Kumpulan Cerita Wayang dalam Bahasa Indonesia serta Bahasa Jawa, Tokoh Wayang, Artikel Wayang, Lakon Wayang

Ramayana : Trigangga Takon Bapa


prabu dasamuka gusar, belum hilang kesedihan atas gugurnya adik perempuannya, Sarpakenaka, baru saja seorang teliksandinya mengabarkan bahwa Patih Alengka yang juga pamannya sendiri yaitu Prahasta telah tewas mengenaskan dengan kepala hancur setelah dipukul dengan tugu oleh Anila. Dasamuka berpikir keras bagaimana cara mengalahkan Pramu Rama Wijaya dengan wadya bala wanaranya. Belum juga mendapat ide, tiba-tiba datang seorang prajurit.

Ampun Sinuwun, di luar ada 2 orang ksatria yang ingin menghadap paduka Prabu.

“Lancang… siapa mereka yang berani-beraninya mengganggu Dasamuka?”

“Beribu ampun sinuwun, mereka terus memaksa ingin bertemu dengan paduka.  Kedua satria tersebut yang satu berwujud mengerikan mengaku bernama Bukbis alias Pertalamariam. Satunya berwujud kera putih yang masih ingusan, bernama Trigangga. Trigangga mengaku adik dari Bukbis, tapi hanya adik ketemu gede. Ketika Bukbis baru saja keluar dari laut, kediaman Dewi Urangayu, ibunya, ia melihat ada sesosok kera putih. Ketika ditanya kera putih tadi tidak tau siapa dirinya, dan tidak tau siapa orangtuanya. Oleh Bukbis kemudian diberi nama Trigangga dan diajak bersama mencari ayahnya. Menurut ibunya, Dewi Urangayu, Bukbis masih trah Alengka.”
Terdiam sejenak Rahwana.
“Suruh mereka masuk..”

Kemudian Bukbis dan Trigangga dipersilakan masuk oleh si prajurit.

“Siapa kalian berdua, dan mau apa?” Tanya Rahwana singkat.

“Begini yang mulai Prabu Dasamuka, Menurut keterangan dari Ibu saya, Dewi Urangayu, bahwa paduka adalah Bapak saya. Adik saya saya Trigangga sekarang ini juga meninggalkan ibunya untuk mencari siapa ayahnya. Menurut keyakinan saya, paduka Prabu juga adalah ayah adikku Trigangga”. Jawab Bukbis.

“Bedebah bangsat, jangan asal bicara kau.. bicara seenak udelmu. Selama ini Dasamuka gak pernah punya keturunan seperti rupamu, apalagi kethek putih adikmu itu..”

“Ampun paduka, tapi memang begitulah menurut ibu hamba, paduka lah Bapak hamba”

Dalam batin Dasamuka telah mengakui bahwa Bukbis adalah anaknya. Akal bulusnya pun bekerja. Ia ingin memperalat Bukbis dan Trigangga untuk membantunya melawan Rama. Apalagi semenjak kematian Prahasata belum lagi ada yang diangkat menjadi senapati Alengka.

“Ketahuilah , tidak bakal ada trah keturunan Dasamuka yang tidak punya kesaktian dan kelebiha, meski belum bisa menandingi orang tuanya. Maka Bukbis, agar bisa diaku anak oleh Dasamuka, apa kesaktianmu, apa kelebihanmu, buktikan kalau gak mau disebut bangsat…”

Bukbis menghaturkan sembah sungkem lalu memakai topeng baja, stelah memakai topeng mata Bukbis berubah menjadi merah seperti darah. Dari mata Bukbis bisa keluar sinar seperti api. Apa saja yang terkena sorot dari mata Bukbis akan terbakar. Bukbis mengarahkan sinar apinya ke arah Dasamuka, spontan Dasamuka kesakitan sampai-sampai terpaksa lari dari dampar kencananya.

“Cukup Bukbis, jangan teruskan. Lepas topengmu”

Bukbis melepas topengnya, dan kembali seperti semula. Dalam hati Dasamuka merasa senang karena bakal mendapat tambahan kekuatan dari Bukbis dalam perang nanti.

“Haa..haa..haaa…. Kamu memang darah dagingku ngger, kesaktian sedrajat dengan anak-anakku yang lain, Indrajit dan adik-adiknya.”

Bukbis yang sebelumnya diumpat oleh Rahwana sekarang dipeluk dengan penuh kasih.

Setelah itu pandangan Dasamuka terjutu pada Triganga. Wajah Dasamuka yang tadi tampak sumringah kini kembali memerah dengan sorot mata merah darah kepada Trigangga.

“He munyuk ingusan, ketahuilah meski sedulurmu Bukbis, sudah ku akui segabai anak, jangan kau kira, kamu juga sudah ikut diaku sebagai putra Rahwana Raja. Ooow tidak bisa, kok enak temen,  selama ini aku gak pernah merasa punya anak munyuk, apalagi jelek sepertimu..”

“Tapi Prabu, hamba ini adik dari kakangku Bukbis. Maka, bukan semestinya hamba juga termasuk putra paduka sang Yaksendra.  Sudah lama kami berdua berkelana mencari Bapa..”

“Sebenarnya Dasamuka gak bakal sudi mengakui monyet elek sepertimu menjadi anakku. Tapi ya sudah, terdiam sejenak Sang Yaksendra.. Aku baru akan mengakuimu sebagai anak setelah kamu bisa membuktikan kesaktian dan kelebihanmu. Dapat apa aku memelihara monyet yang bisanya Cuma bisa minta makan”

Dasamuka kembali terdiam, seperti memikirkan sesuatu, kemudian melanjutkan bicaranya.

“Sekali lagi, aku gak bakal mengakuimu Trigangga sebagai anak, tapi….” Dasamuka mulai memikirkan untung ruginya demi kepentingan pribadinya. “….kalo kamu bisa menyeret Ramawijaya dan Laksmana kehadapaku hidup-hidup, baru kamu boleh mengaku sebagai putra Dasamuka.”

Trigangga panas hatinya menerima tantangan dari Rahwana. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Trigangga kemudian keluar dan melesat ke Gunung Suwela. Ia ingin membuktikan kalau dia bukan sembarang kera dan bisa meringkus Rama Wijaya hidup-hidup.

Malam telah larut, ketika Trigangga menginjakkan kakinya di Suwelagiri. Pesanggrahan Suwelagiri. Banyak pasukan kera yang berjaga. Melihat keadaan seperti ini, Trigangga merasa tidak akan bisa menembus penjagaan. Trigangga kemudian merapal aji panyirep. Aji panyirep Trigangga memang oye, para pasukan kera tertidur pulas.

Sementar itu di dalam pesanggrahan, Ramawijaya sedang bersama Laksmana dan Anoman.

“Anoman, kenapa malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Aku merasa sangat ngantuk, lihatlah semua penjag sudah tertidur pulas” kata Ramawijaya pada Anoman.

“Oo Prabu, jangan-jangan nanti akan terjadi apa-apa, yang berupa bencana. Malam ini terasa indah, seperti tidak pernah terjadi sebelumnya.” Ucap Anoman dengan setengah ngantuk.

“Anoman, rasanya aku sudah tak kuat lagi menahan ngantuk. Mataku sudah tidak kuat lagi melihat keindahan malam ini dan ingin terpejam saja.”

“Tapi sebentar, untuk jaga-jaga dari hal yang tidak diinginkan, paduka berdua saya minta untuk bersedia masuk ke dalam cupu milik saya ini.”

Rama dan Laksaman hanya mengangguk meng iya kan. Rama dan Laksamana tidur pulas dalam cupu Anoman.

Sementara itu Anoman yang masih terjaga menunjukkan kekuatannya, ia merapal aji untuk melawan sirep Trigangga. Anoman lalu mengheningkan cipta memohon kepada Sang Yang Kuasa untuk diberi sebuah kurungan kaca yang kuat. Kemudia Anoman tidur dalam kurungan kaca tersebut, sementara cupu yang berisi Rama dan laksama ada di sebelahnya.

Merasa keadaan sudah aman, Trigangga mulai masuk ke pesanggrahan Suwelagiri. Ia mencari keberadaan Prabu Rama dan Laksmana tapi tidak ketemu juga. Setelah lama mencari ia hanya menemukan sebuah kurungan kaca.

Karena ingi mengetahui isi dalam kurungan tersebut, ia berniat untuk memecahkan kaca tersebut. Berkali-kali ia mencoba untuk memecahkannya dengan segenap kekuatannya tapi tak berguna, kurungan tersebut tetap utuh. Trigangga tak habis akal, ia berubah wujud dan mencari jalan masuk ke dalam kurungan tersebut dan berhasil.

Kaget bukan kepalang, si munyuk putih Trigangga, setelah mengetahui sesosok serupa dengan dirinya tidur di dalamnya. Hatinya menjerit, teringat siapa sebenarnya ayahnya yang selama ini ia cari. Apa benar Rahwana ayahnya, ataukah sebenarnya  kera putih dihadapannya adalah ayahnya.

Trigangga sendiri belum bisa memastikan, hanya bisa ikut Bukbis, kakaknya. Semakin gundah hati Trigangga dalam kurungan kaca itu, karena belum bisa menemukan yang ia cari, Ramawijaya dan Laksmana.

“Duh,, bethara linuwung, berilah hamba petunjuk. Dimanakah Ramawijaya dan Laksmana berada. Kok rekasa banget mencari Bapa..?” keluh Trigangga.

“Eee… Anoman apa kamu lupa, bukanya kamu sendiri yang meminta kami untuk masuk ke dalam cupu-mu??”  sahut Ramawijaya, ia mengira yang bicara adalah Anoman.

Girang hati Trigangga mendengar suara Rama, segera disahut cupu tersebut dan secepat kilat kembali ke Alengka. Kurungan kaca hancur ditabrak Trigangga.

Anoman gragapan terbangun karena terkena tiupan angin yang kencang. Semakin kaget ia mendapati cupu miliknya hilang, dan kurungan tempat tidur hancur berantakan.  Para pasukan wanara pun terbangun mendengar suara gaduh. Suasana hening seketika menjadi kacau ketika menyadari junjungan mereka hilang entah kemana.

Trigangga lari ke Alengka. Pasewakan Alengka menjadi ramai seiring kedatangan Trigangga dengan tangan hampa.

“Ee… monyet ra genah. Ayo minggat dari sini. Jangan sekali-kali berani datang lagi kalau hanya dengan tangan hampa tanpa hasil. Kalau tidak segera menyingkir dari hadapaku, akan segera kusuruh para prajurit mengurismu, munyuk elek..” bentak Rahwana pada Trigangga.

“Sabar sebentar, Bapa…! Sabar sebentar, Rama…!”

“Gak sudi aku kau sebut Bapa, Rama, dan tethek bengek. Mana wujudnya Rama dan Laksmana? Mana, mana bedes elek??”

“Begini, sebenarnya Trigangga sudah dapat menculik Rama dan Laksmana”

“Oh.. dasar monyet celaka. Bangsat, nyatanya apa yang bisa kau bawa kesini? Masih berani bicara seperti itu. He Bukbis, munyuk elek yang mengaku adikmu itu hajar saja sampe hancur. Tak pantas kamu punya adik seperti monyet elek itu.”

Perih hati Trigangga mendengar perkataan Rahwana, orang yang ingin diakui sebagai ayah.

“Duh sinuwun, sebenarnya Rama dan Laksmana ada di dalam cupu ini? Jawab Trigangga dengan sabar.

“Mana cupuny?? Memang dasar Rahwana gak sabaran. “Aku gak percaya sebelum manusia dua itu ada dihadapanku sekarang??” Kemudian Trigangga membuka cupu yang ia bawa, keluarlah Rama dan Laksmana.

“Haa.. Haaa. Haaa….” Rahwana ngakak.
“Apa yang aku impikan akan menjadi kenyataan, sebentar lagi akan bersanding denga Dewi SInta” ucap Rahwana sombong, lupa dengan Trigangga yang ia berhasil menculik Rama, yang berkali-kali ia umpat, ia rendahkan.

“Apa boleh sekarang hamba memanggil Bapa pada paduka?” sela Trigangga.

“Trigangga memang putraku, sejajar  dengan Indrajid, Bukbis dan lainnya. Tapi, sebentar Gus, biar Bapa mu ini bicara dengan dua manusia celaka ini” ucap Rahwana pongah. Kini pandangan Rahwana tertuju pada Rama dan Laksmana.

“Ternyata kalian berdua hanyalah satria rendah, tak punya kesaktian apa-apa yang bisa digondol oleh monyet putih Trigangga ini. Kalo kalian tidak bisa menandingi kesaktian Trigangga, kok berani-beraninya kalian akan melawanku, Rahwana Raja Prabu Dasamuka yang kondang sakti mandraguna. Ooh, kasian sekali Dewi Sinta yang berharap pada dua satria tak berguna seperti kalian”

“Dasamuka, sebab apa yang membuatmu merasa kuat dan kuasa. Trus apa hakmu merebut istri orang, dan mengorbankan, rakyat, negaramu bahkan sanak saudaramu dengan keinginan angkara murkamu??” jawab Rama tenang.

“Diam kau setan, jangan banyak cakap. Jangan kurang ajar kau didepan Dasamuka. Sudah sepantasnya Dewi Sinta menjadi permaisuriku, dan kelihatannya sudah semakin dekat saatnya aku dapat bersanding dengan Dewi Sinta.” Ujar Rahwana sombong.

“Dasamuka, sekarang aku dan Laksmana adikmu sudah menjadi tawananmu. Terserah mau kau apakan kami.” Ucap Rama menantang.

“Tak usah kau perintah, sebentar lagi akan ku akhiri riwayat hidup kalian berdua”. Kemudian Rahwana memanggil Trigangga.

“Trigangga..” yang dipanggil sedikit kaget.

“Ada perintah apa, rama?”

“Rama dan Laksmana masukkan ke dalam satu penjara. Kemudian besok pagi penggal kepala mereka di depan Dewi Sinta”

Sebenarnya Trigangga tidak tega untuk melaksanakan perintah Rahwana. Sekilas ketika memandang Rahwana, hatinya kembali bertanya-tanya, “Apa benar manusia dengan sifat angkara murka ini ayahku..”

Namun, belum juga terjawab pertanyaan itu, Trigangga kembali tersadar. Yang dia tahu sekarang dia sudah diakui sebagai putra Dasamuka.

“Trigangga, ayo cepat laksanakan perintahku”

Trigangga menghaturkan sembah, kemudian ia menyeret Rama dan Laksaman untuk dimasukkan dalam satu penjara yang letaknya agak jauh dari Kraton Alengka.

Kabar tentang ditawannya Prabu Rama beserta adik dengan cepat tersebar, dan sampai juga di Taman Argasoka tempat dimana Dewi Sinta berada. Pilu hati Sinta mendengar kabar tersebut. Rasanya tak ingin ia melihat mentari terbit esok hari, yang berarti Rama dan Laksmana akan mati.

Trijata, putri adik bungsu Rahwana yaitu Wibisana yang selama ini dengan setia menemani Dewi Sinta cepat tanggap dengan keadaan. Ia mencoba menghibur  Dewi Sinta dengan mengatakan bahwa berita itu belum tentu benar adanya.

“Maka dari itu Kusuma Dewi, Trijata akan pergi mencari tahu kebenaran berita tersebut..”

“Iya, berhati-hatilah Trijata. Jangan kau tinggalkan aku sendiri terlalu lama disini”

Berangkatlah Trijata ke penjara Alengka. Tiba-tiba di tengah perjalanan. Ada yang menyapanya.

“Berhenti dulu cah ayu, mau kemana kok sendirian..” Kaget Trijata ternyata yang menyapanya adalah Anoman.

Sebelumya Anoman juga pernah bertemu dengan Trijata ketika menjadi Duta Prabu Ramawijaya. Sejak saat itu Anoman jatuh hati kepada Trijata, wanita cantik lencir kuning yang masih keturunan (cucu) Begawan Wisrawa yang dapat menjabarkan ilmu Sastrajendrayuningrat Pangruwating Diyu itu. Bayang-bayang Trijata selalu hadir dalam benak Anoman. Namun hanya dipendamnya dalam hati, mengingat : pertama, dulu dia sedang mengemban tugas dari junjungannya Ramawijaya dan kedua merasa wujudnya hanya seekor monyet, ia merasa tidak pantas mencintai Trijata. Buyar lamunan Anoman ketika mendengar suara Trijata.

“Lho, ada apa kok sampean disini, ada keperluan apa?” Tersadar Anoman bahwa saat itu sedang menjalankan tugas yang tak ringan, yaitu untuk mencari Rama dan Laksmana yang sedang ditawan musuh.

“Kok kebeneran banget, ketemu cah ayu disini. Mendekatlah kesini biar aku bisiki sesuatu..”

Trijata mendekat, pelan-pelan Anoman berbisik ditelinga Trijata. “Gusti pepunden kami, Prabu Ramawijaya sekarang sedang ditawan dan dipenjara oleh Rahwana. Dan penjaranya itu dijaga monyet putih bernama Trigangga.”

“Terus,, mau sampean apa?” jawab Trijata dengan suara lirih, agar rumput dan dedaunanpun tak mendengar.

“Begini cah ayu, kamu pergilah ke penjara berpura-pura membawa kendi berisi air minum, sekedar untuk pelepas dahag junjungan kita Prabu Rama. Nanti aku akan masuk ke kendi itu”

Berangkatlah Trijata menuju perjara Alengka, kemudian ia melewati si kethek putih yang sedang berjaga.

“Berhenti jangan masuk. Siapapun tidak boleh masuk, apalagi mau melihat isi penjara. Tidak boleh dan tidak bisa…” cegah Trigangga.

“Mbok ya kisanak, saya diijinkan masuk sebentar saja. Saya cuma mau memberikan kendi ini untuk minum. Apa ya kisanak tidak kasihan dengan sesama, lihatlah besok mereka akan dipenggal,yang berari berakhirlah hidup mereka.”

Mendengar perkataan Trijata, sebenarnya Trigangga merasa kasian juga. Namun hanya sampai segitu aja, sedangkan tata lahire masih kukuh melaksanakan tugas yang diempan untuk tidak boleh mengijinkan siapa saja masuk ke dalam penjara.

“Jika kamu masih nekat, kamu akan menyesal..” ucap Trigangga sambil berusaha merebut paksa kendi yang dibawa Trijata.

Kendi yang jadi rebutan akhirnya jatuh dan pecah, dan keluarlah monyet putih sepura dengan Trigangga, ya.. Anoman. Tanpa di komando mereka langsung saling serang. Perang tanding adu kerasnya tulang dan kulit tak terelakkan. Ternyata keduanya memiliki kesaktian yang tak jauh beda. Pertempuran sengit sudah lama berlangsung, dan tak ada tanda-tanda siapa yang lebih unggul.

“Ee…Lole lole.. Ayo berhenti kalian, jangan bertarung lagi…” tiba-tiba datang Batara Narada dari angkasa memisah dua monyet putih yang sedang bertarung.

Serentak Anoman dan Trigangga menghentikan pertarungan, dan menghaturkan sembah kepada Batara Narada.

“Ketahuilah, ulun datang kesini ingin menyampaikan sebuah kenyataan. Dengarkanlah.
Ee.. Trigangga, sebetulnya Anoman itu ayahmu sendiri, ramamu, bapamu. Bukan siapa-siapa, Rahwana itu bukan apa-apamu. Dan kamu Anoman, Trigangga itu anakmu sendiri, ingatlah kamu saat di Goa Windu, saat itu kamu Sayempraba, ia telah memperdayamu, tanpa kau sadarari benihmu telah tertanam dalam rahimnya. Dialah Trigangga, anak Sayempraba, anakmu…”

Batara Narada kemudian kembali ke kahyangan, sementara itu monyet yang tadi beradu otot sekarang berpelukan penuh kasih sayang.

Kemudian mereka membebaskan Prabu Ramawijaya dan Laksmana yang sedang ditawan. Dan kembali ke pesanggrahan Suwelagiri. Trigangga ikut ke Suwelagiri bersama Anoman, Rama beserta adik. Sementara itu Trijata kembali ke Argasoka segera mengabarkan bahwa Prabu Rama telah berhasil dibebaskan.

Rama tidak ikut ke Argasoka dan membebaskan Sinta secara diam-diam. Ia hanya akan menyelamatkan Sinta dengan cara ksatria yaitu setelah mengalahkan Rahwana dalam medan yuda sesuai dengan aturan. Begitulah seharusnya watak seorang ksatria.

Untuk membaca kisah lengkap Ramayana silakan Klik Disini.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Ramayana : Trigangga Takon Bapa