Selasa, 22 Januari 2013

Dewasrani, Batara




DEWASRANI adalah putra Sanghyang Manikmaya, raja Tribuana dengan Bathari Durga, wujud Dewi Umayi setelah terkena kutukan Sanghyang Manikmaya. Ia lahir di istana siluman, Setragandamayit. Bathara Dewasrani mempunyai lima orang saudara satu ibu lain ayah, yang secara fisik merupakan putra Bathari Durga/Dewi Pramuni dengan Bathara Kala, masing-masing bernama; Bathara Siwahjaya, Dewi Kalayuwati, Bathara Kalayuwana, Bathara Kalagotama dan Bathara Kartinea.Bathara Dewasrani berwajah tamapan.Selain sakti, juga mempunyai Aji Kawrastawan, dapat beralih rupa menjadi apa saja sesuai kehendaknya. Bathara Dewasrani mempunyai sifat dan perwatakan; serakah, bengis, kejam, suka membuat usil dan mau benarnya sendiri. Berkali-kali ia membuat keributan di Jonggrisaloka dengan berbagai tuntutan yang aneh-aneh.

Bathara Dewasrani pernah menuntut untuk dijadikan raja di Kahyangan Kaideran dan dijodohkan dengan Dewi Supraba. Ketika keingginannya ditolak Sanghyang Manikamaya, ia mengamuk, tetapi dapat dikalahkan Bathara Indra. Dewasrani juga pernah mengejar-ngejar Dewi Sri Widowati/Dewi Srisekar, istri Bathara Wisnu sampai keluar Kahyangan Untarasegara.

Atas perbuatannya itu ia dikutuk Bathara Wisnu menjadi babi hutan, dan dapat kembali kewujud aslinya setelah diruwat ibunya.

Berkali-kali Dewasrani menitis atau menjelma menjadi raja raksasa untuk membuat kekacauaan di Arcapada. Tetapi semua tindakannya itu selalu dapat digagalkan Bathara Wisnu. Karena berbagai tindakannya itu, Dewasrani dikenal sebagai lambang kejahatan.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Darma, Batara


Batara Darma adalah dewa keadilan yang bertugas menjaga tegaknya keadilan dan kebenaran dalam dunia pewaangan di Indonesia. Ia sebenarnya adalah ayah dari yudhistira atau Puntadewa. Dewa Darma datang memenuhi panggilan Dewi Kunti karena istri Pandu itu memiliki Aji Adityarhedaya. Menurut Mahabarata, Batara Darma adalah putera Sang Hyang Atri, cucu Batara Brama.

Suatu ketika, dalam melaksanakan tugas menjaga keadilan, batara Darma pernah bertindak kurang bijaksana , sehingga ia dikutuk oleh Resi Animandaya. Pertapa sakti itu merasa diperlakukan tidak adil dan ketika kemudian ia menuntut keadilan, Batara Darma tidak sanggup memberikan jawaban yang memuaskan.

Karena kutukan itu, Batara Darma harus menjalani kehidupan sebagai manusia pincang yang dilahirkan dari wanita sudra. Akhirnya untuk menjalani kutukan itu, Batara Darma menitis pada Yamawidura, anak bungsu Abiyasa yang lahir dari seorang dayang istana bernama Drati.

Saat Dewi Drupadi, istri Puntadewa hendak dipermalukan oleh para Kurawa, Batara Darma datang untuk melindungi puteri Prabu Drupada itu. Waktu itu, setelah Pandawa kalah bermain judi karena kecerdikan dan kelicikan Sengkuni. Dewi Drupadi yang dianggap sebagai barang taruhan ternyata dimenangkan pula oleh para Kurawa . Di hadapan banyak orang, Dursasana mencoba melepaskan kain yang dikenakan Drupadi namun gagal.

Setiap kali kain yang dikenakan dilepaskan dari tubuh Drupadi, saat itu pula selalu ada kain baru yang melapisi tubuh istri Yudhistira itu. Hal itu karena pertolongan Betara Brama.

Menjelang, berakhirnya masa pembuangan Pandawa di Hutan Kamiyaka, Batara Darma datang menguji rasa keadilan Yudhistira, anaknya. Dewa itu menyaru sebagai raja gandarwa dan mengajukan berbagai pertanyaan ujian pada yudhistira ang ternyata dijawab dengan memuaskan.

Saat itu, Yudhistira disuruh memilih mana di antara adik-adiknya yang akan dihidupkan kembali, Yudhistira pun menjawab dengan  pertimbangan keadilan yang matang. Karena jawaban Yudhistira selalu memuaskan, gandarwa itu berubah ujud kembali menjadi Batara Darma, dan keempat adik Yudhistira dihidupkan kembali.

Menjelang kematian Pandawa. Batara Darma menjelma menjadi seekor anjing peliharaan Yudhistira. Anjing it uterus mengikuti perjalanan Pandawa. Dalam perjalanan itu hanya Yudhistira dan anjing itu yang sampai ke puncak Himalaya dan akhirnya mencapai pintu sorga. Namun krtika Yudhistira hendak masuk ke sorga, oleh penjaga gerbang sorga, anjing itu dilarang masuk. Karena penolakan itu, Yudhistira protes. Dia tidak mau masuk sorga yang tidak menghargai sebuah kesetiaan. Pada saat itulah, Anjing itu menjelma kembali menjadi Batara Darma.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Candra, Batara



Batara Candra adalah salah seorang putera Batara Ismaya dengan ibunya bernama Dewi Kanastren, sedangkan istrinya berjumlah 27 orang. Mereka itu kakak beradik putera Sang Hyang Daksa. Dalam pewayangan dikatakan Batara Candra adalah dewa yang bertugas mengatur dan memelihara rembulan serta sinarnya.

Batara Candra termasuk yang disebut-sebut dalam Hastabrata sebagai dewa yang harus diteladani sifat-sifatnya oleh raja yang bijaksana dan selalu bersikap menyenangkan orang banyak.Dalam sebuah kisah diceritakan ada seorang raja siluman gandarwa bernama Prabu Kala Rahu alias Rembuculung yang hendak mencuri Tirta Amerta. Kala Rahu bersembunyi di kegelapan malam, tetapi Batara Candra memergokinya dan melaporkan tempat persembunyiaan itu pada Batara Guru. Pemuka Dewa itu lalu mengutus Batara Wisnu menangkap Kala Rahu.

Namun ketika hendak ditangkap, raja siluman itu melawan. Dengan senjata cakra, Batara Wisnu memotong kepala Kala Rahu. Tubuhnya jatuh terhempas ke bumi menjelma menjadi lesung penumbuk padi. Sementara itu kepalanya melayang-layang di angkasa menanti kesempatan membalas untuk menghukum Batara Candra.

Itulah yang menimbulkan legenda gerhana rembulan, yang menyebabkan di masyarakat pedesaan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, orang memukul-mukul lesung bila terjadi gerhana bulan, yang dipercaya untuk menghalau Kala Rahu.



Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Calakuta, Batara

CALAKUTA, BATARA adalah dewa yang berkuasa atas segala serangga berbisa, menetap di kahyangan Wisabawana yang terletak di lereng Gunung Jamurdipa.

Suatu ketika ketenangan di kahyangan Wisabawana terganggu karena para dewa di bawah pimpinan Batara Guru sedang bergotong royong berusaha mencabut Gunung Jamurdipa untuk digunakan mengaduk samudra dalam upaya mendapatkan tirta amerta. Perbuatan para dewa itu membuat marah Batara Calakuta.

Hingga akhirnya timbul perselisihan diantara mereka. Batara Calakuta dan anak buahnya kewalahan dan kemudian melarikan diri. Dalam pelariannya Batara Calacuta menciptakan telaga beracun yang berisi bisa kalakuta. Hingga suatu saat ketika kehausan, sebagian dari para dewa meminum air tersebut dan kemudian menemui ajal. Begitupun Batara Guru nyaris mengalami hal serupa jika pada saat meminumnya tidak dimuntahkan segera. Namun karena kuatnya pengaruh bisa tersebut, maka leher batara Guru menjadi biru karenanya. Itulah sebabnya Batara Guru mendapatkan nama alias sebagai Sang Hyang Nilakanta yang berarti lehernya biru.

Setelah tirta amerta diperoleh, maka para dewa yang mati karena racun kalakuta dapat dihidupkan lagi.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Cakra, Batara

Batara Cakra atau Cakradewa adalah putera sulung Sang Hyang Manikmaya atau Batara Guru dengan Batari Parwati. Batara Cakra berkedudukan di Kahyangan Ujung Semeru. Ia menjalankan tugas sebagai pujangga kahyangan, sedangkan Batara Ganesya atau Batara Gana bertugas menjaga Panti Pustaka Kahyangan. Oleh karena itu Batara Cakra dan Batara Gana sama-sama mempunyai tugas membina kesusastraan, sehingga Batara Gana sebagai lambang dewa kebijaksanaan bidang pendidikan, Batara Cakra sebagai lambang dewa kapujanggan.
Karya Batara Cakra yang terkenal adalah Serat Pustaka Jamus Kalimasada dan Jitapsara. Jamus Kalimasada dianugerahkan kepada Puntadewa, Jitapsara dianugerahkan kepada Begawan Palasara.

Cakra berarti sebuah bentuk lingkaran, sebuah kesinambun, keserasian. Batara Cakra adalah seorang bangsa Dewa yang selalu memperhatikan keserasian, kesetimbangan, dan kesinambungan kehidupan di dunia wayang.

========

Batara Cakra adalah dewa yang menguasai hampir seluruh seluk-beluk yang ada dan terjadi di Tribuana, yaitu jagad Mayapada (Dunia Kedewaan),Jagad Madyapada (Dunia Makhluk Halus) dan Jagad Arcapada( Dunia Fana / Dunia Manusia di Bumi). Ia Seorang Cendiakiawan,teliti,Tetap Pendiriannya,Hatinya bening dan Cermat.Karena Pengetahuannya itu,Sanghyang Cakra di tetapkan menjadi pendamping pribadi Sanghyang Manikmaya. Ia Selalu Mencatat Segala Pembicaraan Sanghyang Manikmaya Dan Di Simpannya Di Dalam Pembedaharaanya Kedewataan.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Bremana - Bremani

Dalam pertemuan antara Hyang Guru, Narada, dan Endra Brama,
berkatalah Hyang Guru kepada Brama,” Kamu jadilah besan dengan Wisnu adikmu. Brama mempunyai anak laki-laki, Wisnu mempunyai anak perempuan.”

Brama menjawab, “Ya”.

Hyang Guru berkata kepada Narada, “Kamu yang memberi perintah kepada Wisnu, Brama yang ikut.” Lalu mereka berangkat ke Ngutara Sagara. Beralih ke Mendangkumuwung, Maharaja Pulagra mengirim utusan ke Ngutara Sagara, yang diutus Kalagatu dan Kalagatuka dengan diberi surat pelamar. Di istana Ngutara Sagara, Batara Wisnu dan putranya Raden Srigati datang bercengkerama lalu datanglah berita utusan dari Mendang kumuwung datang berkunjung dengan membawa surat lamaran. Batara Wisnu sudah mengetahui maksudnya,  lalu memerintahkan Raden Segati untuk menyambut tamu tersebut, katanya,” Srigati, turunlah, suruh pulang utusan itu!”

 Setelah putranya pergi, datanglah Narada dan Brama. Setelah saling bertegur sapa, Narada lalu berkata,” Saya membawa perintah dari Hyang Guru. Kamu disuruh berbesanan dengan kakakmu di Brama, anakmu Sri Unon kawin dengan Bremana.”

Wisnu menjawab,” Ya saya patuhi.”

Narada berkata,” Apa Karingkes atau Karowo?”

Wisnu menjawab,” Saya singkat saja, tapi saya akan bujuk saja acara panggihnya.”

Hyang Narada berkata kepada Batara Brama,” Brama sudah pulanglah! Anakmu si Bremana, ajaklah kemari.”

Lalu berangkatlah Brama. Sementara itu, raksasa utusan Maharaja Pulagra, Kalagatu dan Kalagatuka, menunggu-nunggu bagaimana jawaban surat lamaran. Tidak berapa lama datanglah Raden Segati.

Ia berkata,” kamu tidak diperkenankan menghadap, diperintahkan untuk pulang saja dari sini.” Lalu duta tersebut bersikeras menghadap. Terjadilah perkelahian dimana Segati akhirnya kalah. Lalu Srigati membuat surat jawaban kepada duta tersebut.
“Surat ini berikan kepada Rajamu.”

Semoga kehendak Kanjeng Rama sudah ada di surat ini,” kata Srigati.

Konon cerita, gara-gara gejolak Samodra Gambiralaya, seperti gemuruhnya kawah Candradimuka, gonjang-ganjing ekornya Sang Antaboga gempa tujuh kali sehari. Mletuk Keragalah, mengakak suaranya, Hyang Antaboga lalu Semar Petruk, Nalagareng, setelah kelakar lalu menghadapi satwa yang diasuhnya. Adalah Bambang Bremani, di pertapaan Saptarengga lalu,berkunjung ke Gilingwesi melalui udara. Semar, Petruk, Nalagareng terbang mengikuti, setelah itu bergurau di Gilingwesi, Raden Bremana dan Bremani sudah ada di istana.

Dalam percakapan tersebut datanglah ayahanda Batara Brama yang lalu duduk di Singgasana. Raden Bremana dan Bremani datang menghaturkan sembah. Kata Batara Brama kepada kedua puteranya,

” Kamu diperintahkan untuk kawin oleh Batara Guru dengan puteri Betara Wisnu bernama Sri Unon.”

Bremana mengatakan tidak mau, meskipun Batara Brama berkali-kali memintanya dengan memaksa, namun Bremana bersikukuh tidak mau dan menyarankan adiknya Bremani menikah.

Lalu Batara Brama berkata,” Kamu Bremani, kawinlah. Itu atas permintaan kakakmu.”

“Saya takut kalau melangkahi kakanda,” jawab Bremani.

“Saya ikhlas kamu melangkahi aku,” kata Bremana.

Sementara itu, di istana Ngutara Sagara, Raden Srigati menghadap ayahnya Batara Wisnu dan menyampaikan kekalahannya berperang dengan utusan.

“Duta saya datangi lalu saya suruh pulang tapi tidak mau. Sehingga akhirnya terjadi perang. Saya kalah. Lalu saya membuat surat jawaban yang dapat meredakan amarah, sekarang persoalan ini saya serahkan Kanjeng Rama.”

Setelah mendengar laporan Raden Srigati, Hyang Wisnu menjadi susah hatinya. Tidak berapa lama datanglah kakaknya Batara Brama dan Batara Narada.

Mana anakmu, si Bremana?” tanya Batara Narada kepada Batara Brama.

“Mohon maaf, cucunda yang tua tidak mau kawin, cucunda yang muda mau. Saya serahkan kepada Batara Narada,” jawab Batara Brama.

“Aku tidak kuasa menentukan, sekarang terserah Wisnu  yang punya anak.

Sekarang bagaimana?”balas Batara Narada.

“Iya saya terima tetapi saya membuat sayembara. Siapa yang bisa membunuh Raja di Mendangkumuwung, Si Pulagra, itu yang menjadi menantuku,” kata Batara Wisnu.

“Iya, Adi, saya tanyakan Bremani kalau mau?” kata Batara Brama yang lalu memanggil anaknya Bremani. Bremani menyanggupi lalu minta izin menjalankan sayembara diiringi Semar, petruk dan Gareng.

Di Mendangkumuwung, Raja Pulagra sedang berdialog dengan patih raksasa, yaitu Kalasiya, Kaladaru, Kalasrana serta Kalapeksa. Dengan harap cemas mereka mendengarkna hasil utusan Kalagatu dan Kalagatuka. Perjalanan saya berdua sampai di Ngutara Sagara, namun dihentikan Raden Segati. Saya tidak mau, harus masuk kraton lalu terjadi perang, tidak berapa lama Srigati kalah lalu saya mendapat surat jawaban atas nama Raja Ngutara Sagara. Ini isi suratnya.”

Surat diterima Sang Pulagra lalu dibaca setelah dibaca tertawalah Raja Pulagra. “Aneh betul permintaan para Dewa, tidak mau dibeli dengan mas picis, harus dibeli dengan perang, makanya kamu diterima dengan perang,” kata Sang Pulagra.

“Sekarang ini sudah tidak ada apa-apa. Besok di hari Buda Cemengan, saya diminta datang dengan prajurit. Sekarang Buda paing, setiap buda ini adalah hari arak-arakan. Sekarang kamu menanggap tayub, tandak, buatlah gunungan, gunungan madat, gunungan apyun, serta gunung keling, gunung cupu, gunung kepet, dan gunung alas-alasan. Berilah lutung beneran, besok hari Buda Wisa harus sudah jadi,” perintah Sang Pulagra.

Kemudian mereka bubar dan masuk ke dalam Kraton Pulagra. Tidak lama kemudian Raden Bremani datang ke istana Sang Pulagra. Mereka bertemu membuat Pulagra terkejut dan bertanya,” Kamu siapa? Berani datang kemari tanpa diundang?”

“Aku ini dewa utusan Hyang Wisnu?” jawab Bremani.

“Diutus apa? Apa disuruh mempercepat kedatanganku?” tanya Pulagra.

“Saya kemari diutus meminta kepalamu,” jawab Bremani.

Raja Pulagra marah besar. Lalu menubruk Bremani namun tidak kena karena hanya menubruk bayangannya saja. Pulagra memanah namun dengan sigap Bremani mengambil panah penalak lalu lenyaplah panah Pulagra. Pulagra melempar senjata Kunta, Raden Bremani menolaknya. Pulagra memegang muksala juga sirna lalu setelah habis senjatanya, Raden Bremani membalas dengan panah Sarutama dan mengenai dada Pulagra hingga tewas. Raden Bremani lalu mengiris telinga kanan Pulagra dan pergi bersama punakawan.

Seperginya mereka, para nyai raksasa menangis melihat gustinya mati. Di luar raksasa yang baru bersenang-senang menari tayub dikagetkan dengan datangnya para nyai raksasa yang menangislalu melaporkan kepada Patih Pulasiya. Para raksasa yang sedang bersenang-senang lantas hening mendengar kematian rajanya. Pulasiya marah dan segera menghimpun prajurit dengan membawa segala alat perangnya.

Dengan diiringi bunyi-bunyian perang lalu bergerak menuju Ngutara Sagara. Didepan raksasa Kaladaru beserta prajuritnya. Kalasara dengan bergadanya, Kalajeksa, Kalagatu, Patih Pulasiya dan Raden Pulasiya menaiki gajah. Di asrama, Batara Wisnu, Narada, Brama, Srigati menerima kedatangan Raden Bremani yang menyerahkan telinga kiri Pulagra sebagai bukti telah mengalahkannya. Hyang Wisnu menerimanya. Setelah itu dikawinkanlah Bremani dengan Dewi Sri Unon hari itu juga.

Setelah sepekan lalu mereka pulang ke istana Hyang Brama dimana saat itu Dewi Sri Unon sedang mengidam. Setelah Srigati mengantarkan saudaranya, lalu singgah di istana Gilingwesi bertemu dengan Raden Bremana dengan patihnya Raden Ekapramana.

Dalam percakapan mereka, datanglah Hyang Brama kemudian duduk bersila. Lalu Raden Bremani dan istrinya memberi salam dan menyembah kakaknya,.Raden Bremana. Setelah acara penghormatan selesai, Hyang Brama dan Srigati pulang, sedang Raden Bremani masih tinggal. Raden Bremana terkesima melihat kecantikan Dewi Sri Unon dan merasa menyesal. “Kalau tau Dewi Sri Unon seperti itu, tentu tidak rela aku menyerahkan pada adikku,” kata Bremana dalam hatinya.

Raden Bremani tahu isi hati kakaknya, Raden Bremana. Setelah sepekan, Raden Bremani, Dewi Sri Unon dan punakawan minta diri ke Gunung Saptarengga. Setelah sembilan bulan, lahirlah anak laki-laki. Ketika bayinya berumur 40 hari, istinya, Dewi Sri Unon dicerainya.

“Salah saya apa?” tanya Dewi Sri Unon.

“Kamu tidak salah.

Saya hanya menjalankan perintah dewa hanya menurunkan satu anak, tidak boleh dua,” kata Bremani.

Dewi Sri Unon pasrah. Jabang bayi dibawanya lalu singgah di Gilingwesi. Raden Bremana di Gilingwesi kedatangan adiknya, Raden Bremani.

Setelah bersalaman Raden Bremani berkata, “Istriku sudah melahirkan anak lelaki tetapi belum saya beri nama. Dewi Sri Unon sudah saya cerai dan akan saya kembalikan ke Ngutara Sagara.

“Ya, Adi. Saya ikut mengantarkannya,” kata Bremana.

Lalu mereka berangkat. Singkat cerita. Batara Wisnu dan Raden Srigati mengerti kalau sedang didatangi para raksasa dari Mendangkumuwung yang membela rajanya yang mati terbunuh. Mereka dipimpin Raden Pulasira dan para prajuritnya.

Tidak berapa lama datanglah Raden Bremani dengan rombongannya, Di hadapan ayahnya, Dewi Sri Unon bersembah dan pingsan dipangkuannya lalu dibawa masuk ke istana.

“Ini ada apa? Mengapa kamu datang dengan kakakmu Bremana,” tanya Batara Wisnu kepada Bremani.

“Saya menghadap Hyang Wisnu mau menyerahkan kembali Dewi Sri Unon.

Sudah saya ceraikan sebab saya tidak boleh mempunyai anak lebih dari satu,” terang Bremani.

“Baiklah,”kata Batara Wisnu.

“Saran saya, kalau boleh Dewi Sri Unon dikawinkan dengan kakah saya Bremana,” kata Bremani.

“Baiklah, tetapi dengan satu permintaan. Kalau kakakmu dapat membasmi para raksasa dari Mendungkumuwung dengan para prajurit.

Lalu Bremana dan Bremani berembug.”Iya, Adi. Saya sanggup.

Katakanlah kepada Hyang Wisnu. Raden Bremani berkata kepada Hyang Wisnu,” Ya, Sanggup.” Raden Bremana kemudian berperang dengan Kalasarana. Kalasarana lenyap bersama-sama prajuritnya setelah dipanah Bremana. Lalu Kaladaru datang dan dihadang Bremani dengan senjata Prabawa. Lenyaplah Kaladaru bersama pasukannya. Kalagatuka yang berhadapan dengan Bremana lenyap bersama pasukannya setelah terkena senjata Prabowo Bremana.

Berikutnya Kalayaksa sirna setelah dipanah dengan senjata Naraca Bala oleh Bremana. Patih Raksasa Pulasta menghadapi Raden Bremani. Pulasta memanah dengan senjata Kunta. Bremani memanah penolaknya hingga senjata Pulasta lenyap. Bremani memanah dengan panah air Bramastra maka hilanglah panah Pulasta. Bremani lalu memanah dengan rantai kepala Naga. Pulasta terikat rantai,

Pulasta berupaya melepaskan diri tetapi rantainya semakin mengecil sehinggi Pulasta terpedaya.

“Kamu mau hidup apa mati?” tanya Bremani.

“Saya minta hidup. Saya sudah takluk,” kata Pulasta.

“Ya saya terima taklukmu. Tetapi kamu harus pergi dari Medangkumuwung.

Kamu saya beri tanah di Lokapala serta kamu bersemedi disana,” perintah Bremani.

Pulasta menurut. Lalu pamit. Bremana dan Bremani lalu pulang ke Ngutara Sagara. Mereka menyampaikan kepada Wisnu, musuh sudah sirna. Lalu Bremana dikawinkan dengan Dewi Sri Unon. Setelah sepekan Bremana memanggil Bremani.

Tanah Jawa saya serahkan padamu. Aku akan bertempat tinggal di atas angin,” kata Bremana. Bremana beserta istri, Bremani dan punakawan kemudian bertamu kepada Batara Wisnu. “ketahuilah, saya akan berdiam diri diatas angin dan tanah Jawa saya serahkan kepada adik saya,” kata Bremana.

“Ya. Saya setuju,” kata Wisnu.

Kemudian Bremana berkata kepada adiknya, Bremani,” Sudahlah, Adi, yang pandai-pandai saja mengurus negara. Saya pinjam tiga pusakamu, Sarotama, Arya Sengkali dan Roda Dedali.” Bremani tidak keberatan untuk menyerahkan ketiga pusaka tersebut kepada kakaknya.

Bremana lalu pamit serta minta restu kepada ayahnya. Lalu berangkat bersama istrinya. Anaknya diserahkan kepada Raden Bremani. Bremani berkata kepada ayahnya,”Ayah, tolonglah beri nama cucumu ini.”

Hyang Wisnu melihat cucunya kemudian memberi nama Bambang Parikenan. Setelah itu Hyang Wisnu pamit pulang ke Gunung Saptarengga. (http://jogjanews.com/bremana-bremani)

====

Dari perkawinannya dengan Prabu Bramana beberapa tahun kemudian Dewi Sri Unon melahirkan seorang putri cantik, Dewi Bremanawati, yang kemudian diperistri oleh Prabu Banjaranjali, raja Alengka.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Bayu, Batara

Tempat tinggal : Kayangan Panglawung
Ayah : Batara Guru
Ibu : Dewi Uma
Istri : Dewi Sumi

Kesaktian :
Batara Bayu mempunyai kesaktian angin dan ia menjadi dewanya hewan, raksasa, dan manusia.
Batara Bayu memiliki beberapa ajian. Salah satunya adalah Aji Bayubajra. Yakni bisa mengeluarkan angin puting beliung untuk menyerang lawannya.

Yang tersebut golongan putera dewa Bayu adalah :
- Batara Bayu
- Hanuman
- Wrekodara Wil Jajalpaweka
- Liman setubanda
- Sarpa Nagakuawara
- Garudha Mahambira
- Begawan Maenaka

Batara Bayu pernah menjadi raja di Mayapada di negara Medanggora, bergelar prabu Bhima. Pada ceritera Pedalangan dalam lakon Bhima Bungkus di situ terlukis putera Pandu yang masih berada dalam keadaan terbungkus, sebelum sang bayi berwujud sebagai layaknya bayi biasa, Batara Bayu masuk kedalam bungkus sang bayi dan memberinya busana seorang kesatria.

Dia memiliki beberapa murid antara lain Anoman (monyet putih) dan Bima (Pandawa yang ke-2). Mereka memiliki Kuku Pancanaka, yakni senjata pada kuku ibu jarinya. Coba perhatikan pada kuku jempolnya (Batara bayu, Anoman, Bima).

================

BAYU, BATARA disebut pula Hyang Pawaka ‘angin’. Dewa Bayu melambangkan kekuatan. Ia putra keempat Sanghyang Manikmaya, Raja Tribuana dengan Permaisuri Dewi Umayi. Bathara Bayu mempunyai lima orang saudara kandung masing-masing bernama: Batara Sambo, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Wisnu, dan Batara Kala.Ia juga mempunyai tiga orang saudara lain ibu yaitu; Batara Cakra, Batara Mahadewa, dan Batara Asmara dari ibu Dewi Umarakti.Menurut wujud rupa wayangnya, Batara Bayu mencerminkan wataknya yang gagah berani, kuat, teguh, bersahaja, pendiam dan mempunyai kekuatan yang dahsyat. Ia tinggal di Kahyangan Panglawung, menikah dengan Dewi Sumi, putri Batara Soma, dan berputra empat orang masing-masing bernama: Batara Sumarma, Batara Sangkara, Batara Sudarma, dan Batara Bismakara. diedit dari wayangprabu.com


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Minggu, 13 Januari 2013

Brahma, Bathara

Tempat : Kayangan Deksina di dalam pedalangan sering disebut kayangan Argadahana

Ayah : Batara Guru
Ibu : Batari Uma
Istri : Dewi Saraswati
Kesaktian : Dewa yang menguasai api

Batara Brahma pernah memberikan pusaka Alugara dan Nanggala kepada raden Kakrasana pada saat ia bertapa di pertapaan Arsonya. Maka seolah-olah Hyang Brahma adalah guru dari raden Kakrasana. maka kalau kita lihat bentuk wayang Prabu Baladewa, raden Kakrasana mirip dengan bentuk wayang Batara Brahma.

Batara Brahma selalu atau sering mengikuti perjalanan Batara Guru ke Ngarcapada/Bumi menjelma menjadi raja seberang dengan nama misal prabu Dewa Pawaka atau yang lain. Hal ini dapat digagalkan oleh Semar. Sehingga kehendaknya ingin memusnahkan Pandawa atau membuat onar dunia tidak berhasil. Juga dapat dilihat dalam lakon lahirnya Wisanggeni.

Tujuan Batara Brahma akan mengawinkan putrinya Dewi Dresanala dengan Dewa Srani serta menceraikan raden Arjuna. Hal ini dapat digagalkan oleh Semar dan para Pandawa. Jadi kesimpulannya bahwa semua ulah dewa jika salah akan kalah oleh tindakan manusia yang benar.

=========================

SANGHYANG BRAHMA atau Brama adalah putra kedua Sanghyang Manikmaya, raja Tribuana dengan permaisuri pertama Dewi Umayi. Ia mempunyai lima orang saudara kandung masing - masing bernama ; Sanghyang Sambo, Sanghyang Indra, Sanghyang Bayu, Sanghyang Wisnu dan Bathara Kala. Sanghyang Brahma juga mempunyai tiga orang saudara seayah lain ibu, yaitu putra Dewi Umarakti, masing-masing bernama ; Sanghyang Cakra, Sanghyang Mahadewa dan Sanghyang Asmara.

Sanghyang Brahma bersemayam di Kahyangan Daksinageni. Ia mempunyai tiga orang permaisuri dan dua puluh satu putra, 14 pria dan 7 wanita. Dari permaisuri Dewi Saci berputra dua orang bernama ; Bathara Maricibana dan Bathara Naradabrama. Dengan Dewi Sarasyati mempunyai lima orang putra bernama; Bathara Brahmanasa, Bathara Bramasadewa, Bathara Bramanasadara, Bathara Bramanarakanda dan Bathara Bramanaresi. Sedangkan dengan Dewi Rarasyati/Raraswati mempunyai empat belas orang putra dan putri, masing-masing bernama ; Dewi Bramani, Dewi Bramanistri, Bathara Bramaniskala, Bathara Bramanawara, Dewi Bramanasita, Dewi Bramaniyati, Dewi Bramaniyodi, Bathara Bramanayana, Bathara Bramaniyata, Bathara Bramanasatama, Dewi Bramanayekti, Dewi Bramaniyuta, Dewi Dresanala dan Dewi Dresawati.

Sanghyang Brahma adalah Dewa Api, maka bila bertikikrama ia dapat mengeluarkan prabawa api. Ia seorang panglima perang yang ulung, dan berkedudukan sebagai senapati angkatan perang Suralaya/Kadewatan. Sanghyang Brahma pernah turun ke Arcapada, menjadi raja di negara Medanggili bergelar Maharaja Sunda/Rajapati.
Batara Brama
Batara Brama adalah putera dari Batara Guru. Batara Brama adalah dewa yang menguasai api, dan bersemayam di Kahyangan Deksina.

Dalam cerita wayang Mahabarata, Batara Brama merupakan dewa yang menurunkan kesaktian kepada Raden Kakrasana, yang kelak menjadi raja di Kerajaan Mandura (ketika telah menjadi raja Raden Kakrasana bergelar Prabu Baladewa, dan terkenal sangat sakti karena memiliki pusaka Nanggala yang sanggup menggempur gunung). Pusaka Nanggala yang dimiliki oleh Raden Kakrasana merupakan senjata pusaka pemberian dari Batara Brama. Selain memberikan pusaka Nanggala, Batara Brama juga memberikan pusaka Gada Alugara kepada Raden Kakrasana.

Batara Brama dikisahkan juga memiliki puteri yang sangat cantik bernama Dewi Dresanala. Dewi Dresanala ini kelak menjadi istri Raden Arjuna dari keluarga Pandawa, dan menurunkan putera bernama Wisanggeni yang sangat sakti. Konon ketika baru lahir, Wisanggeni dibuang ke dalam kawah gunung berapi oleh Batara Brama, kakeknya sendiri. Sebab kelahiran Wisanggeni yang sangat sakti dianggap menyebabkan kahyangan goncang sehingga Batara Guru memerintahkan Batara Brama untuk membunuh cucunya tersebut. Batara Brama sebenarnya tidak tega melakukannya, tapi karena diperintahkan oleh Batara Guru maka dengan terpaksa Batara Brama melakukannya.

Ketika dibuang ke dalam kawah gunung berapi, Wisanggeni tidak mati karena bagaimanapun dia adalah cucu dari dewa api. Malah kesaktian Wisanggeni semakin hebat. Akhirnya Wisanggeni selamat dan berkat bantuan Semar dan Sang Hyang Wenang Wisanggeni bisa menuntut keadilan kepada kakeknya dan Batara Guru. Pada akhirnya Batara Guru mau menerima kehadiran Wisanggeni dalam keluaraga para dewa, dan Batara Brama menyatakan penyesalannya karena telah berusaha membunuh cucunya itu. Setelah semua pihak berdamai, kahyangan kembali tenang.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Baruna, Batara

BARUNA, BATARA sering disebut pula dengan nama Batara Waruna. Ia masih keturunan Sanghyang Wenang dari garis keturunan Sanghyang Nioya. Batara Baruna bertempat tinggal di Kahyangan Dasar Samodra. Ia bertugas memelihara ekosistem dan biota laut. Ia berwujud dewa berwajah ikan dan seluruh badannya bersisik ikan. Batara Baruna dapat hidup di darat dan di air. Ia mempunyai cupu berisi air kehidupan Mayausadi.
Dalam pewayangan, Sanghyang Baruna pernah menjelma menjadi manusia dan menggunakan nama Begawan Badawanganala. Selama menjadi petapa itu ia mempunyai dua putri cantik yang disunting Nakula dan Sadewa yaitu Dewi Srengganawati dan Dewi Srenggini. (wayangprabu.com)

Batara Baruna atau Saghyang baruna dalam serat Paramayoga adlag putera Dewi Gangga, cucu sanghyang Heramaya, dan tak lain adalah buyut Saghyang wening. Namun menurut Mahabharata, Batara Baruna adalah putera mahasrsi Kasyapa yang lahir dari Dewi Aditi, puteri saghyang Daksa, cucu Batara Brahma.

Dalam serat Uttarakanda menyebutkan, Batara Baruna adalah dewa yang termasuk “Catur Lokapala”. (Lokapala 4 : Indra, Yama, baruna, Kuwera).


Batara Baruna menguasai alam air dan seisinya. Kahyangannya ada di dasar samudra. Istrinya yang terkenal adalah Dewi Diwi dan Dewi Mitra. Sanghyang Baruna hanya memili satu putera yaitu maharsi Agastya.

Batara baruna senang memberikan pertolongan dan nasihat kepada manusia di bumi seperti; Saat Maharsi Ricika (Ayah dari Maharsi jamagdani atau eyangnya Ramaparasu) ingin melamar Dewi Setyawati, Puteri Prabu Gandi raja negara Kanyakawya. Saat itu Maharsi Ricika dimintai syarat berupa kuda berjumlah seribu, dengan ules merah dan telinga sebelah warnanya harus sama yaitu hitam. Dengan bantuan Batara Baruna lah, Sang Maharsi bisa memenuhi persyaratan itu.

Saat prabu Ramawijaya memimpin wadyabala/pasukan kera untuk menyerang ke negeri Alengka, perjalanan mereka terhalang oleh lautan. Batara Baruna mendatangi Ramawijaya dan memberikan nasihat agar membuat bendungan/tambak. Dengan nasihat Batara Baruna, ia pun meminta pasukan kera yang dipimpinnya untuk membuat bendungan/tambak samudra tersebut hingga akhirnya mereka bisa sampai ke negeri Alengka.( http://www.hadisukirno.com)


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Aswan dan Aswin, Bathara

BATHARA ASWAN dan BATHARA ASWIN adalah dewa kembar, putra dari Bathara Sumeru, yang berarti masih keturunan Sanghjyang Taya, adik Sanghyang Wenang. Sebagaimana saudara-saudaranya yang lain satu kerunan dari Bathara Sumeru, Bathara Aswan dan Bathara Aswin juga mengemban tugas kewajiban menjaga keselamatan umat di bumi dengan keahliannya masing-masing. Bathara Aswan adalah dewa yang khususnya memerangi segala macam penyakit yang berkembang di bumi, sedang Bathara Aswin adalah dewa yang menguasai ramalan segala sesuatu yang terjadi di dunia.

Bhatara Aswan dan Bathara Aswin memiki sifat dan perwatakan, sabar, teliti, cerdas, setia dan patuh terhadap perintah. Atas perintah Sanghyang Manikmaya (Bathara Guru), Bathara Aswan dan Bathara Aswin turun arcapada (bumi) dengan perantaraan rahim Dewi Madrim — putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati dari Negara Mandaraka —, istri Prabu Pandudewanata raja negara Astina. Bathara Aswan sebagai Pinten atau Nakula, sedangkan Bathara Aswin menjelma sebagai Tansen atau Sadewea. Keduanya merupakan satria kembar dari lima satria Pandawa.

Aswin, Batara oleh sebagian dalang dianggap kembaran Batara Aswan. Sebagian lagi menganggap Batara Aswan dan Batara Aswin adalah satu tokoh yang menyatu dalam wujud Dewa Kembar. Mereka adalah putra Batara Sumeru dengan Ibu Dewi Kurani.

Dewa Aswan dan Aswin dikenal juga sebagai Dewa Tabib karena ahli dalam obat-obatan dan menyembuhkan berbagai penyakit. Mereka pernah menyembuhkan seorang penggembala bernama Utamanyu dari kebutuaan yang dideritanya sejak lahir. Mereka juga pernah menghadiahkan umur panjang dan kembali muda kepada Maharsi Cyawana, setelah menguji kesetiaan istri pertapa tersebut yang benama Dewi Sukanya


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Asmara, Sanghyang

SANGHYANG ASMARA adalah Dewa Kasih Sayang yang diberi tugas untuk mendamaikan suami-istri yang menghadapi hidup jauh dari kebahagiaan, sehingga menjadi suatu pasangan yang penuh dengan cinta kasih, kesetiaan dan ketentraman hidup penuh bahagia. Ia berparas sangat tampan dan tingkah lakunya sangat menarik.

Sanghyang Asmara adalah putra ketiga Sanghyang Manikmaya dengan Dewi Umarakti/Umaranti. Ia mempunyai dua orang saudara kandung bernama : Sanghyang Cakra dan Sanghyang Mahadewa. Sanghyang Asmara juga mempunyai enam orang saudara seayah lain ibu, putra Dewi Umayi masing – masing bernama : Sanghyang Sambo, Sanghyang Brahma, Sanghyang Indra, Sanghyang Bayu, Sanghyang Wisnu dan Bathara Kala.

Sanghyang Asmara mempunyai tempat kedudukan di Kahyangan Mayaretna. Oleh Sanghyang Manikmaya ia juga diberikan tugas memberikan pahala kepada keturunan Witaradya (sejarah para raja). Selain memiliki Aji pangabaran, Sanghyang Asmara juga mempunyai kesaktian berupa ; Asmaragama, Asmaratantra dan Asmaraturida. Rapal Aji Asmaragama pernah diajarkan kepada Prabu Arjunasasra, raja negara Maespati, dan kepada Arjuna, satria Pandawa. Sedangkan Rapal Aji Asmaratantra dan Asmaraturida diajarkan kepada Sri Kresna, raja negara Dwarawati


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Antaboga, Sanghyang

Sanghyang Antaboga atau Sang Hyang Nagasesa atau Sang Hyang Anantaboga adalah dewa penguasa dasar bumi. Dewa itu beristana di Kahyangan Saptapratala, atau lapisan ke tujuh dasar bumi. Dari istrinya yang bernama Dewi Supreti, ia mempunyai dua anak yaitu Dewi Nagagini dan Naga Tatmala. Dalam pewayangan disebutkan, walaupun terletak di dasar bumi, keadaan di Saptapratala tidak jauh berbeda dengan di kahyangan lainnya.

Sang Hyang Antaboga adalah putra Anantanaga. Ibunya bernama Dewi Wasu, putri Anantaswara. Walaupun dalam keadaan biasa Sang Hyang Antaboga serupa dengan ujud manusia, tetapi dalam keadaan triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular naga besar. Selain itu, setiap 1000 tahun sekali Sang Hyang Antaboga berganti kulit (mlungsungi).

Dalam pewayangan, dalang menceritakan bahwa Sang Hyang Antaboga memiliki Aji Kawastrawam, yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja sesuai dengan yang dikehendakinya. Antara lain ia pernah menjelma menjadi garangan putih (semacam musang hutan atau cerpelai) yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-gala.

Putrinya, Dewi Nagagini menikah dengan Bima, orang kedua dalam keluarga Pandawa. Cucunya yang lahir dari Dewi Nagagini bernama Antareja atau Anantaraja.

Sang Hyang Antaboga mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta. Air sakti itu kemudian diberikan kepada cucunya Antareja dan pernah dimanfaatkan untuk menghidupkan Dewi Wara Subadra yang mati karena dibunuh Burisrawa dalam lakon Subadra Larung.

Sang Hyang Antaboga pernah dimintai tolong Batara Guru menangkap Bambang Nagatatmala, anaknya sendiri. Waktu itu Nagatatmala kepergok sedang berkasih-kasihan dengan Dewi Mumpuni, istri Batara Yamadipati. Namun para dewa gagal menangkapnya karena kalah sakti. Karena Nagatatmala memang bersalah walau itu anaknya, Sang Hyang Antaboga terpaksa menangkapnya. Namun Dewa Ular itu tidak menyangka Batara Guru akan menjatuhkan hukuman mati pada anaknya dengan memasukkannya ke Kawah Candradimuka. Untunglah Dewi Supreti istrinya, kemudian menghidupkan kembali Bambang Nagatatmala dengan Tirta Amerta. Batara Guru juga pernah mengambil kulit yang tersisa sewaktu Sang Hyang Antaboga mrungsungi dan menciptanya menjadi makhluk ganas yang mengerikan. Batara Guru menamakan makhluk ganas itu Candrabirawa.

Sang Hyang Antaboga, ketika masih muda disebut Nagasesa. Walaupun ia cucu Sang Hyang Wenang, ujudnya tetap seekor naga, karena ayahnya yang bernama Antawisesa juga seekor naga. Ibu Nagasesa bernama Dewi Sayati, putri Sang Hyang Wenang. Suatu ketika para dewa berusaha mendapatkan Tirta Amerta yang membuat mereka bisa menghidupkan orang mati. Guna memperoleh Tirta Amerta para dewa harus membor dasar samudra. Mereka mencabut Gunung Mandira dari tempatnya dibawa ke samudra, dibalikkan sehingga puncaknya berada di bawah, lalu memutarnya untuk melubangi dasar samudra itu.

Namun setelah berhasil memutarnya, para dewa tidak sanggup mencabut kembali gunung itu. Padahal jika gunung itu tidak bisa dicabut, mustahil Tirta Amerta dapat diambil. Pada saat para dewa sedang bingung itulah Nagasesa datang membantu. Dengan cara melingkarkan badannya yang panjang ke gunung itu dan membetotnya ke atas, Nagasesa berhasil menjebol Gunung Mandira, dan kemudian menempatkannya di tempat semula. Dengan demikian para dewa dapat mengambil Tirta Amerta yang mereka inginkan. Itu pula sebabnya, Nagasesa yang kelak lebih dikenal dengan nama Sang Hyang Antaboga juga memiliki Tirta Amerta.*

*) Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan Tirta Amerta, para dewa bukan membor samudra, melainkan mengaduk-aduknya. Ini didasarkan atas arti kata ngebur dalam bahasa Jawa, yang artinya mengaduk-aduk, mengacau, membuat air samudra itu menjadi ‘kacau’.

Jasa Nagasesa yang kedua adalah ketika ia menyerahkan Cupu Linggamanik kepada Bathara Guru. Para dewa memang sangat menginginkan cupu mustika itu. Waktu itu Nagasesa sedang bertapa di Guwaringrong dengan mulut terbuka. Tiba-tiba melesatlah seberkas cahaya terang memasuki mulutnya. Nagasesa langsung mengatupkan mulutnya, dan saat itulah muncul Bathara Guru. Dewa itu menanyakan kemana perginya cahaya berkilauan yang memasuki Guwaringrong. Nagasesa menjawab, cahaya mustika itu ada pada dirinya dan akan diserahkan kepada Bathara Guru, bilamana pemuka dewa itu mau memeliharanya baik-baik. Bathara Guru menyanggupinya, sehingga ia mendapatkan Cupu Linggamanik yang semula berujud cahaya itu.

Cupu Linggamanik sangat penting bagi para dewa, karena benda itu mempunyai khasiat dapat membawa ketentraman di kahyangan. Itulah sebabnya semua dewa di kahyangan merasa berhutang budi pada kebaikan hati Nagasesa.

Karena jasa-jasanya itu para dewa lalu menghadiahi Nagasesa kedudukan yang sederajat dengan para dewa dan berhak atas gelar Bathara atau Sang Hyang. Sejak itu ia bergelar Sang Hyang Antaboga. Para dewa juga memberinya hak sebagai penguasa alam bawah tanah. Tidak hanya itu, oleh para dewa Nagasesa juga diberi Aji Kawastram* yang membuatnya sanggup mengubah ujud dirinya menjadi manusia atau makhluk apa pun yang dikehendakinya.

*) Sebagian orang menyebutnya Aji Kemayan. spertinya sebutan itu kurang pas, karena Kemayan yang berasal dari kata ‘maya’ adalah aji untuk membuat pemilik ilmu itu menjadi tidak terlihat oleh mata biasa. Kata ‘maya’ artinya tak terlihat. Jadi yang benar adalah Aji Kawastram.

Untuk membangun ikatan keluarga, para dewa juga menghadiahkan seorang bidadari bernama Dewi Supreti sebagai istrinya. Perlu diketahui, cucu Sang Hyang Antaboga, yakni Antareja hanya terdapat dalam pewayangan di Indonesia. Dalam Kitab Mahabarata, Antareja tidak pernah ada, karena tokoh itu memang asli ciptaan nenek moyang orang Indonesia.

Sang Hyang Antaboga pernah berbuat khilaf ketika dalam sebuah lakon carangan terbujuk hasutan Prabu Boma Narakasura cucunya, untuk meminta Wahyu Senapati pada Bathara Guru. Bersama dengan menantunya, Prabu Kresna yang suami Dewi Pertiwi, Antaboga berangkat ke kahyangan. Ternyata Bathara Guru tidak bersedia memberikan wahyu itu pada Boma, karena menurut pendapatnya Gatotkaca lebih pantas dan lebih berhak. Selisih pendapat yang hampir memanas ini karena Sang Hyang Antaboga hendak bersikeras, tetapi akhirnya silang pendapat itu dapat diredakan oleh Bathara Narada. Wahyu Senapati tetap diperuntukkan bagi Gatotkaca.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Senin, 07 Januari 2013

Wahyu Makutarama


Bagawan Kesawasidi memberi wejangan Hastabrata kepada Arjuna yang merupakan perwujudan dari Wahyu Makutharama (karya Herjaka HS 2008)


Cerita Wahyu Makutharama dimuat dalam lakon Wahyu Makutharama atau Arjuna Jelur. Isi ringkas cerita Wahyu Makutharama sebagai berikut:

Duryodana raja Ngastina duduk di atas singgasana, dihadap oleh Baladewa raja Mandura, Basukarna, Pendeta Drona, Patih Sakuni dan beberapa pegawai kerajaan Ngastina. Mereka membicarakan wahyu yang akan turun ke dunia. Raja Duryodana ingin memperoleh wahyu itu, lalu minta agar Adipati Karna bersedia mewakili untuk mencarikannya. Adipati Karna bersedia, lalu pergi bersama Patih Sakuni dan beberapa warga Korawa meninggalkan istana. Prajurit Korawa ikut mengawal perjalanan mereka.


Kresna menjadi pertapa bernama Bagawan Kesawasidi, bertempat di pertapaan Kutharunggu. Sang Bagawan dihadap oeh Anoman, Resi Maenaka, Yaksendra dan Gajah Setubanda. Adipati Karna dan Patih Sakuni datang menghadap sang Bagawan, minta Wahyu Makutharama yang sekarang ada pada Bagawan Kesawasidi. Bagawan Kesawasidi mengaku bahwa wahyu tidak ada pada dirinya. Adipati Karna tidak percaya, maka terjadilah perselisihan. Adipati Karna menyerang, tetapi dilawan oleh Yaksendra dan Yajagwreka. Bagawan Kesawasidi tidak senang melihat pertengkaran itu, maka Resi Anoman diminta melerainya. Adipati Karna melepas panah Wijayandanu, tapi panah ditangkap oleh Resi Anoman. Panah diserahkan kepada Bagawan Kesawasidi. Adipati Karna putus asa, tidak melanjutkan perkelahian. Bagawan Kesawasidi menyalahkan sikap Anoman. Resi Anoman merasa salah, lalu minta petunjuk. Resi Anoman disuruh bertapa di Kendhalisada. Resi Anoman kemudian kembali ke Kendhalisada.


Arjuna dan panakawan menjelma menjadi seorang begawan, dan sekarang ingin bersatu dengan Hyang Suksma Kawekas. Selama bersamadi ia mendapat petunjuk agar menemui Bagawan Kesawasidi. Bagawan Wibisana menghadap Bagawan Kesawasidi di Kutharunggu. Ia minta penjelasan cara mempersatukan diri dengan Hyang Suksma Kawekas. Bagawan Kesawasidi keberatan untuk menjelaskannya, lalu terjadi perkelahian. Bagawan Kesawasidi dipanah Wibisana dengan panah pemberian Ramawijaya. Seketika Bagawan Kesawasidi berubah menjadi raksasa besar dan dahsyat. Bagawan Wibisana menghormat dan minta ampun. Bagawan Kesawasidi kembali ke wujud semula, lalu bersamadi. Bagawan Wibisana ikut bersamadi. Setelah selesai, Bagawan Kesawasidi minta agar Bagawan Wibisana membuka jalan untuk air suci. Bagawan Wibisana mendapat air suci, lalu akan kembali ke sorga. Di tengah perjalanan ia melihat penderitaan suksma Kumbakarna. Suksma Kumbakarna mengganggu suksma Wibisana. Maka suksma Kumbakarna disuruh mencari Wrekodara di Marcapada.


Wrekodara mencari saudara-saudaranya. Di tengah jalan ia digoda oleh suksma Kumbakarna. Wrekodara marah, mengamuki Kumbakarna yang kadang-kadang tampak, kadang-kadang hilang. Akhirnya suksma Kumbakarna masuk ke betis Wrekodara sebelah kiri. Kemudian Wrekodara pun melanjutkan perjalanan.


Arjuna menghadap Bagawan Kesawasidi di Kutharunggu. Bagawan Kesawasidi tahu bahwa Arjunalah yang pantas ditempati Wahyu Makutharama. Bagawan Kesawasidi memberi nasihat dan menyampaikan ajaran Rama kepada Wibisana yang disebut asthabrata. Setelah selesai memberi wejangan dan ajaran, Bagawan Kesawasidi menyerahkan senjata Kunta kepada Arjuna. Arjuna menerima Kunta, menghormat, lalu pergi mendapatkan Karna.


Arjuna menemui Karna, menyerahkan senjata Kunta. Karna menerima senjata, kemudian berkata ingin memiliki Wahyu Makutharama. Arjuna mejelaskan makna wahyu itu, dan berkata bahwa dirinya yang memilikinya. Karna ingin merebut wahyu tersebut, maka terjadilah perkelahian di antara mereka. Karna merasa tidak mampu lalu mengundurkan diri. Arjuna kembali ke pertapaan Kutharunggu. Wrekodara telah datang menghadap Bagawan Kesawasidi. Tiba-tiba datang dua kesatria bernama Bambang Sintawaka dan Bambang Kandhihawa. Mereka ingin menaklukkan Bagawan Kesawasidi dan Arjuna. Akhirnya terjadi perang tanding. Bagawan Kesawasidi melawan Bambang Sintawaka, Arjuna melawan Bambang Kandhihawa. Bagawan Kesawasidi berubah menjadi Kresna, Bambang Sintawaka menjadi Sembadra, dan Bambang Kandihawa menjadi Srikandi.


Mereka senang dapat bertemu dan bersatu kembali, kemudian kembali ke negara, berkumpul di Ngamarta.



R.S. Subalidinata
(Sumber baca: Pakem Padhalangan Lampahan “Makutharama” Ki Siswoharsojo. Ngajogjakarta, 1962)


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

ASTABRATA


AJARAN ASTABRATA pada awalnya merupakan ajaran yang diberikan olah Rama kepada Wibisana. Ajaran tersebut terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, tertuang pada pupuh 27 Pangkur, jumlah baitnya ada 35 buah. Pada dua pupuh sebelumnya diuraikan kekalahan Rahwana dan kesedihan Wibisana. Disebutkan, perkelahian antara Rahwana melawan Rama sangat dahsyat. Seluruh kesaktian Rahwana ditumpahkan dalam perkelahian itu, namun tidak dapat menendingi kesaktian Rama. Ia gugur oleh panah Gunawijaya yang dilepaskan Rama. Melihat kekalahan kakaknya, Wibisana segera bersujud di kaki jasad kakaknya dan menangis penuh kesedihan.

Demikian antara lain diungkapkan Prof. DR. Marsono (52), Dosen Fakultas Budaya Jurusan Sastra UGM, di hadapan peserta sarasehan Jumat Kliwonan Lembaga Javanologi, di nDalem Joyodipuran, Yogyakarta, pada 6 Juli 2001. Dalam sarasehan yang dihadiri 30 peserta, Marsono mengatakan, Rama menghibur Wibisana dengan memuji keutamaan rahwana yang dengan gagah berani sebagai seorang raja yang gugur di medan perang bersama balatentaranya. Oleh Rama, Raden Wibisana diangkat menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar menjadi raja yang bijaksana mengikuti delapan sifat dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Bayu, Kuwera, Brama, Candra, dan Baruna. Itulah yang disebut dengan Asthabrata
Secara rinci Marsono menguraikan masing-masing ajaran dengan memberikan kutipan teks sebagaimana terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, Nitisruti dan Ramayana Kakawin Jawa Kuna.

1. Sang Hyang Indra adalah Dewa Hujan. Ia mempunyai sifat menyediakan apa yang diperlukan di bumi, memberikan kesejahteraan dan memberi hujan di bumi.

2. Sang Hyang Yama adalah Dewa Kematian. Ia membasmi perbuatan jelek dan jahat tanpa pandang bulu.

3. Sang Hyang Surya adalah Dewa Matahari. Sifatnya pelan, tidak tergesa-gesa, sabar, belas kasih dan bijaksana.

4. Sang Hyang Candra adalah Dewa Bulan, ia selalu berbuat lembut, ramah dan sabar kepada siapa saja.

5. Sang Hyang Bayu adalah Dewa Angin. Ia bisa masuk ke mana saja ke seluruh penjuru dunia tanpa kesulitan. Segala perilaku baik atau jelek kasar atau rumit di dunia dapat diketahui olehnya tanpa yang bersangkutan mengetahuinya. Ia melihat keadaan sekaligus memberikan kesejahteraan yang dilaluinya.

6. Sang Hyang Kuwera adalah Dewa Kekayaan. Sifatnya ulet dalam berusaha mengumpulkan kekayaan guna kesejahteraan warga masyarakatnya. Ia sebagai penyandang dana.

7. Sang Hyang Baruna adalah Dewa Samudera. Sifat Samudera bisa menampung seluruh air sungai dengan segala sesuatu yang ikut mengalir di dalamnya. Namun samudera tidak tumpah. Hyang Baruna seperti samudera bisa menampung apa saja yang jelek ataupun baik. Ia sabar dan berwawasan sangat luas, seluas samudera.

8. Sang Hyang Brama adalah Dewa Api . sifat api bisa membakar menghanguskan dan memusnahkan benda apa saja. Ia pun dapat memberikan pelita dalam kegelapan Hyang Brama seperti api bisa membasmi musuh dan segala kejahatan sekaligus bisa menjadi pelita bagi manusia yang sedangdalam keadaan kegelapan.

Kalau dirangkum amanat asthabrata yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin itu sebagai berikut : Dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya: membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang; bersifat bijaksana, sabar , ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan dana bagi warganya yang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, naik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya. Ajaran ini tetap relevan bagi para pemimpin kita hingga kini sampai ke masa depan.

Ajaran Astabrata identik dengan agama Hindu, bagi pemeluk agama lain (termasuk saya sendiri) ya untuk sekedar tahu saja, dan mari kita ambil sisi positifnya saja dari ajaran Astabrata ini.

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Rama Nitis

Syahdan,  Prabu Rama mendengar kabar bahwa rakyat Pancawati. mengalami masa paceklik, rakyat sulit sekali mendapatkan makanan. karena panennya mengalami kegagalan. Kemudian Prabu Rama bersama adiknya Leksmana, pergi ke kerajaan Pancawati. Prabu Rama merasa terketuk hatinya dengan kabar kesengsaraan rakyat Pancawati dan Goa Kiskenda.

Sementara itu Narpati Sugriwa, senapati pasukan rewanda, mengalami kesulitan  yang di alami rakyat nya. Rakyat Pancawati mengalami paceklik. Hujan sudah lama tidak turun, sehingga sawah mengalami kekeringan, panen gagal dan padi menjadi puso. Rakyat menja di sengsara. Prabu Rama melihat keadaan itu, maka Prabu Rama dan Leksmana pergi ke Padukuhan Klampis Ireng, tempat bermukimnya, Ki Lurah Semar, dengan maksud memboyong Semar, Gareng, Petruk dan Bagong ke Pancawati. Karena selama Ki Lurah Semar, tinggal di Pancawati, kehidupan di Pancawati, makmur, aman sejahtera. Namun setelah Prabu Dasamuka tewas, Ki Lurah Semar, meninggalkan Pancawati, dan tinggal di Klampis Ireng. Bencanapun datang. Untuk itu, maka Prabu Rama dan Leksmana dan dikawal pasukan rewanda, pergi ke Klampis Ireng.

Ternyata sesampai di Padukuhan Klampis Ireng, Rombongan Prabu Rama, berbarengan dengan keda tangan  Prabu Kresna, raja Dwarawati, dan  para Pandawa  dari Kerajaan Indraprasta. dan juga Adipati Karna disertai Pandita Durna dan Patih Sengkuni yang datang dari Kerajaan Astina. yang bermaksud serupa.

Akhirnya Semar memutuskan, untuk mengadakan Sayembara, siapa saja yang bisa mengambil bunga Tunjung Biru dari Kahyangan Cakrakembang, dan memberikannya kepada Semar, Semar siap mengabdi pada nya. Leksmana dan Arjuna segera keluar dari rumah Semar, dan ber lomba untuk men dapat kan bunga Tunjung biru. Sedangkan Adipati Karna, atas saran Patih Sengkuni, tidak perlu ikut ikutan ke Kahyangan Cakrakembang, Kurawa cukup menunggu hasilnya. Kalau mereka sudah dapat, maka akan direbutnya. Karena ilmu Leksmana lebih unggul dari Arjuna, maka Leksmana berhasil menemui Batara Kamajaya. Batara Kamajaya memberikan kembang Tunjung Biru kepada Leksmana. Leksmana segera bermaksud pulang ke Klampis Ireng. Namun di tengah perjalan bertemu dengan Arjuna. Arjuna bermaksud merebut bunga kembang Tunjung Biru. Alhasil, Leksmana mendapatkan bunganya sedang Arjuna mendapatkan tangkainya. Mereka merasa puas dengan hasil yang didapatkannya. Ketika keduanya beranjak menuju Padukuhan Klampis Ireng, mereka dicegat oleh pasukan Kurawa, yang bermaksud merebut bunga Tunjung Biru secara utuh. Kedua satria itu di kerubut pasukan Kurawa. Pasukan Kurawa merasa kalah dan pergi meninggalkan padukuhan Klampis Ireng.

Sementara itu di Klampis Ireng, Semar dan anak anaknya, sedang bercanda ria, tiada lama kemudian datang Leksmana dan Arjuna. Semar meminta bunga tunjung biru dari Leksmana dan Semar juga meminta tangkai bunga tunjung biru dari Arjuna.Oleh Semar keduanya di persatukan. Ternyata menjadikan pancaran sinar yang menyilaukan. Dari sinar yang terang itu muncul Sanghyang Tunggal ayahanda Sanghyang Ismaya, yang tak lain adalah yang Dewa yang menitahkan Semar untuk turun ke marcapada, dan mengabdi di Pertapaan Saptaharga. Turun temurun, ikut Begawan Sekutrem, ikut Begawan Sakri, ikut Begawan Palasara dan Abiyasa sampai momong para Para Pandawa dan putera puteranya. Semar juga pernah ngemong Raden Narasoma, yaitu Prabu Salya kletika masih muda.Kemudian ikut Bambang Sumantri, dan Prabu Arjuna Sasrabahu. Kemudian  ikut Resi Gotama dan ngemong para putera puteri nya, yaitu Subali, Sugriwa dan Dewi Anjani,, sampai dengan Anoman dan Prabu Rama

Kedatangan Sanghyang Tunggal di Padukuhan Klampis Ireng, menjadikan Semar dan tamu tamunya, menjadi gugup. Leksmana dan Arjuna menghaturkan sembah. Sanghyang Tunggal segera memerintahkan kepada Semar, bahwa tugas Semar mengabdi pada Prabu Rama sudah selesai. Karena Prabu Rama telah menyelamatkan jagat manusia dari keangkaramurkaan. Sedangkan Prabu Dasamuka yang mewakili keangkaramurkaan sudah sirna, Kini saatnya Semar dan anak anaknya ikut Pandawa. Sedangkan Togog sebelumnya sudah diperintahkan pergi meninggalkan Alengka, menuju Astina. Semar menyatakan kesiapannya untuk ikut Pandawa. Prabu Rama merasa sangat kecewa dengan kepergian Semar dan anak anak nya. Namun karena itu sudah kehendak dewata, maka ia merelakannya.Sementara itu Pandawa telah berhasil memboyong Semar cs. Namun, di tengah perjalanan, Para Kurawa menghadang jalan. Kurawa meminta Semar cs ke Negara Astina. Arjuna tidak memberikannya. Terjadi peperangan antara pasukan Astina dan Pandawa. Pasukan Kurawa terdesak mundur, dan kembali ke negaranya.

Prabu Rama kecewa tidak bisa memboyong Semar. Namun Sanghyang Tiunggal melimpahkan kesejahteran kepada rakyat Pancawati dan Ayodya.

Prabu Rama dan Laksmana kembali ke Ayodya. Prabu Rama memeruintah Ayodya. Sedangkan Laksmana  menjadi patih nya. Prabu Rama bertahta hingga usia lanjut.

Prabu Rama lengser keprabon. Putera Prabu Rama yang pertam, Lawa, diangkat menjadi raja Ayodya, bergelar Prabu Rama Badlawa,. Sedangkan putera yang kedua. adalah Kusya, menggantikan kedudukan kakeknya Prabu Janaka, menjadi raja Mantili, dengan bergelar Prabu Rama Kusya..

Sedangkan Prabu Rama yang diikuti pula Laksmana pergi bertapa di Kurharunggu. Prabu Rama yang menjadi Panembahan Raama banyak  di cintai rakyatnya dari pejabatnya sampai rakyat biasa. Panembahan Rama mengajarkan Astabrata.Yaitu seorang pimpinan harus bsa adil pada semua rakyatnya. Seperti delapan unsur alam,yalah . air,api. matahati, bulan, kartika, bulan, bumi, angkasa juga yang merata memmbagikan manfaatnya  kepada semua makhluk yang hidup didunia.

Panembahan Rama meninggal dalam usia lanjut. Meninggalnya, Panembahan Rama menjadikan gempar Pasukan Rewanda. Mereka kemudian menyusul ke Kutharunggu. Sementara itu, Upacara perabuan Panemban Rama di hadiri para raja raja wayang, antara lain, Prabu Kresna dari Kerajaan Dwarawati, Prabu Baladewa dari Mandura, para Pandawa, juga putera Prabu Rama, Prabu Ramabadlawa, Raja Ayodya dan Prabu Ramakusya dari Kerajaan Mantili serta para rewanda,. Perabuan Panembahan Rama pun dilaksanakan..


Tiba tiba Narpati Sugriwa, berteriak seperti memanggil manggil Prabu Rama, kemudian  Sugriwa meloncat dan terjun dalam api yang menjilat jilat bagai menggapai langit. Tindakan Narpati Sugriwa, ternyata  diikuti pasukan Rewanda lainnya, seperti Anggada, Anila, serta para punggawa lain, juga kera kera ciptaan dewa, Cucak Rawun dan anak buahnya, Semuanya tewas, kecuali Anoman dan Kapi Jembawan. Anoman masih bertugas menjaga keberadaan Dasamuka, yang ditawan didalam gunung Kendali sada,sedangkan Kapi Jembawan menjadi seorang Resi di pertapaam Gadamadana.

Setelah melakukan belapati pada Prabu Rama, para Rewanda kembali menjadi manusia, dan masuk kedalam Nirwana.Setelah meninggal, Prabu Rama menitis pada Prabu Kresna.

Sedangkan Laksmana melanjutkan bertapanya. Beberapa tahun kemudian,Leksmana tutup usia, menyusul Prabu Rama. Ia berusia lebih lanjut. Leksmana menitis pada Arjuna, satria Pandawa.Ia  diperabukan dan di makamkan di Kutharunggu.

Sejak saat itulah, cerita Ramayana disambung dengan Mahabarata. Cerita cerita Semar boyong, Wahyu Makutarama dan Rama Nitis adalah cerita penghubung antara Ramayana dan Mahabarata.

Note : kisah pewayangan Jawa dan tidak ada di versi India.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Sinta Mati Ditelan Bumi

Sepeninggal Sinta keadaan negeri Ayodya kacau balau, bahkan banyak malapetaka yang menimpanya. Kalau musim hujan banyak banjir bandang yang sanggup menghanyutkan seluruh hasil pertanian dan hata kekayaan. Tetapi jangan ditanya kalau sedang musim kemarau. Tanah merekah, kering sampai-sampai tak ada tanaman yang dapat tumbuh. Bahaya kelaparan dan “paceklik” menimpanya. Sehingga banyak gelandangan dan kere bertebaran dimana-mana. Usaha apapun yang telah ditempuh oleh pemerintah toh sia-sia belaka.

Maka atas usul para resi yang sudah waskita, agar negara mangadakan korban kuda (Aswa Megh Yagja). Yakni kuda yang dilepas oleh Sri Rama dan lari bebas kemana-mana yang diikuti oleh pasukan Ayodya. Negara-negara mana yang dilalui oleh kuda tersebut harus memilih, menyerah menjadi wilayah jajahan Ayodya, atau melawannya. Pendek kata suatu tindakan untuk membenarkan penjajahan.

Ringkasnya, salat satu kuda atau korban kuda itu lari masuk ke daerah asrama padepokan Gangga dimana Lawa dan Kusya berada.
“Nah ini kuda korba dari Sri Rama.” kata Lawa dan Kusya. “Mari kita coba sampai dimana kekuatan pasukan Sri Rama.”

Lawa dan Kusya kemudian naik ke gigir kuda korban tersebut dan memberanikan diri menentang pasukan Sri Rama. Betul juga di tengah jalan ia telah berjumpa dengan Laksmana yang diiringi oleh Senopatinya. Setelah terjadi peperangan ternyata tak ada satupun yang mampu melawan kekuatan Lawa dan Kusya. Bahkan Laksmanapun tak mampu melawannya dan jatuh pingsan tak sadarkan diri ketika terkena panah saktinya Lawa dan Kusya.

Betapa sangat murkanya Sri Rama setelah mendengar kabar tersebut. Ia segera menarik siap melepas panah Gunawijaya. Betapapun beraninya Lawa dan Kusya. setelah melihat ujung panah Gunawijaya yang menyala membara itu menjadi panik juga. Mereka menggigil dan gemetar seluruh tubuhnya. Sungguh sangat tegang saat itu. Lawa dan Kusya “megeng nafas”, bahkan dunia-pun ikut menahan nafas menyaksikan periwistiwa itu. Dalam keadaan yang kritis itu, muncullah Resi Walmiki sambil berteriak:

“Duh anak prabu, tunggu……….. sabarlah sejenak. Jangan kau lepaskan Gunawijaya kepada anakmu sendiri.”

Rama Wijaya sangat terkejut mendengar tegoran tersebut. “Ooh bapa Resi Walmiki.” Sri Rama meloncat dari keretanya lari menghampiri dan menghormati Resi Walmiki.

“Oohh, anak prabu, ketahuilah bahwa anak ini adalah putra anak prabu sendiri dan itu Sinta.”

Sri Rama sangat terkejut ketika melihat Sinta tak jauh dari tempatnya. Ia segera lari mendekati Sinta isterinya yang sangat ia cintai. Namun Sinta lari menjauhinya. Sri Rama pun terus mengejar sambil meratap-ratap:

“Sinta…. Sinta………….. maafkanlah aku.”

Walaupun demikian Sinta terus melarikan diri. Saking lelahnya Sinta jatuh terkulai di tanah sambil menjerit memanggil ibu pertiwi.

“Ooohh .. ibu Pertiwi…. terimalah kembali aku dipangkuanmu.”

Demikianlah jerit Sinta. Dan seketika itu juga bumi retak, menganga dan Sinta jatuh masuk ke dalamnya.

“OOhh adinda Sinta, Sinta suci.” begitulah ratap Sri Rama penuh penyesalan “memelas” hati. Namun Ibu Pertiwi telah memeluk Sinta dengan eratnya.
Melihat kejadian itu Sri Rama naik pitam, ia melepas panah Gunawijaya dan menancap dibumi.

“Biarlah aku, Sinta dan alam semesta hancur bersama-sama” Upata Sri Rama.

Seketika itu juga bumi menjadi gempar laksana kiamat, karena gunung-gunung meletus, bumi retak, air laut meluap, banjir bandang dimana-mana. Namun Sinta tetap dipeluk erat-erat oleh ibu Pertiwi.

Melihat kejadian itu turunlah Shiwa ke bumi.

“Hai Wisnu, merusak bumi bukan tugasmu, tetapi itu adalah tugasku. Cepat hentikan tindakanmu.!”

Mendengar suara Betara Shiwa yang gemuruh itu, insyaflah Sri Rama. Dan dicabutlah panah Gunawijaya, dan seketika itu juga hilanglah peristiwa yang sangat mengerikan itu dalam sekejap mata.

Dengan muka tunduk penuh penyesalan Sri Rama berjalan menghampiri kedua putranya untuk di ajak kembali ke istana Ayodya.
Pendek kata, kemudian ke dua putranya itu diangkat menjadi putra mahkota untuk menggantikan tahta kerajaan Ayodya.

IR SRI MULYONO

Note : Versi lain menyatakan, setelah Rama bertemu Lawa dan Kusya serta Sinta, mereka akhirnya kembali ke Ayodya. Setelah sampai di Ayodya, ternyata masih banyak yang menyangsikan kesucian Sinta. Kemudia Sinta bersumpah kalau memang di telah ternodai oleh Rahwana, maka bumi tak akan menerimanya, seketika itu juga tanah tempat Sinta terbelah dan mengubur Sinta..


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..