Senin, 09 April 2012

Lahirnya Rahwana

Kisah sebelumnya:

sastra jendra hayuningrat pangruwating

Jambumangli merasa sangat kecewa dan marah setelah mendengar bahwa sayembara telah ditutup. Ia segera menghadap Prabu Sumali untuk mempertanyakan alasan ditutupnya sayembara. Dengan berat hati Prabu Sumali menceritakan semua peristiwa yang terjadi antara resi Wisrawa dan dewi Sukesi di dalam pesangrahan, dan kini resi Wisrawa telah diangkat sebagai suami dewi Sukesi secara sah. Mendengar penjelasan Prabu Sumali, Jambumangli marah. Ia mengamuk sambil berteriak-teriak mengancam Wisrawa. Ia bergegas mendatangi pesangrahan tempat tinggal dewi Sukesi dan resi Wisrawa. Tidak ada yang bisa menghalangi Jambumangli. Bukan karena Jambumangli merupakan salah satu keluarga Prabu Sumali, tetapi juga Jambumangli adalah senopati perang Alengka yang sangat sakti mandraguna. Tidak ada seorang pun di negara Alengka yang mampu menandingi kesaktiannya, bahkan konon kesaktian dan kekejaman Jambumangli telah tersohor hingga ke mancanegara. Banyak raja-raja dan kesatria yang binasa ditangan Jambumangli saat mengikuti sayembara perebutan dewi Sukesi.

Dihadapan Wisrawa, Jambumangli berkoar. Hatinya yang dibakar cemburu mencaci maki Wisrawa. Jambumangli menuding Wisrawa telah berbuat licik dan pengecut.

" Dulu aku menghormatimu sebagai seorang resi yang mengemban kebenaran dan kesucian, tapi kini semua penghormatan itu telah pupus sirna, runtuh bersama kelicikanmu yang mirip sekali dengan srigala. Apakah kau tidak malu Wisrawa ? Kau telah merenggut kesucian cinta putramu sendiri!"

Di hadapan keluarga dan pembesar Alengka, Jambumangli tidak henti-hentinya mencaci maki Wisrawa. Ia menantang Wisrawa untuk melakukan perang tanding adu kesaktian.

Resi Wisrawa yang tadinya hanya diam tertunduk, lama kelamaan telinganya menjadi panas oleh caci maki Jambumangli, hatinya pun terasa sangat sakit oleh hinaan Jambumangli. Apalagi mengingat Jambumangli yang sebenarnya menyimpan rasa suka terhadap dewi Sukesi, maka terbakarlah segala nafsu amarah Wisrawa. Angkara murka tidak terkendalikan lagi diantara keduanya hingga diantara mereka kini sudah terlibat baku hantam. Perang tanding tidak terelakan lagi antara Wisrawa dan Jambumangli. Saling tendang, saling pukul, dan sama-sama saling mengeluarkan aji-aji kesaktian. Perang hebat antara keduanya disaksikan langsung oleh seluruh keluarga dan pembesar kerajaan Alengka, tidak terkecuali dewi Sukesi dan Prabu Sumali sendiri.

Raksasa Jambumangli yang adalah senopati agung yang selalu dapat memenangkan peperangan disetiap medan yuda, tentu memiliki kedigjayaan yang dapat dibanggakan oleh rakyat dan negara Alengka. Namun, meskipun begitu yang menjadi lawan tandingnya kini bukanlah seorang biasa. Adalah Wisrawa seorang begawan yang telah tersohor di seantero jagat, pandita sakti mandraguna. Dan pada akhirnya Jambumangli tidak sanggup menghadapi kesatian Wisrawa. Tidak ada senjata atau pusaka sakti yang bisa diandalkan oleh Jambumangli, semua pusakanya tidak bertuah di hadapan Wisrawa.

Resi telah dibakar amarah sehingga tidak memberi kesempatan kepada Jambumangli. Ia mengeluarkan pusaka Candrasa dari dalam tubuhnya. Pusaka sakti pemberian Brahma itu dibentangkan dan lalu lepas melesat bagai kilat tatit menggorok Jambumangli yang saat itu sudah tidak berdaya. Senopati Alengka yang jumawa jatuh tersungkur, tubuhnya menggelepar-gelepar, suaranya mengorok seperti seekor hewan buruan yang sedang disembelih. Kematian Jambumangli sungguh sangat mengenaskan. Betapa tidak, Senopati raksasa yang sudah tidak berdaya dan tinggal meregang nyawa saja, namun Wisrawa masih memburunya. Wisrawa yang sudah kesetanan dengan senjata tergenggam ditangan merobek-robek sekujur tubuh Jambumangli. Dengan sangat keji Wisrawa memotong-motong tubuh Jambumangli. Kepalanya dipotong, kedua tangan dan kakinya pun dipotong. Seorang resi yang selama itu disucikan oleh rakyatnya telah gelap mata, ia tidak lagi menyadari bahwa Sukesi saat itu sedang mengandung benihnya, maka suatu saat kelak perbuatan Wisrawa ini akan menjadi hukuman pada salah satu putranya sendiri. Salah satu putra Wisrawa suatu saat akan mengalami nasib yang sama dengan Jambumangli.

Senja kian bergelincir lingsir. Keluarga Alengka dirundung duka. Prabu Sumali tidak menyangka bahwa resi Wisrawa yang sangat dihormatinya mampu melakukan perbuatan sadis. Hari berganti hari, bulan pun kian berganti. Waktu terus berputar beriringan dengan hembusan angin yang bertiup mengantarkan kabar yang selama ini terkubur bagai bangkai busuk. Prabu Danaraja di negara Lokapala telah mendengar semua peristiwa yang terjadi di Alengka. Ia sangat terpukul. Tidak disangka ayahanda yang sangat dicintai dan dihormatinya itu telah sanggup melukai hatinya, menodai kehormatannya, dan menghianatinya. Nasi telah menjadi bubur. Danaraja yang sangat sakit hati dan kecewa tidak membiarkan begitu saja, ia berkeras akan membalas perlakuan ayahandanya. Hutang wirang dibayar wirang. Danaraja memerintahkan senopati Wisnungkara untuk melakukan gelar pasukan menyerang negeri Alengka. Ribuan pasukan Lokapala yang terdiri dari bala tentara raksasa dan manusia dengan senjata lengkap, siap tempur di medan yuda.

Prabu Sumali mendengar kabar akan datangnya serangan dari negeri Lokapala, ia menyerahkan semuanya kepada resi Wisrawa. Sebab, setelah Wisrawa telah disahkan menjadi suami dewi Sukesi, maka seluruh kerajaan Alengka diserahkan kepada Wisrawa. Bagaimanapun Wisrawa menjadi bingung, hatinya terasa luluh hancur. Ia bukan takut menghadapi perang, tapi bagaimana mungkin ia bisa berhadapan dengan putranya sendiri di medan perang? Tidak mungkin! Danaraja adalah putra mahkota yang sangat dicintainyai.

Perang besar terjadi antara Lokapala dan Alengka. Dua negara besar yang sama-sama memiliki kekuatan balatentara yang terdiri dari bangsa raksasa, kini telah saling berhadapan di medan yuda, hingga genderang perang bertalu keduanya sudah melakukan begal pati dalam kancah perang. Suara gemelentrang jamparing, gondewa, parang, tameng dan berbagai macam senjata perang lainnya saling beradu. Disertai teriakan-teriakan memekikan membuat suasana tempur menjadi semakin hiruk pikuk dan mencekam.

Prahasta adik dewi Sukesi yang kini menggantikan kedudukan Jambumangli sebagai Senopati Alengka, maju ke medan perang. Dengan sekuat tenaga ia menahan serangan-serangan prajurit Lokapala yang membabi buta. Prahasta tidak kalah sakti dan digjayanya dengan Jambumangli, tubuhnya yang besar perkasa bergerak lincah menerjang dan menghantam balik serangan-serangan lawan. Dilain pihak, Wisnuwungkur sebagai Senopati Lokapala tidak kalah hebat, dengan buas ia membunuh prajurit-prajurit Alengka. Prahasta tidak membiarkan pasukannya luluh lantak, ia segera menghadang Wisnungkara. Dua senopati agung itu terlibat baku hantam, saling dorong, saling terkam dan saling banting.

Sementara, Prabu Danaraja yang telah juga menghunus senjata merangsak maju ke garis depan. Senjatanya berkelebat-kelebat seperti kilat yang menyambar. Jeritan-jeritan kematian dari pihak prajurit Alengka melengking bersahut-sahutan, terbantai oleh tajamnya pedang Danaraja. Setiap prajurit Alengka yang coba menghadang langkahnya, putus nyawanya.

Danaraja mengarahkan serangannya pada inti pasukan yang dipimpin Prahasata. Melihat Wisnungkara yang kualahan menghadapi kesaktian Prahasta, Danaraja segera membantu. Ia memberi aba-aba kepada Senopatinya untuk mundur hingga ia kini berhadapan dengan Prahasta. Senopati Alengka bukanlah tandingan Danaraja. Raja Lokapala itu tidak mudah untuk dikalahkan, ia tidak bisa mati. Selama bumi masih dipijak, Danaraja tidak bisa mati. Hingga pada waktu yang sangat kritis Prahasta sudah berada diujung pusaka Danaraja. Namun sebelum Danaraja menusukan pusakanya kepada Prahasta, satu suara menghentikan gerakannya. Satu suara yang sangat tidak asing bagi Danaraja, suara yang sangat ia kenali, Wisrawa. Resi Wisrawa telah berdiri dihadapan Danaraja, tetapi ia tidak membawa senjata layaknya seorang senopati perang. Ia mengakui segala kekhilafannya dan meminta kepada Danaraja untuk mengakhiri peperangan. Wisrawa menyadari bahwa peperangan itu disebabkan oleh rasa sakit hati putranya terhadap dirinya, namun ia merasa tidak sanggup jika harus berhadapan perang dengan putra yang sangat disayanginya itu. Ia tidak ingin mengulang dosa yang kedua kali terhadap putranya. Wisrawa berserah pasrah atas hukuman yang akan dijatuhkan oleh putranya. Dilain pihak Danaraja yang sudah terbakar amarah tidak bisa memaafkan ayahandanya. Penghianatan itu harus berbalas dengan kematian. Begitu yang terpikir oleh Danaraja. Bukan hanya dirinya yang merasa terhianati tetapi juga ibunya. Maka, ketika mata hati Danaraja sudah tertutup dendam, pusaka sakti Gandik Kencana terlepas dari werangkanya dan menghunjam tubuh Wisrawa. Resi tua bahari itu tersungkur dihadapan Danaraja. Tanpa mampu berkata-kata lagi Wisrawa terlepas dari nyawanya.

Pekik sorak kemenangan pasukan Lokapala membahana di seantero medan perang. Dilain pihak, balatentara Alengka yang sudah pupus nyalinya meletakan senjata mereka, pertanda menyerah takluk. Namun tiba-tiba diantara ribuan manusia dan raksasa datang seorang wanita yang dalam keadaan hamil tua berlari sambil menjerit-jerit menangis mendekati jasad Wisrawa yang masih terbujur dihadapan Danaraja. Wanita itu jatuh tersungkur dihadapan jasad suaminya. Berbarengan dengan itu, sebelum dewi Sukesi melakukan belapati dengan menghunjamkan sebilah pisau di dadanya, ia sempat melahirkan anak2nya dihadapan jasad Wisrawa.

- Bayi pertama laki-laki terlahir dengan disertai darah berwarna merah (bersifat Amrah / Angkara), kelak ia akan menjelma menjadi Rahwana.

- Bayi yang kedua terlahir dengan disertai darah berwarna kuning (bersifat Lawwamah / Keinginan), kelak ia akan menjelma menjadi Kumbakarna.

- Bayi yang ketiga perempuan terlahir dengan disertai darah berwarna hitam (bersifat Sufiah / Rencana jahat), kelak ia akan menjelma menjadi Sarpakaneka

- Bayi yang terakhir laki-laki terlahir disertai darah berwarna putih (bersifat Mutmainah / Yang dirahmati), kelak ia akan menjelma menjadi Gunawan Wibisana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar