah kekuasaan demang Antyagopa waktu itu. Karena sekarang Udawa yang mewarisi, berarti Udawa berhak atas bumi Widarakandang dan bumi Widarakandang bebas serta menjadi bumi merdeka. Baladewa pun akhirnya mau menerima. Dan atas permintaan Basudewa pula lah tombak Nenggala dipotong sedikit pegangannya untuk dijadikan pegangan keris Gondo Ludiro. Setelah semua selesai sukma Basudewa kembali ke kahyangan dan Udawa pun akhirnya berhasil menjadikan bumi Widarakandang sebagai bumi merdeka dan menjadikannya sebagai kepatihan Dwarawati.

Udawa sosok patih yang setia kepada rajanya. Saat lakon Gendreh Kemasan. Udawa berperang dengan prabu Baladewa karena Baladewa terkena fitnah patih Sengkuni, Udawa akhirnya tertembus Nenggala karena kerisnya berhasil direbut oleh Baladewa. Dia tidak mati, dia terus merangkak dan menjauh dari Dwarawati. Tekadnya tidak akan mati sebelum dia bertemu dengan Sri Kresna yang saat itu menghilang dari kerajaan. Akhirnya Udawa mati didepan prabu Kala Supadma jelmaan Sri Kresna. Melihat kesetiaannya itulah, Akhirnya Udawa dihidupkan kembali.

Begitu juga saat Sri Kresna bertapa tidur di Sumur Jalatunda, tepatnya di bale Makambang. Bersama adiknya yang menjadi Senopati Dwarawati, Setyaki dan putra Sri Kresna, Setyaka dia menjaga ketentraman disana. Tidak lama setelah itu datanglah Anoman dan Gathotkaca membantu menjaga ketentraman disana. Udawa lah yang bisa menaklukan Baladewa yang sedang marah – marah dan ingin sekali membangunkan Sri Kresna.

Begitulah Sosok patih Udawa yang tegas, setia dan pantas di contoh. Sebagai patih atau wakil dari raja. Kesetiannya kepada raja sejak masih muda, belum menjadi raja sampai usai perang bharatayuda. 

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Arya Setyaki


 Raden Setyaki putera Prabu Setyajid di Lesanpura, ia juga bernama Wresniwira karena merupakan putra Dewi Wresni, dan disebut juga kesatria Lesanpura. Walaupun Setyaki adalah putra mahkota yang akan menggantikan ayahandanya untuk memerintah di Lesanpura, tetapi ia memilih untuk pergi meninggalkan negerinya dan mengikuti iparnya, Prabu Kresna di Dwarawati, yang merupakan seorang titisan Betara Wisnu.
Di negeri Dwarawati Setyaki dianggap sebagai pahlawan, dan karena kesaktiannya, ia mendapat julukan Bimakunting, artinya Sang Bima (Bratasena) yang kerdil.

===================================================

Versi Wikipedia

 Kelahiran

Versi pewayangan Jawa mengisahkan ketika Warsini mengandung, ia mengidam ingin bertamasya menunggang macan putih. Satyajit mendatangkan para keponakannya, yaitu Kresna, Baladewa dan para Pandawa untuk ikut membantu. Ternyata yang berhasil menangkap macan putih idaman Warsini adalah Kresna.

Namun, macan putih tersebut penjelmaan Singamulangjaya, patih Kerajaan Swalabumi yang diutus rajanya, yaitu Prabu Satyasa untuk menculik Warsini. Singamulangjaya segera membawa Warsini kabur begitu naik ke punggungnya.

Kresna yang dicurigai Satyajit segera mengejar Singamulangjaya. Di tengah jalan, Singamulangjaya mencoba mengeluarkan isi kandungan Warsini. Lahirlah seorang bayi yang bukannya mati, namun justru bertambah besar setelah dihajar Singamulangjaya. Akhirnya, bayi tersebut berubah menjadi pemuda dan membunuh Singamulangjaya. Arwah Singamulangjaya bersatu ke dalam diri pemuda itu.

Warsini memberi nama putranya yang sudah dewasa dalam waktu singkat itu dengan nama Satyaki. Kresna pun menemukan mereka berdua. Bersama mereka menyerang dan membunuh Satyasa sebagai sumber masalah. Satyaki kemudian menduduki Kerajaan Swalabumi sebagai daerah kekuasaannya

Sayembara untuk Satyaboma

Dalam pewayangan Jawa dikisahkan Satyaboma dilamar oleh Drona dengan dukungan para Korawa. Tujuan lamaran ini hanya sekadar untuk menjadikan Kerajaan Lesanpura sebagai sekutu Kerajaan Hastina. Satyaki segera mengumumkan sayembara bahwa jika ingin menikahi kakaknya harus bisa mengalahkan dirinya terlebih dulu.

Satu per satu para Korawa maju namun tidak ada yang mampu mengalahkan Satyaki. Bahkan, Drona sekalipun dikalahkannya. Arjuna selaku murid Drona maju atas nama gurunya. Satyaki yang gentar meminta bantuan Kresna. Maka, Kresna pun meminjamkan Kembang Wijayakusuma kepada Satyaki.

Dengan berbekal bunga pusaka milik Kresna, Satyaki dapat menahan serangan Arjuna, bahkan berhasil mengalahkan Pandawa nomor tiga tersebut. Ternyata Kresna juga melamar Satyaboma untuk dirinya sendiri. Dalam pertarungan adu kesaktian, Kresna berhasil mengalahkan Satyaki dan mempersunting Satyaboma.

Dari perkawinan antara Kresna dan Satyaboma lahir seorang putra bernama Satyaka.

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Kamis, 26 Juli 2012

Perkawinan Arjuna dengan Rarasati

 Prabu Duryodana dihadap oleh Patih Sangkuni, Dursasana, Kartamarma, Durmagati, Citraksa, Citraksi dan Jayadrata. Raja membicarakan berita sayembara di negara Mandura. Raja ingin mengikuti sayembara untuk mendapatkan Rarasati. Para keluarga Korawa diminta siap-siap. Raja minta doa restu kepada Prabu Dhestarastra, Prabu Dhestarastra merestuinya. Patih Sengkuni diminta mengawalnya.

Raja Raksasa di negara Selamiring bernama Prabu Kala Handayaningrat bercerita kepada Patih Kala Sakipu. Raja bermimpi bertemu dengan Rarasati, putri Widarakandhang, daerah negara Mandura. Prabu Kala Handayaningrat menyuruh tiga raksasa untuk melamar Rarasati ke Widarakandhang.

Begawan Abyasa di Wukir Retawu dihadap oleh Arjuna. Sang bagawan minta agar Arjuna pergi ke Mandura mengikuti sayembara. Arjuna meninggalkan pertapaan bersama punakawan.

Prabu Baladewa dihadap oleh Patih Pragota dan Patih Prabawa. Mereka membicarakan rencana Udawa yang mengadakan sayembara. Prabu Baladewa mencemaskan kesaktian Udawa. Patih Pragota dan Patih Prabawa disuruh menguji kesaktian Udawa. Dua Patih dan Prabu Baladewa pergi ke Widarakandhang.

Narayana dihadap oleh Antagopa, Udawa, Dyah Rara Ireng dan Dyah Rarasati. Narayana bertanya maksud Udawa mengadakan sayembara. Udawa menjawab, karena banyak kesatria yang melamar Rarasati. Sayembara dimaksud untuk memperoleh calon suami Rarasati yang sakti. Narayana menyetujuinya.

Patih Pragota dan Patih Prbawa datang, menghalang-halangi keinginan Udawa.

Udawa tidak menghiraukan saran Patih Pragota dan Prabawa, lalu terjadi perkelahian. Dua patih tidak mampu melawan dan akhirnya menyerah kalah. Prabu Baladewa menyetujui rencana Udawa.

Perajurit Korawa bersiap-siap diperbatasan negara Mandura. Jayadrata dan Kartamarma disuruh datang melamar ke Widarakandhang. Mereka menemui Udawa. Udawa menerima lamaran Doryudana, tetapi harus ikut dalam sayembara. Kartamarma marah, Udawa diajak berkelahi. Udawa diserang oleh Kartamarma dan Jayadrata. Kartamarma dan Jayadrata diadu kepalanya, lalu dibuang jauh. Doryudana mengetahui lalu menyerang Udawa dengan membawa gada. Dursasana mengikutinya. Terjadilah perkelahian seru. Duryodana tidak mampu melawan, Sengkuni mengajak lari, kembali ke negara.

Prabu Handayaningrat menerima laporan dari Togog, bahwa utusan raja mati oleh Arjuna. Raja mengajak Patih Sakipu untuk bersiap-siap pergi menyerang kerajaan Mandura

Arjuna dan panakawan tiba di daerah Mandura, lalu menuju ke Widarakandhang. Arjuna bertemu Narayana, ditanya maksud kedatangannya. Arjuna menjawab, bahwa kedatangannya atas perintah Begawan Abyasa untuk mengikuti sayembara. Narayana setuju sekali bila Rarasati diperisteri Arjuna. Udawa dan Rarasati dipanggil, diberitahu maksud kedatangan Arjuna. Udawa menyetujui, tetapi harus mengalahkan dirinya. Arjuna diminta hadir di gelanggang. Terjadilah perkelahian hebat. Udawa tidak mampu melawan kesaktian Arjuna, Rarasati diserahkan kepada Arjuna.

Yudisthira, Wrekodara, Nakula dan Sadewa datang di Widarakandhang, Prabu Baladewa dan Narayana cepat menyongsongnya. Dyah Bratajaya dan Dyah Rarasati mempersiapkan jamuan.

Prabu Handayaningrat datang menyerang kerajaan Mandura. Prabu Baladewa dan Wrekodara menyongsong kedatangan musuh. Terjadilah perang dahsyat. Prabu Baladewa berhasil membunuh raja raksasa, sedang Wrekodara berhasil mengalahkan semua perajurit raksasa.

Prabu Baladewa, Narayana dan keluarga Pandhawa berkumpul di Mandura, merayakan pesta perkawinan Arjuna dan Rarasati.

R.S. Subalidinata.
Mangkunagara VII Jilid XVIII, 1932:8-14

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Rabu, 25 Juli 2012

Antasena


Raden Antasena adalah putra Arya Wekudara yang ketiga dengan Dewi Urangayu, putri Sanghyang Baruna, dewi ikan yang berkedudukan di Kisiknarmada. Pertemuan Bima dengan Dewi Urangayu terjadi ketika Resi Druna menguji siswanya di perguruan Sokalima. Saat itu Werkudara diadu dengan duryudana, karena kalah dalam menggunakan gada, Duryudana sakit hati. Ia menyuruh Dursasana agar melenyapkan Werkudara.

Dursasana pura-pura mengadakan pesta memeriahkan pendadaran siswa Sokalima tadi. Dalam pesta itu Werkudara memeriahkan pendadaran siswa Sokalima tadi. Dalam pesta itu Werkudara diajak minum tuak. Karena terlalu banyak minum, Aryaa Sena mabuk dan jatuh pingsan. Dalam keadaan pingsan itulah tubuh Sena diikat lalu diceburkan ke dalam sungai Jamuna. Tubuh Bima hanyut hingga ke Kisik narmada (pertemuan sungai Jamuna dan sungai Gangga). ia ditolong oleh Batara Baruna dan disembuhkan dengan air Rasakunda. Akhirnya Arya Bima dijodohkan dengan putrinya Dewi Urangayu adik Urang Rayung yang menjadi istri Anoman dan berputera Trigangga. Perkawinan Bima dengan Dewi Urangayu inilah akhirnya Arya Sena berputera Raden Antasena, berkedudukan di Kisik Narmada ikut kakeknya.

Bersamaan lahirnya Antasena, kahyangan Suralaya sedang digempur angkatan dari Girikadasar di bawah kekuasaan raja Kalalodra. namun raja raksasa berwajah ikan itu dapat dibinasakan oleh Antasena yang saat itu masih bocah. Dengan keberhasilan menumpas musuh dewa tersebut, Resi Mintuna (kakek Antasena) diangkat menjadi dewa menguasai ikan dengan gelar Batara Baruna.

Ketika Resi Bisma menyelenggarakan perlombaan membuat sungai menuju bengawan Gangga, Kurawa dan Pandawa saling berlomba. Werkudara dibantu pasukan dari Kisik Narmada yang dipimpin oleh Antasena berhasil membuat sungai yang kemudian oleh Bisma diberi nama Sungai Serayu. Kurawa hanya mampu membuat sungai yang tembus ke kali Serayu, maka sungai itu dinamakan Kelawing atau terbalik. Nama Kelawing dalam pedalangan disebut Kali Cingcinggoling.

Ketika usai perlombaan, Kurawa yang sakit hati kembali berusaha ingin membinasakn Pandawa. Ia bersekutu dengan raja Girisamodra Prabu Gangga Trimuka. Atas bujuk Sengkuni, Gangga Trimuka akan menguasai Tribuwana jika dapat membunuh padanwa sebagai tumbalnya. Prabu Gangga Trimuka kemudian menangkap Pandawa dan dipenjara ke dalam gedung kaca bernama Kongedah, sehingga Pandawa mati lemas di dalam penjara gedung kaca tadi.

Mengetahui Pnadawa dipenjara, Antasena melabrak raja Girisamodra. Prabu Gangga Trimuka dibinasakan dengan belai upas (sungut upas Jw.) dan Pandawa dikeluarkan dari Kongedah. Melihat kondisi Pandawa mati lemas, Antasena segera menghidupkan kembali dengan air kehidupan Madusena. Atas kemufakatan Pandawa, negara Girisamodra kemudian diserahkan kepada Antasena.

Tidak berbeda dengan Antareja, kakaknya. Antasena juga memiliki sisik pada kulitnya yang berfungsi untuk menangkal senjata tajam. Keduanya juga dapat membenamkan diri ke dalam tanah dan tak akan mati jika tubuhnya masih menyinggung air ataupun tanah. Dalam pedalangan, Antasena kawin dengan Dewi Manuwati, putri Arjuna dan Dewi manuhara.

sumber : http://forum.detik.com/wayang-raden-antasena-t961.html


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Gatotkaca Lahir

 Setelah sekian lama ditunggu-tunggu akhirnya Dewi Arimbi mengandung anak dari Bima. Seluruh rakyat Pringgandani sangat bersukacita, dikarenakan anak ini akan menjadi generasi penerus sebagai Raja di Pringgandani bila Dewi Arimbi sudah tiada.

Saat itu seluruh putra Pandawa disertai Sri Batara Kresna tidak ketinggalan seluruh punakawan Semar, Astrajingga, Dawal dan Gareng berkumpul di Istana Pringgandani, merka sedang berkumpul menunggu saat kelahiran sang putra Bima. Tidak lama berselang terdengar tangisan bayi menggelegar menggentarkan seantero Pringgandani, seluruhnya yang berada di bangsal menarik nafas panjang. Sesaat kemudian ada emban yang menghaturkan berita bahwasanya sang putra mahkota laki-laki telah lahir dalam keadaan sehat begitu juga dengan kondisi sang ibu. Mendengar hal tersebut bertambahlah kebahagian semuanya, satu persatu dari mereka memberikan selamat kepada Raden Aria Werkudara alias Bima atas kelahiran putrannya.

Beberapa waktu kemudian mereka bisa masuk menjenguk kedalam kamar, disana terlihat Dewi Arimbi sedang berbaring diatas ranjang berhiaskan emas permata beralaskan sutera berwarna biru terlihat senang dengan senyum mengembang dibibirnya menyambut kedatangan Bima diiringi oleh seluruh kadang wargi (saudara). Tidak jauh dari tempatnya berbaring terlihat sebuah tempat tidur yang lebih kecil, diatasnya tergolek seorang bayi laki-laki sangat gagah dan tampat layaknya ksatria trah dewa, hanya saja ari-ari dari bayi tersebut masih menempel belum diputus. Ketika hal tersebut ditanyakan emban menjawab bahwa seluruh upaya untuk memotong tali ari-ari tersebut selalu gagal. Tidak ada satu senjatapun yang berhasil memotongnya.

Mendengar hal tersebut Bima sangat gusar dan meminta tolong kepada saudara-saudaranya untuk memotong tali ari-ari anaknya yang diberinama Jabang Tutuka. Bima mencoba memotong dengan kuku pancana gagal, diikuti oleh Arjuna mencoba menggunakan seluruh senjatanya diawali dengan keris Pancaroba, keris Kalandah, panah Sarotama bahkan panah Pasopati semuanya gagal. Sri Batara Kresna yang saat itu hadir mencoba dengan senjata saktinya Cakra Udaksana, hanya menghasilkan percikan-percikan api ketika dicoba memotong tali ari-ari itu. Semuanya terbengong-bengong merasa takjub dan heran disertai rasa putus asa, Dewi Arimbi hanya bisa menangis melihat hal tersebut dirundung rasa khawatir jika anaknya harus membawa tali ari-ari hingga dewasa. Ditengah suasana tersebut tanpa diketahui sebelumnya Begawan Abiyasa yang tak lain kakek dari para Pandawa atau buyut dari Jabang Tutuka telah hadir ditempat tersebut, semua yang hadir memberikan sembah sungkem kepadanya. Begawan yang sakti mandraguna ini mengatakan bahwa tali ari-ari itu hanya akan bisa dipotong oleh senjata kadewatan yang berasal dari Batar Guru. Untuk itu Sang Begawan meminta Arjuna untuk pergi ke Kahyangan mencari senjata tersebut. Setelah mendapat perintah dari kakeknya dan meminta ijin kepada saudara-saudaranya Arjuna disertai oelh para punakawan segera menuju Kahyangan untuk mencari senjata yang dimaksud oleh Begawan Abiyasa, sedangkan Sang Begawan sendiri bergegas pulang kembali ke Padepokan setelah memberikan do’a serta merapal beberapa mantra untuk buyut / cicitnya tersebut.

Nun jauh di Kahyangan sana keadaan sedang gonjang-ganjing dikarenakan serangan dari Naga Percona yang ingin memperistri salah satu bidadari yang bernama Dewi Supraba. Dikarenakan Naga Percona bukan sembarang makhluk, dia adalah raja yang mempunyai kesaktian mumpuni dan bisa dikatakan sama bahkan sedikit diatas diatas para dewa, jelas sangat merepotkan barisan dewa-dewa yang dipimpin oleh Batara Indra dalam menghadapi nya. Serangan petir Batara Indra tidak ubahnya lemparan daun-daun kering dari anak-anak, kobaran api Batara Brahma hanya menjadi menjadi mainan saja. Batara Bayu yang mendoronganya dengan badai besar tidak membutnya mundur walaupun seujung kuku, bahkan badannya tidak goyang sedikitpun. Cakra Udaksana dari Batar Wisnu sama sekali tidak mencenderainya, singkatnya para dewa dipukul mundur dengan kondisi babak-belur.

Batara Guru merapal mantra dan melihat Kaca Trenggana, diperoleh keterangan bahwa yang bisa mengalahkan Naga Percona hanyalah Jabang Tutuka anak Bima yang baru lahir. Selanjutnya Batara Guru memerintahkan Batara Narada untuk memberikan senjata darinya yang bernama panah Konta Wijayadanu kepada Arjuna untuk memotong ari-ari Jabang Tutuka dengan imbalan bayi tersebut harus menjadi panglima perang mengahadapi Naga Percona. Disaat yang bersamaan Aradeya atau Karna sedang bertapa di tepi Sungai Gangga mencari senjata sakti untuk dirinya, pada saat Batara Narada mendekati tempat tersebut hatinya senang karena Aradeya ini disangkanya Arjuna, karena rupanya benar-benar mirip dan Batara Surya yang merupakan ayah dari Aradeya sengaja mengeluarkan sinar berkilauan disekitar Aradeya sehingga Batara Narada tidak terlalu jelas melihatnya, sehingga tidak sadar bahwa orang yang diserahi senjata tersebut bukanlah Arjuna.

Setelah mendapatkan senjata sakti kadewatan Aradeya sangat gembira dan langsung berlari tanpa mengucapkan terima kasih kepada Batara Narada, hal itu membuat Batara Narada tersadar bahwa dia salah orang, tidak lama kemudian Arjuan disertai oleh para Punakawan datang ketempat tersebut, dengan sedih Batara Narada bercerita bahwa dirinya telah salah orang menyerahkan senjata kadewatan yang seharusnya diserahkan kepada Jabang Tutuka lewat tangan Arjuna, malah diserahkan kepada orang yang tidak dikenal dan mempunyai rupa mirip dengan Arjuna. Mendengar hal tersebut Semar sangat menyalahkan Batara Narada karena gegabah menyerahkan senjata sakti kepada orang asing, serta segera meminta Arjuna mengejar orang tersebut.

Arjuna berlari dan berhasil menyusul Aradeya, awalnya senjata tersebut diminta baik-baik dan dikatakan akan digunakan olehnya untuk memotong tali ari-ari keponakannya. Aradeya tidak menggubrisnya akhirnya terjadi perang-tanding memperebutkan senjata tersebut, sampai suatu ketika Arjuna berhasil memegang sarung senjata tersebut sedangkan Aradeya memegang gagang panah Konta Waijayadanu. Mereka saling tarik dan akhirnya terjerembab dikarenakan senjata Konta lepas dari warangka / sarungnya. Kemudian Aradeya berlari kembali dan kali ini Arjuna kehilangan jejak.

Dengan sedih hati Arjuna menunjukkan warangka senjata Konta kepada Semar, kemudian atas saran Semar mereka kembali ke Pringgandani sedangkan Batara Narad disuruh pulang ke Kahyangan dan dikatakan bahwa Jabang Tutuka akan segera dibawa ke Kahyangan. Sesampainya di Keraton Pringgandani warangka tersebut digunakan untuk memotong tali ari-ari Jabang Tutuka, ajaib sekali tali ari-ari putus sedangkan warangka senajata kadewatan itu masuk kedalam udel Jabang Tutuka. Hal ini menurut Semar sudah menjadi suratan bahwa nanti diakhir cerita peperangan besar / Bharata Yuda senjata itu akan masuk kembali kewarangkanya, dengan kata lain Jabang Tutuka akan mati jika menghadapi senjata Konta Wijayadanu.

Setelah tali ari-ari berhasil dipotong Arjuna hendak membawa Jabang Tutuka ke Kahyangan untuk memenuhi janji kepada Batara Narada, bahwa Jabang Tutuka akan menjadi panglima perang dan menghadapi Naga Percona. Awalnya Bima melarang karena anaknya masih bayi dan dirinya sanggup untuk menggantikan melawan Naga Percona. Setelah Semar berkata bahwa Jabang Tutukalah yang harus berangkat karena dia yang dipercaya oleh dewa dan Jabang Tutuka pula yang telah menggunakan senjata kadewatan bukan yang lain. Disamping itu Semar menjamin jika terjadi suatu hal yang menyebabkan Jabang Tutuka celaka, Semar berani menaruhkan nyawanya kepada Bima. Mendengar hal tersebut dari Semar, Bima yang mempunyai pandangan linuwih dan menyadari siapa sesungguhnya Semar ini, akhirnya mengijinkan putra berperang melawan Naga Percona.

Arjuna disertai par Punakawan segera membawa Jabang Tutuka ke Kahyangan, setelah mendekati gerbanga Selapa Tangkep tepatnya di Tegal Ramat Kapanasan Arjuna meletakkan Jabang Tutuka ditengah jalan menuju gerbang. Selanjutnya Arjuna memperhatikan dari jauh bersama dengan para dewa, tak lama berselang Naga Percona datang dan melihat ada bayi ditengah jalan. Dia meledek Batara Guru yang dikatakannya sudah gila karena menyuruhnya bertarung dengan bayi yang hanya bisa menangis. Kemudia dia mengangkat Jabang Tutuka dan mendekatkan wajahnya ke wajah bayi tersebut, tidak disangkan tangan Jabang Tutuka mengayun dan berhasil meluaki satu matanya sehingga berdarah. Kontan Naga Percona marah dan membanting Jabang Tutuk kea rah pintu gerba hingga mati. Melihat hal tersebut para dewa tak terkecuali Batar Guru, Batara Narada dan Arjuna kaget dan was-was jika Bima sampai tahu anaknya mati oleh Naga Percona pasti akan mengamu ke Kahyangan. Hanya saja Semar dengan cepat berbisik ke Batara Guru untuk segera menggodok Jabang Tutuka di Kawah Candradimuka, Batara Guru segera memerintahkan Batara Yamadipati untuk segera membawa tubuh Jabang Tutuka ke Kawah Candradimuka dan menggodoknya. Selanjutnya para dewa disuruhnya melemparkan / mencampurkan senajata yang dimilikinya untuk membentuk tuduh Jabang Tutuka lebih kuat, lama-kelamaan terbentuklah tubuh satria gagah dari dalam godogan tersebut. Kemudian para dewa membirkannya pakaian dan perhiasan untuk Jabang Tutuka yang baru tersebut, selanjutnya diakarenakan dia mati belum waktunya berhasil dihidupkan kembali oleh Batar Guru.

Selain mendapat anugerah berupa pakaian, perhiasan dan senjata yang sudah membentuk tubuhnya Jabang Tutuka juga memperoleh beberanama dari para dewa diantaranya : Krincing Wesi, Kaca Negara, Purabaya, Kancing Jaya, Arimbi Suta, Bima Putra dan Gatotkaca. Nama terakhir inilah yang kemudian digunakan dalam dunia pewayangan. Dengan tampilan yang sangat beda dari sebelumnya Jabang Tutuka yang menggunakan nama baru Gatotkaca bertempur kembali dengan Naga Percona, dan akhirnya behasil merobek mulut dan tubuh Naga Percona menjadi dua bagian. Itulah akhir dari hidupnya Naga Percona yang membawa kedamaian di Kahyangan, sekaligus menjadi awal kepahlawanan Gatotkaca sang putra Bima.

sumber : http://joher-caritawayang.blogspot.com/2009/06/gatotkaca-lahir.html

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Selasa, 24 Juli 2012

Kelahiran Antareja



 Prabu Nagabaginda adalah raja Negara Bantalatelu dengan rupa badan manusia dengan kepala naga, dan mampu merubah dirinya baik menjadi manusia betulan hingga berupa naga raksasa.

Nagabaginda kesal lantaran Batara Guru memberikan anugerah Sanghyang kepada Anantaboga, bukan kepada dirinya padahal ia yakin lebih ganteng diantara para bangsa ular dan naga. Yang kedua Dewi Suparti yang ditaksirnya di pinang Sanghyang Anantaboga.

Ketidak puasan ini akhirnya mengutus Patih Wisasarpa untuk menanyakan kepada Dewa. Singkat cerita rombongan utusan ini telah berhadapan dengan Batara Narada. Penjelasan Batara Narada perihal anugerah Dewa tersebut tidak diterima oleh Patih Wisasarpa, dan terjadilah peperangan. Akan tetapi Batara Guru telah menyiapkan Batara Brahma dengan mantra giri pawakanya, Batara Indra dengan kalajaksanya, Batara bayu dengan angin sakti. Perlawanan Patih Wisasarpa dengan ajian wisa sardulanya kalah dengan Batara Bayu yang menggunakan ajian Bayu Rotra.

Nagabaginda yang mengetahui kekalahan patihnya, marah besar dan berangkat untuk mengobrak abrik Kedewatan. Batara Guru yang faham dengan kemarahan Nagabaginda dengan mantra saktinya mengangkat tinggi Kedewatan hingga tidak dapat dijangkau oleh Nagabaginda. Sementara itu di Suralaya, Batara Guru mengatakan bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan Nagabaginda selain cucu Anantaboga. Sedangkan Dewi Nagagini sendiri masih dalam kondisi hamil. Rombongan Batara Narada, Batara Brahma, Batara Bayu dan Batara Indra turun dari kahyangan untuk menuju ke istana Saptaprtala tempat bersemayamnya Sanghyang Anantaboga rupa-rupanya diketahui oleh Nagabaginda, maka ia pun berniat menyusulnya dengan murka.

Atas bantuan Sanghyang Baruna, maka perjalanan keempat duta Kedewatan itu segera sampai ke Saptapratala. Sementara itu Nagabaginda tak kuasa melewati pagar betis pasukan samodra yang dipimpin oleh Julungwangi. Gagal mengejar melewati samodra, rupanya Nagabaginda bertemu dengan Arjuna yang disertai para punakawan sedang dalam perjalanan menjenguk Dewi Nagagini diutus oleh Dewi Kunti karena Bima sedang ada tugas lain. Hasilnya gimana?

Sementara itu di Saptapratala sedang bersuka ria karena Dewi Nagagini melahirkan seorang bayi dari perkawinannya dengan Bima yang diberi nama Bimasunu. Oleh para duta dewa bayi ini dimandikan di air suci dan seketika badannya menjadi besar. Untuk lebih menjadikan cucunya sakti, Sanghyang Anantaboga melumuri seluruh badan cucunya dengan air liurnya yang kelak membuat Bimasunu kebal terhadap senjata.
 
Berhadapan dengan Bimasunu, Nagabaginda pun akhirnya takluk. Sebelum menitis kepada Bimasunu, Nagabaginda menyerahkan negara Jangkarbumi, dan kelak Bimasunu bergelar Prabu Antareja.

-A.R. ASMANAWIJAYA-

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Perkawinan Arjuna dengan Ulupi


Ulupi

Prabu Duryodana dihadap oleh Resi Kumbayana dan Patih Sengkuni. Raja ingin mengawinkan Dursasana, dan membicarakan berita sayembara di pertapaan Yasarata. Barangsiapa bisa mengalahkan Wasi Anantasena murid Begawan Kanwa, boleh memperisteri Endhang Ulupi. Mereka yang hadir setuju, Adipati Karna dan Jayadrata diangkat menjadi utusan. Raja masuk ke istana, memberi kabar kepada permaisuri tentang rencana pencarian jodoh untuk Dursasana. Patih Sengkuni, Adipati Karna, Jayadrata, Kartamarma, Durmagati, Citraksa, Citraksi bersama perajurit menuju Yasarata.

Bathara Durga dihadap Dewa Srani dan Patih Endra Madhendha. Dewa Srani minta ijin mengikuti sayembara ke Yasarata untuk memperoleh Endhang Ulupi. Bathari Durga merestuinya. Kala Prakempa, Kala Pralemba dan Kala Kathaksini disuruh mengawal kepergian Dewa Srani.

Arjuna menghadap Hyang Kamajaya dan Dewi Ratih di Cakrakembang. Arjuna mengatakan kesedihannya, sebab telah sampai waktu janji menyambut Dewi Hagraini. Ia tidak dapat menemukan dan lebih baik mati. Hyang Kamajaya berkata, bahwa Hagraini telah menjelma di Yasarata. Arjuna minta diri pergi ke Yasarata. Perjalanan Arjuna dicegat raksasa dari Tunggulmalaya. Raksasa mati dipanah Arjuna.
Bagawan Kanwa dihadap oleh Cantrik Anantasena. Tengah mereka berbincang-bincang, datanglah Cantrik Danawilapa, memberitahu kedatangan Adipati Karna dan keluarga Korawa. Mereka ingin mengikuti sayembara. Cantrik Anantasena keluar menemui Adipati Karna. Adipati Karna menyatakan ingin mengikuti Sayembara. Anantasena tidak mengijinkannya. Adipati Karna marah, lalu menyuruh perajurit Korawa mengeroyok Anantasena. Anantasena memanahkan Bayuastra. Perajurit Korawa terbawa angin, kembali ke Ngastina.

Prabu Kresna dihadap oleh Samba, Setyaki, Setyaka dan Udawa. Prabu Kresna ingin mencari keluarga Pandhawa lalu pergi dari Dwarawati.

Bagawan Abyasa berbincang-bincang dengan Prabu Yudisthira, Wrekodara, Nakula dan Sadewa. Prabu Yudisthira menanyakan Arjuna. Bagawan Abyasa menjawab, bahwa Arjuna berada di pertapaan Yasarata. Prabu Yudisthira dan adik-adiknya disuruh menyusul ke Yasarata.

Prabu Dewa Srani, raja Tunggulmalaya datang di pertapaan Yasarata, melamar Endhang Ulupi. Anantasena tidak mengijinkan, lalu terjadi perkelahian, mengadu kesaktian. Prabu Dewa Srani terbawa arus panah angin Bayuastra, jatuh di negara Tunggulmalaya. Arjuna datang ke pertapaan Yasarata, berkata kepada Begawan Kanwa, ia ingin ikut sayembara. Sang Begawan membebaskan Arjuna dari Sayembara, Endhang Ulupi akan diserahkan kepadanya. Arjuna ingin melawan Anantasena, bila kalah ia tidak ingin memboyong Endhang Ulupi. Sang Begawan menyerahkan permasalahan kepada Anantasena. Arjuna berhasil mengalahkan Anantasena, maka Endhang Ulupi akan diboyong.

Prabu Yudisthira, Wrekodara, Nakula dan Sadewa berhenti di tengah hutan. Kresna melihat dari angkasa, lalu turun mendekatinya. Mereka menyatakan kerinduannya dan inging mencari Sadewa. Prabu Yudisthira memberitahu, bahwa Arjuna berada di Yasarata. Mereka bersama-sama menuju ke Yasarata.

Bathari Durga menolong Dewa Srani yang jatuh terlempar angin kencang. Setelah tahu masalahnya, Bathari Durga menyuruh Patih Yaksa pergi ke Yasarata, membunuh Arjuna dan menculik Endhang Ulupi. Patih Yaksa segera berangkat ke Yasarata.

Prabu Kresna tiba di pertapaan Yasarata. Bagawan Kanwa sedang bersiap-siap merayakan perkawinan Arjuna dengan Endhang Ulupi. Sang bagawan amat senang. Prabu Kresna dan Yudisthira diminta melangsungkan upacara perkawinan.

Tengah persiapan perayaan, Patih Yaksa datang dan menyerang pertapaan. Prabu Kresna menugaskan Wrekodara dan Anantasena melawan serangan musuh. Patih Yaksa mati oleh Wrekodara, sedangkan perajurit raksasa musnah oleh Anantasena, Nakula dan Sadewa.

Pertapaan Yasarata telah aman, pesta perkawinan dilaksanakan oleh Prabu Kresna, para Pandhawa dan anggota keluarga di pertapaan Yasarata.

R.S. Subalidinata.
Mangkunagara VII Jilid XVIII, 1932: 14-19


Perkawinan Arjuna dengan Ulupi dikaruniai anak bernama Irawan

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Senin, 23 Juli 2012

Perkawinan Arjuna dengan Sumbadra


Prabu Baladewa menemui Prabu Kresna di Kerajaan Dwarawati. Mereka berunding tentang rencana perkawinan Sumbadra. Prabu Kresna ingin mengawinkan Sumbadra dengan Arjuna. Prabu Baladewa tidak menyetujui, ia ingin mengawinkan Sumbadra dengan Burisrawa. Prabu Kresna mengingatkan pesan Prabu Basudewa, yaitu bila Sumbadra kawin supaya dinaikan kereta emas, disertai kembang mayang kayu Dewanaru dari Suralaya, dengan diiringi gamelan Lokananta, berpengiring Bidadari. Mempelai laki-laki menyerahkan harta kawin berupa kerbau danu. Prabu Baladewa akan mengajukan persyaratan itu kepada raja Duryodana. Prabu Kresna menyuruh Samba dan Setyaki ke Ngamarta untuk menyampaikan persyaratan itu juga.

Prabu Kresna masuk ke istana memberi berita rencana perkawinan Sumbadra kepada Dewi Rukmini, Dewi Jembawati dan Dewi Setyaboma.

Prabu Kalapardha raja negara Jajarsewu jatuh cinta kepada Dewi Sumbadara. Raja menyuruh Kala Klabangcuring supaya menyampaikan surat lamaran ke Dwarawati. Kala Klabangcuring berangkat, ditemani KalaKurandha dan Kala Kulbandha. Kyai Togog Wijamantri menjadi penunjuk jalan.

Prabu Puntadewa raja Ngamarta, duduk dihadap oleh Wrekodara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka menyambut kedatangan Bagawan Abyasa Samba dan Setyaki datang menyampaikan syarat perkawinan kepada Prabu Puntadewa. Bagawan Abyasa menyanggupinya. Wrekodara disuruh mencari kerbau danu. Arjuna disuruh ke Kahyangan Cakrakembang minta pohon Dewandaru, gamelam Lokananta dan Bidadari. Arjuna berangkat ke Cakrakembang, ditemani para panakawan.

Wrekodara masuk ke hutan Setragandamayu. Ia berhasil memperoleh kerbau danu setelah mengalahkan Dhadhungawuk dan menghadap Sang Hyang Pramuni. Wrekodara menemui Anoman di Kendalisada, ia minta kereta emas dan tiang dhomas. Wrekodara diajak ke Singgela menemui Prabu Bisawarna. Prabu Bisawarna mengabulkan permintaan Wrekodara. Wrekodara kembali ke Ngamarta. Anoman mengikutinya. Wrekodara diberi kereta emas dan tiang dhomas oleh Prabu Bisawarna.

Prabu Suyudana dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sengkuni dan keluarga Korawa. Prabu Baladewa datang, memberitahu tentang permintaan Sumbadra. Patih Sengkuni dan Korawa pergi mencari persyaratan. Pendeta Durna diminta menemui Dewi Wilutama untuk minta pohon Dewandaru, gamelan Lokananta dan bidadari pengiring mempelai.

Para Korawa berjumpa Wrekodara. Mereka merebut kerbau danu. Terjadilah perkelahian. Korawa tidak mampu melawan, mereka lari tungganglanggang takut amukan Wrekodara dan Anoman.
Arjuna menghadap Hyang Kamajaya dan Dewi Ratih di Kahyangan Cakrakembang. Arjuna berhasil meminta pohon Dewandaru, gamelan lokananta dan bidadari pengiring mempelai.

Burisrawa minta segera dikawinkan dengan Sumbadra. Prabu Suyudana berunding dengan Prabu Baladewa. Tiba-tiba datang Patih Sengkuni dan para Korawa, mereka mengatakan telah berhasil memperoleh kerbau danu dan tiang dhomas, tetapi dirampas oeh Wrekodara. Kemudian pendeta Durna datang, ia mengatakan telah berhasil, tetapi hasil itu dirampas oleh Arjuna. Prabu Baladewa mengajak Burisrawa ke Dwarawati untuk dikawinkan dengan Sumbadra.

Bagawan Abyasa dan Prabu Puntadewa menanti kedatangan Wrekodara dan Arjuna. Wrekodara datang memberitahu, bahwa ia telah memperoleh empat puluh kerbau danu dan telah siap di alaun-alaun. Arjuna memberitahu bahwa dewa akan mengijinkan permintaannya. Kemudian Hyang Narada datang bersama bidadari pengiring mempelai, beserta pohon Dewandaru dan gamelan Lokananta.

Prabu Kala Pardha raja Jajarsewu, menerima laporan dari Tejamantri, bahwa para utusan mati oleh Arjuna Prabu Kala Pardha berangkat ke Dwarawati akan membununh Arjuna.

Arjuna datang di Dwarawati. Di Dwarawati telah hadir Hyang Narada, para dewa dan keluarga Pandhawa. Hyang Narada menyerahkan persyaratan yang diminta oleh Sumbadra. Setelah siap, Arjuna dipertemukan dengan Sembadra.

Prabu Baladewa datang dengan mengawal Burisrawa, lengkap berpakaian pengantin. Prabu Kresna memberitahu bahwa, Sembadra telah dikawinkan dengan Arjuna Prabu Baladewa meminta agar perkawinan itu dibatalkan, sebab Korawa yang berhasil mendapatkan semua permintaan Sumbadra. Arjuna dan Wrekodara merampas hasil mereka. Dhadhungawuk dan Hyang Narada memberi penjelasan, bahwa Wrekodara dan Arjuna yang memperoleh hasil, para Korawa yang mencoba merampasnya.

Prabu Baladewa marah lalu mengamuk. Wrekodara menahan amukan Prabu Baladewa. Keluarga Korawa membantu, tetapi diserang oleh amukan kerbau danu. Korawa lari tunggang langgang, kembali ke Ngastina. Pergulatan Prabu Baladewa dan Wrekodara dipisah oleh Kresna. Arjuna dan Sumbadra menghadap Prabu Baladewa. Sumbadra mohon dibunuh saja bila harus cerai dengan Arjuna. Prabu Baladewa menaruh kasihan kepada adiknya, seketika hilang kemarahannya, dan merestui perkawinan adiknya.

Prabu Kala Pardha datang bersama perajurit, menyerang kerajaan Dwarawati. Wrekodara ditugaskan untuk memadamkan serangan musuh. Raja raksasa gugur, semua perajurit raksasa hancur, habis binasa. Kerajaan Dwarawati telah aman, kemudian berlangsung pesta perkawinan Arjuna dan Sumbadra.

Dari perkawinan Arjuna dengan Sumbadra kelak mempunyai anak yaitu Abimanyu.

Mangkunagara VII jilid XIII, 1931: 1-6
Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Jumat, 20 Juli 2012

Sri Kresna, Raja Dwarawati



Kresna adalah salah seorang pemimpin yang memiliki karakter unik dan karisma tersendiri di era Mahabarata. Lahir di negri Mandura, dibesarkan dan digembleng di desa terpencil Widarakandang, yang masih menjadi bagian dari negri Mandura. Dan kemudian menjadi raja besar di negri Dwarawati. Kresna adalah seorang raja sekaligus politisi dan diplomat ulung di jamannya. Kresna adalah putra kedua Prabu Basudewa, raja dari Mandura. Basudewa yang memiliki tiga orang putra, yaitu Baladewa, yang memiliki nama muda Kakrasana, Narayana yang ketika bergelar raja bernama Kresna, dan Rara Ireng, yang kemudian dikenal dengan nama Dewi Wara Sumbadra. 

Ketiga bersaudara putra Basudewa ini, sejak kecil dititipkan di padepokan Widarakandang, diasuh oleh Ki Demang Antagopa, dan istrinya Nyi Ken Sagupi. Ini terjadi ketika sebelum mereka bertiga lahir, menurut desas-desusnya, permaisuri Mandura, Dewi Maerah telah melahirkan seorang putra yang berwujud raksasa, dan beranjak remaja, bernama Kangsadewa yang sesumbar akan membunuh adik-adiknya bila mereka besar demi mendapat tahta Mandura. Sehingga demi keselamatan Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng, mereka disembunyikan di desa terpencil itu. 

Ketika mereka beranjak dewasa, baik Kakrasana maupun Narayana, sama-sama mengembara secara terpisah demi mengejar ilmu kanuragan dan kautaman. Terutama yang kemudian banyak belajar dari para resi dan begawan, dan anehnya, Narayana juga banyak mendapat pembelajaran dari mimpi-mimpi di kala tidurnya.

Ketika mereka kembali ke Widarakandang, Kakrasana, dan Narayana, mendapat cobaan yang nyata ketika Kangsadewa terang-terangan menantang mereka dan menuntut hak atas tahta negri Mandura. Kangsadewa dibantu pamannya yang terkenal sakti bernama Suratimantra. Sebuah rahasia terkuak ketika sebenarnya Kangsadewa sejatinya bukan anak Basudewa. Dia memang lahir dari rahim Dewi Maerah, yang terpedaya oleh seorang sakti Bangsa Raksasa bernama Gorawangsa. Yang memiliki ilmu ajian panglimunan, menipu penglihatan siapa pun yang berjumpa dengannya. Ketertarikannya kepada Dewi Maerah, membuatnya menyaru sebagai Basudewa dan kala itu hidup beberapa lama di istana Mandura, ketika Basudewa yang asli pergi dari istana. Suratimantra adalah adik dari Gorawangsa.

Keributan pun terjadi. Gorawangsa bertempur seru dengan Basudewa, sementara Kangsadewa dan Suratimantra memburu Kakrasana dan Narayana. Beruntung salah seorang adik Basudewa, bernama Ugrasena segera memacu kudanya ke negri Hastinapura, meminta bantuan kakak iparnya, Pandu Dewanata. Dengan bantuan Pandu yang datang bersama anak keduanya yang masih remaja, tapi badannya tinggi besar dua kali rata-rata Bangsa Manusia biasa, bernama Bratasena, maka Gorawangsa dan Suratimantra pun mati. Kangsadewa yang lengah dan gentar setelah kematian orang tua dan pamannya, pun menjadi lengah dan mati di tangan Kakrasana. 

Sejak itulah Kakrasana, Narayana dan Rara Ireng diboyong ke kerajaan Mandura. Tak berapa lama kemudian tahta Mandura pun deserahkan kepada anak sulung Basudewa, Kakrasana. Yang setelah dilantik duduk disinggasana bergelar Prabu Baladewa. Sementara Narayana diangkat menjadi senapati agung negri itu. 

Namun rupanya, kakak-adik ini tidak memiliki visi yang sama dalam memimpin negri Mandura. Sang raja Baladewa yang memang memiliki temperamen tinggi dan mudah marah, terkadang mengambil keputusan-keputusan yang menyangkut kelangsungan kehidupan negri dan menentukan nasib rakyat Mandura, dalam keadaan emosi dan dengan kondisi marah. Sehingga keputusan-keputusan itu pun terkadang ditentang oleh adiknya sendiri, Narayana, yang berulangkali mengingatkannya agar Baladewa diminta belajar terlebih dahulu mengendalikan dan memimpin dirinya sendiri dari amarah berlebihan yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang raja besar. Di bilik tersembunyi istana pun terkadang, mereka berdua, Baladewa dan Narayana, seringkali adu mulut dan bersitegang tentang banyak hal. 

Narayana, yang dalam pemikirannya berusaha selalu mengedepankan kepentingan negri Mandura, perlawanannya kepada sang raja Baladewa, disikapi secara berbeda olehnya. Baladewa dalam kondisi emosi menganggap Narayana iri atas tahtanya di Mandura, dan berusaha merongrong kewibawaannya, demi ingin duduk disanggasana menggantikannya sebagai raja Mandura. 

Sejak itulah Narayana merasa disingkirkan dan memilih untuk pergi dari istana. Rara Ireng justru memutuskan ikut Narayana, yang dianggapnya lebih memiliki kesepahaman dengannnya. Narayana pun hidup di pinggiran sisi barat Mandura, berbatasan dengan hutan Wanamarta sisi selatan. Hidup diantara rerimbunan hutan dan menjadi perompak bagi para bangsawan dan kayaraya yang lewat di daerah persembunyiannya, untuk kemudian harta yang diperolehnya dibagi-bagikan kepada rakyat miskin dan terpencil, jauh dari jangkauan kebijakan istana Mandura. 

Memang pertentangan Baladewa dengan adiknya, Narayana, yang paling kentara adalah pada hal kebijakan Baladewa yang lebih berpihak kepada para bangsawan dan kayaraya pemilik modal. Dan semakin menindas rakyat miskin. Sehingga keputusan Narayana menjadi perompak adalah sebagai wujud protesnya atas kebijakan-kebijakan yang diambil kakaknya. 

Cukup lama Narayana menjalani hidup demikian, sampai kemudian suatu ketika aksinya digagalkan oleh seorang senapati agung bangsa Hastinapura, dan dia diberi wejangan agar mengakhiri jalan hidup yang seperti itu, dan mulai membangun sebuah upaya nyata untuk memperjuangkan idealismenya. Seorang senapati yang menyadarkannya adalah salah satu sesepuh bangsa Hastinapura yang begitu dihormati di seluruh dunia wayang, dan dikenal dengan sikap pengabdian sepanjang hidupnya, dia yang dikenal dengan nama Resi Bisma, seorang ksatria senapati yang memilih jalan hidup bagai seorang begawan. 

Sejak itu Narayana pergi semakin ke barat, memasuki negri bernama Dwarawati. Sebuah negri yang banyak dihuni Bangsa Manusia tapi dipimpin oleh seseorang berdarah Bangsa Raksasa, bernama Prabu Narasingha. Seorang raja yang dalam kebijaksanaanya justru meminggirkan Bangsa Manusia yang mayoritas, tapi secara fisik lebih kecil dan lebih lemah dibanding Bangsa Raksasa yang minoritas. Narayana pun berbaur dengan rakyat negri Dwarawati. 

Di negri inilah kemudian Narayana belajar untuk berorganisasi, memimpin sebuah pergerakan demi kesamaan hak antara Bangsa Manusia dengan Bangsa Raksasa di negri Dwarawati. Di negri inilah Narayana mengawali pembelajaran dirinya sebagai seorang diplomat, dan menebar pengaruh dengan cara dialog tanpa kekerasan. Walaupun dia memiliki kesaktian ilmu kanuragan yang tinggi, tapi di Dwarawati, dia lebih banyak melebarkan sayap dan semakin banyak orang yang hormat dan segan kepadanya dengan cara-cara tanpa sama sekali menggunakan kesaktiannya. 

Sampai kemudian Prabu Narasingha memburunya, dan menjadikan Narayana sebagai pemberontak di negri Dwarawati. Namun rupanya Narasingha terlalu percaya diri, bahwa rakyatnya masih takut kepadanya. Dia terkejut ketika melihat sebagian besar penduduknya sudah berani secara terbuka menentangnya atas rasa percaya diri yang berhasil ditanamkan Narayana. Tanpa kesulitan yang berarti, justru Narayana yang berhasil memasuki istana Dwarawati dalam upaya meminta Narasingha meletakkan tahta secara baik-baik.
Narasingha yang keras kepala itu pun harus mati terbunuh oleh Narayana, ketika dia memaksakan diri untuk menyerang Narayana, pada saat dia mulai mengetahui bahwa sebagian besar prajurtinya pun sudah mulai menyeberang dan berdiri di belakang Narayana. Rakyar Dwarawati pun satu suara, dan meminta Narayana menjadi raja di Dwarawati setelah istana kosong ditinggal Narasingha. 

Sejak itulah Narayana bertahta di negri Dwarawati, dan bergelar Prabu Sri Kresna. Ketika itu pun Kresna menunjukkan sikap kenegarawanannya, saat dia juga merangkul orang-orang yang dulu ada di sekitar Narasingha. Termasuk mengangkat Narayudajaya, salah satu keponakan Narasingha, sebagai salah seorang senapati negri Dwarawati. 

Ketika mendengar Pandawa dibuang di hutan Wanamarta yang terletak di utara negri Dwarawati, Kresna pun segera bergegas ke sana, teringat hutang budinya ketika dia dibantu Pandu, ayah Pandawa dalam melenyapkan ancaman Mandura. Atas bantuan Kresna, Pandawa pun berhasil membangun negri dengan membuka hutan Wanamarta, dan menjadikan wilayah itu negri bernama Amarta. 

Perlahan tapi pasti, Dwarawati dan Amarta pun menjadi besar dan semakin menjadi negri yang dihormati di seluruh wilayah Dunia Wayang. Dwarawati yang dipimpin Sri Kresna dan Amarta yang dipimpin oleh Yudhistira pun merintis sebuah cita-cita demi sebuah perdamaian di seluruh Dunia Wayang. Perdamaian yang dilandasi saling menghargai dan menghormati antar wilayah negri yang berdaulat dan bermartabat. Kehendak ini pun mereka sampaikan ketika mereka mengundang seluruh tokoh raja, begawan, ksatria di seluruh Dunia Wayang, dalam sebuah perhelatan di negri Amarta yang bernama Sesaji Rajasuya. 

Justru banyak pemimpin negri yang merasa iri ketika hadir dalam perhelatan Rajasuya dan menyaksikan sendiri mewahnya istana Amarta. Sebagian justru salah sangka dengan menganggap acara Rajasuya sebagai upaya Yudhistira untuk pamer atas istana barunya. Sehingga ketegangan-ketegangan pun terjadi. Yang justru semakin mengeruhkan suasana, ditambah ulah licik pihak Kurawa yang berhasil semakin membuat dua kubu kekuatan di dunia wayang, demi agenda sang raja Duryudana yang iri atas keberhasilan Yudhistira, justru di saat pengasingannya. 

Kresna, yang kemudian tanggap atas peta pengkutuban kekuatan itu pun, langsung berupaya membantu Yudhistira yang tetap ingin mengupayakan penyelesaian hak atas negri Hastinapura secara damai. Sampai kemudian Kresna sendiri yang datang menjadi duta bagi pihak Pandawa, walaupun nyata-nyata Pandawa kembali sebelumnya ditipu daya dan dibuang selama tigabelas tahun di negri Wirata. 

Rupanya upaya Kresna untuk membangun dialog itu tidak berhasil. Justru Duryudana, pimpinan Kurawa secara terbuka menantang Pandawa. Sebuah tantangan yang mau tak mau disikapi dengan persiapan pertempuran yang disepakati dilakukan di padang Kurusetra. Kresna sendiri yang kemudian mendampingi Pandawa menjadi penasihat perang. Kresna, seorang raja, pimpinan negri sekaligus juru bicara dan diplomat ulung yang juga pandai dalam strategi perang. Perang Pandawa - Kurawa yang berkobar yang dikenal dengan nama Baratayuda. 

Adalah Kresna yang mengusulkan strategi demi strategi formasi perang bagi Pandawa. Dia yang begitu pandai membuat tarik ulur, kapan harus menggempur secara luar biasa, kapan harus mundur sejenak, kapan harus menyerang dengan kekuatan apa adanya demi strategi memberi angin musuh dalam rangka melenakan mereka. Kresna yang juga mengusulkan kepada Yudhistira, siapa dan kapan sang panglima perang di medan laga. 

Sebelum Baratayuda dimulai, Kresna yang mencoba berstrategi memancing Karna agar berkehendak meminta Salya, sang mertua sebagai saisnya saat pertempuran. Karena Kresna tahu bahwa hubungan mertua menantu antara Karna dan Salya tidak begitu bagus. Dan itu bisa menjadi sebuah keberuntungan di pihak Pandawa. 

Ketika Baratayuda baru mulai, Kresnalah yang mengembalikan semangat Arjuna untuk maju perang, ketika si Arjuna dilanda keraguan harus berhadapan dengan saudara-saudaranya sendiri. Nasihat yang begitu indah yang kemudian tertuang dalam kitab Bhagawadgita. Kresna yang dengan jelinya mengusulkan untuk memasang seorang panglima perang perempuan ketika pihak Kurawa memasang Bisma sebagai panglimanya. Kresnalah yang meminta Gatotkaca sebagai panglima ketika Karna maju menjadi pimpinan perang Kurawa, demi menyelamatkan Arjuna dari senjata pamungkas Karna. Gatotkaca yang kemudian mati oleh senjata mematikan Konta milik Karna yang hanya meminta satu korban, dan siapa pun itu pasti mati. 

Kresnalah yang kemudian berstrategi mempertemukan Salya dengan Yudhistira. Karena hanya dengan Yudhistira-lah Salya bisa dikalahkan. Sampai Baratayuda selesai dengan kemenangan dipihak Pandawa, tak lepas dari kepandaian dan kejelian Kresna dalam melihat pertanda dan strategi yang tepat untuk diterapkan dalam peperangan. 

Tapi sosok penggambaran Kresna, tetap seperti cermin bagi kehidupan kita. Kresna yang piawai dalam diplomasi dan strategi, juga memiliki kekurangan-kekurangan. Salah satu hal yang paling kelihatan adalah kekurangan Kresna yang dinilai gagal dalam membina keluarganya sendiri demi kejayaan negri Dwarawati.
Kresna memiliki tiga orang istri dan dua orang anak angkat. Dikisahkan Kresna yang memang memiliki kemahiran dalam membangun perdamaian di negri Wayang, sehingga dia dipilih oleh Dewa Wisnu, yang memutuskan menempuh jalan kematiam dan menyatu dengan hati dan pikiran Kresna. Hal inilah yang kemudian cerita itu menggiring kepada keputusan Kresna yang mengangkat anak kepada Sitija dan Siti Sendari, dua anak kandung Dewa Wisnu, dari istrinya Dewi Pertiwi. 

Sitija yang memiliki watak keras dan memiliki hati seperti batu. Sementara Siti Sendari yang manja dan selalu dihinggapi rasa cemburu, apalagi ketika sejak menikah dengan Abimanyu, mereka tahu tak juga kunjung dikaruniai keturunan. 

Istri Kresna yang pertama adalah Dewi Jembawati. Seorang putri cantik dari bangsa Kera. Perkawinan mereka melahirkan Samba, seorang ksatria yang sombong dan tak pernah tersentuh kesopanan. Samba yang dalam berbicara seringkali menyinggung perasaan orang lain. Samba yang ketika dewasa juga tak bisa mengendalikan diri dan merayu kakak iparnya sendiri, Dewi Adnyanawati, istri Sitija. Samba yang kemudian mati oleh kemarahan Sitija. Sebuah kejadian tragedi kematian Sitija yang membuat Kresna lepas kendali dan membunuh Sitija, anak angkatnya sendiri. Sementara adik Samba bernama Gunadewa. Seorang tampan yang memiliki postur tubuh dan cara berjalan seperti bangsa Kera. Gunadewa yang kemudian tidak kuat jauh dari kasih sayang orangtuanya, karena Kresna lebih banyak sibuk menjalin hubungan persahabatan dengan negri lain, dan hampir tak pernah memiliki waktu cukup bersama keluarganya di istana Dwarawati. Sehingga Gunadewa memilih untuk pergi tinggal bersama kakeknya, Kapi Jembawan. Jauh dari keramaian. 

Istri kedua Kresna adalah Dewi Rukmini. Putri negri Kumbina, anak dari Prabu Bismaka. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai anak Saranadewa dan Partadewa. Saranadewa yang berwajah Raksasa, yang konon ketika berkasihan dengan Rukmini, Kresna dalam keadaan marah tiwikrama menjadi sosok Raksasa. Rasa kecewa Saranadewa membuat dia mengasingkan diri dan hampir tak pernah muncul di istana Dwarawati. Sementara sang adik Partadewa, yang juga tak pernah bertegur sapa dengan Kresna, memilih untuk membangun padepokan, dan memperdalam ilmu kautaman di desa Dadapaksi. 

Sementara istri ketiga Kresna bernama Dewi Setyaboma, putri Prabu Setyajid, raja negri Lesanpura. Setyaboma memiliki adik bernama Satyaki yang menjadi panglima perang di Dwarawati. Kresna dan Setyaboma, memiliki putra bernama Setyaka, yang hidup bersama kakeknya di Lesanpura, dan diberi wilayah kasatrian di Tambakwungkal, bagian selatan dari Lesanpura. Setyaka juga merasa asing dengan ayahnya sendiri. 

Kresna yang dikenal ulung dalam menjalin dialog, tak sempat untuk mencegah perang saudara kerajaan Mandura, negri tempatnya dilahirkan. Sehingga negri kerabat kerajaan Mandura musnah tak ada yang tersisa setelah Baladewa dipaksa turun dari tahta dan pergi entah kemana. Dan kisah itu juga membawa Kresna pada kegagalannya untuk mempersiapkan penerus keturunannya sebagai raja di Dwarawati. Dwarawati setelah Kresna tetap berjaya pada masa jaman Parikesit. Tapi diperintah bukan oleh keturunan langsung dari Kresna. Kerajaan Dwarawati setelah kepemimpinan Kresna dipimpin oleh Arya Sangasanga, anak kandung Satyaki.

Pitoyo Amrih




Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Erawati, Dewi


Dewi Erawati dalam pewayangan adalah satu-satunya istri Prabu Baladewa,raja Negeri Mandura.Ia adalah puteri sulung Prabu Salya,raja Mandaraka dan ibunya bernama Dewi Setyawati atau Pujawati.Dewi Erawati mempunyai empat orang adik yaitu,Surtikanti yang diperistri Adipati Karna,Banowati yang diperistri Duryudana,Burisrawa dan Rukmarata.Ketiga puteri Prabu Salya memang cantik semua,demikian juga si bungsu Rukmarata berwajah tampan.Hanya Burisrawa yang lahir berujud setengah raksasa,hal ini disebabkan karena kutukan para dewa pada Prabu Salya yang ketika masih muda membunuh mertuanya yang berujud raksasa,Begawan Bagaspati.

Perkawinan Dewi Erawati dengan Baladewa terjadi ketika putera mahkota Kerajaan Mandura itu masih hidup sebagai pertapa dengan nama Wasi Jaladara.Dalam pewayangan kisah perkawinan Erawati dengan Baladewa terdapat dalam lakon Kartawiyoga Maling.Suatu ketika Kerajaan Mandaraka heboh karena puteri sulung Prabu Salya hilang diculik orang.Setelah mengerahkan para prajuritnya untuk mencari Dewi Erawati tidak berhasil,Prabu Salya mengumumkan sayembara,barangsiapa dapat menemukan dan mengembalikan Dewi Erawati ke Mandaraka,ia akan diangkat sebagai menantu dan dikawinkan dengan Dewi Erawati.Prabu Anom Suyudana,penguasa Astina,adalah salah satu pesertanya.Ia memerintahkan para Kurawa dan bala tentara Astina untuk membantu mencari Dewi Erawati.

Di Kerajaan Mandaraka,Arjuna menghadap Prabu Salya dan menawarkan bantuannya untuk mencari Dewi Erawati,walaupun tidak bermaksud mengikuti sayembara.Ketika itu Arjuna sempat bertemu dan berkenalan dengan Dewi Surtikanti dan Banowati.Kedua kakak beradik itu sama-sama jatuh cinta pada Arjuna,Namun ternyata Arjuna lebih menyukai Banowati,hal ini menyebabkan Dewi Surtikanti cemburu dan sakit hati.Karena merasa cintanya tidak ditanggapi,Surtikanti lalu mengutuk,nantinya dalam perjalanan mencari Dewi Erawati,Arjuna akan merasa kelaparan.Dan benar,selama dalam perjalanan mencari Erawati yang diculik itu,Arjuna selalu diganggu rasa lapar.Apalagi setelah ia memasuki wilayah Widarakandang,Arjuna tidak dapat lagi menahan laparnya.Ia lalu memerintahkan para Panakawan untuk mencari makan untuknya.Untunglah Arjuna kemudian bertemu dengan Wasi Jaladara alias Kakrasana yang mengingatkan bahwa seorang ksatria seharusnya sanggup menahan lapar.Dalam perjumpaannya dengan Wasi Jaladara itu,Arjuna menganjurkan agar Wasi Jaladara mengikuti sayembara itu.Keduanya lalu kembali ke Mandaraka,Wasi Jaladara minta ijin agar dibolehkan memasuki ruang keputren sebab menurut firasatnya,Sang Penculik akan kembali,dan karenanya ia akan mencegat penculik itu di tempat keputren ini.

Sementara itu,Dewi Erawati yang diculik oleh Kartawiyoga telah berada di Kerajaan Tirtakandasan,sebuah negeri di bawah laut.Ketika Kartawiyoga merayu dan hendak mengawininya,timbullah akal Dewi Erawati.Ia mengatakan pada penculiknya,dia bersedia menjadi istrinya asal dua orang adik perempuannya,Surtikanti dan Banowati,juga diperistri olehnya juga.Karena ia merasa tidak sanggup berpisah dengan kedua adik yang disayanginya itu.Kartawiyoga setuju dan segera kembali ke Mandaraka dengan tujuan menculik kedua adik Erawati itu.Untuk memenuhi permintaan Dewi Erawati,segera saja Kartawiyoga berangkat lagi ke Kerajaan Mandaraka.Dengan aji Panyirep,Kartawiyoga membuat tidur semua penghuni istana,dengan demikian ia mudah memasuki keputren,langsung ke ruangan tempat Dewi Surtikanti dan Banowati tidur.Namun ketika ia hendak membawa kedua putri itu,ternyata yang ada adalah Wasi Jaladara dan Arjuna.Keduanya lalu berusaha meringkus sang penculik tetapi berhasil lolos.Wasi Jaladara dan Arjuna kemudian mengejarnya sampai ke Kerajaan Tirtakandasan.Akhirnya Wasi Jaladara berhasil membunuh Kartawiyoga dan ayahnya Prabu Kurandageni,raja Tirta Kandasan.Pada waktu bertanding melawan Prabu Kurandageni,Wasi Jaladara berpesan agara Arjuna membawa Dewi Erawati kembali ke Mandaraka.

Dalam perjalanannya ke Mandaraka,untuk mengantarkan Dewi Erawati,Arjuna bertemu para Kurawa yang dipimpin oleh Patih Sengkuni.Mereka minta agar Dewi Erawati diserahkan pada para Kurawa sebab putri sulung Prabu Salya itu akan dipersunting Prabu Duryudana.Arjuna menolak,sedangkan para Kurawa memaksa.Akibatnya terjadilah perkelahian.Untunglah Bima dan Wasi Jaladara segera datang membantu sehingga para Kurawa lari tunggang langgang pulang ke Astina.Sesuai dengan bunyi sayembara,Prabu Salya akhirnya menikahkan Dewi Erawati dengan Wasi Jaladara alias Kakrasana alias Baladewa.Setelah Baladewa menjadi Raja Mandura,Dewi Setyawati kemudian dinobatkan menjadi permaisurinya.Dari pernikahannya ini,Dewi Erawati mendapat dua orang anak yaitu Wisata dan Wimuka.Dewi Erawati tergolong wanita yang beruntung karena Prabu Baladewa termasuk suami yang sangat setia pada istrinya,Baladewa tidak pernah melirik wanita manapun sampai akhir hayatnya.Kelak di masa tuanya,Baladewa lengser keprabon,meninggalkan istana dan hidup menjadi pertapa di Talkanda dan bergelar Begawan Curiganata.Pada saat itu Dewi Erawati tetap tinggal di istana Mandura mendampingi Wisata yang naik tahta menjadi Raja Mandura. 

sumber :
http://teguhrahardjo.blogspot.com/2010/05/erawati-dewi-erawati-dalam-pewayangan.html
 
Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Permusuhan Narayana dan Kangsa

Kisah pewayangan berikutnya adalah kisah perebutan kekuasaan di Kerajaan Mandura. Kerajaan ini adalah kerajaan yang dipimpin Prabu Basudewa yang merupakan ayah kandung dari tiga bersaudara yaitu Raden Kakrasana setelah tua menjadi Prabu Baladewa, Kresna masa mudanya bernama Narayana, Dewi Sembadra masa mudanya bernama Rara Ireng. Selain anak kandung Basudewa punya anak yang tidak jelas bernama Kangsa.

Kangsa inilah yang manunggal dengan hawa nafsu sudah merebut tahta masih juga ingin membunuh putra – putri Basudewa.


Berikut kisahnya:

Gorawangsa adalah seorang raja dari Kerajaan Guwabarong/Sangkapura, raja ini sudah lama jatuh hati kepada Dewi Maerah ( Amirah ) yaitu istri Prabu Basudewa, tidak dijelaskan dengan detil apakah percintaan mereka memang percintaan terlarang karena saling mencintai ataukah ..., memang Dewi Maerah korban kejahatan Gorawangsa.

Hingga tiba suatu kesempatan , disaat kondisi Kerajaan Mandura sedang ditinggal rajanya berburu, dan kerajaan sementara dipercayakan pada saudaranya Haryo Prabu.
Kesempatan ini digunakan oleh Gorawangsa untuk menyelinap masuk ke Istana , raja raksasa ini merubah wajahnya menjadi Prabu Basudewa, dengan mudah masuk kedalam istana.

Para penjaga dan Haryo Prabu pun tidak mengetahui apakah itu Prabu Basudewa asli ataukah palsu. Hingga akhirnya perilaku Gorawangsa ini ketahuan oleh Basudewa yang pulang dari berburu, selanjutnya menjadi dimulainya perang dingin tiada hubungan asmara lagi antara Basudewa dan Dewi Maerah.

Hingga akhirnya Dewi Maerah hamil dan diusir dari Mandura, kemudian diterima oleh Suratrimantra adik dari Gorawangsa di Kerajaan Guwabarong, disinilah Kangsa lahir dan Dewi Maerah meninggal saat melahirkanya. Disini juga Kangsa dididik dan diprovokasi oleh Suratrimantra agar kelak menjadi Raja di Mandura.
====================================
Di Kahyangan Bathara Narada rapat bersama Bathara Indra, Bathara Brahma, Bathara Bayu, Bathara Sambu, Bathara Wisnu dan Bathara Basuki.

Bathara Narada menyampaikan perintah Bathara Guru, agar supaya Bathara Wisnu menjelma ke dunia bersama Bathara Laksmanasadu.

Karena dahulu kala sewaktu Rama memerintah Ayodya telah dijanjikan kelak akan menjelma ke dunia bersama Laksmana maka sekarang janji itu digenapi. Bathara Wisnu menjelma bersama Bathara Laksmanasadu.

Namun penjelmaan mereka tidak bisa langsung, harus dengan perantara. Untuk itu Bathara Wisnu menjelma dalam wujud harimau putih, sedangkan Bathara Laksmanasadu dalam wujud ular naga. Bathara Basuki ingin ikut menjelma bersama Hyang Laksmanasadu. Bathara Brahma dan para dewa menyetujuinya. Lalu mereka bertiga turun ke dunia menuju hutan Kumbina.

macan putih jelmaan Bathara Wisnu menyerang Basudewa
(karya Herjaka.HS 2008)

Raja Basudewa bersama Ugrasena yang sudah berada di tengah daerah perburuan tiba-tiba didatangi prajurit memberi tahu, bahwa di daerah perburuan datang harimau putih bersama ular naga. Raja Basudewa turun mendekat ke tempat harimau dan ular naga. Tanpa diduga, cepat bagai kilat, harimau dan ular naga tersebut menyerangnya dengan berani.

Raja menghindar, lalu melepaskan panah. Panah tepat mengenai sasaran, dan tubuh harimau tersebut tergolek. Keajaiban terjadi, tubuh harimau segera menghilang. Jasmaninya merasuk ke tubuh Dewi Badraini, isteri Basudewa, dan ruhnya masuk ke tubuh Kunthi, isteri raja Pandhu. Kemudian ular naga menyerang tapi mati terkena panah.

Tubuh ular juga menghilang berubah wujud menjadi Bathara Basuki dan Bathara Laksmanasadu, dan merasuk kepada Rohini, isteri Basudewa.
====================================

Anak-anak Basudewa dari Istri Dewi Rohini yaitu Kakrasana, dan dari Istri Dewi Badraini yaitu Narayana, dan Rara Ireng, Narayana dan Rara Ireng ini sebenarnya kembar lahir bersama-sama, ketiganya sejak kecil dititipkan kepada Demang Antiyogopa di pertapaan Widorokandang.

Berkat pendidikan di pertapaan inilah ketiga putra Basudewa ini tumbuh menjadi orang yang baik, mereka punya ciri fisik kalau Narayana kulitnya hitam, kalau Kakrasana kulitnya bule dan Rara Ireng parasnya cantik.

Ketika tumbuh dewasa Kangsa datang ke Mandura dan berhasil mengusir Basudewa dari Mandura, kurang puas hanya dengan kudeta/mengusir, selanjutnya berkeinginan juga membersihkan keturunan Basudewa (pembersihan etnis ) sementara anak-anak Basudewa tidak ada di Mandura.

Kangsa menyuruh Kala Akura dan para prajurit untuk menyerang Widarakandang, dan menangkap tiga anak Basudewa.

Prajurit Sengkapura yang dipimpin oleh Kala Akura menyerang Widarakandang. Kebetulan Kakrasana dan Narayana sedang pergi ke pertapaan. Demang Anantagopa ditangkap dan dibunuh, namun Sembadra dan Larasati berhasil dibawa lari oleh Nyai Sagopi. Nyai Sagopi, Sembadra dan Larasati berjumpa Arjuna. Mereka minta perlindungan. Raksasa yang mengejar mereka musnah oleh Arjuna. Setelah bebas dari serangan raksasa mereka sepakat untuk mencari Kakrasana dan Narayana.

Dilain tempat Agar Kangsa tidak susah-susah mencari keturunan Basudewa maka diperoleh akal yaitu berunding dengan Basudewa dan mengatakan sebenarnya dia adalah orang yang berhak jadi Raja di Negeri Mandura tetapi cara ini tidak jantan , sebagai kesepakatan dihasilkan bahwa akan diadakan adu jago ( Adu Ayam Jago ) kalau Basudewa menang silahkan menduduki tahtanya lagi , tetapi sebenarnya adu orang yang jago berkelahi.

Maka diutuslah Ugrasena saudaranya pergi untuk mencari jago oleh Basudewa. Ditengah perjalanan Ugrasena bertemu Kemenakannya sendiri yaitu Bima, Karena Bima adalah putra Dewi Kunti yang merupakan adik dari Basudewa. Bima tidak keberatan menjadi jago karena punya kepentingan juga sedang mencari Arjuna yang telah lama pergi, ia meminta agar dibantu.

Sementara itu Narayana yg telah sempurna berguru kepada Bagawan Padmanaba di gunung Giripura.
=Narayana berguru kepada Begawan Padmanaba ditemani abdi setia.
Hasil dari berguru tersebut, Narayana mendapatkan
Kembang Wijayakusuma dan Panah Cakrabaskara (karya Herjaka HS)=

Bagawan Padmanaba menganugerahkan kembang Wijayakusuma dan senjata Cakrabaskara. Kemudian sang bagawan merasuk menyatu dengan Narayana.

Setelah menerima senjata sakti itu, Narayana pergi ke gunung Argasonya mencari Kakrasana. Kakrasana telah menerima anugerah dari Kahyangan berupa senjata Nanggala dan Alugora. Bhatara Brama memberi mantera Jaladara. Setelah saling bercerita hal perolehan senjata dan kesaktian, Narayana dan Kakrasana kembali ke Widarakandhang.

Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Nyai Sagopi bersama Sembadra, Larasati dan Arjuna. Nyai Sagopi bercerita tentang kematian Kyai Anantagopa dan hancurnya Widarakandhang. Kakrasana marah ingin membalas kematian Kyai Anantagopa. Ia tahu bahwa Kangsadewa ingin mengadu manusia melawan jago dari kerajaan Mandura. Narayana ingin melihatnya, maka mereka berangkat ke Mandura.

Ugrasena telah mempersiapkan gelanggang adu jago. Orang-orang berbondong-bondong ingin menyaksikan pertarungan jago Kangsadewa dengan jago raja Basudewa. Kangsadewa dan Basudewa duduk bersanding, menyaksikan pertarungan jago masing-masing. Suratrimantra telah naik ke panggung menanti kedatangan Bima.

Tak lama kemudian Bima naik gelanggang, maka pertarungan dimulai. Perang belum berlangsung lama, Suratrimantra tewas terkena tusukan kuku pancanaka. Lantas Suratrimantra digotong oleh dua abdinya yang bernama Kala Caruna dan Kala Mustika untuk kemudian dimasukkan ke kolam air semangka.

Setelah masuk di kolam tersebut Suratrimantra hidup kembali dalam keadaan segar bugar, lalu maju ke gelanggang. Berkali-kali Suratrimantra mati dibunuh oleh Bima, tapi selalu hidup kembali. Semar Badranaya mengetahui kesaktian Suratrimantra, lalu menyuruh Arjuna supaya pusaka keris Kyai Pulanggeni dimasukkan ke dalam kolam. Setelah dimasuki Pulanggeni, air kolam mendidih. Dengan demikian akhirnya Suratrimantra tidak mampu hidup kembali. Kangsadewa mengerti bahwa jagonya hancur dalam kolam, lalu meloncat ke panggung.

Kakrasana datang menghadapi Kangsadewa. Kangsadewa menyerang, tetapi Kakrasana menyambut dengan Nanggala dibarengi oleh Narayana yang melepaskan senjata Cakra ke tubuh Kangsadewa. Terkena dua senjata sekaligus, yaitu Cakra dan Naggala, Kangsadewa mati seketika. Dengan matinya Kangsadewa, permusuhan antara Kangsadewa dan Narayana atau Kresna berakhir.

Setelah tenang raja Basudewa menyambut tiga putranya. Kakrasana, Narayana, Sembadra, Bima dan Arjuna diajak masuk ke istana. Ugrasena yang mengantarkannya. Raja Basudewa menyatakan kegembiraannya. Kakrasana dan Narayana dipeluknya, dan dipuji kesaktiannya. Arjuna dan Sembadra di pangkunya. Arjuna duduk di paha kanan dan Sembadra di paha kiri. Raja Basudewa berkata, Sembadra jangan bersuami kalau tidak dengan Arjuna. Sejak saat itu Sembadra dipertunangkan dengan Arjuna.

Dengan matinya Kangsadewa, negara Mandura damai, raja mengadakan pesta keselamatan.

sumber :
http://lakon-wayang-ku.blogspot.com/2011/02/permusuhan-narayana-dan-kangsa.html

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..