Kumpulan Cerita Wayang dalam Bahasa Indonesia serta Bahasa Jawa, Tokoh Wayang, Artikel Wayang, Lakon Wayang

Karna, Nyawanya Sebagai Tumbal Lenyapnya Angkaramurka



 Adipati Karna seorang raja negri Awangga, meskipun raja tetapi raja kecil. Raja yang masih diperintah raja lain (Ratu rehrehan Jawa).

Istrinya Karna itu bernama Dewi Surtikanti, putri Mandaraka, putra Prabu Salyapati. Anak Adipati Karna kalau dalam pewayangan adalah dua orang, lelaki dan perempuan, bernama Warsakusuma dan Dewi Suryawati. Patihnya Karna itu bernama Patih Hadimanggala. Banyak para pejabat atau tokoh masyarakat yang mengagumi tokoh Karna, termasuk guru saya. Ki Narto Sabdo. Bahkan juga Presiden I Bung Karno juga mengagumi tokoh Karna, sebab sejarah serta perjalanan hidup Karna itu agak aneh atau unik.

Karna itu anaknya Dewi Kunti Talibrata dengan Bathara Surya, tetapi tidak dengan jalan melalui hubungan badan (bersetubuh), sebab terkena walat atau kutukan disebabkan membaca mantra limu Aji Kunta Wekasing Rasa Sabda Tunggal Tanpa Lawan. Dewi Kunti itu sejak muda (perawan) sudah senang mempelajari ilmu, termasuk pula Kunti berguru kepada Brahmana yang bernama Reshi Druwasa, can diberi Ilmu “Aji Kunta Wekasing Rasa Sabda Tunggal Tanpa Lawan”, yang memilki daya keampuhan dapat mendatangkan Dewa hanya dengan kekuatan mantra tersebut. Peringatan Guru Druwasa. membaca atau merapal ilmu tersebut tidak boleh dilakukan sambil mandi dan/atau mau tidur.

Tetapi sepertinva Dewi Kunti tidak percaya dengan keampuhan Aji Kunta, karena itu Dewi Kunti mencoba kekuatan mantra Aji Kunta yang ia lakukan saat menjelang matahari terbenam. Dengan demikian Sanghyang Bathara Surya yang seharusnya akan istirahat, karena seharian penuh mengatur jalannya matahari, mendadak tergetar rasa hatinya sepertinya mendapatkan kontak bathin, tetapi Bathara Surya itu adalah Dewa yang ilmu kesaktiannya sangat tinggi, ibaratnya hanya dalam sekejap mata saja sudah sampai di tempat yang dituju, yaitu kamar mandi Dewi Kunti yang saat itu akan mandi. Dewi Kunti begitu mengetahui ada Dewa yang datang di depannya, langsung gugup dan tubuhnya gemetar, dengan cepat tangannya bergerak menyambar pakaiannya yang sudah mulai ia tanggalkan, tetapi yang teraih hanyalah kembennya saja, lalu ia kenakan untuk menutupi sebagian tubuhnya.

Bathara Surya kemu­dian berta­nya kepa da Dewi Kunti, ada maksud apa sampai ia merapal Aji Kunta? Dewi Kunti yang sebe­narnya ha­nya sekadar mencoba, karuan saja menjadi takut dan gugup dalam memberi penjelasan, bahwa apa yang ia lakukan hanyalah sekadar mencoba mantra tersebut

Mendengar pengakuan Dewi Kunti seperti itu, Bathara Surya menjadi marah, sebab mempelajari semua ilmu itu harus percaya dan yakin, tidak boleh hanya untuk main coba-coba. Karena itu Dewi Kunti lalu diberi hukuman, hamil tanpa bersetubuh. Dewi Kunti menangis, memohon pengampunan, tetapi Bathara Surya telah hilang dari pandangan mata.

Beberapa bulan Dewi Kunti tidak berani keluar dari kamar keputrian, yang ia lakukan hanya tidur berselimut rapat untuk menutupi kandungannya yang sudah besar, dan kalau ditanya oleh ayah, ibu dan kakaknya. jawabnya adalah sedang sakit.. Namun sepandai-pandai menyimpan bangke, akhirnya akan tercium juga bahunya. Demikianjuga halnya dengan apa yang terjadi pada Dewi Kunti, kakaknya sendjri Basudewa yang mengetahui pertama kali kalau ia sedang mengandung.

Talk terbayangkan bagaimana kemarahan Raden Basudewa begitu mengetahui dengan penglihatannya sendiri kalau adiknya Dewi Kunti sedang mengandung, padahal belum menikah dengan lelaki siapapun. Niatnya Dewi Kunti akan dihajarnya, namun untunglah Reshi Druwasa guru­nya Dewi Kunti mendadak datang, yang kemudian menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi pada diri Dewi Kunti. Apa yang dijelaskan oleh Resi Druwasa dapat diterima oleh Basudewa.

Untuk menjaga agar aib tersebut tidak tersebar luas, bayi yang ada dalam kandungan Dewi Kunti, lalu dilahirkan dengan kekuatan mantra gaib Resi Druwasa. Bayi lahir melalui lubang telinga Dewi Kunti, karena itu jabang bayi diberi nama Karna.

Bayi Karna kemudian dimasukkan ke dalam kendaga dan dihanyutkan ke sungai Bagi Ratri, selanjutnya bayi yang hanyut di sungai itu ditemukan oleh salah seorang sais kereta Prabu Drestrarasta, yang bernama Adirata, yang kebetulan baru mandi bersama istrinya yang bernama Nyai Nadha, bayi dibawa pulang, dipelihara dan diasuh sampai dewa­sa.

Karna juga punya nama ; Suryaputra, Suryat­maja, Talidarma, Bismantaka, Pritaputra.

Adipati Karna bersatu dengan Prabu Duryudana, sebab Kama berhutang bu­di kepada Prabu Duryudana di Astina, termasuk Surtikanti, istrinya Kama itu sebenamya pacamya (ke­kasihnya) Duryudana, te­tapi direlakan menjadi istri­nya Karna. Intinya, semua kemuliaan yang dimiliki Prabu Karna merupakan pemberian atau anugrah dari Prabu Duryudana. Karena itu walaupun Prabu Karma itu putra Dewi Kunti, dan Pandawa itu saudara satu ibu, akan tetapi Prabu Karna tetap bersatu serta merasa dan mengakui kalau Duryudana yang harus dibela dan dilindungi. Prabu Karna juga mengakui kalau Kunti itu ibu yang melahirkannya, serta Pandawa itu adalah saudaraya. Meski demikian Prabu Karna kukuh dengan sumpahnya membela yang memberi kemuliaan, yaitu Prabu Duryudana.

Disinilah kita dapat mengambil pelajaran, Katresnan atau Kewajiban, tapi kenyataannya Prabu Kama memilih kewajiban. Kenyatannya dalam lakon “Krena Duta”. Kama bertemu dengan Kresna (Sandi Tama Kawedar), Kresna membujuk Karna agar bersatu dengan Pandawa. Karna tidak mau. Dewi Kunti sendiri juga membujuk dan meminta Karna bersatu bersama Pandaiva, Karna juga tidak mau, tetap akan membela Duryudana.

Namun sesungguhnya Karna itu juga sayang terhadap Pandawa, Buktinya? Karna itu memiliki pusaka pembawaan dari lahir yaitu yang berujud anting-anting yang bernama “Pucunggul Maniking Surya”, serta Kawaca (Kere Waja atau Rumpi Baja). Karena kecintaannya terhadap Pandawa, Karna membuang pusaka kadewatan yang dibawanya sejak lahir sambil bekata : Hai, saudaraku para Pandawa. Ini pusaka milikku yang sangat sakti sudah aku lepas, dibuang. Aku tidak butuh kemenangan, Pandawa harus menang. Angkara murka harus lenyap.

Ki. H. Manteb Soedarsono
Dari Majalah WAYANG EDISI ke 2
sumber : www.heritageofjava.com





Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Karna, Nyawanya Sebagai Tumbal Lenyapnya Angkaramurka