Kumpulan Cerita Wayang dalam Bahasa Indonesia serta Bahasa Jawa, Tokoh Wayang, Artikel Wayang, Lakon Wayang

Wahyu Wasesa Tunggal


Raja Duryudana bercerita kepada pendeta Durna, dalam mimpinya raja melihat sinar bercahaya di angkasa. Pendeta Durna berkata, itu ilham dari dewa. Dewa memberi tahu bahwa wahyu wasesa Tunggal akan turun, akan diberikan kepada ksatriia yang kuat bersemedi di hutan Krendawahana. Raja Duryudana bersama putra mahkota akan mencari wahyu.

Raja Dewasraya di Nusa Tembini menyambut kedatangan Batari Durga. Raja minta bantuan kepada Batari agar bisa memperoleh wahyu. Untuk bisa memperoleh wahyu harus bisa mengkhianati Pandawa, sebab Pandawa yang bisa memperoleh wahyu. B,menyanggupinya.

Prajurit Nusa Tembini yang dipimpin Patih Jaramaya bersama prajurit Kurawa. Terjadilah perang. Prajurit Astina ketakutan.

Di tengah hutan Suyudana berjumpa Begawan Lowana. Begawan Lowana ditanya tempat akan turunnya wahyu, tetapi tidak jijawabnya. Suyudana marah-marah, sang Begawan dibunuh dengan keris. Tubuh sang Begawan bergolek di tanah, kemudian hilang, dan etrdengar suara kutukan. Kelak dalam perang Baratayuda Suyudana akan remuk tubuhnya. Suyudana melanjutkan perjalanan.

Gatotkaca dan Panakawan mengawl Abimanyu di Hutan Krendawahana. Mereka berjumpa prajurit Siluman, terjadilah perang. Batari Durga datang membantu siluman. Gatotkaca dan Abimanyu dilempar dengan aji kemayan mereka berdua menjadi arca. Para Panakawan kembali ke negara melapoorkan nasib ksatria asuhannya. Arjuna setelah menerima laporan segera berangkat ke hutan. Di hutan berjumpa Endang silihwarni. Arjuna tertarik kecantikan putrid itu. Endanmg silihwarni hendak diperistri, tetapi sang putrid tiada menyambutnya. Arjuna hendak memaksa, snag putrid cantik emngutuk, Arjuna berubah menjadi Banteng, putrid cantik hilang dari pandangan. Banteng kembali ke Dwarawati.

Bima, nakula dan sadewa senagn menghadap Prabu Kresna. Mereka menanyakan kepergian Puntadewa. Krena memberitahu bahwa Puntadewa sedang bersamadi untuk emmperoleh wahyu dari dewa. Bima minta pamit akan menyusul kakanya. Nakula danm Sadewa mengikutinya.

Banteng bersama Panakawan datang di Dwarawati. Semar melapor peristiwa yang diderita oleh Arjuna. Kresna mmarah , lalu mengubah ujud pribadi menjadi anak bajang (kerdil) dan mengaku bernama Jaka Pengalasan. Banteng diberi nama Kyai Gumarang. Jaka Pengalasan, Kyai Gumarang dan Panakawan berangkat ke Nusa Tembini. Raja Dewasraya amat gembira, karena Abimanyu dan Gatotkaca dan Arjuna telah sengsara menjadi arca dan Banteng. Jaka Pengalasan dan Kyai Gumarang meengamuk. Raja Dewasraya dan Patih Jaramaya tidak mampu melawannya. Barati Durga datang membantu, jaka Pengalasan tidak mampu melawannya. Semar melawan bartari Durga. Batari Durga tidak mampu melawan Semar lalu menyerah. Semar minta agar Jaka Pengalasan dan Kyai Gumarang sembuh kembali. Batari Durga memberi sehelai rambut kepada Semar, Rambut digesekkan pada Jaka Pengalasan dan Kyai Gumarang seketika pulih kembali menjadi Kresna dan Arjuna. Kresna, Arjuna dan Panakawan melanjutkan perjalanan , mencari Puntadewa.

Puntadew a bersemedi ditengah hutan, di depan arca gajah putih. Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa tiba ditempat persemedian. Mereka ikut bersemedi. Tengah mereka bersemedi tengah terdengar suara bahwa undang-undang raja tersebut dalam tiga hal, sabda, do’a, kepercayaan. Sesudah suara hilang bercahayalah tubuh Puntadewa, demikian juga saudara-saudaranya . Puntadewa berhenti bersemedi . paraa Pandawa telah memperoleh wahyu wasesa Tunggal.

Kresna mengajak mencari gatotkaca dan Abimanyu yang telah menjadi arca. Setelah bertemu arca diusap dengan rambut Batari Durga, gatotkaca dan Abimanyu pulih kembali. Mereka meninggalkan hutan dan kembali negara. Ditepi hutan berjumap dengan Suyudana dan prajurit Kurawa. Suyudana minta Wahyu, Kresn amenerangkan bahwa wahyu bukan barang yang dapat diserahterimakan. Suyudana marah dan mengajak mulai perang Baratayuda. Werkudara matek aji. Prajurit Kurawa terbawa arus angin halilintar, tiba di negara Astina. Keluarga Pandawa berpesta ria di Amarta.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Wahyu Wasesa Tunggal