Minggu, 30 Desember 2012

Laksmana Kembar

Jembawan
 
Sementara itu Dewi Trijata, anak Wibisana, yang dahulu  selalu melindungi Dewi Sinta dari kejahatan  Prabu Dasamuka, hanya bisa pasrah  menerima nasib.  Mungkin sudah kehendak dewata, ia harus kawin dengan Jembawan, karena supata uwaknya (Rahwana) masih terngiang ngiang ditelinganya. Ia akan kawin dengan kethek tuwek mbleketrek. (kera tua jelek). Namun Trijata tetap berharap agar pria idaman hati, Laksmana mau menolong dirinya dari kesengsaraan ini.


Sementara itu sudah beberapa hari ini Jembawan tak bisa tidur dengan nyenyak. .Untuk menghilangkan pikiran yang kacau itu, Jembawan membawa dirinya kemana saja. Ia tidak tahu lagi kemana harus pergi.  Mau ke Taman Asoka, menemui Trijata, takut kalau ditolah.  Maka ia pun  terus berjalan tanpa arah tujuan.  Akhirnya sampalah perjalanan  Jembawan  ke Bukit Maliawan. Jembawan memasuki sebuah goa dibawah bukit Maliawan, disanalah Jembawan pergi bertapa..Setelah empat puluh hari empatpuluh malam, ternyata bertapanya Jembawan itu mengakibatkan Kahyangan Jonggringsaloka, bagai kena gempa, kawah Candradimuka, meletup letup memancarkan lahar panas dan  awan panas., bunga bunga pada layu, para Dewa dan Dewi merasa gerah kepanasan. Melihat situasi seperti ini Bathara Guru memerintahkan Bathara Narada turun kebawah, mencari sumber penyebabnya. Bathara Naarada pun segera turun ke Marcapada.

Trijata

Dari kejauhan nun jauh di kaki bukit Maliawan, terpancar seberkas sinar sebesar sada lanang (lidi aren).yang mmembubung kelngit, Bathara Narada segera menuju kearah sinar itu adn didapatkannya Jembawan sedang beratpa. .Dibangunmkannya Jembnawan oleh Bathara Narada. Jembawan terkejut karena ada dewa yang turun ke marcapada, hanya mau menolong dirinya. Bathara Narada memberitahu kepada Jembawan, memang Trijata itu mmemang jodohnya Jembawan.Jadi tiidak  dikejar kejat ataupun  usaha apapun, pasti Jembawan dapat mendapatkannya. Namun Jembawan tetap minta disiasati, agr kepastian dewa itu bisa segera menjadi kenyataan.


Pada mulanya Bathara Narada tidak mau membantu Jembawan, tetapi karena tapanya membikin kegoncangan Kahyangan Jonggringsaloka, maka Bathara Narada pun mau membantunya.Bathara Narada pun bersemadi. Ia memanggil dewa cinta, sanghyang Kamajaya dan Dewi Kamaratih. Sanghyang Kamajaya memberikan pakaian seerti halnya yang dipakai Laksamana. Dengan usapan sekali pada wajah Jembawan, maka berubahlah Jembawan menjadi seorang satria tampan sangat mirip dengan Laksamana. Jembawan  tertegun melihat  dirinya  mernjadfi seorang yang tampan.Bathara Narada kemudian mengirim Laksmana (palsu) ke Taman Asoka. Di Taman Asoka ini, Dewi Trijata menyambutnya dengan suka cita. Mereka mabuk asmara. Biyung emban Taman Asoka melihat gelagat keduanya sudah mulai lupa diri, maka sebelum terlanjuir, sampai jauh, biyung emban, melaporkan kejadian ini pada majikannya, Wibisana.


Sementara itu Wibisaana sedang mengikuti sidang lengkap para Senapati dan para manggala Kerajaan Pancawati. Walaupun tempatnya di istana Alengka, namun sidangnya sidang lengkap Pancawati. Belum selesai membicarakan keadaan Prajurit Pancawati setelah Perang Alengka, tiba tiba biyung enban datang melapor.pada Wibisana, tentang adanya malingguna maling sakti, yang mennyerupai Bendoro Laksmana di taman Asoka menggannggu keberadaan Dewi Trijata.. Prabu Rama yang ikut mendengar laporan tersebut, menjadi marah kepada adiknya. Laksmana. Laksmana bersumpah bahwa ia tak mungkin melakukannya, karena ia seorang brahmacari, yaitu orang  yang telah bersumpah tidak akan kawin sampaii akhir hayatnya.Laksaama segera pergi menuju taman Asoka. Laksmana minta agar maling julig yang ada dalam sentong itu keluar dan adu kerasnya tulang dan wuletnya kulit dengan Laksmana. Laksmana palsupun keluar dari  sentongnya, diikuti Dewi Trijata denga perasaan waswas.

Laksmana

Terjadilah perkelahian yang hebat. Keduanya saling menampakkan kesaktiannya.Akhirnya Laksmana berhasil membuka kedok Laksmana palsu, yang ternyata Jembawan..Melihat kejadian itu hati Trijata sangat terpukul. Trijata merah marah pada Jembawan Ketika suasana yang tidak mengenakkan hati, turunlah Bathara Narada, untuk memberi tahu kepada Trijata, yang pada pokoknya  mereka berdua, yaitu Trijata dan Jembawan memang sudah jodohnya. Untuk mwnghilngkan rasa kecewa Trijata, Bathara Narada menghibur Trijata, pada masanya nanti Dewi Trijata akan hidup bahagia dengan memiliki putera dari Jembawan, kelak akan lahir seorang gadis cantik, yang  apabila  sudah dewasa nanti, akan menjadi Pernaisuri seorang Raja, Setelah keduanya akur, maka dilangsungkan pernikahannya, dengan cukup meriah. Prabu Rama, Dewi Sinta serta Wibisana dan keluarga juga para rewanda , menikmati kemeriahan pernikahan Dewi Trijata dengan Jembawan. Selesai acara pernikahan, Jembawan membawa istrinya ke Pertapaan Gadamadana.

Oleh Prabu Rama, Wibisana diangkat menjadi Raja Alengka, menggantikan kakaknya, Prabu Dasamuka. Di waktu Pemerintahan  Prabu Dasamuka, Wibisana sudah menjadi Adipati di Singgelapura. Maka pemerintahan Alengka digabung dengan Singgelapura. Berangsur-angsur, nama Alengka semakin redup, dan berganti nama Singgelapura. Negara itu sudah berubah nama untuk kedua kalinya. Pertama pada zaman Prabu Danaraja atau Prabu Danapati yang pada waktu itu  bernama Lokapala. Setelah Prabu Danaraja dibunuh oleh Prabu Dasamuka, Lokapala dikuasai dan namanya dirubah menjadi Alengkadiraja. Setelah Wibisana menggantikan Prabu Dasamuka menjadi Raja Alengka, Alengka menjadi Singgelapura. Kelak Singgelapura menjadi mitra Prabu Punta Dewa dalam perang Barata Yudha.

Setelah menyelesaikan berbagai urusan, Prabu Rama, Dewi Sinta serta Laksmana dan para punggawa kembali ke Pancawati. Dalam perjalanan, Rama dan istrinya di tengah tambak (bendungan) mendapat serangan Dewi Jarini, putri Sarpakenaka yang dibantu Sekesa anak Prabu Sumali dari Krenda Buntala untuk membalas dendam atas kematian ibunya.

Bala tentara Sekesa menghancurkan bendungan, tetapi berkat kesigapan Anoman para raksasa itu dapat dibunuh. Bahkan Dewi Jarini yang memiliki kekebalan kulit yang berbulu dapat dibinasakan Anoman. (kisah kembalinya Rama biasa disebut dengan Tambak Undur)

Setelah singgah beberapa saat di Pancawati,  Prabu Rama, Dewi Sinta dan Laksmana kemudian melanjutkan perjalanan ke Ayodya. Sesampai di Ayodya, Rama, Dewi Sinta dan Laksmana di elu-elukan kepulangannya oleh rakyat Ayodya. Mereka disambut Para Ibu serta saudara, keluarga, kerabat dan rakyat semua menyambut kepulangannya dengan sukacita. Akhirnya Prabu Rama diangkat menjadi Raja Ayodya menggantikan Prabu Dasarata.

Sewaktu Prabu Rama masih menjalani hukuman buang di hutan, pengganti Prabu Dasarata adalah terompah Prabu Rama, sedangkan wakilnya adalah Barata. Karena Barata masih mencintai kakaknya, Prabu Rama. Keempat putera  Prabu Dasarata merasa ketiga ibunya adalah ibu mereka sendiri. Sehingga kesetiaan dan pengabdian kepada ketiga ibunya ,mereka tidak membeda-bedakan.  Akhirnya Prabu Rama berbahagia di istana sendiri bersama para Ibunya, istri dan saudara, keluarga, para kerabat dan rakyat sendiri. Namun apakah keadaan ini akan abadi, ataukah akan ada bencana yang mengancam kebahagian Prabu Rama dan istrinya, Dewi Sinta.


Gabung di FP kami yuk : http://facebook.com/caritawayang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar