Minggu, 24 Maret 2013

Wisanggeni Racut

Ketika Pandawa hendak bertempur melawan Korawa dalam Perang Bharatayuda, para dewa di kaendran Jonggring Saloka menuntut agar Wisanggeni dan Antasena harus tiada agar Pandawa menang di dalam peperangan itu. Pakem wayang ini memang agak unik dan sarat dengan piwulang yang amat luas pengertiannya.

Memang di dunia wayang, dua ksatria Pandawa yang tak mengenal tata krama atau tidak mampu berudanegara ini tak ada yang mampu melawan. Dengan kata lain tanpa tanding.

Antasena kerap disebut sebagai orang bambung, sementara Wisanggeni disebut sebagai orang edan. Antasena mempunyai senjata sungut, sementara Wisanggeni tak mempan segala senjata yang ada di dunia ini. Kedua-duanya mempunyai senjata yang terletak di mulutnya.

Dua ksatria ini lambang keluguan, lambang kesederhanaan, lambang kebersahajaan-prasaja. Ksatria ini juga simbol generasi muda yang ingin agar negaranya makmur, sejahtera, dan orangtuanya jaya di medan perang. Perang dalam hal ini adalah hidup di dunia ini.

Antasena lambang sebuah tekad generasi muda yang siap membedah bumi ibaratnya. Tekad baja dengan bekal semangat dan kekuatan yang luar biasa. Tetapi semuanya harus dikendalikan, diracut. Demikian pula Wisanggeni, raja api yang berkobar di dalam diri manusia, tak lain dan tak bukan adalah nafsu angkara murka untuk menguasai jagad ini mesti diracut, disirnakan.

Perang di jagad raya ini besarannya adalah perang melawan keangkaramurkaan, kedurjanaan. Namun di dalam hal yang lebih mikro, perang melawan nafsu, melawan sifat-sifat buruk manusia sendiri. Justru di sinilah perang sesungguhnya. Kalau perang melawan keburukan dunia itu gampang dimanifestasikan dalam gerakan moral, gerakan budaya, dan gerakan-gerakan yang lain. Tetapi perang melawan keburukan dan sifat diri yang jelek sulit untuk dimanifestasikan kecuali dengan diam, bertapa, berpuasa, bermatiraga.

Dua ksatria itu memang tidak mengenal udanegara, bukannya mereka tidak tahu, tetapi memang mempunyai tekad dan semangat yang ‘sundul langit’. Walau mereka lugu, tetapi dalam kehidupan perlu keluwesan, perlu strategi, dan perlu penguasaan pancaindera. Pandawa harus menang dengan kekuatan sendiri, tanpa dibantu oleh kekuatan yang luar biasa yang datang dari kekuatan lain. Kemenangan yang dihasilkan dengan kekuatan besar alias kekuasaan itu kemenangan yang wajar, kemenangan yang dipaksakan, bukan lantaran usaha sendiri dengan semangat dan perjuangan sendiri.

Sifat Antasena yang kadangkala terasa kebablasen, demikian pula Wisanggeni yang selalu dalam lindungan SangHyang Wenang harus dihentikan, diracut.

Orang Jawa Bilang ”Yen harsa sumurub urubing tirta, kendalenana taline mega”.

‘Urubing tirta’ merupakan manifestasi rasa, dituntut menahan dan mengendalikan nafsu. Manusia jadi ‘nglegena’ bukan tanpa keinginan, tetapi manusia harus pasrah-narima dan selalu mengalah-mengejar jalan Allah.
 
(Sugeng WA)
 

 Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Kangsa Adu Jago

Kangsa Adu Jago (pedhalangan gaya Yogyakarta)

Latar Belakang :

Pada saat Prabu Basudewa sedang berburu dihutan didampingi adiknya Haryaprabu Rukma, sangg Prabu mendapat firasat jelek. lalu disuruhnya Rukma untuk kembali ke Kraton MAndura. Disaat yang sama, Prabu Gorawangsa yang tahu keraton MAndura sedang ditinggal Basudewa lalu menyamar sebagai Basudewa dan meniduri si Dewi Maerah.

Betapa kagetnya, Rukma saat ia menemukan Prabu Basudewa sudah ada di Kraton MAndura, lalu terjadilah perng tanding, Prabu Gorawangsa lari.

Kejadian itu lalu dilaporkan ke Prabu BAsudewa, Prabu basudewa lalu memutuskan bahwa Dewi Maerah harus di hukum mati di hutan. Rukma yang diberi tugas tersebut tidak sampai hati lalu meninggalkan dewi Maerah di tengah hutan. Disana Dewi MAerah melahirkan putra raksasa atas bantuan pertapa raksasa, Resi KAla.

Di tempat lain Prabu Gorawangsa yang hendak pulang ke Guwabarong bertemu dgn Prabu Pandu, saat itu terjadi pertempurn dan Prabu Gorawangsa tewas. Setelah dewasa,Kangsa hendak pergi mencari ayahnya dan diberi tahu bahwa ayahnya adalah raja mandura, Prabu BAsudewa.

Ditengah perjalanan Kangsa bertemu dengan MAhapatih GUwabarong, Ditya Kala Suratimantra yang juga adik dari Prabu Gorawangsa. dan mereka pun lalu menuju ke MAndura.

Akhirnya Prabu Basudewa bersikap lunak dan memberikan Sengkapura dan mengangkat KAngsa sebagai Prabu Anom. Untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan, maka putra-putra mandura diasingkan ke Widarakandang dan didik oleh Demang Sagupa

Jejer Sengkapura

Prabu Anom Kangsa dihadap oleh Suratimantra. Kangsa sangan risau karena ia ingin membunuh putra mahkota MAndura, Kakrasana dan NArayana namun tidak ketemu-ketemu. PAtih Suratimantra mengusulkan mengadakan adu jago untuk memancing putra mahkota keluar dan juga untuk melakukan Coup d'etat.

Jejer Mandura

Prabu Basudewa dihadap Harya Prabu Rukma, Ugrasena dan patih. yang dibicarakan adalah ulah kangsa yang meresahkan dan juga keamanan putra-putra mandura. Tiba2 datanglah KAngsa diiringi Suratimantra dan membicarakan tentang usul adu jago jika Prabu Basudewa menolak lengser.

Jejer III Adegan Widarakandang

Demang Sagopa dihadap NAryana, Kakrasana, Nyai Sagupi, Udawa dan Dewi Rara Ireng. kesemuanya membicarakan keadaan MAndura yang semakin gawat setelah Kangsa mengadakan acara adu JAgo. Setelah itu Demang antagopa memberikan masukan-masukan dan petuah kepada para putra MAndura.

Adegan Guwabarong

Suratimantra menyiapkan pasukan raksasa untuk bersiaga di tapal batas kerajaan mandura selama adu jago berlangsung dengan tujuan NArayana dan Kakrasana tidak lari.

Ditengah Hutan

Para Pandawa sedang menghadap Dewi Kunti bertemu dengan Udawa. dan Udawa lalu menyampaikan maksut kedatangannya untuk meminta bantuan Bima sebagai jago Kerajaan Mandura. BIma menyangupi dan lalu pergi bersama Arjuna.

Di tengah jalan keduanya dihadang oleh raksasa dari Guwabarong yang diperintahkan oleh Suratimantra menjada tapal batas kerajaan, namun kesemuanya dapat di kalahkan.

Alun-Alun Mandura

Alun alun sudah dipenuhi penonton yang kebanyakan mnengharapkan jago mandura menang. Kangsa mengajukan Suratimantra sebagai JAgonya. dan Bima maju sebagai jago MAndura.

Pertempuran sengit terjadi. berkali2 Suratimantra mati, tubuhnya dimasukkan ke air panguripan lalu hidup lagi.

Di tempat lain Arjuan yang sedang manyaksikan pertempuran itu menjadi cemas karena Suratimantra selalu hidup terus. Atas NAsehat Semar Arjuna lalu memasukkan Pusaka Pulanggeninya ke kawah panuripan tersebut sehingga air tersebut menjadi air keras.

KAli ini setelah mati dan oleh kangsa dimasukkan ke Kawah panguripan yang tterjadi bukannya Suratimantra hidup lagi tapi malah tubuhnya hancur.

Kangsa lalu mengamuk di alun-alun, dan kali ini lawannya adalah Kakrasana dan NAryana. setelah melalui pertempuran sengit akhirnya kangsa dapat dibunuh oleh Negala dan Cakra milik Baladewa dan Kresna.

para raksasa yang datang menyerang dapat dikalahkan oleh Kakrasana, BIma, Arjuna dan NArayana.

Adegan Mandura.

Prabu BAsudewa dihadap KAkrasana, Narayana, Bima dan Arjuna. PRabu BAsudewa menyampaikan trimakasihnya kepada Bima dan Arjuna yang telah menyelamatkan kerajaan MAndura dari kekacauan. dan juga Prabu BAsudewa menyatakan dirinya akan mundur sebagai raja MAndura dan diantikan oleh putra mahkota, Kakrasana dengan gelar Prabu Baladewa.

Tancep Kayon

sumber : http://www.pitoyo.com/


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Jarasanda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dalam wiracarita Mahabharata, Jarasanda (Sanskerta: जरासंध; Jarasandha) adalah seorang raja di Kerajaan Magadha, putera dari Raja Brihadrata. Ia merupakan teman Sisupala, raja di Kerajaan Chedi. Ia bermusuhan dengan Kresna dari Dwaraka. Dalam suatu pertempuran, ia dibunuh oleh Bima.

Arti nama
Dalam bahasa Sanskerta, kata Jarāsandha secara harfiah berarti "disatukan oleh Jara". Nama ini terkait dengan legenda mengenai asal-usul Jarasanda. Konon Jarasanda lahir dengan tubuh yang terpisah, namun kemudian disatukan oleh Jara.

Asal-usul
Karena Raja Brihadata dari Kerajaan Magadha tidak memiliki keturunan, ia memutuskan untuk meninggalkan kerajaannya dan hidup di hutan sebagai petapa. Di hutan, ia melayani seorang resi yang bernama Candakosika. Sang resi merasa kasihan kepada Brihadata yang tidak memiliki keturunan. Akhirnya, sang resi memberikan satu buah ajaib untuk dimakan oleh permaisuri Brihadata. Karena sang resi tidak tahu bahwa Brihadata memiliki dua permaisuri, maka ia hanya memberikan satu buah saja.

Ketika pulang ke istananya, Brihadata memotong buah ajaib pemberian resi Candakosika lalu membaginya kepada dua permaisurinya. Beberapa bulan kemudian, kedua permaisuri Brihadata melahirkan anak, namun badannya hanya separuh saja serta tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena takut, Brihadata memutuskan untuk membuang bayinya ke tengah hutan. Seorang raksasi bernama Jara memungut bayi tersebut dan menyatukan tubuhnya. Saat disatukan, bayi tersebut hidup dan menangis keras. Sang raksasi yang merasa kasihan, menyerahkan bayi tersebut kepada raja dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Brihadata menamai bayi tersebut Jarasanda, yang secara harfiah berarti "disatukan oleh Jara".

Saat Candakosika tiba di istana Brihadata, ia melihat si bayi dan meramal bahwa Jarasanda akan memperoleh anugerah istimewa, dan akan terkenal sebagai pemuja Siwa.

Riwayat
Jarasanda tumbuh menjadi raja yang terkenal dan amat kuat, senang memperluas wilayah kerajaannya. Ia menaklukkan banyak raja, dan diberi gelar Maharaja Magadha. Sementara kekuatannya terus bertambah, ia merasa cemas memikirkan masa depannya karena tidak memiliki pewaris tahta. Atas nasihat sahabatnya yaitu Banasura, maka Jarasanda mempersembahkan dua puterinya, Asti dan Prapti, untuk dinikahkan kepada putera mahkota Mathura, yaitu Kamsa. Jarasanda juga meminjamkan pasukan dan penasihatnya kepada Kamsa.

Setelah Kamsa dibunuh oleh Kresna, Jarasanda memupuk kebencian pada Kresna dan berambisi untuk membunuhnya. Melihat kondisi menyedihkan yang terjadi kepada dua puterinya yang menjadi janda, Jarasanda bersumpah akan menyerang Mathura dan merebut kerajaan tersebut. Namun usahanya gagal saat Mathura dipimpin Ugrasena, yang didukung oleh Basudewa, penasihat militer Akrura, ditambah kekuatan Kresna dan Baladewa.

Meskipun usahanya gagal berulang kali, Jarasanda tidak menyerah hingga ia menyerang Mathura untuk yang kedelapan belas kali. Dalam serangannya yang kedelapan belas, ia dibantu oleh Raja Sisupala dari Kerajaan Chedi, dan Raja Kalayawana dari Paschimadesa. Setelah serangan terakhir dari Jarasanda, Kresna memberi saran kepada Raja Ugrasena dan ayahnya untuk mengungsi dan mendirikan kerajaan baru di Dwaraka. Hal itu dilakukan karena alasan strategi peperangan.

Pada suatu hari, Kresna menerima pesan rahasia dari Magadha. Seseorang meminta bantuan Kresna untuk membebaskan para raja yang dipenjara oleh Jarasanda di benteng Giribraja. Karena Kresna tahu bahwa Jarasanda tidak mudah dikalahkan dalam peperangan, maka ia pergi ke Indraprastha (Jawa = Amarta) untuk meminta bantuan Bima and Arjuna. Mereka pergi menghadap Jarasanda dengan cara menyamar menjadi tiga brahmana. Saat Jarasanda menjamu mereka dan meminta apa yang mereka butuhkan, ketiga brahmana meminta agar Jarasanda bertarung dengan salah seorang di antara mereka. Setelah melakukan pertimbangan, Jarasanda memilih Bima.

Kematian
Jarasanda menolak untuk membebaskan para raja yang ditawannya, sehingga ia menerima tantangan duel dan memilih Bima. Pertarungan berlangsung lama sekali, sekitar 27 hari. Untuk mengakhiri pertarungan secepatnya, Kresna memberi isyarat kepada Bima. Ia mengambil sehelai daun, lalu menyobeknya menjadi dua dan melemparnya ke arah yang berlawanan. Bima melihat apa yang dilakukan Kresna dan ia mengerti maksud isyarat tersebut. Akhirnya, Bima menarik kaki Jarasanda, menyobek tubuhnya menjadi dua bagian dan melempar potongan tubuh tersebut ke arah yang berlawanan.

Setelah kematian Jarasanda, segala raja yang ditawan dapat dibebaskan. Kresna mengangkat putera Jarasanda yang bernama Sahadewa menjadi raja. Sifat anak ini berbeda dengan ayahnya, sehingga Magadha menjadi sekutu Indraprastha.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Danurwenda

Arya Danurwenda adalah putra Arya Anantareja, raja negara Jangkarbumi dengan permaisuri Dewi Ganggi, putri Prabu Ganggapranawa dari negara Tasikraja.

Ketika berlangsungnya perang Bharatayuda, Arya Danurwenda masih kecil. Ia tetap tinggal di kahyangan Saptapratala bersama kakeknya, Hyang Anantaboga. Danurwenda memiliki sifat dan perwatakan; jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaannya kepada Sang Maha Pencipta. Ia berkulit Napakawaca, sehingga kebal terhadap segala macam senjata. Danurwenda juga mewarisi cincin Mustikabumi dari ayahnya, Anantareja, yang mempunyai kesaktian, menjauhkan dari kematian selama masih menyentuh bumi/tanah, dan dapat digunakan untuk menghidupkan kembali kematian di luar takdir.

Arya Danurwenda menikah dengan Dewi Kadriti, cucu Prabu Kurandageni dari negara Tirtakandasan. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Nagapratala. Danurwenda tidak bersedia menjadi raja negara Jangkarbumi, tetapi ia memilih menjadi patih negara Astina di bawah pemerintahan Prabu Parikesit. Negara Jangkarbumi diserahkan kepada putranya, Nagapratala.



Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Semar Mantu

Diceritakan dalam pakeliran wayang purwa lakon Semar Mantu, tersebutlah seorang pemuda kampung bernama Bambang Senet berniat melamar putri Prabu Kresna di Kerajaan Dwarawati. Terjadi dilema di Kerajaan Dwarawati. Prabu Kresna dibingungkan karena dua pilihan yang sukar untuk ditetapkan. Sebagai utusan Semar untuk lamaran Bambang Senet meminang Siti Sundari, Petruk datang terlebih dulu. Begitupun, pada saat yang tak selang lama, datang Prabu Baladewa, wakil dari putra mahkota Astina, Lesmana Mandrakumara, menyatakan lamaran yang sama.


Prabu Kresna tidak bisa menolak keinginan kakaknya. Akan tetapi Prabu Kresna juga sulit menolak lamaran Petruk. Meskipun dipandang dari segi derajatnya, Petruk adalah golongan rakyat biasa, sedang Lesmana Mandrakumara lebih sejajar dengan kedudukannya karena dia putra Prabu Duryudana. Kebijakan Prabu Kresna mendapatkan ujiannya. Dalam urusan seperti itu, tidak boleh dibedakan harkat, martabat dan derajat. Persoalan jodoh dan nasib adalah semata kehendak takdir. Meskipun sebagai wali Siti Sundari, ia berhak menentukan syarat bibit bobot bebet. Akan tetapi Prabu Kresna tidak gegabah dan sangat hati-hati menjatuhkan keputusan.

Demi dilihat Prabu Kresna gundah, Prabu Baladewa duta pinangan Prabu Duryudana untuk Lesmana Mandrakumara memaksakan kehendak agar lebih mendengar sarannya. Tentu Kresna akan lebih memandang Baladewa daripada Petruk. Tidak akan memperkenankan Siti Sundari yang ningrat itu diboyong Petruk yang hanya rakyat jelata. Prabu Kresna harus berpihak kepadanya. Hitam di atas putih memberatkan itu. Apalagi Lesmana Mandrakumara adalah putra seorang raja besar dengan kedudukan terhormat. Sepantasnya apabila Siti Sundari dipersandingkan dengan Lesmana Mandrakumara.

Akan tetapi, Petruk yang pintar berdiplomasi juga menawarkan logika matang kepada Prabu Kresna. Ia menegaskan sebuah timbangan kepada Prabu Kresna.

“Dalam urusan jodoh, apalah arti derajat dan pangkat? Jika naluri telah terpisah dari nurani, perjodohan hanya akan membawa kehancuran. Bukankah begitu, Paduka?”

Dikatakan Petruk, meskipun Bambang Senet, adiknya itu hanyalah seorang pemuda kampung dan hanyalah kalangan rakyat biasa pula, akan tetapi dalam hitungan bobot kemanusiaan, ia banyak bisa dan mumpuni. Tingkah lakunya sopan dan tidak suka berbuat kesusahan bagi orang lain. Senet hanyalah seorang pemuda gunung. Tetapi ia pemuda yang sarat dengan segala ilmu kebatinan dan kesaktian. Ia seorang pemuda yang ringan tangan, suka menolong yang kesusahan, serta rendah hati, tidak suka pamer, meskipun ia punya kelebihan.

Maka sebagai seorang pemuda yang telah cukup umur dan cukup ilmu, beralasan bagi Bambang Senet menginginkan seorang putri untuk jodohnya. Sekalipun putri itu adalah anak seorang raja. Perkawinan adalah ukuran pertautan cinta kedua belah pihak. Laki-laki dan perempuan dengan saling ketertarikan dan berinteraksi satu sama lain membentuk ikatan batin. Bukan pada tingkat derajat dan pangkat, dasar penetapan tali-tali pertautan itu. Akan tetapi perasaan cinta yang kemudian melahirkan cipta, rasa dan karsa. Bila ketiga hal tersebut telah dimiliki oleh pria dan wanita yang cukup umur, maka layaklah mereka memasuki alam rumah tangga. Tak ada alasan Prabu Kresna menolak lamaran Bambang Senet hanya karena ia pemuda dari kalangan rakyat biasa.

Prabu Kresna merenungkan perkataan Petruk. Raja Dwarawati ini sejenak terhenyak. Tetapi bagaimanapun kebenaran yang disampaikan Petruk, terganjal pula hatinya untuk membuat putusan karena perasaan segan kepada kakaknya. Dibuatlah sayembara sebagai jalan tengah. Hanya pemuda yang tangguh berhak meminang putrinya. Barang siapa bisa memenuhinya, dialah yang boleh dan pantas memperistri Siti Sundari.

Sayembara berisikan syarat-syarat yang mutlak harus dipenuhi. Calon pengantin pria harus menyediakan; Kayu Klepu Dewandaru-Janandaru untuk kembar mayang, Kereta Jatisura sebagai kendaraan pengantin pria, Kebondanu 40 ekor pancal panggung untuk tontonan kirab, Wanara Seta sebagai penari pengatur langkah, Gamelan Lokananta untuk memeriahkan pengantin, diiringi dua patah kembar dan tujuh bidadari sebagai putri domas, Parijata Kencana untuk tarub tetumbuhan, serta dihadiri undangan seribu negara.

Bagi Prabu Baladewa syarat-syarat tersebut dirasakan sebagai penolakan halus terhadap lamarannya. Tetapi Prabu Baladewa sadar setelah merenungkannya bahwa persyaratan yang demikian itu hanyalah cara sang adik untuk menyaring calon yang pantas berjodoh dengan putrinya. Baladewa menyadari, kalau Lesmana akhirnya dianggap orang yang terlalu lemah sebagai suami Siti Sundari. Sedang bagi Petruk, segala persyaratan yang diajukan Prabu Kresna tersebut ditanggapinya dengan antusias dan penuh percaya diri.


Setelah sampai di Padukuhan Karang Kadempel, Petruk menceritakan semua kejadian yang dialaminya di Dwarawati berkaitan dengan tugas sebagai wakil bagi kepentingan Senet, adiknya. Demi mendengarkan penuturan Petruk, mantap hati Semar mengangguk-anggukkan kepala. Ayah para Panakawan yang waskita ini seakan memahami jalan pikiran Prabu Kresna.

Demi mendengar Semar akan mempunyai hajat menikahkan anak angkatnya. Semua Pandawa dan para ksatria datang ke Karang Kadempel dengan niat membantu kerepotan pamomongnya itu. Semar senang menerima kedatangan para ksatria asuhannya tersebut. Lalu ia membagi tugas. Arjuna ditugaskan mencari Kayu Klepu Dewandaru-Janandaru dan meminjam Gamelan Lokananta di Kahyangan Rinjamaya. Karena kayu itu hanya tumbuh disana. Dan gamelan itu milik Kahyangan Suralaya yang dijaga Dewa Indra.

Sedang Gatotkaca ditugaskan meminjam 40 Kebondanu milik Dewa Brahma. Antasena diberi tugas mencari Resi Anoman. Karena Wanara Seta untuk hiburan pengatur langkah itu, tiada lain hanyalah Anoman adanya. Bima juga kebagian tugas meminjam Kereta Jatisura milik Prabu Bisawarna di Kerajaan Singgela sekaligus memberi undangan menyebarkan undangan ke seribu negara. Ketiga Panakawan diberi tugas mengupaya tarub dan persiapan di Karang Kadempel. Puntadewa dan para satria lainnya dimintanya sebagai adeg-adeg (penerima tamu dan sebagainya). Sedang Parijata Kencana dan bidadari sebagai domas adalah urusan Semar dan Kanastren, istrinya.

Singkat cerita, semua persyaratan tersebut dapat terpenuhi. Dengan kerja keras para ksatria yang menjalankan tugas, Semar mendapat keberhasilan memenuhi syarat Prabu Kresna. Bahkan dalam menjalankan tugasnya, para ksatria yang diutus telah juga melakukan kebaikan bagi sesama. Seperti apa yang telah dilakukan Bima, tidak perlu ia menghubungi raja-raja dari satu negara ke negara lainnya, tapi berkat jasanya seribu negara itu akhirnya datang dengan sukarela kepadanya. Pada saat ia berkunjung ke Kerajaan Singgela menemui Prabu Bisawarna untuk meminjam kereta Jatisura, dikatakan sang raja, bahwa saat itu Singgela dan banyak negara sedang menerima penghinaan ditaklukkan oleh seorang Raja yang sakti tapi lalim dari negeri Magada bernama Prabu Jarasanda. Seribu negara takluk di bawah telapak kakinya dan kemudian diperbudaknya. Bisawarna menyanggupi meminjamkan Kereta Jatisura kepada Bima dengan syarat dapat mengeluarkan penderitaan dari penindasan Raja Magada ini.

Demi memperjuangkan keadilan, kesanggupan adalah kewajiban bagi Bima. Disatru Prabu Jarasanda dari Negeri Magada oleh Bima. Bima menggempur Magada dengan segenap tenaga. Ditaklukkan Prabu Jarasanda oleh Bima akhirnya. Bima meminta seribu negara yang dijajah Jarasanda agar dibebaskan. Jarasanda yang takluk, meloloskan permintaan Bima. Dibebaskan seribu negara tanpa syarat.

Sebagai rasa terima kasihnya kepada Bima, Raja seribu negara bersedia menghadiri undangan pernikahan Bambang Senet dan Siti Sundari di Karang Kadempel. Begitupun Prabu Bisawarna bersuka cita meminjamkan Kereta Jatisura kepada Bima, bahkan ia menyediakan diri sebagai saisnya.

Setelah semua syarat terpenuhi, Prabu Kresna mempertemukan putrinya dengan Bambang Senet. Alangkah terkejut semua yang hadir. Pernikahan agung terjadi di Karang Kadempel, sebuah desa yang dihuni abdi sahaya Semar. Terkuak pada akhirnya jati diri Bambang Senet putra angkat Semar. Abimanyu, putra Arjuna yang ingin dimuliakan hidupnya oleh Semar pengasuhnya. Semakin mashyur pernikahan itu bagi kedua wangsa, Pandawa dan Prabu Kresna. Mengingatkan dulu pernikahan agung pada Dewa Wisnu dan Dewi Sri. Inilah maksud diketemukannya kembali sorga yang hilang itu. Yang ditemukan dan ditangkap pemuda sederhana yang luhur dan baik budi generasi keturunan Pandawa.

Siti Sundari pengantin wanita ibarat bidadari Sri ngejawantah (turun ke bumi). Segala keluwesan dan keelokannya menyapu segala keangkuhan putri ningrat yang tersandang padanya. Abimanyu, anak Arjuna yang lembut budi, serasi dalam gamit manja mempelai putri. Kedua pengantin hidup bahagia di atas singgana pelaminan Karang Kadempel.

Dalam kisah versi lain, yakni lakon Bambang Senet diceritakan, Bilung sedang dilanda gandrung kasmaran. Ingin ia dikawinkan dengan Siti Sundari, putri Prabu Kresna. Ia ungkapkan hasratnya ini dengan rengekan dan ratap tangis kepada Togog. Bilung dan Togog, dalam pewayangan suka disebutkan sebagai abdi pengasuhnya para ksatria berwatak songar. Setiap saat mereka selalu mengingatkan kepada siapa pun tuan pengasuhnya, agar tidak berbuat jahat, dan senantiasa kembali ke jalan kebenaran. Tapi, selalu saja niatnya itu kandas.
Ketika mendengar niat Bilung, sohibnya minta dikawinkan dengan putri Kresna, tertawalah Togog. Dikatakan Togog niat Bilung tersebut sebagai “Cebol nggayuh lintang’ (seorang kerdil menggapai bulan). Meski begitu, Bilung pun tetap bergeming dengan niatnya.


Disebabkan iba dan prihatin karena penderitaan Bilung. Kian hari badan Bilung makin kurus. Kehilangan nafsu makan ataupun kesenangan lainnya, suka melamun dan mengigau ketika tidur. Akhirnya Togog bersedia membantu hasrat sohib sejawatnya itu.

Togog berkata kepada Bilung, bahwa tak mungkin Siti Sundari mau menerima kasmarannya bila Bilung dalam wujud seperti itu.

Setelah mengheningkan cipta sesaat, Togog membuat diri sejawatnya tersebut berubah ujud. Berubahlah paras jelek Bilung Sarawita menjadi ksatria tampan dalam sekejab. Lantas kemudian Bilung diberikan nama Teja Kusuma.


Sedang Togog sendiri merubah pula rupanya menjadi seorang Resi dengan nama Begawan Nindya Gupita.
Dengan sembunyi-sembunyi dan berbekal mantra aji Panglimunan, Teja Kusuma dan Nindya Gupita, berhasil menemui putri Kresna itu di taman Keputrian Dwarawati.


Mendapati sikap Siti Sundari yang menolak kehadiran mereka, bahkan histeris ketika didekati, maka diculiknya putri itu dan dibawa kabur. Kerajaan Dwarawati gempar. Karena bingung, Kresna membuat sayembara, barang siapa bisa mengembalikan sang putri dan menangkap malingnya, akan dinikahkan dengan Siti Sundari.

Banyak satria berebut duluan memenuhi sayembara tersebut. Sudah sejak lama para satria dan pemuda tertarik dengan putri agung Dwarawati ini. Namun karena kharisma Kresna, mereka tak berani mengungkapkan hasrat itu. Ketika ada kesempatan seperti itu, mereka bergegas memanfaatkan sebaik-baiknya peluang tersebut. Berduyun-duyun para pemuda, duda dari berbagai kalangan dan latar belakang mereka-daya mencari hilangnya sang putri dan memburu malingnya.

Pencarian disertai hasrat yang meledak-ledak. Diketemukan pula akhirnya persembunyian penculik Siti Sundari. Tapi sekalipun mengetahui penculiknya, para ksatria tak berdaya menghadapi kesaktian Teja Kusuma dan Nindya Gupita. Kedua orang ini teramat tangguh dan sukar dikalahkan.

Dengan penyamaran sebagai rakyat biasa bernama Bambang Senet, Abimanyu yang diiringi Panakawan, telah sampai pula di hadapan Nindya Gupita dan Teja Kusuma. Karena kedatangan Bambang Senet ingin meminta kembali Siti Sundari, menyebabkan Teja Kusuma marah, dan memberi pilihan kepada Bambang Senet. Boleh membawa putri itu bila ia sanggup mengalahkannya. Bagi Bambang Senet yang telah berniat mempersiapkan segala sesuatu untuk mengembalikan putri itu ke Dwarawati, tantangan itu disahutinya dengan serangan. Tak percuma tekad Senet ini, dengan sebat ia mampu menandingi Teja Kusuma. Bahkan andai saja tak segera datang Nindya Gupita, dihabisi segera Teja Kusuma.

Berganti musuh dengan Begawan sakti ini, Senet kewalahan. Akan tetapi Semar tak membiarkan kekalahan anaknya. Dengan kentut sakti, Semar berhasil meringkus kedua penculik ini. Akhirnya Teja Kusuma dan Nindya Gupita kembali ke wujud semula menjadi Bilung dan Togog.

Bilung pun gagal memperistri Siti Sundari. Begitu pula dengan kisah-kisah seterusnya. Bila menginginkan putri-putri cantik untuk diperistri, selalu gagal ia mendapatkannya. Begitupun selalu saja Togog dibuat repot dan malu karena perbuatan sohib, teman seiringnya ini. Kemanapun Togog dan Bilung menjalankan tugas, mengiring para ksatria berwatak sora (mudah marah dan jahat), senantiasa mereka mengalami kegagalan.

 sumber : http://baltyra.com/2013/02/24/semar-mantu/


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Wahyu Topeng Wojo

lakon wayang topeng wojo yang menceritakan perjuangan sang putra bratasena dalam mendapatkan topeng wojo, wahyu dari para dewa khayangan, yang diberikan pada gatotkaca karena jasanya membantu para dewa mindah khayangan. Nah tapi karena ada suatu halangan yaitu dari boma narakasura yang juga pingin terhadap wahyu tadi ia menghadap kepada orang tuanya yaitu prabu kresna agar maw membantu dirinya merbut topeng wojo tadi dari pemiliknya yang sah. Maka dengan bantuan yang ayah, boma narakasura malih rupa jadi gatotkoco, sayang rencana ini diketahui oleh sodara sepupunya gatot, sang manusia setengah dewa Wisanggeni yang mencoba mengagalkan rencana itu.

ditengah jalan wisanggeni ketemu sama petruk yang sakit hati karena selalu jadi abdi, wong cilik sing disiak-siakne. Dia pingin kekahyangan alang-alang kumintir untuk pradul sama para dewa agar ia bisa tampan lagi dan kembali jadi putra mahkota di keraja’annya. Maka wisanggeni dan petruk kolaborasi dan berusaha bersama menggagalkan usaha kresna plus boma yang maw cidra terhadap wahyu topeng wojo. Nah singkat cerita duel-lah antara wisangeni dan kresna yang sama-sama sakti.

Perang tanding ini ta da yang menang dan kalah karena kresna dan boma langsung kabur dan terbang ke kahyangan untuk merebut wahyu topeng wojo secara halus dengan meminta pada para dewa. Dan dewa pun tertipu karena sang boma yang menyamar sebagai gatotkaca. Setelah kresna dan boma pergi datanglah gatot kaca meminta hak nya yang ternya telah keduluan oleh prabu kresna dan boma.

Nah kita kembali pada wisanggeni dan petruk tadi petruk yang masih sakit hati dan kesal akan kondisinya pun ditanyai oleh wisanggeni kenapa ia pingin ke kahyangan dengan jujur petruk bilang dia pingin disembah, menjadi ratu. Nah wisanggeni pun menyarankan kalo Cuma pingin jadi ratu gampang gimana kalo petruk nyamar/ malih rupa jadi boma narakasura dan pergi ke keraja’an Trajutrisna dan menjadi raja disana.

Wisanggeni pun membantu petruk untuk mencuri pakai’an boma
narakasura yang disembunyikan dalam bokor di keraja’an dwarawati. Nah akhirnya petruk pun bisa jadi ratu di keraja’an nya boma dan mendapat sembah dari para prajurit dan abdi keraton.

nah kembali lagi kepada gatotkaca sang merasa sakit hati karena wahyu yang seharusnya dia terima ternyata telah di cidra oleh boma dan kresna. Akhirnya gatotkaca ketemu dengan sang maling wahyu. Dan terjadilah duel antara gatotkaca kembar tadi, berhubung gatot kaca asli sakti mandra guna ora tedas tapak alune pande sang boma pun berhasil dia bunuh.

Karna sang boma punya aji pancasona ia selalu hidup lagi kalo depak tanah. Gatotkaca yang kebingungan bagaimana cara mengalahkan maling tadi menghadap sang ayah R. werkudara. Karena kwatir kalo pandawa menghabisi putranya, kresna mengajak sang putra menghadap para pandawa.

Untuk mencegah agar rahasianya tidak diketahui dan sang gatot yang asli coba di fitnah. Nah ketika di depan bima kresna pun bilang bahwa yang bersamanya adalah gatotkaca yang asli dan yang datang duluan adalah malingnya.

Bima pun diminta segera menghabisi atau menghukum gatot yang palsu oleh kresna, tapi yang namanya bima yang jujur dan apa adanya, ga serta merta percaya. dia minta tolong pada kakak bedesnya sang anoman, anoman pun memberi kan jalan dengan syembara bahwa gatotkaca yang asli dapat masuk dalam kendi, nah akhirnya sayembara diadakan di alun-alun, disaksikan para sodaranya antareja dan antasena.

Nah ketika dicoba ternyata sang boma lah yang bisa masuk kedalam kendi nah karena denger kata-kata yang tadi antareja dan antasena langsung menghajar gatotkaca untungnya dapat dicegah oleh anoman bahwa yang seharusnya dipukul yang di dalam kendi, karena anoman taw bahwa gatotkaca yang asli ga bakalan bisa masuk ke dalam kendi, nah sang maling pun dihajar oleh tiga sodara tadi plus tuwek-tuwekane…nah agar anaknya slamet kresna pun membawa anaknya ke dwarawati untuk di ubah kembali menjadi boma, tapi ternyata pakaiannya telah dicuri oleh wisanggeni dan dipake oleh petruk di Trajutrisna.

Mereka pun ke Trajutrisna untuk mengetahui siapa yang mencuri baju tadi. Akhirnya ia ketemu dengan petruk yang telah malih rupa. Ketika petruk ditanyai siapa botohnya muncullah wisanggeni dan sang putra arjuna bertanya pada boma pilih menjadi raja atau wahyu topeng wojo, boma memilih menjadi raja karena tidak rela kalo keraja’anya dipimpin oleh petruk dan karena topeng wojo memang bukan haknya……..

kesimpulan cerita ini adalah golek ono dewe……

sumber : http://masjagal.wordpress.com/2011/06/26/topeng-wojo/



Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Kresna Sungging

 

Raja Kresna duduk di atas singgasana, dihadap oleh Wisnubrata, Patih Udawa dan Setyaki. Datanglah Patih Sengkuni utusan Suyudana, raja Ngastina. Kresna diminta menghadiri dan menjadi saksi penobatan Bagawan Sabdajati yang diangkat sebagai pujangga istana, menggantikan Pendeta Drona. Pendeta Drona telah lama pergi meninggalkan kerajaan Ngastina. Kresna sanggup menghadiri upacara itu. Kemudian ia masuk istana untuk berpamitan kepada para isteri. Wisnubrata dan Satyaki diserahi menjaga istana Dwarawati. Kresna dan Sengkuni berangkat menuju Ngastina.

Raja Baladewa datang di Dwarawati, disambut oleh Wisnubrata, Patih Udawa dan Satyaki. Setelah diberi tahu bahwa raja Kresna ke kerajaan Ngastina, Baladewa berpamitan akan menyusul ke Ngastina.

Raja Suyudana dihadap oleh warga Korawa, Adipati Karna, Indraswara dan Bagawan Sabdajati. Datanglah Patih Sengkuni bersama Kresna. Raja memberi tahu tentang rencana pengangkatan pujangga istana. Kresna mengusulkan agar jabatan pujangga diberikan kepada orang lain. Ia tidak setuju bila Sabdajati diangkat menjadi pujangga Ngastina. Terjadilah perdebatan antara Kresna dengan Bagawan Sabdajati. Mereka bertentangan pendapat. Kresna pergi meninggalkan pertemuan. Bagawan Sabdajati marah, Kresna pun dikejarnya. Di tengah jalan bagawan tersebut berjumpa raja Baladewa dan pengawalnya. Terjadilah perdebatan antara Baladewa dengan Bagawan Sabdajati. Mereka berkelahi. Baladewa terkena sabda sang Bagawan, dan berubah wujud menjadi patung. Satyaki yang membelanya juga terkena sabda, dan berubah menjadi pohon tal putih, berdiri di tengah jalan.

Arjuna dan panakawan mengembara di hutan, mencari Yudhisthira dan Wrekodara yang telah lama meninggalkan kerajaan Ngamarta. Di tengah hutan, Arjuna dikeroyok raksasa, tetapi raksasa dapat dikalahkan.

Dhang Hyang Drona tengah berdiri di tepi samodera, merenungkan perselisihannya dengan raja Suyudana. Ia ingin menjabat pujangga istana, tetapi raja berkehendak Drona menjadi brahmana kerajaan. Datanglah Bathari Pramoni. Ia memberi nasihat agar Drona hidup menyamar, sehingga cita-cita Drona bisa tercapai. Bathari Pramoni mengubah Dhang Hyang Drona menjadi Garuda, diberi nama Mintasih. Bathari Pramoni minta agar Garuda selalu memberi pertolongan kepada orang-orang yang sedang kesusahan.

Dalam perjalanan Arjuna bertemu dengan Kresna. Kresna bercerita tentang hal ihwal yang terjadi di Ngastina. Mereka setuju menuju ke Ngastina. Di tengah perjalananmereka melihat patung dan pohon tal putih. Mereka heran. Kresna mengamat-amati dengan seksama. Ia mengira patung dan pohon itu semula manusia. Patung dan pohon tal lalu disayembarakan, siapa yang dapat mengembalikan ke wujud semula akan dipenuhi segala permintaannya. Garuda Mintasih mendengar, lalu menghadap Kresna. Garuda minta ijin akan mengembalikan wujud patung dan pohon tal. Berhasillah usaha Garuda, patung dan pohon kembali menjadi raja Baladewa dan Satyaki. Karena kesaktian Kembang Wijayakusuma, Garuda berubah menjadi Dhang Hyang Drona. Namun Dhang Hyang Drona minta mati. Kresna membuat lukisan yang menggambarkan Aswatama mati diinjak Gajah Putih. Dikatakan oleh Kresna, di situlah Dhang Hyang Drona akan mati. Kemudian Kresna, Baladewa, Arjuna dan Panakawan pergi menuju kerajaan Ngastina.

Yudhisthira dan Wrekodara menghadap Sang Hyang Wenang di Kahyangan Mereka bertanya masalah perang Bharatayudha. Pertanyaan mereka dijawab, bahwa perang mesti terjadi, karena harus diakuinya adanya kebenaran dan keadilan. Setelah banyak bicara, Sang Hyang Wenang menyuruh agar mereka pergi ke Ngastina. Di Ngastina akan ada upacara penobatan pujangga baru. Mereka diminta dengan menyamar dalam wujud resi. Mereka menjunjung perintah Sang Hyang Wenang. Yudhisthira menyamar dan berujud resi bernama Resi Wasesa, dan Wrekodara bernama Bratawasesa. Mereka berdua turun ke Marcapada, menuju Ngastina.

Raja Suyudana dihadap oleh Bagawan Sabdajati dan tokoh-tokoh Korawa. Datanglah warga Korawa, memberi tahu, bahwa di alun-alun terjadi perkelahian hebat. Seorang pendeta melawan Kresna, dan Dhang Hyang Drona melawan Arjuna. Raja Suyudana bersama Bagawan Sabdajati menuju ke alun-alun. Mereka melerai yang sedang berkelahi. Resi Wasesa kembali menjadi raja Yudhisthira dan Bratawasesa menjadi Wrekodara. Bagawan Sabdajati melerai pertengkaran mereka dan berkata, bahwa sekarang belum waktunya terjadi perang besar.

Raja Suyudana memanggil Dhang Hyang Drona dan minta agar tetap tinggal duduk sebagai brahmana di istana Ngastina. Mereka yang hadir diundang pesta di Ngastina.

http://www.bluefame.com/topic/174953-lakon-kumpulan-cerita-wayang/page__st__140


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Kresna Begal

Kresna raja Dwarawati duduk di Pancaniti, dihadap oleh Samba, Wresniwira, Patih Udawa dan pegawai istana. Mereka membicarakan kepergian Harjuna dari Madukara. Kresna ingin berkunjung ke Ngamarta. Patih Udawa diminta mempersiapkan kepergian raja. Kresna meninggalkan balai penghadapan lalu masuk istana, memberi tahu rencana kepergiannya kepada para isteri. Rukmini, Jembawati dan Setyaboma menyambut kedatangan Kresna. Di hadapan para istrinya, Kresna menyampaikan berita tentang kepergian Arjuna dan rencana kunjungan ke Ngamarta.

Arwah tokoh Ngalengka turun ke Marcapada lagi. Raja Dasakumara duduk di balai penghadapan, dihadap oleh Indrajit, Trisirah dan pegawai raksasa. Raja ingin beristeri Retna Dewi Puspitawara, anak Darmamuka raja Slagaima. Indrajit diberi tugas mencarikan putri raja itu. Indrajit menyanggupinya. Ia menugaskan Kala Wahmuka, Kala Pradiyu dan Kala Bisana untuk melamar ke Slagaima. Sedangkan Raja Dasakumara pergi mencari raja Kresna.

Darmamuka raja Slagaima berbincang-bincang dengan putra raja bernama Jayapuspita, Patih Jayasudarna dan para pembesar kerajaan. Mereka membicarakan lamaran raja Dasakumara. Jayapuspita ditugaskan mencari perlindungan. Di pertengahan jalan mereka bertemu dengan utusan dari Tawanggantungan. Terjadilah perkelahian, tetapi Jayapuspita menyimpang jalan mencari selamat.

Arjuna tengah bertapa di gunung Candhirinengga, dengan nama Bambang Madusekti. Jayapuspita dan Patih Jayasudarma datang. Mereka berdua minta kesediaan Bambang Madusekti untuk melindungi Kerajaan Slagaima. Bambang Madusekti menyanggupinya lalu berangkat, dikawal oleh para punakawan. Jayapuspita dan Patih Jayasudarma menyertainya. Di tengah hutan mereka dihadang oleh raksasa dari Tawanggantungan. Terjadilah perkelahian. Raksasa dapat dikalahkan oleh Bambang Madusekti.

Bambang Madusekti tiba di Slagaima, menghadap raja Darmamuka. Setelah bertanya Bambang Madusekti masuk ke istana, menghadap permaisuri raja, kemudian diperkenalkan dengan Retna Puspitawara, putri raja Darmamuka. Bambang Madusekti menyatakan bersedia saat diminta raja memperisteri putrinya.

Indrajit duduk bersama Trisirah, Trikaya, Narataka, Dewataka dan Yaksadewa. Kemudian datanglah Wijamantri dan Tejamantri. Mereka memberi tahu bahwa prajurit raksasa musnah oleh Bambang Madusekti.

Raja Darmamuka duduk di atas singgasana, dihadap oleh Jayapuspita, Patih Jayasudarma dan Bambang Madusekti. Tiba-tiba terjadilah huru-hara di luar istana. Api berhamburan di angkasa. Bambang Madusekti minta pamit untuk memadamkan api itu. Raja mengijinkannya. Bambang Madusekti matek aji, hujan turun, api pun padam. Bambang Madusekti tahu bahwa musuh datang dari angkasa. Ia lalu mengangkasa. Musuh diserang dengan panah Bajra, maka lenyaplah musuh dari Tawanggangtungan. Setelah aman Bambang Madusekti mohon pamit berkelana ke hutan bersama punakawan.

Di pertapaan Candhana Sapilar, Bagawan Sidikwacana dihadap oleh Endang Mutyara. Endang Mutyara bercerita kepada sang bagawan, bahwa ia bermimpi bertemu dengan Bambang Madusekti. Ia minta dicarikan dengan pria yang ditemui dalam mimpi itu. Bagawan Sidikwacana meninggalkan pertapaan hendak mencari Bambang Madusekti.

Perjalanan Bagawan Sidikwacana tiba di hutan. Ia bertemu dengan Bambang Madusekti. Sang bagawan bercerita tentang mimpi anaknya, lalu minta kesediaan Bambang Madusekti ikut ke Candhana Sapilar. Mula-mula Bambang Madusekti tidak mau, namun setelah tersekap oleh sang bagawan ia menyerah dan bersedia diajak ke pertapaan. Di pertapaan ia dipertemukan dengan Endang Mutyara. Bambang Madusekti jatuh cinta, dan mau mengawininya.

Yudhistira raja Ngamarta berbicara dengan Wrekodara, Nakula dan Sadewa tentang kepergian Arjuna. Raja Dwarawati datang memberitahu bahwa kepergian Arjuna untuk keperluan perkawinan. Kresna ingin mencari Arjuna, sepekan kemudian Wrekodara diminta menyusul ke kerajaan Slagaima. Setelah berpamitan Kresna menuju kerajaan Slagaima. Di tengah perjalanan Kresna dikejar raja Dasakumara. Kresna lari, lalu masuk pertapaan.

Bambang Madusekti menghadap Bagawan Sidik Wacana, minta pamit akan ke kerajaan Slagaima. Ia memberi tahu kepada sang bagawan, bahwa isterinya telah mengandung. Bila telah lahir ia minta agar anaknya diberi nama Bambang Nilasuwarna. Sepeninggal Bambang Madusekti dan para panakawan, Kresna datang menghadap sang bagawan. Sang bagawan berkata bahwa Bambang Madusekti pergi ke kerajaan Slagaima. Raja Dasakumara datang di pertapaan mencari Kresna. Sang bagawan berkata bahwa di pertapaan tidak ada Kresna. Raja Dasakumara marah, sang bagawan diserangnya. Raja Dasakumara mati terkena pusaka Bagawan Sidikwacana.

Sang Hyang Yamadipati turun ke Marcapada bersama Dewi Sari Monglang. Mereka menemui bangkai Dasakumara. Dewi Sari Monglang minta agar Dasakumara hidup lagi. Sang Hyang Yamadipati menghidupkan Dasakumara. Maka Dasakumara pun hidup lagi lalu mendekati Dewi Sari Monglang. Sang Hyang Yamadipati dan Dewi Sari Monglang ketakutan, lalu lari.

Kresna berhasil mendahului perjalanan Bambang Madusekti. Ia mencegat Bambang Madusekti, terjadi perdebatan. Kresna marah atas kepergian Bambang Madusekti (Arjuna) tanpa pamit. Sang Hyang Yamadipati dan Dewi Sari Monglang datang di empat Kresna. Mereka minta perlindungan. Dasakumara datang, Bambang Madusekti menyongsongnya. Terjdilah perkelahian. Dasakumara musnah oleh panah Bambang Madusekti. Kemudian Kresna, Bambang Madusekti dan panakawan melanjutkan perjalanan ke Slagaima.

Raja Yudhistira duduk di atas singgasana, dihadap oleh Wrekodara, Nakula, Sadewa, Patih Tambak Ganggeng, dan Gathotkaca. Wrekodara dan Gathotkaca diminta mencari Arjuna. Mereka berdua lalu berangkat.

Raja Darmamuka dan Jayapuspita menyambut kedatangan Bambang Madusekti. Bambang Madusekti minta ijin akan kembali menjenguk ibu dan saudara. Tiba-tiba datang serangan perajurit Tawanggantungan. Bambang Madusekti minta pamit akan memberantas musuh yang datang. Raja mengijinkannya. Wrekodara dan Gathotkaca datang membantunya. Serangan musuh dapat dipatahkan. Kerajaan Slagaima aman kembali.

Kresna, Wrekodara, Gathotkaca dan Bambang Madusekti menghadap raja Darmamuka. Kresna minta agar Bambang Madusekti, yang sebenarnya Arjuna, diijinkan kembali ke Ngamarta. Raja Darmamuka mengijinkan setelah pesta di kerajaan Slagaima selesai.

Setelah pesta selesai Arjuna kembali ke Ngamarta bersama Wrekodara dan Gathotkaca. Sedangkan Kresna kembali ke Dwarawati.

http://www.bluefame.com/topic/174953-lakon-kumpulan-cerita-wayang/page__st__140



Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Minggu, 17 Maret 2013

Arjuna Papa

Di istana Astina, dihadapan patih Sakuni, prabu Suyudana berkata, “Pamanda patih Sakuni, sesudahnya adinda Arjuna mati diracun, iba rasa hatiku, sekarang kuperintahkan, kepada ratu sabrang prabu Jayasutikna hendaknya dapat memusnahkan para Pandawa, jika terlaksana, akan kupenuhi permintaannya meminang ananda Dewi Lesmanawati”, berangkatlah patih Sakuni, resi Durna, dan para Kurawa untuk menyampaikan pesan prabu Suyudana.

Hyang Baruna beserta puterinya retna Suyakti, iba rasa hatinya melihat Arjuna terapung-apung disamudera, berkatalah, “Wahai, raden Arjuna, kusembuhkan raden dari perbuatan para Kurawa yang meracuni raden, baiklah raden segera berangkat ke Sigrangga. Adapun putramu Abimanyu dan Irawan, telah berada di Astina”, sembuhlah raden Arjuna dari keracunannya, sambil mengucapkan terimaksih, berangkatlah Arjuna ke gua Srigangga.

Pula telah berkumpul, Sri Kresna dengan prabu Yudistira, Nakula, Sadewa dan Werkudara, kesemuanya akan menuju ke istana Astina, tak lain akan mencari Arjuna, demikian pula Gatutkaca, Anantasena, kesemuanya telah berangkat untuk mencari pamandanya Arjuna.

Dewi Banowati terperanjat hatinya melihat raden Arjuna sudah ada di kamarnya, setellah berbincang-bincang, masuklah raden Abimanyu dan Irawan, dengan isyarat darii ayahandanya, diseyogyakan menuju ke ruangan lain, lajulah raden Abimanyu ke gupit Mandragini, dan bertemulah dengan puteri ratu sabrang, Dewi Sutiknawati. Para inang pengasuh dari puteri tersebut, sangat terheran-heran melihat tindak-tanduk sang puteri Dewi Sutiknawati dan raden Abimanyu, takut jika dipersalahkan oleh prabu Jayasutikna, lajulah para inang untuk melapor.

Sri Suyudana, prabu Jayasutikna dan para Kurawa lengkap di istana sedang mereka berbincang-bincang, masuklah inang Dewi Sutiknawati, melaporkan, bahwasanya di gupit Mandragini terdapat pencuri, tak ada lain, mencuri asmara Dewi Sutiknawati. Marahlah Suyudana, demikian pula Jayasutikna, majulah mereka dengan maksud akan menangkap si pencuri, ikut serta pula para Kurawa dibelakangnya.

Perang terjadi sangat ramai, Prabu Jayasutikna akhirnya mati terbunuh oleh raden Arjuna, Suyudana akhirnya meminta maaf, Pandawa bersedia pula memaafkannya.

Prabu Duryudana, Druna dan Patih Sengkuni membuat kesepakatan akan mengundang Pandawa ke Astina untuk jamuan makan. Namun dibalik itu sebenarnya Pandawa akan diracuni agar mati semua. Pandawa datang di Astina memenuhi undangan serta tidak menduga akan adanya akal busuk yang dirancang Sengkuni. Para Kurawa gembira akan kedatangan Pandawa dan setelah menyantap makanan para Pandawa jatuh ke tanah dan mati.

Suyudana memerintahkan agar jenazah Bima dibuang ke sumur Jalatunda, lalu jenazah Arjuna dilempar ke tengah samudera, sedangkan jenazah Yudistira, Nakula, dan Sadewa dimasukkan ke Gua Sigrangga.

Jenazah Arjuna yang terapung-apung di lautan terlihat oleh Sang Hyang Baruna dan putrinya yakni Suyakti (istri Arjuna) pada waktu Arjuna membunuh raja raksasa Kala Roga dari Kerajaan Guadasar. Sebagai balas jasa maka Arjuna dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Baruna dan diperintah untuk pergi ke Gua Sigrangga. Arjuna segera menuju ke Gua Sigrangga dan di sana bertemu dengan Dewi Suparti istri Sang Hyang Antaboga yang sedang menunggui jenazah Yudistira, Nakula, dan Sadewa.

Arjuna meminta agar saudara-saudaranya dihidupkan kembali dan permohonan itu dikabulkan. Tidak lama Bima juga datang di tempat itu setelah dihidupkan kembali oleh Hyang Antaboga pada waktu ia berada di sumur Jalatunda.

http://www.bluefame.com/topic/174953-lakon-kumpulan-cerita-wayang/page__st__100


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Antasena Rabi

Prabu Duryudana, Prabu Baladewa, patih Sangkuni dan R.Tirtanata sedang bersidang di Balairung istana Astina untuk membahas pelaksanaan perkimpoian putra mahkota negeri Astina R. Suryakusuma dengan Dewi Janaka yang telah dipersuntingkan dan dipertunangkan dengan R. Antasena putra R. Werkudara.

Prabu Duryudana percaya dengan kelihaian Pendeta Durna bahwa pertunangan Dewi Janakawati dengan R. Antasena dapat digagalkan yang akhirnya Dewi Janakawati akan dipersandingkan dengan R. Suryakusuma. Prabu Kresna sedang bingung atas permintaan putranya Samba untuk dikimpoikan dengan Janakawati, mengingat Dewi Janakawati telah dipertunangkan dengan R. Antasena putra Werkudara. Prabu Dasa Kumara raja negeri Krenda Bumi juga tergila-gila dengan Dewi Janakawati dan ingin memperistri, maka dengan diikuti adiknya Prabu Dewa Pratala beserta bala tentaranya pergilah Prabu Dasa Kumara menuju Kasatrian Madukara.

R. Janaka menghadapi banyaknya pelamar yang ingin mempersunting putrinya Dewi Janakawati, akhirnya diadakan sayembara bertanding, dengan ketentuan siapa yang kalah dipersilahkan pulang kenegeri asalnya, dan barang siapa berbuat curang dinyatakan pihak yang kalah. Maka R. Samba, R. Suryakusuma, Prabu Dasa Kumara dan R. Antasena saling berhadapan mengadu kesaktian. Yang akhirnya R. Antasena memenangkan sayembara untuk memiliki Dewi Janakawati.

Melihat R. Antasena yang tidak berhias dan bersehaja, Dewi Janakawati tidak mau dipersandingkan, akhirnya R. Janaka dengan senjata Kyai Pamuk menhajar R. Antasena dan keanehan terjadi bahwa R. Antasena tidak binasa dan luka terkena senjata R. Janaka justru sebaliknya menjadi kesatria yang tampan, gagah dan perkasa sehingga Dewi Janakawati bersedia dipersandingnya perkimpoian Dewi Janakawati dengan R. Antasena, Prabu Dewa Pratala mengamuk di kesatrian Madukara sebab kakandanya Prabu Dasa Kumara telah ditolak lamarannya memperistri Dewi Janakawati tetapi hal ini bisa ditangani oleh putra Pendawa. Prabu Dewa Pratala yang mengamuk dapat dikalahkan R. Antasena dan melarikan diri sambil menculik Dewi Pergiwati istri Gatotkaca yang akhirnya terjadilah saling kejar mengejar diangkasa dan Prabu Dewa Pratala dapat dibinasakan R. Gatotkaca.

Dengan binasanya Prabu Dewa Pratala negeri Amarta menjadi tenang dan R.Suryakusuma beserta pengiringnya kembali ke negeri Astina, Prabu Kresna dan R.Samba juga kembali ke negeri Dwarawati.

http://www.bluefame.com/topic/174953-lakon-kumpulan-cerita-wayang/page__st__100


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Srikandi Daup

negara pancala dipenuhi oleh kadang pandawa. karena pancala atau cempala mengadakan sayembara. bahwa srikandi akan menikah dengan siapa saja yang sanggup membuat atau memperbaiki taman mowokoco. saat itu semua dr pandawa tahu bahwa arjuna menginginkan bersanding dengan srikandi. tetapi rupanya hal ini membuat cemburu larasati istri ke 2 arjuna. sebenernya larasati disuruh oleh sembadra istri pertama arjuna untuk menguji srikandi dalam olah kaprigelan. ternyata kemampuan srikandi dan larasati sama dan sebanding. karena tidak menginginkan geger berlanjut maka dibuatlah sayembara tersebut.

rupanya sayembara ini membuat kerajaan ceti mengirimkan dutanya. duta tersebut berwujud raksasa datang ke paseban agung dan menyatakan ingin melamar srikandi. belum memutuskan raja drupada raja agung cempala, sudah ditengahi oleh drestajumna saudara srikandi. drestajumna menantang kepada duta tersebut agar balik ke cethi dan mengurungkan niatnya. lalu terjadilah saling adu emosi yang berahir tantang menantang. raksasa keluar diiringi drestajumna. rupanya prabu drupada merasa sangat kuatir dan meminta gatotkaca, setyaki dan antaredja yg hadir untuk mendampingi drestajumna.

perang terjadi dan drestajumna berhasil sementara waktu menang. lalu dilanjutkan perang dengan setyaki, gatotkaca dan antaredja. duta itu walo berkali kali kalah tetep memaksa maju. sampai ahirnya dengan nasehat dr togog sang duta memilih pulang. karena serangan gabungan dari gatotkaca di udara dan antaredja di bumi membuat bingung sang duta. kembalilah duta raksasa tersebut kenegeri cethi. alkisah di negeri cethi baginda raja supala sedang muram. karena adiknya supali menginginkan menikah dengan srikandi. sedangkan baginda supala sangat membenci kresna. dia tau cempala sangat dekat dengan pandawa, dan pandawa itu dekat dengan sri kresna. kembali baginda supala memberikan nasehat agar supali mengurungkan niat menikah dengan srikandi.

datanglah sang duta menyatakan lamaran ditolak bahkan dia dikerubut oleh 3 satria pandawa. karena merasa emosi kembali prabu supala berkata agar supali mengurungkan niatnya. supali tiba tiba menjadi nekad. dan berkata akan merebut srikandi dengan cara mencurinya dr kerajaan cempala. lalu supali segera melesat meninggalkan paseban. supala geleng geleng kepala. dia mengutus patihnya dan pasukanya untuk menyusul ke cempala. dan melihat serta mendengar kabar disana. kalo sampe ada berita kemalingan dan malingnya ga ketemu, berarti supali selamat. tp kalo ada berita kemalingan dan malingnya ditangkap. maka intruksi supala jelas. patih harus berperang menyelamatkan supali.

di tengah alas arjuna sedang bertirakat dibarengi oleh punakawan. arjuna menjelaskan ke ki semar kalo dirinya merasa bingung bagaimana cara membangun taman mmowo koco tersebut. karenanya arjuna menggelar laku prihatin dengan masuk alas dan bertirakat minta petunjuk dewata. punakawan menghibur dengan gending dan juga guyonan guyonan. lalu tiba tiba saja datanglah raksasa. raksasa ini sebagian pasukan dr patih negera cethi. terjadi pertarungan seru dan sebagian pasukan raksasa tumpas. yang lain lari kocar kacir. sementara itu turunlah betara kamajaya. beliau memberi hormat kepada semar ayahnya dan memebrikan air kehidupan dalam cupu kepada arjuna. kasiatnya bisa menghidupkan kembali apapun yg musnah. disuruhnya untuk menyiramkan di taman mowo koco pada hari anggara kasih pas bulan purnama. dan setelah itu betara kamajaya balik. sementara arjuna dan punakawan bergegas ke cempala. karena waktu yg ditentukan sudah dekat.

sementara itu para para pandawa menuju ke hastina. karena mereka akan minta bantuan danyang drona. karena dlm perkiraan mereka hanya danyang drona yang akan bisa membantu. kasak kusuk terjadi ketika prabu duryodana menerima sri kresna dan pandawa. mereka merencanakan sebuah siasat licik. dan menerima permintaan pandawa tadi. lalu bersama prabu baladewa kurawa bergegas menuju cempala. sementara danyang drona kebingungan karena ga ngerti sebenernya bagaimana menghidupkan kembali taman murwo koco itu.

arjuna sampe di cempala langsung ke kaputren dan ketemu dengan srikandi bermadu kasih. lalu arjuna ke taman dan menaburkan air kehidupan. sehingga taman bener bener indah luar biasa. sementara itu kurawa sampe di cempala. lalu beristirahat. tanpa dinyana ketika tidur karena kecapekan supali berhasil mengambil senjata neggala prabu baladewa. tak berapa lama gegerlah cempala dan drestajumna mengambil keputusan siapa saja yang memiliki senjata nenggala akan dijatuhi hukuman mati. sementara itu supali berhasil menyusup masuk ke taman hendak nyolong srikandi. ketemulah dia dengan arjuna.

arjuna melihat senjata neggala berhati hati. dan mengatakan kepada supali bahwa dia cuma seorang juru taman. lalu arjuna meminta senjata di tangan supali. diserahkan karena supali tak mengerti kehebatan nenggala. lalu oleh arjuna ditusukan ke dada supali. dan tewaslah supali. oleh arjuna mayat supali di terbangkan dengan sepi angin ke neegra asalnya. datanglah tergopoh gopoh petruk. dia berkata bahwa ada woro woro siapa memegang nenggala akan dijatuhi hukuman mati. arjuna tertuduh karena memegang senjata neggala. maka bingunglah arjuna.

kebetulan di sekitar situ datanglah werkudoro dan punta dewa. lalu petruk mengajak arjuna ketemu 2 kakaknya tersebut. arjuna menceritakan apa yang terjadi pada 2 kakanya. puntadewa tak bisa ambil keputusan. ahirnya werkudoro mengambil nenggala dan menusukan ke dada arjuna. tewaslah arjuna. petruk protes kenapa arjuna dibunuh. werkudoro cuma bilang agar petruk nantinya menurut saja kalo disuruh jd saksi. lalu kentongan tanda bahaya di tabuh.

datanglah raja cempala prabu drupada, drestajumna, sri baginda kresna, sri baginda baladewa, mereka datang ke tempat kentongan ditabuh. lalu mereka bertanya ada apa, dan kenapa arjuna bisa terbunuh. werkudoro bilang tadi ada suara gedebuk, lalu pas dilihat ternyata arjuna sudah mati. maka disepakati melihat senjatanya. dr senjatanya nanti bisa diketahui siapa pembunuhnya. ketika dilihat senjatanya nenggala, maka werkudoro berpura pura menuduh baladewa membunuh arjuna. baladewa ketakutan dan bilang dia baru aja kecurian.

ahirnya drpada ribut maka sri kresna diminta menghidupkan arjuna untuk ditanyain ada apa sebenernya. sebelum dihidupkan werkudoro minta peraturan kalo kedpatan nenggala akan dihukum mati supaya dicabut. prabu drupada sedia mencabut putusan drestajumna dan sekaligus menegur drestajumna agar tidak sembarang mengeluarkan keputusan. dengan kembang wijaya kesuma kresna menghidupkan arjuna. arjuna menceritakan kejadianya. arjuna ga jd dihukum mati. tetapi diminta membuktikan keberadaan mayat supali. arjuna segera berangkat ke negeri cethi.

nah disana mayat supali diterbangkan ajian mendarat di negeri cethi. supala sangat marah dan berniat menyerbu cempala. lalu dipapak oleh arjuna terjadi perkelahian dan supala bisa dibekuk. lalu dibawa ke cempala. disana cempala mengakui suplai adiknya yg mau menyolong dewi srikandi. didepan prabu drupada dan arjuna supala memaki maki kresna. keresna tak menjawab dan meminta kepada prabu drupada supala dibebaskan. ketika ditanya kenapa prabu kresna tak menjawab ketika dimaki maki maka prabu kresna menjawab selama supala tak menghinaku di depan 100 orang tak akan kubunuh. karena supala masih saudara denganku. supala dilepas dan wadya balanya kembali ke negeri cethi (supala dichakra kepalanya oleh sri kresna di lakon rajasuya karena menghina kresna didepan 100 orang).

srikandi pun ahirnya didaupkan dengan arjuna. pernikahan dilakukan di cempala. sementra romobongan hastina kembali tanpa pamit karena malu. karena danyang drona rupanya karena malu diam diam tanpa pamit kembali ke soka lima. dia merasa ga mampu membangun taman morwa kaca. dan karena arjuna yang berhasil membangun, maka arjuna dinikahkan dengan srikandi.

 sumber :
http://www.bluefame.com/topic/174953-lakon-kumpulan-cerita-wayang/page__st__80



Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Abimanyu Krama


Prabu Sri Batara Kresna, di pendapa agung sedang duduk di atas singgasana kursi gading, menerima kehadiran kakanda prabu Baladewa raja di kerajaan Mandura, yang diikuti oleh puteranya yang bernama Raden Walsatha dan Patih Pragota.

Sedangkan yang ikut menghadap dalam pertemuan besar (pasewakan) di istana raja selain dari kerajaan Mandura adalah para punggawa kerajaan Dwarawati di antaranya adalah Raden Patih Hariya Udawa, putera mahkota Raden Jayasamba, dan Raden Harya Setyaki.

Dalam persidangannya, sang prabu Baladewa mengusulkan pembatalan perkawinan Abimanyu atau Angkawijaya dengan Siti Sundari putri mahkota Dwarawati. Sri Batara Kresna hanya terserah saja kepada prabu Baladewa. Akhirnya Raden Walsatha bersama Raden Jayasamba diutus untuk menyerahkan surat penggagalan perkawinan Siti Sundari dengan Angkawijaya ke Raden Janaka atas perintah prabu Baladewa.

Keberangkatan Walsatha dan Jayasamba dari Dwarawati menjadikan prabu Baladewa menjadi lega. Namun tidak lama kemudian hadirlah seorang utusan dari Kerajaan Rancang Kencana yang rajanya bernama prabu Kala Kumara. Utusan yang bernama patih Kala Rancang menghaturkan surat lamaran . Isi surat tersebut ada lah sang Prabu Kala kumara menghendaki Siti Sundari untuk bersedia menjadi istrinya. Terjadilah pertengkaran mulut yang kemudian meningkat dan menjadi adu kekuatan fisik di alun-alun Dwarawati.

Di alun-alun Dwarawati terjadilah perang antara prajurit dari Mandura melawan prajurit Rancang Kencana. Berkat kekuatan prabu Baladewa semua prajurit Rancang Kencana mundur ketakutan.

Sri Batara Kresna yang sekembalinya dari kerajaan langsung bersemedi dibalai semedi (sanggar pamujan), berdoa agar persiapan perkawinan Siti Sundari yang kurang 5 hari itu bisa berjalan dengan lancar, dan kiranya Jayasamba dan Walsatha yang diutus ke kasatriyan Madukara dijauhkan dari mara bahaya.

-==Jejer Kasatriyan Madukara.=--

Raden Janaka sedang duduk di atas kursi gading. Dalam persidangan di Kasatriyan Madukara dihadiri Raden Angkawijaya, Raden Gathotkaca beserta pada panakawan Semar, Bagong dan Besut.

Pembicaraan yang diungkapkan adalah mengenai akan berlangsungnya perkawinan Raden Angkawijaya dengan Siti Sundari yang waktunya tinggal 5 hari. Belum lama berselang dalam pembicaraan itu, datanglah Raden Walsatha dan Raden Jayasamba menghadap serta menghaturkan sembah. Setelah duduk dengan tenang, maka segera di tanyakan apa keperluannya. Kedua-duanya menjawab bahwa kehadirannya diutus menyampaikan surat yang dikirim dari rama Prabu Baladewa untuk Raden Janaka.

Setelah surat dibaca oleh Raden Janaka, marahlah ia, surat dirobek-robek hingga hancur. Raden Angkawijaya peka terhadap keadaan tersebut sehingga mengetahui bahwa isi surat itu adalah pembatalan perkawinannya atas perintah prabu Baladewa. Maka marahlah Angkawijaya kepada salah satu utusan yaitu Raden Walsatha.

Ditariknya tangan Raden Walsatha dan diseret ke alun-alun sehingga terjadi perang ramai. Raden Walsatha kalah begitu juga Raden Jayasamba lari ketakutan lalu kembali ke Dwarawati. Raden Angkawijaya kembali menghadap ayahanda Raden Janaka. Disitulah Angkawijaya dimarahi, dianggap seorang pemuda yang tidak pernah prihatin, pemuda yang membosankan.

Lontaran kata-kata marah itu membuat ruangan bagaikan terbakar. Semua yang ada dalam pendapa bagaikan bara api. Rasanya semakin panas saja, sampai-sampai tak tertahankan. Semakin lama tubuh Raden Janaka gemetar dada berdetak kencang, tangan kanannya memegang tangkai keris Kyai Pulanggeni ingin segera ditusukkan pada perut Angkawijaya.

Pada saat itu larilah Raden Angkawijaya terhuyung-huyung meninggalkan pandapa kasatriyan Madukara. Seketika itu pula keris Kyai Pulanggeni mengacung ke depan, berdirilah Semar Badranaya di hadapan Janaka sambil berkata: “e….. ayo Janaka mumpung pusakamu Pulanggeni durung kok wrangkakake, iki lho wetenge Semar enya wrangkakna neng wetengku kene! ”

Terjemahan :
“he… Janaka ini mumpung keris Pulanggenimu belum kamu kembalikan ke kerangkanya, mari silahkan tusukkan pada perut Semar saja!”

Karena kekuatan sabda Sang Batara Semar Ismaya, terjatuhlah pusaka Pulanggeni dari tangan Janaka menyebabkan timbulnya kilat berkali-kali dalam pendapa kasatriyan Madukara. Ini semua justru membuat Janaka lebih marah, marah yang tidak bijaksana. Maka lebih marah lagi saat sang Batara Semar Ismaya bersabda di depan Janaka.

“e…. Janaka , yen kowe ngaku wong wicaksana. Yen ana kedadeyan kaya ngene iki rak digoleki apa sebabe. Ngakumu wae waskitha. Lho jebul ora krasa yen ta sumbere prakara iki dudu anakmu, nanging saka bundhele nalarmu bodhone pikirmu, sing kena pamblithute angkara budi cetha neng jroning atimu sing mahanani budimu iku dadi budining wong cupbluk. He Janaka, aku lunga!”

Terjemahan :
“he… Janaka, kalau memang kamu mengaku orang bijak, jika ada kejadian seperti ini, kamu harus mecari sebab musababnya. Kamu mengaku sebagai orang yang memiliki hormat yang tinggi. Tetapi ini semua hanya kesombongan yang bodoh. Kamu tidak terasa bahwa sumber perkara ini bukan anakmu, tetapi hanya karena kebodohanmu yang sampai sombong. Ini semua menyebabkan kemerosotan budi luhurmu. He.. Janaka, aku pergi!”

Kemarahan Sang Batara Ismaya (Semar) inilah yang membuat pikiran Raden Janaka bingung bertumpuk-tumpuk (tumpang tindih) tidak menentu. Akhirnya menyuruh Bagong agar mengikuti Angkawijaya agar jangan sampai celaka.

Persidangan Madukara dibubarkan, sementara Raden Janaka langsung masuk ke tempat pemujaan untuk bersemedi mohon berkah agar senantiasa mendapatkan kemudahan dengan segala yang dilakukan.

-==Adegan perjalanan Angkawijaya (Abimanyu).=--

Rasa heran bercampur sedih, bagi sang Angkawijaya. Bertanyalah dalam hatinya, mengapa justru peristiwa ini menimpa pada dirinya. Ki lurah Semar dan Bagong Mangundiwangsa sepanjang jalan mengikuti perjalanan Angkawijaya tak ada lain yang diperbuat kecuali hanya berdoa untuk sang Bagus. Sampai masuk dalam hutan, diganggu oleh raksasa dan kemudian terjadi perang. Akan tetapi raden Angkawijaya mampu membunuh raksasa-raksasa itu.

Selanjutnya perjalanan sampai pada sebuah candi yaitu candi Suta Rengga. Di situlah ia bersemedi, ditemani panakawan dengan penuh kesetiaan. Selama bersemedi, Bagong dan Besut bermain, berkelakar dengan kondisi alam di sekitarnya sambil senyum mengejek (cekikak cekikik)! Kemudian Semar menginginkan agar tidak berkelakar tetapi Bagong dan Besut malah semakin keras dalam kelakarnya. Akhirnya kelakar itu berhenti sendiri, sebab ada suara yang memanggilnya

“Semar, Bagong, Besut mendekatlah kepadaku” dan bertanyalah ketiga-tiganya “ada apa ndara” (wonten dhawuh ndara). Ternyata Angkawawijaya masih bersikap semedi, diam tanpa bersuara.

Ada kedengaran suara Angkawijaya memanggil-manggil lagi. Tetapi para panakawan melihat bendaranya kok masih diam. Besut yang menoleh ke belakang baru mengerti bahwa kini berhadapan dengan orang yang sama dengan bendaranya. Tidak berani omong, Besut kemudian menghitung jumlah mereka sendiri. Suara Besut dalam hati “tadi empat, sekarang kok lima”

Bagongpun begitu juga “lho… tadi empat sekarang kok lima”.

Demikian juga Semar “ae..ae..ae.. mau mung papat saiki kok dadi lima … e… lha sijinene sapa?”

Sementara mereka terdiam. Tetapi orang ke-5 yang rupanya sama dengan Angkawikaja lalu berkata “kakang Semar dan kamu para panakawan, ketahuilah, bahwa aku ini tuanmu yang lahir bersama dalam satu hari satu malam dengan Raden Angkawijaya, namaku Jim Pembayun” (“kakang Semar lan sira para panakawan, mangertia, aku iki bendaramu sing lair bareng sedina, sing dadi bareng sewengi, aranku Jim Pembayun”).

Setelah semua saling mengetahui, maka Jim Pembayun sanggup mempertemukan antara Angkawijaya dengan Siti Sundari.

Maka berangkatlah Angkawijaya menerima ajakan Jim Pembayun. Atas kuasa Semar, Bagong dan Besut bisa terbang dari candi Suta Rengga ke tamansari negara Dwarawati.

Setelah sampai di wilayah Negara Dwarawati di tempat yang dekat dengan tamansari, mereka berlima lalu mendarat. Angkawijaya langsung diajak masuk tamansari.

--=Jejer Tamansari Dwarawati.=--

Dewi Siti Sundari, putri mahkota yang sudah saling mencinta dengan Raden Angkawijaya dengan tiba-tiba perkawinannya digagalkan oleh prabu Baladewa, maka sedih sekali hati sang Ayu Siti Sundari. Dalam kesedihan sang dewi tidak mau tidur, tidak mau makan, tidak mau merawat tubuh. Kedua abdi emban sampai kerepotan dalam melayaninya.

Datanglah Sri Kresna di tamansari yang sebelumnya telah mengetuk pintu tamansari terlebih dahulu. Dibukakan pintu tamansari, maka masuklah Sri Kresna ke tamansari. Sri Kresna duduk di kursi dan sambil bertanya pada Siti Sundari “apakah kamu masih cinta dengan Angkawijaya”, begitulah pertanyaan Sri Kresna.

Dewi Siti Sundari menyatakan melalui sikapnya bahwa sekarang juga ingin bertemu dengan Angkawijaya yang dicintai itu. Seketika itu juga Sri Kresna lenyap yang ada Raden Angkawijaya dan Dewi Siti Sundari sedang sama-sama mengungkapan rasa rindu masing-masing. Sri Kresna juga memberi ijin kepada para panakawan untuk ikut berada di dalam tamansari.

Tiba-tiba Sri Kresna itu datang dan berteriak “pencuri, pencuri” (“maling…. maling”) tentu saja Semar kaget …. lalu semua masuk ruang dan tutup pintu. Tetapi lama-lama bahwa Sri Kresna tadi adalah Jim Pembayun yang di saat itu juga langsung menyelinap menutupi dirinya.

-==Adegan di Luar Tamansari.=--

Raden Jayasamba yang bersama-sama dengan Raden Harya Setyaki sedang berjaga-jaga untuk mengamankan barang-barang yang sudah dipersiapkan dalam menyongsong pesta perkawinan Dewi Siti Sundari dengan putra mahkota kerajaan Astina Raden Bagus Lasmana Mandrakumara. Dalam hati Raden Jayasamba ada perasaan aneh dan mencurigakan. Maka Setyaki dan Jayasamba harus bersikap lebih waspada. Ternyata di dalam tamansari ada orang laki-laki. Raden Jayasamba lalu berada pada tempat yang lebih terang. Sambil jalan menunduk, melihat kanan, kiri, dan belakang, rasa kecurigaannya semakin tinggi untuk situasi pada saat itu.

Raden Jayasamba cepat-cepat menyapa pada bayang-bayang hitam itu, katanya agak kasar dan keras :

Jayasamba : “He…bengi-bengi wayah ngene Kok ana swara priya neng tamansari. Sapa? Apa sing jaga regol?”
Bayangan : ”Hi…inggih kula pun jaga regol”
Jayasamba : “Lho.., kok kaya sing jaga tamansari”
Bayangan : “Inggih kula sing jaga tamansari”
Jayasamba : “Apa kanjeng wa Baladewa”
Bayangan : “Inggih.. kula wa Baladewa”
Jayasamba : “Kok kaya paman Haryo Setiyaki”
Bayangan : “Inggih kula paman Setiyaki”
Jayasamba : “Apa Raden Jayasamba?”
Bayangan : “Inggih kula Raden Jayasamba”

Raden Jayasamba menubruk bayangan hitam itu sambil berteriak “o…maling”. Terjadilah peperangan antara Jayasamba melawan bayangan itu. Namun betapa kagetnya Jayasamba bahwa yang dilawan itu, tiba-tiba kok sama persisi dengan dirinya. Ternyata Jayasamba yang pertama kalah dan larilah ia minta tolong kepada Harya Setiyaki. Dalam peperangan itu Setiyaki pun juga berperang melawan Setiyaki. Karena Setiyaki pun dikembari dan perangnya pun kalah, maka keduanya cepat-cepat lapor ke Prabu Baladewa.

-==Adegan Kerajaan Dwarawati.=--

Prabu Sri Batara Kresna bersama-sama kakanda raja Mandura Prabu Baladewa. Keduanya berbicara tentang perkawinan (daupnya) Siti Sendari yang atas kehendak Prabu Baladewa akan dijadikan isterinya Raden Lasmana Mandrakumara. Prabu Sri Batara Kresna sama sekali tidak merespon pada kehendak Prabu Baladewa.

Namun Baladewa yang sering masih silau dengan barang duniawi merasa ikut mengangkat Siti Sendari untuk berada di tempat yang lebih tinggi dari pada kawin dengan Raden Angkawijaya.

Datanglah Raden Samba dan Raden Harya Setiyaki, melaporkan bahwa di tamansari ada pencuri (duratmaka) yang berani mengganggu ketenteraman Dwarawati. Dilaporkan juga bahwa pencurinya sakti bisa berubah-ubah rupa berwujud siapa saja. Pencuri itu menantang dan mengatakan siapa berani dengannya, terutama Prabu Baladewa.

Bagaikan dipukul (ditebah) dada Prabu Baladewa, seketika itu juga meloncatlah Prabu Baladewa ke tamansari untuk menemui si pencuri. Namun…, begitu sampai di tamansari bertemulah Prabu Baladewa dengan Prabu Baladewa, yang serupa tanpa ada bedanya sedikitpun.

Terjadilah perang mulut yang sangat ramai, di mana Prabu Baladewa yang asli sangat marah sekali, tetapi Prabu Baladewa yang di tamansari hanya tertawa saja. Baladewa tamansari dipegang dan dihantamkan ke pohon tetapi hanya diam dan tertawa. Kebalikannya Baladewa Dwarawati dipegang diangkat oleh Baladewa tamansari kemudian terus dilepas. Maka tertancaplah ke tanah Baladewa Dwarawati dan ditertawai oleh Baladewa tamansari.
Prabu Kresna datang ke tempat dimana pencuri itu berada namun dari kejauhan Prabu Kresna berteriak “hayo… maling, ketanggor karo kakangku, mesthi mati.” Prabu Baladewa yang tertancap di tanah merasa dihina, maka berkatalah prabu Baladewa “Iah ngenyeeek…., aku tulungana dhimas!” Setelah ditolong, Prabu Baladewa istirahat di Dwarawati. Sedangkan Sri Kresna terbang ke Amarta untuk minta bantuan para Pandawa guna mengusir pencuri yang ada di tamansari Dwarawati.

--=Jejer Karajaan Amarta.=--

Prabu Puntadewa beserta saudara-saudaranya sedang membicarakan tentang digagalkannya perkawinan ananda Angkawijaya yang mengakibatkan kemarahan Janaka dan mengusir Angkawijaya.

Hingga kini tak ada yang mengetahui di mana tempat Raden Angkawijaya. Tidak lama kemudian datang Sri Kresna yang menjelaskan duduk perkara tentang digagalkanya perkawinan Angkawijaya dengan Siti Sendari bersumber pada Sri Baladewa.

Atas kehendak Sri Kresna tidak usah diperpanjang perkara ini. Yang penting kini pencuri di tamansari Dwarawati harus diusir dulu. Sesudah itu baru perkawinan antara Angkawijaya dengan Siti Sendari dibicarakan lagi.

Pencuri di tamansari Dwarawati tak bisa dikalahkan oleh siapapun. Tetapi setelah Arjuna yang maju, pencurinya tidak mau merubah wujudnya menjadi Arjuna, justru ia lari sambil berkata: “Kalau saya berani melawan Arjuna , saya akan berdosa.” Seketika itu pencuri tadi berwujud Jim pembayun, dan kembali ke tubuh Angkawijaya yang sedang bermesraan dengan Siti Sendari. Sri Baladewa dalam hal ini tidak berbuat banyak. Malahan menerima tanggung jawab mengusir orang Astina dan yang lainnya. Perkawinan Angkawijaya dengan Siti Sendari terlaksana dengan tenang damai meriah tanpa aral melintang.

Perlu diketahui bahwa pakem di atas adalah pakem pakeliran Jawatimuran versi Mojokerta-an. Lakon tersebut dibawakan oleh Ki Dalang Cung Wartanu.

sumber : wayangprabu.com


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Pandu Winisudha

Di Negara Astina, Prabu Kresnadwipayana sedang memikirkan suksesi kerajaan untuk menggantikan dirinya. Ia merasa sudah tua dan saatnya untuk diganti yang lebih muda. Hal itu untuk melancarkan jalannya tata pemerintahan dan menghindari adanya konflik baik dari dalam maupun dari luar.

Tetapi Prabu Kresna Dwipayana merasa gundah karena sesuai adat hukum kerajaan bahwa yang berhak menggantikannya adalah putra tertua yakni Raden Drestarasta tetapi ia mempunyai kekurangan yakni cacat netra. Hal ini akan menimbulkan ketidaklancaran jalannya pemerintahan, sehingga bisa menimbulkan ringkihnya kerajaan. Tapi bila ia memilih anaknya yang kedua, inipun akan dianggap menyalahi adat hukum kerajaan, yang nantinya akan menimbulkan ketidakpuasaan disisi lain. Apalagi memilih anaknya yang ketiga, jelas tidak mungkin. Untuk itu ia tidak ingin memaksakan kehendak, justru ia menyerahkan kepada ketiga anaknya untuk berfikir siapa yang lebih mampu dan berhak untuk menggantikan dirinya

R. Drestarasta mengusulkan R. Pandu untuk menggantikan raja Astina. Ia merasa, walau sebagai putra tertua, namun ia menyadari akan kekurangannya. Sebagai seorang raja harus sempurna lahir dan batin hal ini untuk menjaga kewibawaan raja dan lancarnya pemerintahan. Namun R. Pandu tidak bersedia, ia berpedoman sesuai adat hukum kerajaan bahwa yang berhak menduduki raja adalah putra tertua, bila dipaksakan dikawatirkan dikemudian hari akan menimbulkan masalah. R. Yamawidura juga menolak karena merasa paling muda dan belum cukup umur untuuk memikul tanggung jawab sebagai raja.

Prabu Kresnadwipayana pertama merasa senang ternyata anak-anaknya dapat berfikir dengan hati nuraninya, menyadari akan kekurangan yang ada dalam dirinya dan bisa mendudukkan posisinya masing-masing, sehingga tidak saling berebut kekuasaan yang bisa menimbulkan perpecahan dan persaudaraan. Tapi Prabu Kresnadwipayana juga semakin gundah, bila suksesi tidak segera dilakukan akan menimbulkan ringkihnya kerajaan dan kurang lancarnya tata pemerintahan, hal ini akan menimbulkan ancaman baik dari luar maupun dari dalam kerajaan.

Disaat suasana semakin sedih dan gundahgulana tiba-tiba dikejutkan datangnya laporan bahwa Astina kedatangan musuh dari negara Lengkapura yang dipimpin Prabu Wisamuka. Prabu Krenadwipayana semakin gundah tapi satu sisi ia merasa dapat jalan, dalam dirinya berfikir inilah jalan untuk menguji ketiga putranya, siapa diantara ketiga putranya yang berhasil mengusir musuh sehingga disitu dapat dijadikan alasan untuk menetapkan jadi raja, sehingga rakyat nanti betul-betul menilai pemimpinnya sudah teruji dam mampu menyelamatkan rakyat, bangsa dan negaranya. Akhirnya ketiga putranya berangkat ke medan perang menghadapi Prabu Wisamuka .

Di medan pertempuran ketiga putra Astina berhadapan dengan Prabu Wisamuka. Namun karena kesaktian Prabu Wisamuka, ketiga putra Astina dapat dikalahkan, sehingga mengundurkan diri dan kembali ke Istana, tetapi R. Pandu, tidak kembali ke istana tapi masuk ke hutan mencari sarana untuk dapat mengalahkan musuh.

Dalam perjalanan di hutan, R. Pandu betemu dengan Batara bayu dan Kamajaya yang sebelumnya menyamar menjadi raksasa dan menyerang Pandu setelah dikalahkan kembali ke ujudnya . Oleh Bayu Pandu mendapat Aji Bargawastra dan di aku anak oleh Bayu dan diberi nama Gandawrakta dan oleh Kamajaya diberi keris Kyai Sipat Kelor. Setelah mendapatkan kesaktian R. Pandu kembali ke istana.

Di Negara Astina, Prabu Kresnadwipayana merasa sedih karena kepergian R. Pandu yang tidak berpamitan sebelumnya, apalagi negara dalam keadaan bahaya. Tiba-tiba R. Pandu datang dan menceritakan maksud kepergiannya. Selanjutnya R. Pandu bermaksud ingin mengusir musuh dari Negara Astina. Maka dengan dibantu sahabat-sahabat kerajaan Astina, antara lain Prabu Kuntiboja dari Mandura, Prabu Mandradipa dari Kerajaan Mandraka, Pandu berangkat ke medan pertempuran.

Dengan kesaktian R. Pandu, Prabu Wisamuka dapat dibunuh dan bala tentaranya melarikan diri. Negara Astina kembali dalam keadaan aman, Pandu kembali ke Istana. Dengan keberhasilan R. Pandu mengusir musuh dan menyelamatkan negara ini, mendorong hati saudara tua maupun mudanya yakni R. Drestarasta dan R. Yamawidura untuk mendukung sepenuhnya R. Pandu untuk menggantikan Raja Astina. Prabu Kresna Dwipayana juga sependapat dengan anak-anaknya bahwa Pandu dianggap yang paling mampu memimpin negara Astina. Resi Bisma yang hadir di negara Astina saat itu juga mendukung pengangkatan R. Pandu untuk menjadi raja Astina. Maka dengan dukungan penuh baik dari kakek, ayah, saudara dan rakyat Astina, Pandu dinobatkan menjadi raja Astina menggantikan Prabu Kresna Dwipayana dengan gelar Prabu Pandu Dewanata.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Bima Bungkus


Seluruh kerajaan Astina sangat berduka karena kelahiran anak jabang bayi Prabu Pandu dan Dewi Kunti yang berwujud terbungkus. Tak ada senjata yang mampu untuk memecah bungkus tersebut. Kurawa yang juga ikut membantu memecah bungkus tersebut – walaupun dengan tujuan berbeda ingin melenyapkan sang jabang bayi – juga tidak sanggup melakukannya. Sampai akhirnya, terdapat wangsit dewata yang meminta bayi bungkus tersebut dibuang di hutan Krendawahana


Ing pertapan Wukir Retawu Bagawan Abiyasa kasowanan Raden Permadi kang kaderekaken repat punakawan.
“Kanjeng Eyang, kadi pundi nasibipun Kakang Bungkus, sampun sawetawis warsa mboten wonten suraos ingkang sae, bab menika Eyaang, andadosaken duhkitaning Kanjeng Ibu Kunti…”


Di pertapaan wukir retawu Begawan Abyasa kedatangan Raden Permadi yang dikuti oleh punakawan.

“Kakek bagaimana nasib kakak bungkus, sudah sampai beberapa tahun tak ada kabar baik mengenai ini eyang, menjadikan dukanya ibu Kunti”


Tartamtu Sang Winasis kang pancen luber ing pambudi sampun pirsa apa kang dadi lakon.

“Putuku ngger, Permadi, mangertiya jer kakangmu nembe nglakoni karmane, ing tembe kakangmu Si Bungkus bakal dadi satriya utama, lan bakal oleh apa kang sinebut wahyu jati…”


Tentu saja sang Begawan yang memang dipenuhi oleh budi luhur sudah mengetahui apa yang akan terjadi.

“Cucuku ngger Permadi, mengertilah kalo kakakmu sedang menjalani karmanya. Di kemudian hari kakakmu si bungkus akan jadi ksatria utama dan akan mendapat apa yang disebut sebagai wahyu jati”


Anane Si Bungkus ndadekake gegering suralaya. Bumi gonjang ganjing kadya binelah, samodra asat.
Ing Suralaya, Batara Guru nimbali Gajahsena, putra sang batara kang awujud gajah, kinen mecah si bungkus saengga dadi sejatining manungsa. Sang Guru ugi angutus Dewi Umayi kinen nggladhi kawruh babagan kautaman marang si bungkus.


Adanya bayi bungkus tersebut menjadikan gegernya suralaya. Bumi gonjang ganjing bergetar seperti dibelah. Lautan menjadi kering.

Di suralaya Batara Guru memanggil Gajah Sena putra sang batara yang berwujud gajah untuk memecah si bungkus sehingga menjadi manusia yang sejati. Sang guru juga mengutus Dewi Umayi untuk melatih tentang keutamaan kepada si bayi bungkus.

Purna anggennya peparing ajaran marang si bungkus, Dewi Umayi aparing busana arupa cawat bang bintulu abrit, ireng, kuning, putih, pupuk, sumping, gelang, porong, lan kuku Pancanaka.

Setelah memberikan pengajaran kepada si bungkus, Dewi Umayi memberikan busana berupa cawet bang bintulu merah, hitam, kuning, putih, pupuk, sumping, gelang, porong dan kuku Pancanaka.

Salajengipun, Gajahsena mbuka bungkus. Pecahing bungkus dados sapatemon kekalihipun, kagyat dados lan perangipun. Binanting sang Gajahsena. Sirna jasad sang gajah. Roh lan daya kekiatanipun manjing jroning angga sang bungkus.

Selanjutnya Gajahsena dengan kekuatan yang dimilikinya membuka bungkus sijabang bayi. Namun dengan pecahnya bungkus, sang bayi menjadi marah karena ia merasa disakiti, maka terjadilah perkelahian yang dahsyat diantara keduanya. Pertempuran tersebut berakhir dengan kalahnya Gajah Sena. Namun bersamaan dengan sirnanya jasad sang Gajah, seluruh roh dan kekuatannya merasuk kedalam badan si bayi bungkus.


Praptene Betara Narada.

Si Bungkus tumakon marang Sang Kabayandewa, “Heemmm, aku iki sopo?”

Kemudian datanglah Betara Narada. Si bungkus kemudian bertanya pada Sang Kabayadewa,”Heeem, siapakah aku ini?”

“Perkencong, perkencong waru doyong, ngger, sira kuwi sejatine putra nomor loro ratu ing Amarta Prabu Pandudewanata. Sira lahir awujud bungkus, lan kersaning dewa sira kudu dadi satriya utama…, lan sira tak paringi tetenger Bratasena ya ngger…”

“Anakku,  kamu itu sesungguhnya adalah putra nomor dua dari Raja Dimarta Prabu Pandu Dewanata. Kamu lahir berwujud bungkus, dan kehendak Dewata kamu akan menjadi ksatria utama, dan untuk itu engkau kuberi nama Bratasena ..”

Bratasena kemudian hari menjelma menjadi seorang yang gagah dan menakutkan karena badannya yang tinggi besar dengan suara yang menggelegar.

Sampai suatu ketika ..

Rawuhipun Ratu saking Tasikmadu kang nyuwun senjata pitulungan marang Bratasena kinen nyirnakaken raja raseksa aran Kala Dahana, Patih Kala Bantala, Kala Maruta lan Kala Ranu. Para raseksa sirna. Sekakawan kekiatan saking raseksi wau nyawiji marang Raden Bratasena, inggih punika kekiatan Geni, Lemah, Angin lan Banyu.

Datanglah Ratu dari Tasikmadu yang meminta pertolongan kepada Bratasena untuk melenyapkan raja raksasa bernama Kala Dahana. Patih Kala Bantala, Kala Maruta dan Kala Ranu. Dengan kekuatannya Bratasena mengalahkan para raksasa tersebut. Mereka sirna dan semua kekuatan para raksasa tadi menyatu dalam tubuh Raden Bratasena; itulah kekuatan api, tanah, angin dan air.


—————————
Tancep Kayon

Kisah atau cerita diatas saya ambil dari bharatayudha.com


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Selasa, 12 Maret 2013

Purbodjati

negeri hastinapura yang permai. kekayaan melimpah. sayang sekali rajanya prabu duryodana tak pernah tenang. karena menuruti hawa nafsu ingin melenyapkan seteru duri dalam daginya. yaitu para pandawa. siang itu paseban dibuka dengan hadirnya dan menghadapnya 2 orang begawan. yang pertama adalah begawan drona dr pertapan soka lima dan panembahan wiso sejati dari talang gantungan. bengawan drona menceritakan bagaimana keskatian panembahan wisno sejati pada sang prabu joko pitono. saat itu di paseban hadir juga patih sengkuni dari ploso jenar dan prabu baladewa dari kerajaan mandura.

prabu jaka pitana mengutarakan mengapa keadaan dirinya sering dalam keadaan gelisah selalu. sang panembahan menjelaskan bahwa karena sang baginda selalu memikirkan kekuatiran bahwa para pandawa akan merebut dampar kerajaan. karena itu sang panebahan menawarkan untuk ikut berbakti dengan mengupayakan kematian para pandawa. sang prabu jaka pitana sangat gembira sekali dan menerima usulan dari sang panembahan. sang panembahan mengatakan bahwa pandawa itu kekuatanya dari sri bhatara kresna karena itu untuk memudahkan membunuh pandawa maka harus dilenyapkan dahulu sang bhatara kresna. sang panembahan menanyakan apakah sang prabu menyetujui akan usulan dr dirinya.

sang prabu jaka pitono memberikan isyarat beliau sangat setuju terhadap usulan panembahan. bahkan meberikan suatu harapan bagi panembahan agar bisa membantunya melenyapkan para pandawa. tetapi sang panembahan kemudian berkata bahwa di dlm istana hastina ada mata mata pandawa. yaitu sang prabu baladewa yang dianggap adalah mata mata karena beliau pasti tak akan setuju dengan usulan untuk membunuh sri bhatara kresna. mendengar itu sang prabu baladewa menahan amarahnya dan berkata, sebaiknya sang prabu joko pitono berpikir ulang. agar wening pikiranya. tidak hanya memusatkan pada keinginan membunuh para pandawa saja. tetapi usulan itu tidak diperhatikan sang prabu jaka pitana. bahkan resi drona menyumbari akan membantu penuh teman barunya itu dalam mengupayakan kematian sri kresna dan pendawa.

sang prabu jaka pitana menyetujui hal tersebut dan meminta segera dilaksanakan perbuatan tersebut secara nyata. maka sang panembahan memanggil muridnya dr ngeri talang gantungan yaitu prabu dosokendro. prabu doso kendro datang menghadap dan berkata sanggup untuk menjadi jago kurawa dalam membunuh sri kresna. setelah direstui sang prabu maka berangkatlah rombongan. dengan dikawal oleh patih sengkuni, resi drona dan para korawa. setelah rombongan berangkat prabu baladewa pamit pulang dengan lasan istrinya sakit. tetapi sang prabu sebenarnya sangat marah dan berniat mencegat rombongan prabu dosokendro.

paseban dibubarkan. lalu sang prabu joko pitono masuk ke dalam istana. berganti baju serba putih dan masuk sanggar pemujaan. niat minta kepada dewata agar niatnya berjalan lancar. disanggar pamujaan gangguan banyak terjadi. karena niat sang prabu yang jelek dan tak direstui dewa. kemenyan yg dibakar tak nyala nyala. bahkan cuma menetes mematikan apinya. kukus kemenyan berwarna hitam dan bolak balik membuat sang prabu bangkis bangkis dan mata merah perih. marah sang prabu duryodana. kemenyan ditendang sampe mencelat jauh ke pelataran. lalu sang prabu keluar saggar pamujaan. ratu banowati yg tau suaminya lg marah menyambutnya dengan senyuman. dan luluhlah marah sang prabu, mereka pun berasmara ria. tak peduli lg dengan niatan membunuh pandawa....

prabu dasakendra diiringi oleh togog dan mbilung. mereka jalan didepan mendahuli begawan drona dan panembahan wisno djati yg berjalan di belakang. lalu di belakangnya lg agak jauh patih sengkuni dengan para kurawa mengawasi. sementara lg enaknya berjalan prabu dasa kendra menanyaan pd togog apa sih kelebihan prabu bhatara kresna itu?. lalu togogo menjelaskan agar sang prabu jangan berani melawan sri kresna karena beliau adalah titisan wisnu, memiliki senjata chakra dan bisa tiwikrama menjadi raksasa sebesar jagad. tapi dasar kesombongan memenuhi dada dasa kendra sehingga tak mau mendengar penjelasan dari togog dan memilih terus berjalan akan membunuh sri kresna.

belom jauh melangkah jalan dihadang oleh prabu baladewa. yang kemudian menantang dasakendra. boleh membunuh sri kresna jika bisa melangkahi bangkai baladewa kata raja mandura itu sangat marah. perkelahian pun terjadi. prabu baladewa mengamuk sejadi jadinya. dasa kendra dihantam dipukul dan diinjak injak. sampe babak belur klenger. kemudian mundurlah dasa kendra dan bertemu dengan rombongan resi drona dan panembahan wisno djati. sengkuni menyusul dan dengan mengejek dia berkata kepada resi drona. kakang drona, ini jagoanmu?masa belom apa apa saja sudah babak belur begini?. drona sesumbar bahwa itu baru awal.

prabu dasa kendra mengeluarkan pusaka kemlandingan putih. yang dilempar ke arah prabu baladewa yang segera mebentuk tali yang mengikat tangan ratu mandura. marahlah prabu baladewa meledak ledak suaranya. sambil mencabut senjata saktinya neggala. neggala membuat pusaka kemlandingan putih hancur berantakan dan dasa kendra jadi bulan bulanan dan hampir saja tewas kalo tidak melarikan diri. oleh panembahan dsuruh agar melanjutkan jalan dan jangan ngurusi baladewa. resi drona lalu menggunakan cara licik dengan mencipta agar dasa kendra bisa salin rupa sama persis dengan hyang kaneka putra bhatara narada. karena nesehat dr panembahan bahwa kresna itu tak takut apa apa. dia cuma takut kepada bhetara.

oleh panembahan kaneka putra palsu ini disuruh ke dwarawati dan meminta mustika wijaya kesuma. dengan prediksi kresna tak akan bisa mati jika mustika wijaya kesuma masih ada ditangan sri kresna. karena mustika wijaya kesuma dikenal mampu membangunkan orang mati separah apapun lukanya. maka berangkatlah narada palsu ke dwarawati. sementara itu drona dirubah oleh panembahan salin rupa jadi prabu kresna. untuk pergi ke ngamarta dan meminta layang kalimasada dari prabu puntadewa. karena ga mungkin minta paksa dan mengetahui pandawa cuma patuh pd kresna maka drona salin rupa jd kresna. cuman panembahan mengingatkan agar hati hati pada sadewa. karena sadewa itu yg paling waspada dan akan mengetahui jika ada yg pake ilmu salin rupa.

juga diperintahkan agar membawa arjuna dan werkudro untuk diperdaya dengan sebuah asumsi bahwa benteng pandawa ya cuma bima dan arjuna yang paling sakti. maka berangkatlah sri kresna palsu ke ngamarta. merasa belom aman panembahan memanggil buto yg tak tampak karena ahli panlimunan, bernama yaksa kala jambe rupekso. diperintahkan dengan halimunan selalu mengikuti resi drona aka krena palsu. jika ada yang mau menyusul untuk menggagalkan jalan sri kresna palsu ditugaskan pada buto tersebut untuk menghadapi sang pengganggu siapapun itu. maka berangkatlah sang raksasa, yang wujudnya tak terlihat. ibarat kata hanya suara tanpa wujud karena ahlinya dlm halimunan.

baladewa mencari lari kemana musuhnya. tiba tiba saja menghilang. hatinya merasa sangat tak enak. kemudian segera bladewa melaju ke dwarawati. untuk mengingatkan bahwa bahaya sedang mengancam adiknya prabu bhatara kresna. kisah berpindah ke ngamarta. kerajaan ngamarta aka indraprasta mengalami masa suram. terkena pagebluk karena hawa hilangnya pamomong pandawa yaitu aki semar badranaya. ibarat kata keadaan morat marit. banyak penyakit. pagi sakit sore mati, sore sakit pagi mati. dan para pandawa merasa sangat sangat prihatin sekali.

di paseban para pandawa tampak murung. tiba tiba datanglah sri kresna palsu resi drona yang langsung masuk sitinggil. sri kresna palsu di sambut dengan bahagia. para pandawa merasa bahagia karena dengan kehadiran sri kresna dianggap akan mampu memberikan jawaban atas apa yang terjadi di negeri ngamarta. sri kresna menyampekan jangan sedih dan konyol, semar itu wong cilik bodoh dan ga bs apa apa jangan dimulia muliakan katanya. lalu sri kresna meyampekan ada topo yang gede banget penguwasanya. namanya panembahan wisno djati. dan menganjurkan pandawa berguru padanya. sri kresna mengatakan bahwa pandawa mengalami pagebluk karena kurang paham isi layang kalimasada. dan sri kresna menganjurkan agar layang kalimasada diberikan padanya dan arjuna wkudoro agar ikut untuk diwejang sang panembahan. hal ini disetujui oleh prabu puntadewa. maka berangkatlah rombongan sri kresna palsu dan layang kalimasada disertai harjuna dan werkudoro.

sadewa merasa curiga dan tau bahwa sri kresna bukanlah sri kresna asli. melainkan jelmaan orang lain. dia berkata kepada prabu puntadewa untuk menyusul dan merebut jamus kalimasada. tetapi dilarang oleh prabu puntadewa. sadewa pun dengan cerdiknya pamit memeriksa pasukan di luar. prabu mengijinkan sambil tetep merasa agak kuwatir sadewa akan menyusul sri kresna. tetapi sadewa menyakinkan sang prabu bahwa dirinya cuma akan keluar ke pelataran liat prajurit. di luar sadewa mengumpulkan gatotkaca, antaredja, antasena untuk diajak rembugan. mereka sadar bahwa sri kresna yg tadi itu palsu dan hanya jelmaan dan bertekad untuk merebut kembali layang jamus kalimasada.

gatotkaca bagi tugas, di angkasa gatotkaca akan menyusul. antaredja liwat tanah dan antasena mengawasi di belakang rupanya buto panglimunan jambe rupekso mengetahui. berniat menghalangi tindakan para putra yodipati. buto gandrwo ini lalu merasuk ke dalam tubuh antaredja sampe antaredja kesurupan dan memukul gatotkaca sampe pingsan. gatotkaca bangun dan bertanya kenapa kakanya memukulnya. antaredja yg kesurupan mengatakan bahwa sadewa sedeng karena berani melawan sri kresna. lalu berantemlah keduanya. sampe pukulan gatotkaca telak menjatuhkan antaredja saat itu jin kolo jambe mencelat keluar dr tubuh antaredja. dan antaredja bingung kenapa kok dipukul oleh gatotkaca. datanglah antasena. mereka lalu rembugan apa yg sih yg sebenrnya terjadi. mereka lalu waspada. ada yg ga beres disini kata antasena.

antasena meminta gatotkaca menggunakan pemberian bhatara guru berupa mustika rumput suket kalanjana. dioleskan ke mata sanggup liat ghoib. tampalah buto gandarwa kolo jambe. pertarungan terjadi antasena dan antaredja menggunakan suket kalanjana juga sehingga bisa ikutan berantem. dlm pertempuran ini raksasanya kewalahan. karena tandang dr ke 3 putra yodipati. gatotkaca menyerang dr atas, antaredja dr dalam tanah dan antasena menendang langsung tubuh raksasa itu sehingga seperti bola sepak. karena kewalahan maka raksasa itu memilih mundur sambil menebar kabut.

kembalilah ke 3 satria yodipati karena ga berhasil mengejar kresna palsu. dan juga ga berasil nangkep gandarwa td. menghadap sadewa, oleh sadewa diminta antasena antaredja menjaga ngamarta sementara gatotkaca diminta terbang di udara. jika ada sorot terang segera turun ke bumi. semoga itu jawaban dr masalah. dan sadewa segera ke dwarawati mengadukan masalah yg terjadi kepada sri baginda bhatara kresna. maka berangkatlah sadewa dan gatotkaca dengan tugas masing masing.

keraton dwarawati, prabu sri kresna tampak murung dipaseban bersama patih udawa dan setyaki. prabu bhatara memikirkan tentang keadaan pagebluk yg menimpa dwarawati. tiba tiba datanglah baladewa dan sadewa secara bersamaan. maka sang prabu pun menyambut tamu saudara saudaranya ini. prabu baladewa mengingatkan sri bhatara kresna agar waspada. karena ada yang mau membunuh sri bhatara kresna. sedang sadewa menyampaikan kabar bahwa sri kresna asli menyuri jimat kalimasada serta membawa arjuna dan werkudoro tanpa diketahui akan dibawa kemana.

geger tiba tiba bhatara narada palsu datang. semua menghaturkan sembah. bhatara narada berkata bahwa ada perintah bhatara guru untuk meminta kembang wijayakusuma. tapi karena kecerdikan sri kresna maka sri kresna menolak secara halus. tetapi bhatara narada palsu berkata akan merebut sendiri liwat perang jika kembang wijaya kusuma tak diberikan. sri rkesna erasa janggal dan tau kalo ini bhatara narada palsu. segera memanggil senjata chakra dan dihantamkan ke leher bhatara narada. seketika terbuka kedoknya balik ke wujud asal yaitu prabu dasa kendra yg segera lari ke luar sitinggil. yg lain akan mengejar tapi di cegah sri kresna. ini musuhku kalian disini jaga baik baik kerajaan berkata sri kresna. dan segera sri kresna mengejar dasa kendra.

pertempuran terjadi. anehnya setiap terkena chakra tewaslah prabu dasa kendra terkena tanah hidup lagi, terus begitu ahirnya larilah prabu kresna. pertapaan wukir retawu kedatangan tamu. yaitu pangeran ongkowidjoyo aka abimanyu dan punokawan dr kesatrian plongkowati. kedatangan untuk meminta begawan abyasa memberikan pencerahan dimana lurah semar berada. oleh begawan abyasa disuruh cari ke kaki pegunungan di sebelah timur. maka berangkatlah rombongan dihadang oleh raksasa baju barat. terjadilah perang tanding. dan saat berperang gatotkaca melihat dr angkasa adiknya dikeroyk banyak raksasa. segera turun membantu menumpas para raksasa. segera setelah semua raksasa berlarian maka gatotkaca ikut dlm rombongan abimanyu mencari kaki semar badranaya.

cerita beralih ke kayangan ondar andir. tempat sang hyang wenang. sang hyang wenang lg ada tamu, ismaya ki semar. kisemar mengadu kenapa kejahatan meraja lela. sang hyangw enang bilang ini ujian untuk pembela kebajikan. lalu diberikan trisoro oleh sang hyang wenang kepada ismaya. untuk melawan kejahatan dan hanya boleh digunakan oleh mereka yang memiliki jika senopati. kembalilah ismaya ke ngarcapada setelah berterimakasih kepada sang hyang wenang.

di kaki gunug ditimur jazad ki semar ditunggu oleh hanoman. datanglah abimanyu gatotkaca dan punokawan. mereka diberi tahu semar sedang menghadap hyang wenang. maka mereka menunggu disisi tubuh semar. masuklah sang hyang ismaya. ki semar segera bangkit sadar. lalu segera meminta rombongan menuju suatu tempat yang telah diketahui untuk menyelamatkan pusaka jimat kalimasada dan arjuna serta werkudoro.

sri kresna palsu membawa arjuna dan werkudoro ke sebuah pertapan. ketemu dengan panembahan wisno jati. diberi air untuk membersihkan jiwa. air yg diracun. karena percaya saja arjuna da bima meminumnya. dan lumpuh lemaslah keduanya. lalu di bawa ke dalam penjara. sri kresna palsu diminta kembali ke pandawa untuk mengambil putadewa dan sisa pandawa. sementara jin jambe disuruh memasukan arjuna dan bima ke penjara. saat itu datang rombongan semar. hanoman dengan seluruh kesaktianya memukul sampe hancur berantakan tubuh dr jin jambe. gandarwa kala jambe tewas seketika. lalu penjara di hantam pusaka trisoro yg diberikan semar kepada gatotkaca.lebur penjara itu, bima dan arjuna ditolong keluar.

datanglah prabu kresna asli dikejar oleh dasa kendra. semar meminta hanoman menghadapi dasa kendra sementara kresna diminta merebut jamus kalimasada dari kresna palsu. pertarungan terjadi dan hanoman berhasil mengenali dasa kendra sebagai sukma dosomuka yg lari dr gunung pangukuman argokiloso. setelah berantem seru maka terpeganglah sukma dasamuka dan dikembalikan ke penjara. sri kresna asli terdesak oleh sri kresna palsu. oleh semar gatotkaca diminta menghantamkan senjata trisoro. dan badar sri kresna palsu kembali ke wujud drona. drona menyerah dan mengembalikan kembali jamus kalimasada.

sementara panembahan wisno jati dihadapi semar. setelah perang tanding badar wujud panembahan menjadi bhetari durga. bhetari durga meyerah dan mohon diampuni. oleh semar diampuni dan bhetari kembali ke khayangan sentra gondo mayit. semua pasukan baju barat dan penyakit yg menyatroni ngamarta dan juga dwarawati ditarik. dan keadaan kembali tenang. senjata trisoro itulah purbodjati yg diberikan sang hyang wenang kepada ismaya untuk melenyapkan ke angkara murkaan.

http://www.bluefame.com/topic/174953-lakon-kumpulan-cerita-wayang/page__st__80


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..