Jumat, 29 November 2013

Utara dan Wratsangka Rabi


Prabu Tasikraja dari negara tasikretna menyarankan sehubungan dengan musnanya putrinya Dewi Tirtawati, maka untuk itu perlu diundangkan adanya sayembara, kepada siapa saja yang menemukannya, akan dijodohkan dengan sang Dewi.

Prabu Abiyasa dari negara Astina, menerima kedatangan resi Narada yang menyampaikan pesan Hyang Girinata kepadanya dimintakan bantuannya untuk mengawinkan raden Utara dan wratsangka putera-putera dari negara Wirata. Demikian pula Prabu Abiyasa menerima kedatangan raden Wratsangka tak lain emnceritakan lolosnya raden Utara, untuk itu prabu Abiyasa diminta bantuannya untuk menemukan kembali, dan berangkatlah untuk mencarinya. Bertemulah merejka ditengah hutan dengan raden Utara, prabu Abiyasa menyarankan kepada raden Utara untuk mencari puteri di tasikretna, dengan iringan adiknya Wratsangka, berangkatlah raden Untarea menuju negara tersebut.

Syahdan sipencuri ulung, namanya raden Girikusuma, putera prabu Prawata dari negara Bulukapitu, sedang berusha mendekati Dewi Tirtawati. Dewi tirtawati berkata, akan bersedia melayani segala maksud raden Girikusuma, tetapi minta dimadu dengan adiknya Dewi Sindusari, hal itu disanggupi oleh raden Girikusuma, dan berangkatlah menuju negara Tasikretna.

Prabu tasikraja, menerima kedatangan raden Untara dan raden Wratsangka, yang menyatakan bahwa kedatangan mereka atas anama prabu Abiaysa yang memenuhi permintaan bantuan dari raja Tasikretna, dan kepada sang prabu , oleh raden Untara diuraikannya, bahwasanya malam nanti si pencuri julig, akan memasuki istana lagi, untuk tertangkapnya sipencuri, kepada raden Untara dan Wratsangka, ditugaskan untuk menyelesaikannya.

Pada malam hari, raden Girikusuma, yang akan mencuri Dewi Sindusari, dapat ditangkap oleh raden Untara, Wratsangka, terjadilah peperangan. Girikusuma dapat dienyahkan dan melarikan diri.

Prabu Abiyasa memerintahkan kepada Untara Wratsangka untuk mengejarnya, dan di Bulukapitu raden Girikusuma dapat dikalahkan oleh kedua ksatria Wirata, demikian pula Dewi tirtawati diselamatkan oleh Prabu Abiyasa . Ayahandanya Girikusuma prabu Prawata, mengamuk atas kematian anaknya, tetapi juga dapat dikalahkan oleh raden Untara, Wratsangka.

Prabu tasikraja, menepati janjinya,. Dewi Tirtawati dikimpoikan dengan raden Untara, Dewi Sindusari dengan raden Wratsangka. Demikian pula kedatangan musuh lainnya, dari negara Binggal dapat ditumpas.

http://constantine23.wordpress.com/2013/09/16/lakon-wayang-part-54/

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Sucitra (Prabu Drupada)

 
 Raden Sucitra asal dari Atasangin (seberang), datang ke negeri Cempalareja. Pada waktu raja Cempalareja, Prabu Gandabayu mengadakan perlombaan adu tenaga melawan Gandamana dengan perjanjian siapa yang mengalahkan Gandamana, akan mendapat putri Prabu Gandabayu bernama Dewi Gandawati, masuklah Raden Sucitra ke gelanggang itu.

Perang tanding adu tenaga itu sangat ramai. Setelah Sucitra hampir akan kalah oleh Gandamana, Pandu datang membantu dengan kesaktiannya hingga Gandamana dapat dikalahkan.
Sucitra mendapat puteri yang dijanjikan itu dan ia diangkat sebagai raja muda di Cempalareja, bernama Prabu Anom Drupada. Kemudian ia bertahta sebagai- raja di Cempalareja.
Raden Sucitra bermata kedondongan, hidung dan mulut sembada, berkumis. Sanggul gembel, berjamang dengan garuda membelakang, sunting sekar kluwih. berkalung bulan sabit atau disebut kalung putran (kesatria), bergelang dan berpontoh, memakai kain kerajaan lengkap. Setelah diangkat sebagai raja di Cempalareja, muka agak tenang bercat hitam. Bergelung keling, berjamang dengan garuda membelakang, sunting sekar kluwih. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kalung ulur-ulur (kalung panjang). Berkain bokongan kerajaan lengkap.

Prabu Drupada (Sucitra) tinggal menetap di tanah Jawa, sebagai raja di Cempalareja, ia terpandang seorang asli dari tanah Jawa jua. Selanjutnya keturunan Prabu Drupada itu bercampur dengan keturunan Pandawa, sebab puteri Drupada yang tertua, Dewi Drupadi dipermaisuri oleh Prabu Yudistira dan puteri yang kedua, Dewi Wara Srikandi, diperisterikan oleh Arjuna.Oleh karena bersambungan kerabat ini, maka Prabu Drupada terhitung memihak Pandawa, dan dalam perang Baratayudha berkorbanlah Raja ini dengan kerabatnya pada pihak Pandawa.

Keturunan Prabu Drupada dari Yudistira bernama Raden Pancawala, kesatria pahlawan dalam perang Baratayudha. Putera yang seorang lagi puteri bernama Dewi Wara Srikandi, tersebut di atas.

Dewi Wara Srikandi kawin dengan Arjuna dengan jujur perbaikan taman Maerakaca yang telah rusak, dalam waktu semalaman selesai. Hal ini telah terkabul.

Prabu Drupada pada suatu masa terima pinangan. Prabu Jungkungmardea, seorang’ raja di Paranggubarja pada puterinya, Dewi Wara Srikandi. Lantaran Prabu itu seorang raja yang mulia, tergiurlah Prabu Drupada akan, menantukan Raja itu. Tetapi setelah Dewi Srikandi mengerti kehendak ramandanya itu, pergilah ia kepada Raden. Arjuna, minta dibelanya, maka dengan Prabu Jungkungmardea, peranglah Arjuna dan Prabu Jungkungmardea telah tewas oleh Arjuna.

Pembela Raden Arjuna kepada Dewi Srikandi, dapat juga disebut lantaran : Sedumuk batuk. Memang zaman itu (purwa), Kesatria berebut seorang puteri, jadi suatu kemuliaan, dapat nama baik. Tetapi perbuatan yang sedemikian ini bukan perbuatan hina, sebab dengan bertaruh jiwa.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Ugrasena Rabi


 Syahdan bertitahlah Hyang Girinata kepada Hyang Narada, mencari Raden Arya Ugrasena, tak lain Kahyangan Suralaya terancam bahaya, Prabu Garbaruci raja Paranggubarja, mohon jodoh bidadari Dewi Wresini, jika tak diluluskan permintaannya, kahyangan akan dihancurkan. Hyang Narada segera turun ke bumi mendapatkan Raden Arya Ugrasena, yang kala itu ditengah hutan, sedang merenungi nasibnya, lolos dari negara Mandura, kepadanya dimintakan untuk kimpoi dari kakandanya Prabu Basudewa, tetapi enggan menurutinya. Tak lupa, oleh Hyang Narada dijelaskan segala maksud Hyang Girinata, raden Arya Ugrasena menyanggupkan diri, demikian pula Prabu Pandudewanata, yang semula menemukan Raden Arya Ugrasena dihutan, juga menyanggupkan diri kepada Hyang Narada untuk membantunya.

Berhadapan dengan wadyabala dari Paranggubarja, Patih Kalaruci dan segenap raksasany ayang sedang mengamuk, untuk kali iniArya Ugrasena tak dapat melawannya, ternyata dalam peperangan dapat dihempaskan dengan hembusan angin, terbawa melayang jauh. Akan tetapi , Prabu Pandudewanata yang senantiasa dibelakannya, akan selalu membantunya, ternyata Hyang Narada mewaluyakan Raden arya Ugrasena, dan setelah itu Prabu Pandudewanata diberi sumping dan diberi wejangan-wejangan, berhadaplah lagi raden Arya Ugrasena, Patih paranggubarja, dapat dimatikan, demikian pula sisa prajuritnya yang terkalahkan dan masih hidup lari tunggang langgang melaporkan kehadapan Prabu Garbaruci. Tak ayalah lagi, sang prabu mengerahkan segenap wadyabalanya menuju Suralaya, menggempurnya, dan menuntut balas kekalahan, dan metinya prajurit-prajuritnya. Raden Arya Ugrasena dan Prabu Pandudewanata, akhirnya juga dapat mematikan Prabu garbaruci, demikian pula sisa prajurit-prajuritnya, terkikis smeua. Sesuai dengan keinginan Hyang Girinata, kepada Raden Arya Ugrasena dijodohkan dengan bidadari kahyangan, Dewi Wresini, dan mohon dirilah raden Arya Ugrasena beserta istrinya, demikian pula Prabu Pandudewanata, dengan diiringi oleh para jawata menuju kenegara Mandura.

Prabu Basudewa, sepeninggal adiknya Raden Arya Ugrasena, telah mengutus pepatihnya, saragupita untuk mencari dan memohonkan bantuan pencarian ke Prabu Pandudewanata, kedatangan nya dibarengi dengan datangnya raden Asrya Ugrasena, Prabu Pandudewanata dan para jawata. Prabu Basudewa senang sekali melihat raden Arya Ugrasena telah mendapatkan jodoh, Dewi Wresini seluruh istana Mandura bersuka cita.
 
dari pernikahan Ugrasena (Setyajid) dengan dewi Wresini, kelak lahirlah Arya Setyaki.

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Kangsa Lahir


Raja Darmaji berusaha mencari mahkota Bathara Rama, lalu pergi ke kerajaan Dwarawati. Ketika raja Darmaji datang, raja Dwarawati, Ditya Kresna sedang dihadap oleh Patih Muksamuka, Murkabumi, Muksala, Karungkala dan Gelapsara. Ditya Kresna menyapa dan bertanya maksud kedatangan Darmaji. Raja Darmaji meminta mahkota Bathara Rama yang dipakai Ditya Kresna. Namun Ditya Kresna tidak mau memberikannya, maka terjadilah perkelahian. Raja Darmaji mati karena digigit, dan putus perutnya.

Angsawati, isteri pertama Basudewa, cemburu akibat kehadiran Ugraini dan Badraini. Ia berusaha membunuh mereka namun gagal. Pada suatu malam Angsawati bertemu dengan raja Gorawangsa yang menyamar sebagai raja Basudewa. Angsawati tidak mengira bahwa yang dijumpainya adalah Basudewa palsu. Namun Angsawati menyambut dengan senang hati. Pertemuan Angsawati dengan Basudewa palsu berkepanjangan, akhirnya Angsawati hamil. Raja Basudewa sungguhan tidak mengetahui hal itu. Ia tidak mengerti bahwa isterinya hamil karena Gorawangsa. Pada bulan ketujuh, raja hendak mengadakan selamatan. Sang raja dan para pegawai istana hendak berburu ke hutan. Basusena bertugas menunggu kerajaan.

Pada suatu malam Basusena berkeliling di istana. Waktu tiba di tempat tinggal Angsawati ia mendengar suara tamu pria di kamar. Setelah dilihat, nampak bahwa pria dalam kamar itu adalah Basudewa. Setelah Basusena lama memandang, Basudewa nampak seperti raksasa. Basudewa palsu diserang, terjadilah perkelahian. Basusena mengenakan senjata, lalu Basudewa palsu berubah menjadi Gorawangsa. Raksasa Gorawangsa lari kembali ke negara Jadingkik.

Basusena kembali ke hutan, melapor peristiwa yang terjadi di istana. Dikatakannya, Angsawati berbuat serong dengan raksasa. Raja Basudewa marah, Basusena disuruh membawa Angsawati ke hutan, untuk kemudian membunuh dan mengambil hatinya. Bila hati Angsawati berbau busuk berarti bayi dalam kandungan bukan anaknya, sedangkan bila berbau harum berarti bayi itu anak Basudewa.

Basusena menjalankan perintah raja Basudewa. Angsawati dibawa ke tengah hutan dan dibunuhnya. Hatinya diambil, dan setelah dicium ternyata berbau busuk. Basusena membawa hati itu kepada sang raja. Karena hati tersebut berbau busuk, raja percaya bahwa bayi dalam kandungan bukanlah anaknya.

Bathara Wisnu, Dewi Sri dan Bathara Basuki mengelilingi dunia guna mencari titisan raja Watugunung. Diketahuinya, raja Gorawangsa adalah titisan raja Watugunung. Maka Bathara Wisnu meminta Bathara Basuki agar menitis kepada raja Basudewa, untuk mengalahkan raja Gorawangsa. Bathara Wisnu kembali ke kahyangan. Kepada Bathara Guru, ia minta ijin untuk menitis ke dunia, untuk membunuh titisan raja Watugunung. Bathara Guru memberi ijin, dan memberi tugas kepada Bathara Wisnu untuk mengadu ayah melawan anak, mengadu sesama saudara. Namun Bathara Wisnu tidak boleh ikut berperang, hanya diperkenankan terlibat dalam pembicaraan.

Bathara Wisnu menerima tugas tersebut tetapi mengajukan permintaan. Permintaan itu ialah bagi mereka yang bermusuhan supaya diperkenankan naik ke surga, supaya dirinya diperkenankan duduk di dua belah pihak, dan supaya disertai Bathara Basuki untuk bersama menitis ke dunia. Bathara Guru mengabulkan permintaan tersebut, lalu menyuruh Bathara Narada agar keberanian Wisnu dijelmakan kepada Arjuna. Sedang Bathara Wisnu diminta menjelma menjadi putra Basudewa.

Bathara Wisnu turun ke dunia bersama Dewi Sri. Senjata Cakranya dititipkan kepada awan yang dijaga dua dewa. Bathara Wisnu berpesan, bahwa senjata itu hanya boleh diambil Narayana. Selain Nayarana, tidak seorang pun berhak mengambilnya.

Raja Basudewa telah mempunyai putra. Ugraini telah melahirkan anak laki-laki berkulit putih, titisan Bathara Basuki. Anak itu diberi nama Kakrasana. Bathara Wisnu dan Dewi Sri merasuk ke jiwa raja Basudewa. Saat mereka merasuk, Basudewa bermimpi melihat matahari dan bulan. Matahari dan bulan itu kemudian bersatu.

Anak Angsawati yang dibawa raja Gorawangsa diberi nama Kangsa. Setelah dewasa Kangsa menanyakan, siapa ibunya. Gorawangsa menjelaskan bahwa ibunya bernama Angsawati, isteri Basudewa raja Mandura. Tetapi ibunya telah meninggal dunia, dibunuh oleh Basusena atas perintah raja Basudewa. Mendengar penjelasan Gorawangsa itu Kangsa ingin membalas kematian ibunya. Gorawangsa berpesan agar Kangsa menemui pamannya yang bernama Arya Prabu, adik Angsawati. Kangsa meninggalkan Jadingkik menuju ke Mandura.

Di Mandura Kangsa menemui Arya Prabu, lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Arya Prabu berjanji akan membantunya. Mereka berdua menghadap raja Basudewa yang sedang dihadap Basusena dan warga Mandura. Kangsa menyampaikan maksud kedatangannya, yakni ia akan membalas kematian ibunya. Terjadilah perkelahian antara Kangsa dengan Basusena. Basusena kalah, lalu melarikan diri. Raja Basudewa dimasukkan ke dalam penjara. Gorawangsa datang bersama pasukan raksasa. Kangsa lalu menduduki tahta kerajaan Mandura.

Basudewa berhasil melarikan diri bersama dengan Badraini yang sedang hamil dan Kakrasana yang masih kanak-kanak. Perjalanan mereka terhalang oleh Bengawan Erdura. Bathara Sakra datang menolong dan menyeberangkan mereka. Basudewa diminta mengungsi ke kademangan Widarakandang. Sang Bathara memberi tahu bahwa kelak Badraini akan melahirkan dua anak. Anak-anak itu agar diberi nama Narayana dan Endhang Panangling. Setelah berpesan, Bathara Sakra menghilang, kembali ke Kahyangan. Kedatangan Basudewa, Badraini dan Kakrasana di Widarakandhang diterima oleh demang Antagopa dan isterinya. Di Widarakandhang Badraini melahirkan seorang bayi laki-laki dan dua orang perempuan, yang berkulit hitam. Sesuai pesan Bathara Sakra, Basudewa memberi nama kedua anaknya, Nayarana dan Endhang Panangling. Sedangkan Badraini memberi nama yang seorang lagi, Sumbadra. Tiga anak itu diasuh oleh Ki Antagopa dan Ni Sagopi.

(Sumber: Kandhaning Ringgit Purwa: P.CXX-CXXVIII)
(R.S. Subalidinata)

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Basudewa Rabi


Pada suatu hari pangeran Mandura yakni Basudewa menghilang dari keraton. Pandu yang berada di Astina mendengar berita itu, maka ia pergi mencarinya ditemani Semar, Nala Gareng dan Petruk. Sementara Basudewa berada di tengah hutan sedang bersemasi (bertapa) tiba-tiba Begawan Kawita dari Maendra datang dan meminta pertolongan kepada Basudewa karena pertapaannya dirusak oleh hewan yang dipimpin seekor gajah.

Basudewa segera bangun dari semadinya dan ia menolong Begawan Kawita segera membunuh hewan-hewan yang merusak pertapaan. Setelah hewan-hewan terbunuh munculah dua dewa yang memerintahkan agar Basudewa sayembara perang yang diadakan Dipasudya untuk mendapatkan Dewi Maerah putri Prabu Dipancandra dari Kerajaan Widarba.

Basudewa kemudian menuruti perintah itu, dan pergi ke Kerajaan Widarba untuk mengikuti sayembara dan mencoba melawan Dipasudya adik Dewi Maerah. Berkat bantuan Pandu dengan mantra-mantranya maka Basudewa mengalahkan Dipasudya sehingga ia mendapatkan Dewi Maerah

Selanjutnya Basudewa yang disertai oleh pandu Dewanata kembali pulang ke Kerajaan Mandura dengan membawa putri.

Lakon ini termasuk lakon pakem, tapi tidak popular.

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Sri Maha Punggung


Raden Sadana, di Dukuh Medhangagung, dengan dihadap oleh pengasuhnya: kyai buyut Tuwa, kyai empu Cukat, dan kyai Wayungyang, sedang menerima kedatangan kakandanya, Dewi Sri. Berkatalah Dewi Sri, Duhai, dinda Srisadana, istana Medhangkamulan kutinggalkan, sebab ayahanda Srimahapunggung murka kepadaku, karena menolak kehendak beliau akan mengawinkan aku dengan dengan prabu Pulagra dari kerajaan Medhangkumuwung. Memang sudah menjadi tekadku, tidak akan melayani priya, jika sekiranya tidak sebanding dengan keadaan dinda sendiri. Selanjutnya juga diberitahukan bahwa prajurit-prajurit dari Medhangkumuwung masih mengejarnya, untuk itu kepada Srisadana diperintahkan untuk bersiap-siap menghadapinya. Musuh yang mengejar Dewi Sri, sesampai di dukuh Medhangagung, dapat dikalahkan oleh Raden Sadana. Dewi Sri juga menyejui kehendak adiknya untuk bertempat tingal di hutan Medhangagung. Untuk itu Raden Sadana perlu pergi menemui buyut Sondang di dhukuh Medhanggowong. Pergilah Raden Srisadana diikuti oleh ketiga abdinya, kyai buyut Tuwa, kyai empu Cukat, dan kyai Wayungyang.

Sesampainya di dhukuh Medhanggowong, pesan Dewi Sri disampaikan kepada buyut Sondang. Ki buyut diharap datang di Medhangagung dengan membawa bekal benih palawija, bibit kelapa, lombok dan terong. Kepada buyut Sondhang, Raden Srisadana mengatakan akan melanjutkan perjalanannya menuju ke Medhangtamtu, ke tempat kyai buyut Wangkeng.

Setelah siap semuanya buyut Sondhang berangkat dengan isteri dan segenap buyut-buyut Medhanggowong, menuju ke Medhangagung. Dewi Sri menerima kedatangan Raden Sadana, yang melaporkan tugas untuk membebaskan ki Wangkeng telah diselesaikan. Buyut Wangkeng dan isterinya pun telah bersama-sama menghadap sang Dewi Sri. Juga buyut Sondhang, istrinya, dan lain-lainnya telah berada di Medhangagung. Para prajurit yang dikalahkan oleh raden Sadana kembali lagi di bawah pimpinan rajanya sendiri, ialah prabu Plagra. Buyut Wangkeng, buyut Sondhang, dan semua warga dhukuh Medhangagung berusaha mengalahkannya, perang terjadi sangat ramainya. Hyang Narada, memerintahkan kepada Hyang Bayu untuk membunuh Prabu Pulagra. Terbunuhlah raja Medhangkumuwung. Kepada Dewi Sri, Hyang Narada bersabda, Hai, puteraku Dewi Sri, atas kehendak Hyang Girinata, jika kau menyetujuinya, maukah kau dikimpoikan dengan adikmu raden Sadana?, Oleh Dewi Sri saran Hyang Narada tersebut dengan rendah hati ditolak. Kembalilah para dewa ke kahyangan, bersuka citalah Dewi Sri.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Sri Wisnu Krama


Sang Hyang Pramesti Guru, akan mengawinkan Batara Wisnu dengan Dewi Pratiwi, putri Batara Ekawara dari Kahyangan Ekapratala. Untuk melaksanakan niat tersebut Batara Guru mengutus Batara Narada untuk menjemput Dewi Pratiwi. Namun ternyata Dewi Pratiwi menolak jemputan itu karena ia mempunyai permintaan atau syarat, ia hanya akan kimpoi dengan pria yang dapat membawakan bunga Wijayakusuma.
Sementara itu pada suatu malam Endang Sumarsi putri Begawan Kesawasidi dari Pertapaan Argajati – bermimpi kimpoi dengan Batara Wisnu.

Pagi harinya ia minta kepada ayahnya agar mencarikannya orang yang menjadi idamannya itu. Sang Begawan menuruti permintaan putrinya, pergi mencari. Tak berapa lama kemudian Begawan Kesawasidi bertemu dengan Batara Wisnu yang diiringi oleh Semar, Gareng dan Petruk. Kesawasidi mengutarakan maksudnya, tetapi ternyata Batara Wisnu menolak. Baru setelah dengan kekerasan, Wisnu menuruti kehendak Kesawasidi.

Setelah tiba di Pertapaan Argajati, Batara Wisnu segera dikimpoikan dengan Endang Sumarsi. Setelah beberapa hari tinggal di pertapaan, Batara Wisnu mengatakan kepada mertuanya bahwa ia mencari bunga Wijayakusuma dan minta pertapa itu membantunya. Sang Kesawasidi yang memiliki bunga itu tidak keberatan dan memberikan Wijayakusuma sebagai sarana untuk mengawini Batari Pratiwi.

Setelah Batara Wisnu mendapatkan bunga Wijayakusuma, segera menuju Ekapratala.
Sementara itu Prabu Wisnudewa, raja raksasa dari Garbapitu juga melamar Batari Pratiwi. Setelah mendengar laporan patihnya bahwa calon mempelai putri menginginkan bunga Wijayakusuma, ia sangat bergembira, sebab sang Raja mempunyai banteng yang berwarna biru hitam pada lehernya terdapat cangkok/cabang dari bunga Wijayakusuma.

Karenanya ia segera berangkat ke Kahyangan Ekapratala. Namun, betapa kecewanya karena setelah tiba di Kahyangan Ekapratala, ternyata Batari Pratiwi
telah dikimpoikan dengan Batara Wisnu. Hal ini membuat Prabu Wisnudewa murka.

Bersama bala tentaranya, Prabu Wisnudewa menyerang serta berusaha merebut Batari Pratiwi. Peperangan terjadi, Prabu Wisnudewa dan banteng yang aneh dapat dibunuh Wisnu dan keduanya menyatu (merasuk) pada tubuh Wisnu. Demikian pula, Cangkok Wijayakusuma akhirnya menyatu dengan bunganya.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Ruwatan dan Kisah Murwakala


OLEH : MAWAN SUGANDA

Mengapa ada orang yang harus diruwat? Sejau apakah kepentingan upcara tersebut? Bagaimana asal-usulnya…?

Di Jawa, ada banyak jenis upacara yang sedikit banyak berhubungan denagn kepercayaan. Yang sumbernya berasal dari jaman sebelum agama Islam mempengaruhi kebudayaan Jawa.

Satu diantaranya yang dapat dikatakan penting di dalam kehidupan orang Jawa, terutama pada waktu yang lampau, ialah ucapaya Ruwat atau juga disebut Ruwatan.

Menurut keyakinan orang Jawa dahulu banyak sekali hal atau peristiwa yang akan dapat mendatangkan malapetaka, apabila tidak menghiraukan dan berikhtiar secara khusus. Maka agar dapat terhindar dari bencana yang setiap saat bisa terjadi, diperlukan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi.

Syarat itu ialah kewajiban orang untuk mengadakan upacara ruwat. Hal-hal yang dianggap memerlukan adanya ucapara itu paling sedikit dapat digolongkan dalam tiga jenis, yakni :

1. Upacara ruwat bagi orang atau anak yang dianggap mempunyai nasib buruk, disebabkan kelahirannya (anak sukerta).

2. Ucapara ruwat bagi orang atau anak yang cacat tubuhnya.

3. Ucapara ruwat bagi orang yang dianggap bersalah, karena telah melanggar pantagan atau merusak benda-benda tertentu.

Kepercayaan tentang datangnya malapetaka yang akan menimpa anak sukerta dan orang-orang yang bernasib sial lainnya itu pada dasarnya berasal dari keyakinan cerita lama, yaitu dari sebuah cerita wayang purwa, yang disebut Murwakala atau Purwakala.

Purwa berarti asal atau permulaan, Kala berarti bencana, jadi asal mula dari bencana. Di daerah lain lakon itu disebut juga Dalang Karungrungan atau Dalang Kalunglungan.

Pada dasarnya cerita itu mengisahkan tentang asal dari lahirnya dewa raksasa bernama Kala dan mengenai kehidupannya selanjutnya. Mengenai cerita di daerah satu dengan lainnya ada berbagai variasi, meskipun tidak prinsipal, karena pada dasarnya berasal dari sumber yang sama.

Menurut Pakem Pedhalangan, dalam garis besarnya cerita itu adalah sebagai berikut :

Pada suatu ketika Dewa Siwa bercengkerama dengan permaisurinya yang sangat cantik, yaitu Dewi Uma. Mereka terbang diatas samudera dengan naik lembu tunggangannya bernama Lembu Andhini.

Di atas samudera itu Siwa melihat permaisurinya sangat menggairahkan, sehingga timbul hasratnya untuk bersatu rasa. Akan tetapi Dewi Uma tidak berkenan dihati, maka benih Siwa jatuh di tengah lautan.

Setelah masa benihnya itu berubah menjadi makhluku, kian lama kian besar. Akhirnya menjadi raksasa yang sangat besar dan sakti. Ia naik ke Suralaya, tempat bersemayam para dewa, bermaksud untuk menemui Siwa.

Setelah sampai ditempat yang dituju dan bertemu dengan Siwa, ia bertanya siapakah yang menurunkannya dan ia minta agar ditunjukkan manusia-manusia yang bagaimanakah yang diperkenankan untuk menjadi mangsanya.

Dewa Siwa mengakui bahwa ia adalah putera Siwa sendiri, dan diberi nama Bathara Kala. Untuk makannya, Siwa menyebutkan macam-macam manusia yang termasuk anak sukerta.

Maka Dewa Kala segera minta diri turun ke dunia untuk mencari mangsa, yaitu manusia-manusia yang telah ditentukan baginya. Ia menuju ke Danau Madirda. Sepeninggal Dewa Kala, Siwa sadar bahwa jumlah manusia yang disebutkan tadi terlalu banyak, sehingga apabila tidak dihalangi mungkin manusia akan punah dari muka bumi.

Ia lalu memerintahkan kepada Dewa Narada agar menugaskan Dewa Wisnu untuk menjadi dalang membatalkan perintah yang telah diberikan kepada Dewa Kala. Dewa Narada ditugaskan menjadi panjak (penyanyi), Dewa Brahma menjadi penabuh gender (semacam gamelan).

Dewa Wisnu kemudian memakai nama Dalang Kandhabuana, bertugas meruwat manusia-manusia sukerta yang ditakdirkan menjadi umpan Dewa Kala. Dengan demikian mereka dapat diselamatkan.

Diceritakan pula, bahwa pada waktu itu ada seorang janda di desa Medang Kawit, bernama Sumawit. Ia memiliki seorang anak laki-laki. Menjelang remaja bernama Joko Jatusmati. Karena ia anak tunggal, supaya selamat ia disuruh ibunya pergi mandi di Danau Madirda.

Patuh pada perintahnya, ia lalu pergi ke danau tersebut. Setelah sampai di danau itu ia berjumpa dengan Dewa Kala. Dewa Kala minta kesediaan anak itu untuk dimakan, karena ia termasuk manusia yang menjadi mangsanya.

Sadar ada bahaya mengancam, Joko segera melarikan diri. Sedangkan Dewa Kala mengejar kemana saja ia pergi. Ia bersembunyi di antara orang-orang yang sedang mendirikan rumah. Tapi akhirnya diketahui oleh Dewa Kala, maka kejar-kejaran terjadi dirumahitu.

Akhirnya rumah menjadi roboh. Pemuda itu lalu bersembunyi di tempat orang yang sedang membuat obat yang menggunakan pipisan. Disini pun ia diketahui oleh Dewa Kala.

Dalam usahanya untuk menghindarkan diri, ia terantuk pada pipihan sehingga benda itu patah. Selanjutnya ia bersembunyi di dapur yang kebetulan sedang dipakai memasak nasi. Di sini pun terjadi kejar-kejaran pula, sehingga menyebabkan dandang (tempat untuk menanak nasi) roboh.

Joko Jatusmati melarikan diri ke luar melalui halaman depan rumah. Di dalam usahanya mengejar pemuda itu di tengah halaman, Dewa Kala terjatuh, karena terlilit batang waluh (cucurbita pepo) yang kebetulan ditanam di halaman tersebut.

Akibatnya ia kehilangan arah ke mana mangsanya melarikan diri. Bersamaan dengan itu, di desa Medang Kamulan terdapat seorang laki-laki bernama Buyut Wangkeng. Ia memiliki anak perempuan tunggal bernama Rara Pripih yang baru saja dinikahkan.

Akan tetapi pengantin baru itu belum rukun, bahkan sang isteri minta kepada ayahnya agar diceraikan dari suaminya. Namun keinginannya tidak disetujui oleh ayahnya. Akhirnya ia membatalkan niatnya setelah ayahnya mengabulkan permintaannya untuk mengadakan ruwat dengan tertunjukan wayang.

Buyut Wangkeng segera menyuruh menantunya mencarikan dalang yang bersedia mempergelarkan pertunjukkan wayang untuk meruwat anaknya. Maka dipanggilah Dalang Kandhabuana.

Pada waktu yang telah ditetapkan pergelaran wang terus dimulai. Banyak sekali orang yang melihat. Diantara penonton itu terdsapat pula Joko Jatusmati, demikian juga Dewa Kala. Akhirnya Dalang Kandhabuana dapat menyelesaikan tugasnya.

Dalang penjelmaan Dewa Wisnu itu berhasil menghalang-halangi Dewa Kala dalam hal mengejar manusia yang menjadi mangsanya. Batara Kala dapat dihalau ketempat asalnya. Demikian pula anak buah dan pengikutnya, seperti kelabang, kalajengking dan lain-lainnya. Setelah itu bumi menjadi aman kembali.

Waktu hendak kembali ke tempat asalnya, baik Dewa Kala, Durga dan lainnya minta bagian dari sajian yang telah disediakan. Dewa Kala minta batang pisang, itik dan burung merpati. Durga minta kain sindur dan bangun tulak.

Kecuali itu tokoh lain seperti Dewi Sri dan Sadana, Kebo Gegeg dan Kebo Celeg dan lain-lain (mereka bukan tokoh jahat) minta bagian pula. Mereka berperan dan memberi petuah agar mereka yang diruwat memperoleh keselamatan.

Dengan demikian maka sebagai unsur pokok di dalam upacara ruwatan selanjutnya, di samping orang menyediakan berbagai macam sajen dan syarat lainnya yang harus dipenuhi, orang harus mengadakan pergelaran wayang purwa, dengan cerita khusus Murwakala, cerita riwayat kehidupan Dewa Kala.

RUWATAN DALANG KANDHA

Pada dasarnya pelaksanaan upacara ruwat bagi orang yang kurang mampu tidak berbeda dengan upacara ruwat lengkap, hanya sifatnya lebih sederhana.

Dengan demikian biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar, sehingga terjangkau oleh mereka. Adapun mengenai unsur-unsur sajian yang diperlukan di dalam upacara itu, tetap harus sama seperti pada upacara lengkap, perbedaannya hanya terletak pada acara pementasan wayangnya.

Di atas telah diutarakan, bahwa pementasan wayang merupakan unsur pokok dalam upacara ruwatan. Untuk keperluan itu orang harus menyediakan biaya yang tidak sedikit, terutama apabila orang mendatangkan dalang yang terkenal.

Maka bagi orang yang kurang mampu dimungkinkan untuk mengadakan ruwat, hanya dengan mengundang dalangnya saja, tanpa membawa wayang dan gamelan. Di dalam upacara itu dalang hanya bertugas sekedar bercerita saja tentang riwayat Dewa Kala seperti yang terdapat di dalam lakon Murwakala.

Sesudah bercerita, maka diadakan upacara pengguntingan rambut anak yang ruwat dan dengan itu selesailah upacaranya. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan untuk dalang tidak semahal biaya pergelaran wayang yang lengkap.

Upacara semacam itu disebut ruwatan dalang kendha (karena dalang hanya bercerita saja).


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..
Jumat, 08 November 2013

Mikukuhan

 
 Di negara Purwacarita, juga disebut Medhangkamulan, prabu Dremamikukukan berkata kepada patih Jakapuring, ” Wahai para abdi Medhangkamulan, Hyang Narada telah berkenan memberikan segala biji tumbuh-tumbuhan, atas perintah beliau, hendaknya biji-biji tumbuh-tumbuhan tersebut, dapat ditanam dan disebarluaskan di seluruh pelosok desa-desa,” patih Jakapuring segera memohon diri untuk mengerjakan perintah raja.

Syahdan, semua tanaman telah tumbuh baik, banyak gangguan datang, burung-burung memakan tanaman, segera dihalau dan dibunuh kalau merusak tanaman, demikian pula binatang-binatang datang pula mengganggunya, tapi tak segan-segan dihalau pula binatang perusak itu. Hyang Girinata sangat bersyukur dan bersuka cita, atas keberhasilan Prabu Mikukuhan menanam benih-benih tumbuh-tumbuhan, demikian segala sesuatunya yang dilaporkan oleh Hyang Pritanjali dan Hyang Tantra.

Pada suatu ketika, semua tanaman diganggu dan dirusak oleh putut Jantaka dari Gunung Andaga, dan pengikut-pengikutnya, prabu Mikukuhan dengan dibantu oleh putera-putera adiknya, ialah Bagawan Kanda dan adiknya Bagawan Nada, dapat memberantas segala hama yang melanda tanam-tanamannya.

Raden Sengkan dan Raden Turunanlah yang diperintahkan oleh ayahnya membantu Prabu Mikukuhan mengusir semua hama yang merusak tanaman-tanaman tersebut, di samping Nayungyang dan Candramana. Demikian pula, Hyang Endra memberikan gamelan Surendra kepada prabu Mikukuhan.

Adapun Putut Jantaka setelah takluk dan bertobat, oleh prabu Mikukuhan telah diberi kelonggaran, kepada anak-anakanya, yakni yang berwujud kerbau dan sapi kelak menjadi sarana pembantu para petani menggarap sawahnya, untuk itulah mereka diberi makan. Amanlah dukuh Dadapan dari serangan hama, tak lain adalah anak-anak putut Jantaka, demikian pula biji tumbuh-tumbuhan hidup tersebar di desa-desa, negara Medhangkamulan makmur.





Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Mumpuni


Seorang yang bertubuh tinggi besar, dengan tatapan mata tajam dan jarang berkedip. Seorang yang dilahirkan dari keturunan para dewa, yang telah digariskan bahwa dia terlahir sebagai sosok yang sangat dingin, tanpa hati dan perasaan. Dan karena sifat asli itulah, maka Sang Batara Guru menganugerahinya dengan seorang istri bidadari yang cantik cantik jelita, keturunan para dewa pula. Dewi Mumpuni, itulah nama sang bidadari yang kini menjadi istri tercintanya.

Namun hati tak dapat dipaksakan, dan anggukan di kepala hanya sebuah ungkapan tanda bakti dan hormat kepada orang tua, sehingga Dewi Mumupuni bersedia menjadi istri sang lelaki gagah perkasa itu. Dalamnya laut dapat diduga, namun dalamnya hati, siapa yang kira. Dewi Mumpuni sama sekali tak menyintai laki laki yang kini menjadi suaminya. Hatinya kosong,dan gersang bagai sebuah taman tanpa bunga, tanpa air kehidupan.

Suatu saat, berkunjunglah Bambang Nagatamala, putra dari Sanghyang Antaboga, dewa penguasa alam dalam bumi. Dan secara tak sengaja, Nagatamala bersua dengan Dewi Mumpuni. Masing masing tertesona akan keindahannya, dan jatuhlah kedua hati makhluk tersebut dalam sebuah bejana cinta. Hmmmmmm…….
Perasaan mereka semakin kuat, hingga suatu saat mereka mengatur rencana untuk pergi meninggalkan Kahyangan Hargodumilah untuk hidup bersama, di luar sepengetahuan lelaki perkasa itu. Dan rencana yang telah matang segera dilaksanakan. Namun rencana itu tak semulus yang dipikirkan. Seorang abdi mengetahuinya dan segera berlari untuk menyampaikan peristiwa memalukan tersebut, kepada yang berhak, yaitu seorang dewa, raja, dan sekaligus sang suami dari Dewi Mumpuni.

Raut mukanya, sang raja itu, mendadak berubah menjadi merah padam, matanya menatap tajam seseorang yang duduk bersimpuh dihadapannya dengan muka tertiunduk mohon ampun, belas kasihan. Seorang abdi istana telah melaporkan kejadian minggatnya istri tercinta, dengan sorang laki laki bernama Nagatamala. Bagaimaan ini bisa terjadi? Mendadak sontak tubuhnya yang tinggi besar itu terangkat ke angkasa dan melesat terbang, meninggalkan Kahyangan Hargodumilah, dan memburu seorang yang dianggapnya seorang durjana. Menuju istana Saptapratala, tempat kediaman Nagatamala.

Disana, dijumpainya sang istri sedang berdua dengan Nagatamala, maka perkelahian antara dua dewa pun tak terelakkan. Pertempuran yang dahsyat di atas langit itu, hingga membawa perbawa hingga ke bumi. Samudera menggelegak, angin topan mengamuk, hingga pohon pohon pohon tumbang, dan air hujan tiba dengan begitu derasnya.

Melihat peristiwa itu, Sang Batara Narada turun tangan dan melerai pertikaian. Dilihatnya Dewi Mumpuni tak bergeming, masih duduk di dekat singgasana Nagatamala. Maka, dapat dipastikan bahwa disitulah hatinya tertambat, tidak dengan suaminya. Batara Narada pun kemudian menjelaskan bahwa sudah merupakan takdir, bahwa Dewi Mumpuni merupakan pasangan dari Nagatamala. Maka, laki laki itu, suami dari Dewi Mumpuni, yang bergelar Sanghyang Yamadipati, harus merelakannya.

Dengan muka tertunduk, dan hancurnya segenap bahagian dari hatinya, Sanghyang Yamadipati pun mundur, terbang meninggalkan Kahyangan Saptapratala. Sedangkan sang istri, Dewi Mumpuni, tetap singgah di Saptapratala dan menjadi istri Nagatamala.

Betapa hancur perasaan Sanghyang Yamadipati. Istri yang sangat dicintainya, ternyata selama ini sama sekali tak menaruh hati padanya. Pergilah dia melalang buana, hingga beberapa warsa, Istana Hargodumilah kosong ditinggalkannya.

Sanghyang Yamadipati tetap melakukan kewajiban yang diembannya, sebagai dewa pencabut nyawa. Dalam perjalanan pengembaraannya, hatinya yang kosong dan hampa, menuntunnya pada sebuah perintah untuk mencabut nyawa seorang bernama Setyawan, seorang putra dari Brahmanaraja negeri Syalwa. Dia terbang mencari seorang yang bernama Setyawan, dan dengan kesaktiannya, tak sulit untuk segera menemukannya. Seorang jujur dan lurus, namun karena kehendak dewata, usianya harus sampai disini.

Masih kurang empat hari, saat Yamadipati harus mencabut nyawanya. Dan selama itu pula, Yamadipati selalu memperhatikan gerak gerik Setyawan. Satu hal yang sangat menarik perhatian dan menggugah hatinya, dimana disisi Setyawan, selalu terdapat seorang yang cantik jelita, dan berbudi luhur, serta sangat saying dan setia kepada Setyawan. Putri itu ternyata istrinya, yang bernama Sawitri.
Selama 3 hari menjelang kematian Setyawan, Sawitri melakukan puasa dengan berdiri tegak selama 3 hari 3 malam. Hari keempat, dimana hari itulah saat Setyawan harus mati, Sawitri mengikutinya kemanapun Setyawan pergi.

Pada saat mereka berdua pergi ke hutan, Sawitri mengikutinya dari belakang. Dan pada saat Sawitri mengumpulkan buah buahan sedangkan Setyawan membelah kayu kayu kering, mendadak dari wajah Setyawan mengalir deras peluhnya, dan tubuhnyapun terasa dingin. Setyawan berjalan pelan menghampiri Sawitri, untuk minta dipeluknya, hingga hangat tubuhnya.

Saat itu, teringatlah Sawitri akan pesan Batara Narada sewaktu dia menjatuhkan pilihannya untuk berusamikan Setyawan. Saat inilah rupanya kematian itu dating. Dan turunlah Sanghyang Yamadipati yang sejak dari 4 hari sebelumnya mengikuti dan mengamati. Dengan muka yang merah,mata menatap tajam,dan sebuah jerat melingkar di tangan kanannya, tahulah Sawitri bahwa yang dihadapinya adalah Sanghyang Yamadipati, dewa pencabut nyawa.

Saat dibawanya tubuh Setyawan oleh Sanghyang Yamadipati, Sawitri pun mengikutinya. Beberapa kali Yamadipati menyuruhnya untuk pulang, namun Sawitri tak bergeming sedikitpun. Yamadipatipun kehabisan akal, dan bertanyalah ;

“apa yang kau inginkan sawitri? Katakana, asal jangan minta suamimu hidup kembali”
“kemanapun suami hamba pergi, disitulah hamba berada. hamba minta kekuasaan dan kesehatan ayah mertua hamba dikembalikan seperti semula.”
“baik, aku kabulkan. Sekarang pulanglah, sebelum payah”
“hamba tak akan payah selama hamba berdampingan dengan suami yang jujur dan berbudi luhur”
“apa lagi yang kamu ingin Sawitri?”
“hamba mohon diberi 100 orang putera dan hidup di suatu kerajaan yang sejahtera, bahagia dan sempurna”
“baik, akan ku kabulkan. Sekarang pulanglah…”
“bagaiamana hamba bisa berputera 100 orang bila hamba tak bersuami? Tak ada gunanya hidup panjang dan bahagia bila tak ada suami di sisi hamba. Maka, hidupkan suami hamba….”

Mendengar perkataan itu, Yamadipati tertegun sejenak. Sekilas pikiranya melayang ke belakang, kepada sebuah peristiwa beberapa warsa lalu, saat dia ditinggalkan oleh istri tercintanya, Dewi Mumpuni.

“Andai kesetiaan Dewi Mumpuni seperti ini……….” Hatinya berbisik.

Tak terasa pipinya basah, air bening keluar dari kedua kelopak matanya.nafasnya tersendat, tenggorokannya kering.

“Sawitri, kesetiaanmu tiada tara…..”bisiknya dalam hati.
“Baik Sawitri, ku lepaskan nyawa suamimu, dan hiduplah kembali. Berbahagialah dengan suamimu, Setyawan, dan akan kuberi usia 100 tahun…”

Dan Yamadipatipun kemudian menghilang, terbang ke angkasa, dengan meninggalkan aroma wangi di sekeliling tubuh Setyawan.

Dan mereka berdua pun akhirnya hidup dalam bahagia, dengan 100 orang putera yang gagah laghi tampan.

Sanghyang Yamadipati pun tersenyum dalam tangis…….

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Watugunung

 

 Prabu Watugunung seorang raja di Gilingwesi. Menurut riwayatnya, ia seorang putera, raja Prabu Palindriya, tetapi waktu ia masih dalam kandungan, ibunya, yang bernama Dewi Sinta, meninggalkan istana karena dimadu dengan saudaranya sendiri. Dalam perjalanan di tengah rimba, Dewi Sinta bersalin seorang anak laki-laki dan diberi nama Raden Wudug. Suatu kali waktu Raden Wudug masih kanak-kanak ia dimarahi oleh ibunya dan kepalanya dipukulnya dengan centong hingga luka. Karena itu Raden Wudug meninggalkan ibunya dan berganti nama Radite.

Kemudian Raden Radite berhasil menyadi raja di Gilingwesi, karena kesaktiannya, dan bergelar Prabu Watugunung dan berpermaisuri dengan seorang puteri yang sangat dicintainya, tetapi permaisuri itu sebenarnya ialah ibunya sendiri, dan tiada diketahui keduanya. Rahasia itu akhirnya diketahui oleh permaisuri sebab melihat cacat Prabu Watugunung di kepalanya waktu sedang berkutu-kutuan, dan Prabu Watugunung menerangkan apa penyebabnya. Untuk menghindarkan kekejian itu Dewi Sinta meminta supaya Prabu Watugunung seorang bidadari untuk djadikan madunya. Prabu Watugunung meluluskan permintaan itu dan ia menuju ke Suralaya (kerajaan Dewa-Dewa) guna mencari bidadari untuk jadi permaisurinya itu. Maka terjadilah perang dan Prabu Watugunung binasa dalam peperangan itu. Memang inilah yang diharap oleh Dewi Sinta.

BENTUK WAYANG

Prabu Watugunung bermata jaitan, hidung mancung. Bermahkota kerajaan, berjamang tiga susun dengan garuda membelakang, berpraba (pakaian serupa sayap), dikenakan pada bahu kanan dan kiri. Umumnya praba ini hanya untuk pakaian raja-raja dan kesatria. besar. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain bentuk kerajaan.

K e t e r a n g a n

Watugunung juga nama seorang wuku, wuku itu berarti perhitungan hari bulan, pada tiap-tiap bagian menerangkan hal maksud hari kelahiran orang dengan ramalan penghidupan orang yang mempunyai waktu itu.
Dipandang sepintas lalu, hal ini sebagai ramalan takhyul, tetapi kalau ditilik benar-benar hal ini mengenai juga pada perhitungan waktu keadaan di bumi, misalnya hal hujan, tanda-tanda perhitungan masa yang cocok, bukanlah takhyul. Jalan perhitungan waktu berturut-turut, bersambung-sambung pada tiap-tiap hari Minggu.

Menurut riwayat wuku-wuku itu nama 30 orang. Pada tiap orang itu diambil oleh seorang Dewa dianggap sebagai puteranya. Tiap-tiap wuku diambil oleh seorang Dewa dianggap sebagai puteranya. Tiap-tiap, wuku berdewa sendiri, dan perhitungan wuku itu berganti pada tiap-tiap hari Minggu.
Adapun nama wuku itu: 1) Sinta, 2) Landep, 3) Wukir, 4) Kurantil, 5) Tolu, 6) Gumbreg, 7) Warigalit, 8) Warigagung, 9) Julungwangi, 10) Sungsang, 11) Galungan, 12) Kuningan, 13) Langkir, 14) Mandasiya, 15) Julungpujut, 16) Pahang, 17) Mrakeh, 18) Wugu, 19) Tambir, 20) Madangkungan, 21) Maktal, 22) Wuje, 23) Manahil, 24) Prangbakat, 25) Bala, 26) Wugu, 27) Wayang, 28) Kulawu, 29) Dukut, 30) Watugunung.

Dewa-dewa 30 wuku itu:1) Yamadipati, 2) Mahadewa, 3) Mahayekti, 4) Langsur, 5)Bayu, 6) Cakra, 7) Asmara, 8) Mahayekti, 9) Sambu. 10) Gana, 11) Kamajaya. 12) Indra, 13) Barawa = Kala, 14) Brama, 15) Guritna, 16) Tantra, 17) Wisnu, 18) Surenggana, 19) Siwah, 20) Basuki, 21) Sakri, 22) Kuwera, 23) Citragotra, 24) Resi Wara Bisma, 25) Betari Durga, 26) Singajalma, 27) Betari Sri, 28) Betara Sadana, 29) Sakri, 30) Sang Hyang Antaboga dan Dewi Nagagini.

Untuk mengingat nama satu-satu wuku itu ada hafalan dalam bahasa Jawa dengan lagu dandanggula, sebagai berikut.

Sinta Landep ,ukir Ian Kurantil, Tolu Guinbreg, Warigalit lawan, Warigagung. Julungwange (perubahan dari kata wangi), Sungsang Galunganipun, ku (wuku) Kuningan Langkir Mandasih (asal dari Mandasiya), Julungpujut myang Pahang, Mrakeh Wuku Tambur (asal dari kata Tambir), Madangkungan wuku Wujwa (asal dari Wuje), Manahil Prangbakat Bala Wugu Binggit (Wayang), Klawu (Kulawu) Dukut Selarga (Watugunung)..

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Eufemisme dan Werkudoro




Werkudoro adalah sosok pahlawan dalam dunia wayang kulit yang aneh: ia tidak memiliki postur tubuh seorang ksatria pada umumnya, seperti postur tubuh Harjuna misalnya, tapi berpostur tubuh raksasa: tinggi besar, dengan suara menggelegar.

Yang juga menarik dari watak Werkudoro adalah: dia tidak bisa menggunakan bahasa Jawa yang halus, yang sangat ketat dalam hal tata krama dan unggah-ungguh. Dia hanya bisa menggunakan bahasa Jawa ngoko, yaitu bahasa Jawa kasar, bahasa Jawa dari tingkatannya yang paling rendah.

Tapi Werkudoro inilah, yang tidak pandai menggunakan bahasa dengan halus, yang menjadi pralambang kejujuran dalam dunia wayang kulit. Dia adalah sosok yang jujur dan satu-satunya tokoh wayang yang dikisahkan berani menyelami Samodera Minang Kalbu sampai ke dasarnya, dan bertemu dengan Guru Sucinya yaitu, Sang Hyang Dewa Ruci.

Yang menarik untuk diamati dari sosok Werkudoro ini adalah: nampaknya ada kontradiksi antara penggunaan bahasa yang halus dan lembut di satu sisi, dan kejujuran yang lugas di sisi lain. Dus, bahasa mungkin bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong, baik membohongi diri sendiri maupun membohongi publik.

Dalam ilmu bahasa misalnya, dikenal gaya bahasa eufemisme: yaitu gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lebih halus, sehingga tidak terdengar kasar atau jorok. Ketika seseorang mau ke WC misalnya, akan dianggap lebih sopan jika dia berkata, “Saya mau ke kamar kecil.” Bahasa Indonesia,
sebagaimana bahasa Jawa, adalah bahasa yang kaya dengan eufemisme semacam ini. Di masa lalu istilah pelacur dianggap terlalu kasar, sehingga disebut wanita tuna susila, gelandangan lebih ‘terhormat’ jika disebut tunawisma, dan orang yang kerjanya cuma luntang-lantung karena tidak punya pekerjaan disebut tunakarya. Begitulah dengan eufemisme, sesuatu yang sebenarnya kurang baik, bisa terdengar lebih sopan. Mungkin ini akan berguna dalam berinteraksi dengan orang lain: agar kita tidak menyinggung perasaannya.

Namun celakanya eufemisme ini bisa juga menjadi alat tipu-diri yang ampuh. Berikut ini adalah contoh yang saya amati dalam pemakaian bahasa Jawa sehari-hari: acara main (judi) di tempat orang punya gawe, misalnya, disebut sebagai tirakatan. Ketika anak-anak muda bergerombol dan mau cari minuman keras,
mereka menyebutnya golek anget-anget. Ketika kita mau utang duit, kita malu menyebutnya utang, tapi nyrempet. Ketika seorang anak bodoh di sekolah, dia disebut kendho. Ketika ada seorang pejabat desa yang mabuk dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dia dikatakan lagi kurang penak awake. Ketika seorang istri
yang sudah setengah umur dan mengajak seorang anak muda untuk berselingkuh, dia bilang: kanggo jamu…. Sedangkan di Solo ada juga sate jamu, yaitu rica-rica daging anjing.

Saya juga pernah mendengar seorang guru yang berkata: kalau guru di Indonesia itu telah dibohongi, mereka diberi gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Gelar yang sangat angker dan serem, tapi jika kesejahteraan tidak dipikirkan, apa disuruh makan gelar? Begitulah dia misuh-misuh. Ketika penggunaan bahasa telah menjadi sedemikian manipulatif-nya, mungkin kita perlu ingat sosok Arya Bima Sena atau Werkudoro yang tidak pandai menggunakan bahasa yang lembut dan halus, yang kata-katanya langsung dan lugas, tanpa tedeng
aling-aling. Memang kata-kata yang langsung dan lugas bisa jadi menyakitkan, sama menyakitkannya ketika mencabut sebutir peluru yang sudah terlanjur bersarang dalam tubuh… tapi bagaimanapun, itu jauh lebih baik daripada membiarkan peluru itu bersarang di sana.

Sudahkah kita menggunakan bahasa dengan ‘baik’ dan ‘benar’?

oleh yohanes sutopo
 

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Ngelmu Kyai Petruk

 

 Berbeda dengan filsafat Barat, yang berakar dari filsafat Yunani (Socrates dkk.), filsafat Jawa tidak mau bersusah payah untuk berusaha menemukan apa kiranya ‘unsur zat terkecil yang tidak bisa dibagi lagi yang membentuk suatu benda’. Bagi orang Jawa semua itu adalah urusan dan pekerjaan ‘Sing Ngecet Lombok’. Bukan tugas manusia memikirkannya.

Jika Plato setelah melalui pemikiran yang mendalam akhirnya memiliki keyakinan bahwa: terdapat kuda sempurna di alam kekal yang menjadi blue-print dari kuda-kuda yang ada dan kita lihat sekarang, maka bagi orang Jawa: yang penting adalah bagaimana merawat kuda dengan baik. Dan untuk menjadi seorang kusir dokar yang terampil kita memang tidak perlu tahu ‘apakah memang benar ada kuda sempurna di alam kekal’.

Filsafat Jawa berbicara tentang hal-hal yang sederhana, namun sangat mendasar dan mendalam. Orang Jawa tidak mau pusing-pusing memikirkan apakah bumi berbentuk bulat ataukah lonjong, tapi yang penting adalah bagaimana manusia menjaga keselarasan (harmoni) dengan alam semesta, dan terlebih lagi dengan sesamanya: ‘uripku aja nganti duwe mungsuh’.

Filsafat Jawa mengajarkan kehidupan yang sederhana, dan menginsyafi bahwa harta benda tidaklah memberikan kebahagiaan yang hakiki: ’sugih durung karuan seneng, ora duwe durung karuan susah’. Meski demikian manusia harus bekerja: ‘urip kudu nyambut gawe’, dan mengetahui kedudukannya di dalam tatanan masyarakat.

Manusia Jawa percaya bahwa setiap orang memiliki tempatnya sendiri-sendiri: ‘pipi padha pipi, bokong padha bokong’. Kebijaksanaan kuno ini bahkan selaras dengan ilmu manajemen modern yang mengajarkan bahwa setiap individu harus memilih profesi yang cocok dengan karakternya. Setelah menemukan bidang profesi yang cocok, hendaknya kita fokus pada bidang tersebut, sebab jika kita tidak fokus akhirnya tak satupun pekerjaan yang terselesaikan: ‘Urip iku pindha wong njajan. Kabeh ora bisa dipangan. Miliha sing bisa kepangan.’

Berikut ini kutipan lengkap salah satu pitutur luhur yang sering disampaikan ki dalang dalam pertunjukan wayang kulit melalui tokoh Petruk:

NGELMU KYAI PETRUK

Kuncung ireng pancal putih
Swarga durung weruh
Neraka durung wanuh
Mung donya sing aku weruh
Uripku aja nganti duwe mungsuh.

Ribang bumi ribang nyawa
Ana beja ana cilaka
Ana urip ana mati.
Precil mijet wohing ranti
Seneng mesti susah
Susah mesti seneng
Aja seneng nek duwe
Aja susah nek ora duwe.

Senenge saklentheng susahe sarendheng
Susah jebule seneng
Seneng jebule susah
Sugih durung karuan seneng
Ora duwe durung karuan susah
Susah seneng ora bisa disawang
Bisane mung dirasakake dhewe.

Kapiran kapirun sapi ora nuntun
Urip aja mung nenuwun
Yen sapimu masuk angin tambanana
Jamune ulekan lombok, bawang
uyah lan kecap
Wetenge wedhakana parutan jahe
Urip kudu nyambut gawe

Pipi ngempong bokong
Iki dhapur sampurnaning wong
Yen ngelak ngombea
Yen ngelih mangana
Yen kesel ngasoa
Yen ngantuk turua.

Pipi padha pipi
Bokong padha bokong
Pipi dudu bokong.
Onde-onde jemblem bakwan
Urip iku pindha wong njajan
Kabeh ora bisa dipangan
Miliha sing bisa kepangan
Mula elinga dhandhanggulane jajan:

Pipis kopyor sanggupira lunga ngaji
Le ngaji nyang be jadah
Gedang goreng iku rewange
Kepethuk si alu-alu
Nunggang dangglem nyengkelit lopis
Utusane tuwan jenang
Arso mbedhah ing mendhut
Rame nggennya bandayudha
Silih ungkih tan ana ngalah sawiji
Patinira kecucuran

Ki Daruna Ni Daruni
Wis ya, aku bali menyang Giri
Aku iki Kyai Petruk ratuning Merapi
Lho ratu kok kadi pak tani?

Sumber: buku Air Kata-Kata, karangan Sindhunata, Galang Press, 2003, Yogyakarta, hal. 110


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Samba Ngengleng

 

Di kerajaan Dwarawati, prabu Kresna menerima kedatangan raja Mandura prabu Baladewa, menghadap pula raden satyaka, da raden Setyaki. Sang raja membicarakan dengan prabu Baladewa perihal lolosnya putera mahkota Dwarawati raden Samba, kepada kakandanya ialah prabu Baladewa, dibebankannya untuk menemukan dan membawanya kembali ke kerajaan Dwarawati, di mana kabar mencaritakan raden samba
berada di gadamadana, dan disanggupi. Pula, raja mengutus raden setyaka untuk pergi ke praja Madukara, menyerahkan permasalahannya kepada raden Janaka. Manakala raja kembali bertemu dengan permaisuri Dewi setyaboma, Dewi Jembawati dan Dewi rukmini di kraton, masanggrahlah prabu Baladewa di Kadiapten Dwarawati. Raden Setyaka, raden setyaki dan Patih Udawa mempersiapkan keberangkata ke kerajaan Mandura beserta wadyabala.

Di kerajaan trajutrisna, Prabu Bomanarakasura memerintahkan kepada wadyabalanya, untuk mencari seekor kijang tutul (berbintik-bintik) sesuai dengan permintaan istrinya, Dewi hagnyanawati. Dipertengahan jalan bertemulah wadyabala Trajutrisna dengan wadyabala Dwarawati, terjadilah perselisihan pendapat, dan peerangan. Paara wadyabala Trajutrisna melarikan diri bersembunyi di hutan, wadyabala Dwarawati meneruskan perjalanannya menuju praja Madukara.

Raden Janaka, menerima kedatangan utusan Sri Kresna, raden setyaka yang menceritakan perihal llosnya raden samba, sri Kresna membebankan tgas, membujuk raden samba supaya kembai ke kerajaan Dwarawati, dan disanggupimya.
Kembalilah raden Setyaka, kepada Dewi Subadra dan Dewi Srikandi. Raden Janaka mencaeriterakan perihal akan kepergiannya ke pertapaan Gadamadana, kedua-duanya sangat bersuka-cita berangkatlah raden Janaka diringkan oleh kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Di tengah hutan, bertemu dengan raksasa dari Trajutrisna, dan terjadi peperangan, wadya yaksa dapat dikalahkan, raden Janaka melanjutkan perjalanannya.

Di pertapaan Gandamadana, tampak raden Samba beserta raden Gunadewa, kedua-duanya sedang membicarakan perihal cara-cara bertapa. Datanglah raden Janaka, menceriterakan maksud kedatangannya.Menangislah raden Samba, memohon dapat dipertemukannya dengan Dewi Haghyanawati. Raden Janaka segera memerintahkan kepada kyai Semar, Nalagareng dan Petruk untuk segera berangkat mengiringkan raden Samba,sebab dengan itulah nanti akan bertemu dengan Dewi Hagnyanawati, adapun raden Janaka langsung pergi ke kerajaan Dwarawati.
Konon, di kerajaan Trajutrisna,Dewi Hagnyanawati mengajukan permohonan kepada prabu Boma, untuk dicarikannya kayu yang bernama Dewandaru, dan disanggupinya. Pergilah prabu Boma ke Suralaya bersabda kepada hyang Girinata.

Hyang Girinata di Suralaya bersabda kepada hyang Narada, hendaknya Dewi Wilutama diperintahkan umencari titisannya batara Drema dan batari Dremi, untuk selanjutnya diperjodohkan. Turunlah ke bumi Dewi Wilutama, melaksanakan tugas mencari titisannya batara Drema dan batari Dremi.

Raden Samba yang tengah berjalan di tengah hutan, melihat sasmita dewa, yang terpampang, di batu berupa tulisan, yang menyatakan maksud bahwasanya titisannya batara Drema sudah masakalanya akan bertemu dengan titisannya batari Dremi. Datanglah Dewi Wilutama kepada radenSamba, dijelaskan maksud dan keperluannya turun ke bumi, dan diuraikan pula, bahwasanya raden Samba adalah titisannya batara Drema, untuk itu sesuia dengan perintah hyang Girinata, akan dipertemukan dengan titisannya batari Dremi. Pergilah raden Samba mengikuti Dewi Wilutama ke kerajaan Trajutrisna.

Di taman Trajutrisna, raden Samba bertemu dengan Dewi Hagnyanawati, dan kepadanya diajak untuk pergi ke kerajaan Dwarawati. Sebelum melaksanakan maksudnya, raksasa wanita yang bertugas menunggu taman melihat gerak-gerik raden Samba, yang sangat mencurigakan, segeralah raden Samba dikejar, untuk ditangkap. Waspada akan datangnya bahaya. Raden Samba pergi meninggalkan taman Trajutrisna, bersama Dewi Hagnyanawati. Emban Sarwini, raksasa wanita si penjaga taman, merasa gagal usahanya menangkap raden Samba, segera melapor kepada raja.

Di kerajaan Dwarawati, prabu Kresna menerima kedatangan raja Mandura prabu Baladewa, menghadap pula raden Satyaka dan Setyaki. Tak lama datanglah raden Janaka. Segera melapor bahwasanya raden Samba berkehendak supaya dipertemukan dengan Dewi Hagnyanawati. Datang pula raden Samba bersama Dewi Hagnyanawati, yang melpor segala hal ihwalnya, prabu Kresna dapat memmahami apa telah diceritakan oleh puteranya raden Samba.

Prabu Pyntadewa raja Amarta, memerintahkan kepada adiknya raden Wrekudara dan kemenakannya raden Gatutkaca, untuk menyusul kepergian raden Janaka, ke kerajaan Dwarawati, dan segera berangkatlah mereka menunaikan tugasnya.

Syahdan, prabu Bomanarakasura yang sedang di repat kepanasan Suralaya, untuk mendapatkan kayu Dewandaru disusul oleh embannya yang bernama Sarwini, datang melapor bahwasanya prabu Baladewa mengamuk, memecah jembangan air di taman Trajutrisna, sedangkan Dewi Hagnyanawati dilarikan oleh raden Samba. Semula prabu Bomanarakarura akan langsung mengejar raden Samba, akan tetapi disarankan kalau sebaiknya para wadyabala raksasa saja ditugaskan menyelesaikan pengejaran tersebut, kembalilah raja Bomanarasura ke kerajaan Trajutrisna, para wadyabala menunaikan tugas ke martyapada, mengejar raden Samba.

Prabu Bomanarakasura yang telah kembali ke praja Trajutrisna, segera mengetap wadyabalanya, untuk segera menyerang praja Dwarawati, sesampainya di praja Dwarawati, para Pandawapun telah bersiap-siap, terlihat antaranya raden arya Wrekudara, raden Samba, dan Dewi Hagnyanawati, prabu Baladewa, raden Janaka, dan raden Gatutkaca.

Pertempuran terjadi, wadyabala Trajutrisna dapat diundurkan oleh raden Arya Wrekudara, raden Janaka dan raden Gatutkaca, Seundurnya para wadyabala raksasa Trajutrisna, sri Kresna mengucapkan syukur, bahwasanya raden Samba telah kembali dengan selamat, dan menetapi sabda dewa, dipertemukannya titisannya batara Drema dan batari Dremi. Seluruh istana dwarawati, turut bersukacita

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..

Jatagini


DEWI JATAGINI berwujud raseksi. Ia istri Prabu Jatagempol, raja raksasa negara Guwabarong. Karena ketekunannya bertapa, ia menjadi sangat sakti. Berwatak kejam, bengis dan pendedam.

Bersama suaminya, Prabu Jatagempol, Dewi Jatagini menyerang negara Amarta. Ia ingin membinasakan keluarga Pandawa, sebagai upaya balas dendam atas kematian leluhurnya, Prabu Kalasasradewa, raja negara Guwamiring yang tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandu di nergara Mandura. Dalam pertempuran tersebut, Prabu Jatagempol mati oleh Arjuna.

Dewi Jatagini kembali ke negara Guwabarong dan mendidik putra tunggalnya Kalaserenggi dengan berbagai ilmu kesaktian. Setelah Kalasernggi dewasa, Jatagini menyuruh putranya untuk melakukan balas dendam membunuh Arjuna. Kepergian Kalasrenggi bertepatan dengan awal berlangsungnya perang Bharatayuda.
Di Tegal Kurusetra, Kalasrenggi kemudian bertemu dengan Irawan, putra Arjuna dengan Dewi Ulupi, yang disangkanya Arjuna. Kalasrengi berhasil menggit mati Irawan, tetapi akhirnya ia tewas oleh panah Hrudadali yang dilepaskan Arjuna. Mengetahui putranya mati, Jatagini pergi mengamuk ke Kurusetra. Ia pun akhirnya mati oleh panah Arjuna. Tubuihnya hancur oleh hantaman Kyai Sarotama.

Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang
Teruskan membaca..