Thursday, 28 May 2015

Prabu Mandrapati

PRABU MANDRAPATI adalah putra Prabu Mandradipa raja negara Mandaraka dengan permaisuri Dewi Ayutamayi. Ia termasuk keturunan Wangsa Yadawa, yang berdasarkan garis keturunan masih memiliki hubungan dengan keluarga Mandura dan Dwarawati (Wangsa Yadawa) Wangsa Boja dan Wangsa Kuru (Kurawa dan Pandawa). Prabu Mandrapati menjadi raja negara Mandaraka menggantikan ayahnya, Prabu Mandradipa yang mengundurkan diri hidup sebagai brahmana.



Prabu Mandrapati menikah dengan Dewi Tejawati, seorang hapsari/bidadari, dan dikarunia 2 (dua) orang putra, yaitu; Narasoma dan Dewi Madrim. Mandrapati mempunyai watak; sabar, ikhlas, percaya akan kekuasaan Tuhan, tahu membalas guna dan selalu bertindak adil. Ia bersahabat karib dengan Bagawan Bagaspati, Pendeta raksasa di pertapaan Argabelah.

Akhir riwayatnya diceritakan, Prabu Mandrapati meninggal karena bunuh diri akibat tidak tahan menanggung malu atas perbuatan putranya, Narasoma yang sangat tercela membunuh Bagawan Bagasapati.
Baca Selengkapnya..

Mandradipa

PRABU MANDRADIPA adalah raja negara Mandaraka. Ia masih keturunan Prabu Mandrakestu, raja negara Kidarba. Di dalam sarasilah Parisawuli, Mandrakestu disebutkan dengan nama Brahmakestu, putra Bathara Brahmanadewa (putra Sanghyang Brahma) dengan Dewi Srinadi, putri Sanghyang Wisnu dengan permaisuri Dewi Srisekar.

Prabu Mandradipa menikah dengan Dewi Ayutanayi, keturunan Prabu Ruryana, raja negara Maespati. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra yang diberi nama, Arya Mandrapati. Prabu Mandradipa bersahabat baik dengan Resi Jaladara , dari pertapaan Dewasana. Persahabatan dan persaudraan ini terus dilanjutkan oleh putranya, Arya dengan gelar Prabu Matswapati, Arya Setatama tetap menjabat sebagai patih Wirata.

Arya Setatama menikah dengan Dewi Kandini, enam keturunan dari Batara Brahmanakanda putra Hyang Brahma. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra yang bernama, Arya Nirbita, yang setelah dewasa Mandrapati dengan Bambang Anggana Putra, putra Resi Jaladara. Dalam kisah selanjutnya, Bambang Anggana Putra yang setelah menjadi brahmana di pertapaan Argabelah bergelar Bagawan Bagaspati akhirnya mati dibunuh oleh Narasoma/Prabu Salya putra Prabu Mandrapati.

Setelah usianya lanjut dan merasa tidak mampu lagi mengendalikan tampuk pemerintahan, Prabu Mandradipa menyerahkan tahta kerajaan kepada putranya, Mandrapati. Ia kemudian hidup sebagai brahmana sampai akhir hayatnya.
Baca Selengkapnya..

Dewi Maekah / Mahindra

DEWI MAEKAH atau Dewi Mahindra (Mahabharata) adalah putri Prabu Kurandapati, raja negara Widarba. Ia mempunyai kakak kadung bernama Dewi Maerah atau Dewi Mahira (Mahabharata). Dewi Maekah dan Dewi Maerah, keduanya menjadi pernmaisuri Prabu Basudewa, raja negara Mandura.

Kedua putri itu mempunyai nasib yang berbeda. Dewi Maerah tanpa sengaja terkena tipu daya Prabu Gorawangsa, raja raksasa negara Gowabarong yang dengan beralih rupa menjadi Prabu Basudewa palsu berhasil menggauilinya dan menghamilinya. Ia kemudian diasingkan ke Kadipaten Sengkapura dan melahirkan anak berwujud setengah raksasa yang diberi nama Kangsa. Sementara Dewi Maekah dalam perkawinanya dengan Prabu Basudewa memperoleh dua orang putra yang lahir kembar gondang kasih (berbeda warna) masing-masing bernama ; Kakrasana, berkulit putih/bule, dan Narayana yang berkulit hitam.

Akibat ancaman Kangsa yang ingin merebut kekuasaan negara Mandura dan membinasakan putra-putra Prabu Basudewa yang lain, Dewi Maekah terpaksa harus berpisah dengan kedua putranya sejak kecil. Demi keselamatan jiwanya, Kakrasana dan Narayana dititipkan di padepokan Widarakandang dalam asuhan Demang Antagopa dan Nyai Sagupi. Dewi Maekah dapat berkumpul kembali dengan kedua putranya setelah Kakrasana dan Narayana dewasa, dan mereka telah berhasil membinasakan Kangsadewa. Dalam masa tuanya Dewi Maekah hidup dalam kebahagiaan. Kedua putranya berhasil menjadi raja besar. Kakrasana menjadi raja negara Mandura bergelar Prabu Baladewa, sedangkan Narayana menjadi raja negara Dwarawati bergelar Prabu Kresna/Sri Bathara Kresna.
Baca Selengkapnya..

Dewi Maerah

DEWI MAERAH atau Dewi Mahira (Mahabharata) adalah putra Prabu Kurandapati, raja negara Widarba. Ia mempunyai adik kandung bernama Dewi Mahindra atau Dewi Maekah (pedalangan Jawa). Dewi Maerah dan Dewi Maekah. keduanya menjadi permaisuri Prabu Basudewa, raja negara Mandura.

Dengan tidak disengaja dan disadarinya, Dewi Maerah telah mengalami malapetaka, digauli oleh Prabu Gorawangsa, raja raksasa negara Gowabarong yang beralih rupa menjadi Prabu Basudewa palsu. Atas perbuatannya itu ia mendapat hukuman, diusir keluar dari negara Mandura. Dewi Maerah yang dalam keadaan hamil ditempatkan di negara Bombawirayang, diserahkan kepada ditya Suratrmantra, adik Prabu Gorawangsa. Di tempat pengasingannya itu Dewi Maerah melahirkan seorang putra lelaki yang berwujud setenah raksasa yang diberi nama Kangsa atau Kangsadewa.

Setelah Kangsa dewasa dengan terus terang, Dewi Maerah menceritakan keadaan sebenarnya, bahwa ia sesungguhnya permaisuri Prabu Basudewa, raja negara Mandura. Kangsa tidak sepenuhnya putra Gorawangsa, tetapi juga putra Prabu Basudewa, sehingga berhak mendapat pengakuan sebagai putra Prabu Basudewa. Dengan dukungan Suratrimantra, Kangsa pergi kenegara Mandura. Ia akhirnya diakui sebagai putra Prabu Basudewa dan diangkat menjadi Adipati di Sengkapura. Oleh Kangsa, Dewi Maerah diboyong ke Sengkapura. Ketika Kangsa tewas dalam peperangan melawan Kakrasana dan Narayana, Dewi Maerah ikut belamati, terjun ke dalam pancaka (api pembakaran mayat) demi kehormatan dan harga dirinya.
Baca Selengkapnya..

Jamurdipa

Prabu Basumurti dari Wirata pada suatu hari menjelaskan kepada Patih Jatikanda, Arya Kandaka dan Resi Wikiswara bahwa sang Raja akan berburu ke hutan. Jatikanda bersama Basukesti, Basunanda dan Brahmana Kestu mengadakan persiapan di hutan. Sebelum berburu Prabu Basumurti mengadakan pesta di Hutan Mandeki, serta memberikan hadiah kepada rakyat di sekitar hutan tersebut. Namun diantara penduduk itu ada salah seorang yang bernama Janaloka tidak mau menerima hadiah dari rajanya oleh karena ia sebagai penjaga pohon sriputa. Adik raja yang bernama Basukesti menebang pohon keramat tersebut dan keluarlah cahaya sinar yang merasuk ke badan Basukesti. Selanjutnya Janaloka menghormat dengan Basukesti serta mengatakan bahwa kelak sang Pangeran akan menjadi raja.

Tak lama kemudian Basukesti menerima berita dari Dewi Jatiswari istri Prabu Basumurti bahwa sang Raja sakit keras. Segera sang Pangeran menjenguk kakaknya, tetapi ketika ia tiba di istana kakaknya telah wafat. Selanjutnya Basukesti dinobatkan menjadi raja dan ramalan Janaloka menjadi kenyataan.

Setelah naik takhta, sang Raja memerintahkan untuk membuat instrumen gamelan yang digunakan dalam peperangan antara lain: gurnang, thang-thong grit, paksur, teteg, kendang, bendhe, gong dan beri. Pada suatu hari Patih Jatikanda melaporkan bahwa Brahmana Deta dan Brahmana Kestu menghilang dan di rumahnya tumbuh Jamurdipa yang memancarkan sinar. Prabu Basukesti melihat hal yang aneh, setelah sampai di rumah itu maka sinar terang yang ada pada Jamurdipa merasuk di kepalanya Basukesti.
Baca Selengkapnya..

Gatotkaca Rante

Di kerajaan Astina sedang dirundung duka dengan kepergian R. Lesmana Mandrakumara yang pergi tanpa pesan dan berpamitan dengan keluarganya. Dengan kepergian R. Lesmana Mandrakumara, Prabu Duryudana lalu menugaskan Patih Sangkuni untuk mencari dan membawa kembali ke Astina.

Sementara itu di tengah hutan R. Lesmana Madrakumara sedang bertapa untuk mencari dan memohon kepada Dewa agar diberi jodoh seorang putri, mengingat selama ini selalu gagal memperoleh istri. Ketika ia sedang bertapa datanglah sang Hyang Batari dan dikemukakan maksudnya, Yaitu agar Dewi Pergiwati yang telah dicalonkan dengan R. Pancawala dibatalkan dan perjodohkan kepadanya. Lalu sang Hyang Batari memberi sumping gajah nyoling yang khasiatnya bila dipakai maka si pemakai akan dapat terbang, dan Sang Batari berkata bahwa ia dapat bertemu dengan Dewi Pergiwati namun tidak dapat dijadikan istrinya sebab memang bukan jodohnya.selain itu Sang Batari juga berkata bahwa sipemakai sumping dilarang membunuh orang, congkak, sombong juga mencuri dan bertindak curang.

Gatotkaca Kroda - Jatim

Pada saat itu di Kesatrian Madukara sedang membicarakan pelaksanaan perkawinan R.Pancawala dengan Dewi Pergiwati mengingat segasla sesuatunya telah siap. Pada malam harinya ketika semua orang sedang terlelap tidur, menyelinaplah R.Lesmana Mandrakumara ke Kasatrian Madukara, melihat calon temanten sedang tidur lelap, maka diambillah senjata Kala Nadah milik R.Gatokaca untuk membunuh R.Pancawala. Dengan terbunuhnya R.Pancawala gemparlah Kesatrian Madukara sebab senjata R.Gatokaca yang telah menhabisi nyawanya. Untuk mempertanggung jawabkan, maka R.Gatokaca dihukum dihutan dengan diikatkan badannya ke sebuah pohon (hukuman rante) hal ini menjadikan R.Gatotkaca gusar dan kesal sebab bukan dirinya yang membunuh R.Pancawala, tetapi senjata miliknya adalah sebagai bukti yang kuatbahwa ia adalah pembununya.

Saat di hutan Endang Pergiwa menemani suaminya R.Gatotkaca yang sedang menjalani hukuman, ketika haus dicarikan air untuk menepis dahaganya.Ketika Endang Pergiwa sedang berjalan sendiri di hutan, hal ini terlihat oleh R.Lesmana Mandrakumara, yang akhirnya Endang Pergiwa diculik dibawa terbang, karena mendengar jeritan istrinya, R.Gatotkaca meronta dan berontak sehingga tali (rante) yang mengikatnya putus terlepas.

Dengan terbebasnya R.Gatotkaca dari ikatan rante lalu mengejar penculiknya terbang kesana kemari. Ketemulah ia dengan penculik istrinya yang tiada lain R.Lesmana Mandrakumara dan terbukalah rahasianya bahwa R.Lesmana Mandrakumara orang yang membunuh R.Pancawala. Maka R.Lesmana Mandrakumara disergap dan dibawa ke Kasatrian Madukara untuk diadili. Sebelum hukuman R.Lesmana Mandrakumara dijatuhkan, datanglah rombongan Kurawa yang sedang mencarinya untuk dibawa pulang ke negara Astina kembali.

Karena belum saatnya meninggal, akhirnya R.Pancawala dapat dihidupkan kembali oleh Sri Batara Kresna.
Baca Selengkapnya..

Gandasasi

Perkawinan Arjuna dengan Dewi Gandawati putri Raja Tasikmadu mempunyai putri, yakni Dewi Gandasasi. Karena kecantikannya banyak para ksatria yang melamar antara lain Dewakusuma putra Sadewa, Samba dari Kerajaan Dwarawati, Pangeran Lesmana Mandrakumara dari Astina dan Prabu Dewasrani dari Kerajaan Awu-awu Langit.

Bagi Arjuna agak sulit untuk menentukan pelamar mana yang akan diterima, karena itu ia mengajukan tuntutan syarat perkawinan (bebana), yaitu minta agar para pelamar mengujudkan dua raksasa yang dapat menari di atas kawat.

Setelah mendengar syarat yang diajukan itu, utusan Cubung Kasiyan dari Awu-awu Langit merasa dapat memenuhi permintaan itu.

Sementara Dewakusuma mendapat nasihat dari kakeknya, Begawan Dewamurti dari Girimuka, agar pergi ke Kerajaan Amarta menemui Arjuna.

Setelah bertemu maka Arjuna mengatakan bahwa Dewi Gandasasi adalah sebagai calon istrinya serta tidak akan meninggalkannya.

Pada waktu yang telah ditentukan untuk perkawinan, Dewasrani datang di Kasatrian Madukara serta membawa dua raksasa yakni Jaramaya dan Jurumeya dengan lincah dapat menari di atas kawat, karena mereka makhluk halus.

Setelah itu Dewasrani minta agar dikawinkan dengan Dewi Gandasasi karena merasa dapat meme-nuhi tuntutan. Namun Bima memprotes sebab yang menari bukan raksasa tetapi roh atau makhluk halus yang berada di hutan. Dewasrani tersinggung karena adanya protes Bima itu, sehingga peperangan terjadi, dan Dewasrani kalah. Selanjutnya perkawinan Gandasasi dengan Dewa Kusuma dilangsungkan.
Baca Selengkapnya..

Darmabirawa

Di Kerajaan Astina Prabu Suyudana sedang berembug dengan Patih Sakuni dan panglima perang Adipati Karna. Hadir pula dalam perembugan itu putra mahkota Raden Arya Lesmana Mandrakumara, Raden Arya Dursasana saudara raja, Raden Arya Kartamarma, Raden Arya Durmagati, Raden Arya Citraksa dan Raden Arya Citraksi, tak lupa paranpara negara Astina,Pandita Durna. Pokok pembicaraan berkisar perihal ulah Widarba yang bernama Prabu Darmabirawa, mengepung negara Astina. Menurut kenyataannya negara Astina tak kuasa menahan serangan wadyabala dari musuh tersebut. Untuk mengatasi segala kesulitan tersebut raja berkenan mengutus Patih Arya Sakuni utnuk meminta bantuan ke negara Amarta dan Dwarawati, sedangkan Adipati Karna ditugaskan untuk meminta bantuan ke negara Mandraka dan Mandura. Kepergian para utusan dilengkapi dengan para Korawa dan segenap wadyabala Astinapura.

Seusai pertemuan raja berkenan membicarakan pula dengan permaisuri ialah Dewi Banowati, disaksikan oleh putrinya Dewi Lesmanawati. Sang permaisuri Dewi Banowati sangat bersyukur bahwasanya raja telah mengambil kebijaksanaan mengutus Patih Arya Sakuni dan Adipati Karna untuk masing-masing ditugaskan meminta bantuan dalam menghadapi akan musuh yang sedang mengepung Kerajaan Astina.

Konon berbareng dengan keresahan yang terjadi di Kerajaan Astina, Raja Tasikmalaya Prabu Kaladenta berkenan membicarakan masalah yang gawat dengan patih kerajaan ialah Kaldahana. Pembicaraan berkisar mengenai akan diadakannya tindakan balasan menyerang Kerajaan Astina, sebab menurut sejarah Tasikmalaya ayahanda raja Prabu Kaladenta konon mati terbunuh oleh raja Astinapura bernama Prabu Pandudewanata. Kesatuan pendapat di Kerajaan Tasikmalaya membutikan hari itu juga dikirim utusan wadyabala Tasikmalaya, ke Kerajaan Astinapura, dengan tugas pokok membalas hukum akan kematian Ayahanda Raja Kaladenta, membunuh Prabu Pandudewanata. Barngkatlah wadyabala Tasikmalaya dengan segala kelengkapan perang menuju Astinapura. Perjalanan wadyabala dari Kerajaan Tasikmalaya di pertengahan jalan bertemu dengan wadyabala pasukan Astina. Persilisihan pendapat mengarah ke peperangan tak dapat dihindarkan lagi, sehingga kedua pasukan campuh perang. Dengan terpukulnya pasukan Tasikmalaya yang dipimpin oleh dtya Kalabisana ,kalabirawa, dan Kalabisara pasukan Astina dapat melanjutkan perjalanannya lagi.

Di kahyangan Cakrakembang, Sang Hyang Kamajaya dihadap oleh permaisuri Dewi Ratih menerima kedatangan Raden Arjuna. Berkatalah Hyang Kamajaya, " Wahai Adinda Raden Arjuna, apakah yang menjadikan Adinda naik ke kahyangan Cakrakembang, berterus teranglah." Raden Arjuna mengutarakan maksud kedatangannya, yang tak lain mohon penjelasan dan keterangan di manakah gerangan kakaknya Prabu Tudhistira berada sekarang ini. Sang Hyang Kamajaya bercerita, bahwasanya sudah menjadi kehendak dewata bahwasanya Prabu Yudistira lagi dibutuhkan oleh dewata, tak usah dikhawatirkan. Namun kalau sudah masanya,akan timbul sendiri Prabu Yudistira. Selanjutnya Raden Arjuna diperintahkan segera turun ke Retyapada, untuk selanjutnya diperintahkan bertemu mengabdikan dirinya kepada seorang begawan bernama Kresnamurti di Gunung Kamawa. Bermohon dirilah Raden Arjuna untuk pergi ke Gunung Kamawa, diringikan oleh Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk.

Di pertengahan jalan di tengah hutan Raden Arjuna bersua dengan wadyabala Tasikmalaya, sehingga terjadi peperangan. Wadyabala yaksa Tasikamalaya banyak yang dapat dibunuhnya, sehingga perjalanan Raden Arjuna tak ada gangguan lagi.

Konon di Gunung Kamawa, Begawan Kresnamurti sedang berembug dengan adiknya yang bernama Endang Tejamurti. Pembicaraan berkisar usaha mereka untuk menemukan mancari lolosnya Raden Arjuna. Selagi mereka sedang asyik berbincang-bincang, datanglah Retna Srikandi dengan putranya Raden Angkawijaya, Setelah dipersilahkan duduk, Begawan Kresnamurti bertanya kepada Retna Srikandi, " Apakah gerangan yang menjadikan susah hatimu, jika sekiranya aku dapat menolongmu," Retna Srikandi menceriterakan maksud kedatangannya, yang tak lain memohon petunjuk sang Begawan untuk mendapatkan keterangan perihal lolosnya Raden Arjuna dan Prabu Yudistira. Begawan Kresnamurti berkata," Wahai Retna Srikandi dan engkau Angkawijaya, bersediakah kalian akan menurut permintaanku?". Retna Srikandi dan Raden Angkawijaya menjawabnya, "Duhai Sang Begawan, segala permintaan sang Begawan kami tak akan menolaknya." Begawan Kresnamurti meminta kepada Retna Srikandi untuk bersedia diangkat menjadi saudaranya, diperadikkan dengan Endang Tejamurti, adapun Raden Angkawijaya diangkat menjadi putra mereka. Kedua-duanya setelah menerima sabda sang Begawan,diperintahkan untuk segera masuk kedalam pacrabakan, tak lama sesudah itu masuklah Raden ke pertapaan B egawan Kresnamurti. Maksud kedatangan Raden Arjuna tak lain akan mengabdikan diri ke hadapan Begawan Kresnamurti, dan permintaannya diluluskan. Raden Arjuna yang melihat Endang Tejamurti tertarik hatinya, Begawan Kresnamurti yang hadir di hadapannya seakan-akan tidak terlihat oleh Raden Arjuna. Hatinya tertarik kepada keayuan Endang Tejamurti, jatuh cintalah Rden Arjuna kepadanya. Kepada sang Begawan Raden Arjuna berseloroh, " Hai Begawan Kresnamurti, siapakah gerangan Endang yang cantik rupawan di belakangmu itu, ketetapan hatiku endangmu akan kuambil sebagai istri. Hendaknya kamu mengetahuinya." Sang Begawan merasa dirinya sudah tidak duhargai lagi, dalam benaknya mengguman kenapa Raden Arjuna yang kedatangannya minta diterima sebagai siswa, tetapi sudah berani bertingkah melanggar tata-tertib kesopanan pertapaan. Tentu saja sang Begawan marah bukan main, berkatalah, " Hai kau Ksatriya rupawan, tak cocoklah budi-pekertimu dengan rupamu yang bagus itu. Tingkahmu sangat memalukan, belum lagi kau kuanggap sebagai murid, mentang-mentang sudah berani melamar endangku ini. Kujawab permintaanmu itu, tak kululuskan kau akan meningkahinya." Raden Arjuna yang merasa permintaannya ditolak, marah terjadilah peperangan. Ramailah peperangan antara mereka, akhirnya Begawan Kresnamurti kalah babar kembali menjadi Parbu Kresna, Endangkurti dapat diboyong Raden Arjuna kemablai ujud mulanya ialah Wara Subadra. Bersukacitalah seisi pertapaan Wukir Kamawa, Raden Arjuna bertemu pula dengan istrinya yang lainnya ialah Retna Srikabdi dan putranya Raden Angkawijaya. Raden Arjuna segera diberitahu oleh Sri Kresna, bahwasanya di negara Astina terjadi peperangan yang besar. Engkau, aku dan saudara-saudaramu akan dimintai bantuan oleh pihak Korawa, akan tetapi baiklah kita melihat keadaannya terlebih dahulu. Raden Arjuna diajaknya berangkat bersama-sama untuk menyaksikan dari dekat apa yang terjadi ke kerajaan Astina, tak ketinggalan Wara Subadra dan Retna Srikandi dan Raden Angkawijaya turut serta.

Konon Patih Arya Sakuni yang disertai para Korawa sudah mengahadap Prabu Baladewa Raja Mandura, kepada raja diceritakan tugas sang Patih yang tidak lain mengemban perintah raja Astina Prabu Suyudana memohon bantuan raja Mandura untuk bersedia memenuhi permintaan raja Astina membantu dalam mempertahankan negara menghadapi kepungan musuh dari kerajaan Widarba. Raja Mandura Prabu Baladewa menyanggupinya, adapun permohonan bantuan Astina kepada Sri Kresna yang dibebankan kepada Prabu Baladewa pun disanggupinya. Barngkatlah raja Mandura dengan segenap wadyabalanya menuju Kerajaan Astina.

Adapun duta Kerajaan Astina lainnya, ialah Adipati Karna telah datang pula menghadap raja Mandraka Prabu Salya.Kepada Raja juga dijelaskan, bahwasanya sang adipati diutus oleh raja Astina Prabu Suyudana untuk memohon bantuan raja Mandraka dalam menghadapi ancaman musuh dari Kerajaan Widarba, yang telah mengepung Kerajaan Astina. Raja Mandraka menyanggupinya, dan setelah bernusana keprajuritan berangkatlah sang Raja dengan diiringkan prajurit Mandraka, pimpinan Patih Tuhayata.

Di pesanggrahan Raja Widarba, Prabu Darmabirawa yang dihadap oleh Patih Senabirawa, Tumenggung Peksawani dengan kedua saudaranya yang sekaligus berjedudukan sebagai senopati perang, ialah Raden Arya Dewasekti dan Raden Arya Dewasaraya berembug perihal akan dimulainya penyerangannya ke Kerajaan Astina. Untuk memulainya raja mengambil tindakan mengutus Tumenggung Peksawani menyampaikan surat Raja Darmabirawa kepada Raja Suyudana di Astina. Setelah jelas perintah raja, berangkatlah Tumenggung Peksawani membawa surat raja menuju Astina.

Di Kerajaan Astina,Prabu Suyudana menerima kedatangan raja Mandura Prabu Baladewa. Menghadap pula Patih Arya Sakuni, Adipati Karna dan segenap saudara raja para Korawa. Setelah sejenak mereka membahas keadaan yang gawat menimpa Kerajaan Astina, masuklah Tumenggung Peksawani, menyampaikan surat Raja Widarba Prabu Darmabirawa. Raja Suyudana menerimanya dan segera dibuka dibaca. Isi surat tak lain,raja Widarba Prabu Darmabirawa menantang perang dengan raja Astina. Untuk itu surat diserahkan kepada Raja Mandraka Prabu Salya, selanjutnya diterimakan kepada Prabu Baladewa raja Mandura. Bukan kepalang amarah Prabu Baladewa setelah melihat membaca isi surat raja Widarba, yang tak lain menantang perang kepada raja Astina.Berkatalah Prabu Baladewa kepada utusan Kerajaan Widarba, " Hai kau Duta Widarba, Tumenggung Peksawani.Segeralah kau kembali dan melapor kepad rajamu, bahwasanya Kerajaan Astina menerima tantangan Kerajaan Widarba. Katakanlah kepada rajamu, bahwasanya Prabu Baladewa akan menjadi benteng Kerajaan Astina," mundurlah Tumenggung Peksawani dari hadapan persidangan, laju kembali ke pesanggrahan raja Widarba.

Kepada Prabu Darmabirawa dilaporkan perihal kesediaan Astina, melayani permintaan Kearajaan Widarba untuk mengadakan peperangan. Segera Prabu Darmabirawa memerintahkan segenap wadyabala untuk menyerang Kerajaan Astina, tak lupa turut serta prajurit andalan raja ialah Senabirawa, Raden Arya Dewasaraya dan Raden Arya Dewasekti. Tak ayal lagi peperangan hebat terjadi antara Kerajaan Astina dan Widarba. Wadyabala Astina, Mandura, dan Awangga mundur tak tahan menerima serangan hantaman wadyabala dari Widarba, memang sangat kuat dan perkasa-perkasa prajurit Widarba. Sri Salya raja Mandraka merasa malu melihat kalahnya prajurit-prajurit Astina, majulah sang raja berhadapan dengan Patih Widarba Senabirawa. Sama l\kuatnya dan sakti kedua-duanya, tak heran peperangan lama tak berkesudahan. Raja Mandraka ingin cepat-cepat menyelesaikan peperangannya, dipujalah aji andalannya Candabirawa. Ribuan mahluk berwujud raksasa ganas ke luar dari tubuh raja Salya, menurut segala perintahnya untuk mengganyang wadyabala Widarba. Wadyabala musuh sangat kacau kedaaannya, mereka tertegun melihat musuh berwujud raksasa-raksasa ribuan ganas-ganas menyerangnya, mundurlah sebagian wadyabala Widarba.

Prabu Darmabirawa menerima laporan perihal kalahnya wadyabalanya, murkalah raja melihat keadaan pasukannya. Segera maju raja Widarba dengan maksud menghadapi Raja Salya, segala kesaktian dipertontonkan kepada musuh, termasuk aji menyirep Candabirawa. Raksasa-raksasa jadian si Candrabirawa lemas dan tak kuasa menahan menghadapi aji sirep Prabu Darmabirawa, sehingga undurlah mereka raksasa-raksasa jadian tadi, demikian pula wadyabala Astina kacau-balau menghadapi Prabu Darmabirawa. Prabu Salya tak kuasa menghadapinya, demikian pula Prabu Baladewa, Adipati Awangga Karna si panglima perang Astina, kesemuanya mundur melapor kepada raja Astina. Pada pertemuan yang gawat tadi, Sri Suyudana memberitakan pesan dewa yang diterimanya. Seyoganya untuk mengatasi keadaan yang ruwet yang menimpa Kerajaan Astina, disarankan untuk selekas mungkin mencari bantuan kepada seorang Pandita bernama Kresnamurti dan seorang Resi bernama Endrakusuma. Untuk tugas tersebut diserahkan kepada Prabu Salya, dan lagi pula dijelaskan adanya suatu tawaran perjanjian, " Barang siapa yang dapat menghindarkan Kerajaan Astina, disediakan hadiah separoh praja Astina.

Bertemulah sudah Prabu Salya dengan Begawan Kresnamurti, kepadanya diperkenalkan pula Resi Endrakusuma sebagai adik sang Begawan. Raja Mandraka Prabu Salya mengutarakan maksud kedatangannya, yang tak lain diutus oleh raja Astina Prabu Suyudana, untuk meminta bantuan kepada sang Begawan beserta sang Resi menghadapi musuh Kerajaan Astina, yang sekarang telah mengepungnya. Pula persyaratan dari Astina, sebagai hadiah separoh praja Astina dipertaruhkan kepada siapa yang sanggup menghindarkan Astina dari bahaya kehancurannya.

Sang Begawan Kresnamurti menyanggupinya, hanya meminta persaksian janji Raja Astina Orabu Suyudana tersebut, dapat diundangkan di oasewakan Astina dan supaya Sri Salya pun menyaksikannya, hal tersebut disanggupi oleh Prabu Salya. Segeralah berpamitan untuk kembali ke praja Astina, beserta Begawan Kresnamurti dan Resi Endrakusuma diperkenalkan kepada sanga Raja. Berkatalah Begawan Kresnamurti, bahwasanya telah diterima penjelasan raja perihal kerelaan dan kesanggupan raja sendiri menyediakan separoh praja Astina sebagai imbalan jasa kepada barang siapa yang dapat membantu menanggulangi ancaman musuh yang mengepung Astina. Namun sang Begawan Kresnamurti berkata kepada Raja Suyudana, " Perkenankanlah kami meyakinkan akan sabda raja sekali lagi, apakah raja Astina Prabu Suyudana tidak akan memungkinkan janjinya, jika kami dapat melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya sesuai keinginan raja Astin." Dengan tegas dan tidak ragu-ragu Prabu Suyudana menjawab, "Hai kau Begawan Kresnamurti dan kau Resi Endrakusuma, pantang bagi seorang raja mengucap dua kali. Sangat berdosa jika sekiranya saya memungkiri janji, jika sekiranya saya ungkir janji semoga kutukan dewa dijatuhkan kepada kami dan semoga kalahlah kami besuk dalam Peperangan Bartayuda Jayabinangun." Janji raja Astina tersebut disaksikan oleh segenap hadirin yang turut serta menyaksikannya.

Di pakuwon musuh, Prabu Darmabirawa beserta Patih Senabirawa Tumenggung Paksawani sedang membicarakan langkah-langkah siasat peperangan yang akan dijalankan menghadapi Astina. Selagi mereka dengan tekun berbincang-bincang, masuklah prajurit Widarba melapor ada tampak di luar seorang begawan dan resi menantang-nantang kepada wadyabala Widarba, apa lagi menyebut-nyebut tak akan berlaga jika sekiranya tak tanding jurit dengan Prabu Darmabirawa. Prabu Darmabirawa segera keluar, memerintahkan kepada Tumenggung Paksawani untuk memukul musuh. Berhadapanlah Tumenggung Paksawani dengan Raden Arya Gatutukaca wadyabala sang Begawan Kresnamurti, kalahlah Tumenggung Paksawani babar kembali ujud semula ialah Raden Anantasena. Raden Arya Gatutkaca setelah melihatnya, Raden Anantasena segera dipeluknya, dan mereka segera menjaduh dari medan lag. Raden Dewasaraya dan Raden Dewasekti melihat Tumenggung Paksawani kalah juritnya, segera maju berlaga tanding dengan Raden Arya Gatutkaca. Kalah pula mereka kembali ujud semula,raden Arya Dewasekti berujud Sadewa, Raden Arya Dewasaraya berujud kembali Raden Nakula. Patih Senabirawa juga kalah perangnya kembali ujud menjadi Raden Arya Wrekodara. Arjuna yang merasa unggul dalam peperangannya, sekarang berhadapan dengan Prabu Darmabirawa. Panah Prabu Darmabirawa dilepaskan mengenai Resi Endrakusuma, berubah ujudnya kembali menjadi pribadi Raden Arjuna. Demikian pula Begawan Endrakusuma yag terkena panah Prabu Darmabirawa, kembali ujud semula menjadi Prabu Kresna. Selanjutnya Sri Kresna melepaskan senjata saktinya yang berujud cakra, mengenai Prabu Darmabirawa, kembali ujud semula Prabu Yudistira. Medan laga penuh keharuan, saudara bertemu dengan saudara, adik bertemu dengan kakaknya. Seluruh suasana praja Astina diliputi kebahagian terhindar dari ,usuh yang ampuh, namun belum lagi mereka selesai menyelesaikan permasalahannya, datanglah musuh menyerang dari kerajaan lain ialah praja Tasikmalaya yang bermaksud akan menghukum Prabu Pandudewanata. Menyadari serangan musuh, para Pandawa menyongsongnya, Prabu Kaladenta yang memmimpin pasukan mati tanding dengan Prabu Baladewa. Patih Ditya Kaladahana terpukul mati terbunuh oleh Raden Arjuna. Wadyabala Tasik malaya tak kuat menandingi amukan Raden Arya Wrekodara, sisa prajurit melarikan diri sekedar untuk menyelamatkan diri kembali ke praja Tasimalaya. Kembalilah suasana kebhagiaan meliputi para Pandawa dan Korawa, separoh Astina yang dipertaruhkan sebagai bebana (hadiah) jelas dimiliki Pandawa. Bersyukurlah mereka kepada para dewata, yang telah melindunginya dari malapetaka kehancuran. 

Sumber : bluefame.com
Baca Selengkapnya..

Bima Tulak

Para Pandawa disertai Gatutkaca sedang membicarakan rencana pembukaan hutan Suwelagiri untuk dijadikan sawah. Prabu Darmakusuma minta agar masing-masing Pandawa membuat sawah sesuai dengan perintah dewa-dewa, dan agar pembuatan sawah itu dapat diselesaikan dalam waktu satu hari. Tentang luasnya agar disesuaikan dengan kekuatan masing-masing; paling sedikit membuat tempat untuk pembibitan padi.

Mereka semua berangkat ke hutan Suwelagiri. Prabu Darmakusuma mengambil tempat di tengah, dengan mempergunakan Aji Amral pembuatan sawah itu cukup dengan ditengok (diinguk) saja, sehingga setelah jadi dinamakan Sawah Sak Inguk.

Berganti Raden Werkodara maju akan membuat sawah, ia duduk lalu menerapkan Aji Jala Sengkara. Karena saktinya mantra itu hanya dengan menggerakan bahunya saja semua batu besar maupun pohon besar dapat disingkirkan dan jadilah sawah itu. Karenanya sawah Raden Werkodara dinamakan Sawah Sebahu.


Kemudian Raden Arjuna mengambil pinggir hutan. Ia duduk beralaskan daun-daunan, lalu merebahkan diri dan tiduran sambil berselimut (mujung). Dengan menerapkan Aji Sepi Angin ia mulai berdoa. Tidak lama kemudian sawah itu telah selesai, dan dinamakan
Sawah Saejung.

Raden Nakula ketika melihat ketiga kakaknya telah selesai membuat sawah, ia dengan tergesa-gesa ingin mengikuti jejak kakaknya. Agar cepat selesai tanah itu diludahinya (idu), maka jadilah sawah itu, dan dinamakan Sawah Saidu.

Raden Sadewa demikian juga, karena terburu-buru ia hanya dapat menyiapkan tanah sedikit (saecrit). Setelah jadi dinamakan Sawah Saecrit.

Raja Amarta beserta adik-adiknya menjadi petani, mereka juga menyabit rimput, menyiapkan lahan, menyebar padi untuk bibit, dan lain-lain pekerjaan petani. Setelah benih padi tumbuh, maka bibit padi itu dipkul dibawa ke sawah masing-masing untuk ditanam. Mereka juga menyiangi rimput-rimput liar yang tumbuh. Selesai dengan pekerjaan itu mereka tinggal merawat dan menunggu buah padinya menjadi siap dipetik.

Tersebutlah di negara Nganjuk hama tanaman yang merupakan anak-anak Prabu Kalagumarang menghadap ayahandanya. Puthut Jayalapa, adik Prabu Kalagumarang melaporkan bahwa para hama tanaman ini telah beberapa hari menangis karena kelaparan. Mereka mendengar berita bahwa di Amarta banyak tanaman padi, karenanya mereka akan pergi ke sana mencari makan. Ia memintakan izin untuk berangkat ke sana.

Sebetulnya Parabu Kalagumarang merasa khawatir akan keselamatan para hama, karena mengetahui bagaimana saktinya para Pandawa. Namun ia juga tidak dapat melarang ; untuk menjaga keselamatan para hama ia memberi pusaka yang bernama Tumbak Kyai Ujung Langkir, khasiatnya bila hama yang mau mati akan hidup lagi bila pusaka itu diletakkan di atas hama yang mati.

Setelah mendapat restu, mereka lalu berangkat. Karena merupakan hama,perjalanan mereka cepat sekali dan tidak terlihat oleh manusia. Puthut Jayalapa hanya memperhatikannya dari jauh.

Setelah sampai di sawah dengan tanaman padinya yang subur, mereka tidak lagi dapat menahan diri . Semuanya menyrbu dan makan tanaman padi dengan perasaan gembira. Puthut Jayalapa hanya mengawasi dari jauh, percaya bahwa bila ada yang mengganggu para hama akan dapat dimusnahkan dengan pusaka tadi. Tanaman yang terkena hama tanpa ampun lagi menjadi rusak dan mati.

Pada suatu hari Raden Nakula memeriksa tanamannya ke sawah, terkejut sekali ketika melihat tanaman padinya banyak sekali yang mati. Ia segera menuju ke tempat kakak-kakaknya. Pada saat itu saudara-saudaranya sedang berkumpul, datanglah Raden Nakula memberitahu bahwa tanaman mereka mati semua. Mereka terkejut, karena beberapa hari yang lalu tanamannya masih terlihat subur. Mereka semua menuju ke sawah masing-masing.

Raden Arjuna memberitahu bahwa terdengar suara berisik di antara batang padi, sedangkan Prabu Darmakusuma membicarakan bagaimana caranya agar tanamannya menjadi sehat lagi. Raden Wrekodara mengetahui bahwa tanamannya disebu para hama. Ia berpendapat bahwa hama itu dapat dibasmi. Prabu Darmakusuma dan lainnya mengikuti bagaimana upaya Wrekodara dalam membasmi hama. Wrekodara meminta semuanya telanjang sambil membawa sesajian penolak hama berjalan mengelilingi sawah mereka.

Raden Wrekodara berjalan paling depan, diikuti oleh Prabu Darmakusuma yang membaca mantra serta membawa serat membawa Serat Klimasada dan di belakangnya adik-adiknya yang lain. Ketika mulai membaca mantra yang berbunyi sebagai berikut:

1. Mel Plecung
Semilah sundul gunung moncar uruping cahya, susurem damaring jagad, salallahu ngalahi wasalam, lumpurana, rampung.

2. Mel Gentur
Tunjungsari sarining ngukir, putra Pandhu Dewanata pretapane, dhasar bagus terusing ngati, pan leburing jagading ama iki, rampung.

3. Mel Tanggul
Semilah jambe-jambe thongun, ana baya mambang alun-alun, tapung kepruka marang ama, rampung.

4. Mel Tarung
Subana subani telenge kembang, sahadat kalima kekalih delinga, ngama bareng pesating nyawa iki, rampung.

5. Mel Gulung
Gulung-gulungan emel sida mati ora lunga mendhung ajur telujuring nyawa ama, salallahu, rampung.

6. Mel Sipat
Koluk jati rampung gunung, kang kotedha sira manyar gawa luwung gancang-gancang carita kabeh, salalaahu ngalahi wasalam, rampung.


Para hama terkejut karena terkena pengaruh tolak bala tadi. Mereka berlarian, dan ketika melihat phallus Bima mereka menjadi pingsan. Puthut Jayalapa yang melihat hal itu segera meletakan pusaka tadi di atas hama yang pingsan. Ada yang siuman, tetapi akan makan tanaman lagi sudah tidak berdaya. Berulang kali dikerjakannya tetapi hasilnya tidak memuaskan, oleh karenanya Puthut Jayalapa mengajak para hama itu pulang kembali ke Nganjuk. Semula para hama tadi menolak untuk pulang, tetapi dipaksa oleh Puthut Jayalapa.

Dengan selesainya mereka mengelilingi sawah, maka bersihlaj sawah tadi dari hama. Mreka lalu bernusana kembali. Beberapa hari kemudian mereka memeriksa tanaman mereka yang sudah mulai hidup subur dan mulai nerbunga. Mereka bebesar hati ketika padinya telah dapat dituai.

Disebutkan oleh penulisnya bahwa lakon ini diambil dari Babad Grenteng.
Baca Selengkapnya..

Bima Pupuk

Bima yang menjadi pendeta pertapa dengan gelar Begawan Bimakandaka di lereng Gunung Jamurdipa. Hal itu membuat Prabu Anom Duryudana tidak senang, dan kemudian memerintahkan Begawan Drona untuk meyuruh Bima pergi dari Gunung Jamurdipa. Jika Bima menolak, Duryudana menyuruh Drona membunuhnya.

Drona sebenarnya tidak sanggup melaksanakan tugas itu. Itulah sebabnya ia lalu minta bantuan istrinya, Dewi Wilutama. Bidadari itu turun dari kahyangan dan memberitahukan kelemahan Bima, serta membekalinya dengan anak panah pusaka Kyai Cundamanik.

Begawan Drona lalu pergi ke Gunung Jamurdipa dengan dikawal muridnya, Prabu Klana Bramadirada dari Kerajaan Bantarangin.



Sesampainya di Gunung Jamurdipa, Begawan Drona minta agar Bima membubarkan pertapaannya. Bima menolak sehingga terjadi perang. Karena panah Cundamanik tidak mempan, sesuai petunjuk Dewi Wilutama, Drona merenggut pupuk di dahi Bima, sehingga Bima roboh tanpa daya, sukmanya melayang keluar dari tubuhnya.

Gatotkaca yang menjadi murid Bima, segera melaporkan peristiwa itu ke Kerajaan Amarta. Prabu Puntadewa setelah mendengar laporan Gatotkaca menjadi sedih dan marah, sehingga melakukan triwikrama, menjelma menjadi brahala, raksasa besar luar biasa, dengan nama Dewa Amral.

Setelah berjumpa dengan Drona, Dewa Amral minta agar pupuk Bima diberikan kepadanya, tetapi Drona menolak, lalu lari. Karena Dewa Amral terus memburunya, Drona lalu membuang pupuk Bima itu dengan melemparnya jauh-jauh.

Pupuk yang terbuang itu melayang di udara, ditangkap oleh sukma Bima lalu dibawa ke Gunung Jamurdipa, dipasang kembali pada jenasah Bima. Seketika itu sukma Bima masuk ke tubuhnya dan hidup kembali.

Sementara itu Begawan Drona yang lari diburu brahala Dewa Amral, sampai ke Jamurdipa. Ia kaget, karena Bima ternyata hidup kembali, sehingga Begawan Drona menyerah. Begawan Drona lalu diwejang oleh Bima.

Sementara itu Dewa Amral yang bertemu Arjuna, kembali pada ujudnya semula, setelah terkena panah Arjuna.

Duryudana yang mendapat laporan tentang kegagalan Begawan Drona, segera menyerbu Kerajaan Amarta, tetapi para Kurawa kalah, dan lari pulang ke Astina.
Baca Selengkapnya..