Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bima, Arimbi dan Arimba

Arimba Gugur - Banyak orang tidak percaya Prabu Baka atau Prabu Dwaka telah gugur. Lalu siapa yang berani melawannya, bahkan sampai berhasil mengalahkan dan membunuhnya? Kalau ia manusia pastilah ia bukan manusia biasa, tetapi manusia keturunan dewa. Atau malah mungkin ia seorang dewa yang menyamar jadi manusia?. Untuk memastikan kebenaran kabar itu, orang-orang berduyun-duyun menuju Padepokan Giripurwa.

Sesampainya di Giripurwa orang banyak telah lebih dahulu berada di sana. Kedatangnya mereka selain untuk memastikan kebenaran tentang gugurnya Raja pemakan manusia itu, mereka juga ingin melihat dari dekat kesatria yang telah berhasil membunuh Prabu Dwaka.

Selama sepekan, terhitung sejak gugurnya Prabu Dwaka, pada setiap harinya padepokan Giripurwa dibanjiri oleh orang-orang dari berbagai penjuru negeri Ekacakra. Ekspresi kelegaan dan sukacita memancar dari wajah mereka. Bimasena menadat ucapan terimakasih krena keberhasilannya menyingkirkan angkaramurka yang menjadi sumber kecemasan dan ketakutan.

Setelah semua menjadi reda, suasana kembali normal, bahkan ketentraman dan kedamaian mulai dirasakan, Ibu Kunthi dan kelima anaknya berpamitan kepada resi Hijrapa, meninggalkan Giripurwa. Tidak lupa mereka juga berpamitan kepada Lurah Desa Kabayakan, Kyai Sagotra dan Rara Winihan, beserta seluruh warganya.

Rasa haru meremas kalbu. Tak kuasa mereka menahan tetesan air mata dari bola-bola mata yang bening bersahaja. Sesungguhnya mereka mengharapakan para kesatria Pandhawa dan Ibu Kunthi yang luhur budi agar berkenan tinggal untuk memimpin negeri. Mereka merindukan sosok pemimpin yang sepi ing pamrih, rame ing gawe. Pemimpin yang mengayomi dan mencintai rakyatnya. Namun tangan-tangan mereka tak kuasa menahannya. Lambaian tangan mengantar kepergian Kunthi dan Pandhawa.

Walaupun setelah membelok di sudut desa, Kunthi dan Pandhawa sudah tidak nampak lagi, mata hati mereka justru semakin jelas memandang ketulusan hati yang telah dikorbankan oleh Ibu Kunthi dan anak-anaknya.

Kunthi, Puntadewa, Bimasena, Arjuna dan sikembar Nakula Sadewa telah jauh meninggalkan Padepokan Giripurwa. Mereka tidak ingin kembali ke Hastinapura. Peristiwa Bale Sigala-gala telah membuat mereka trauma. Walaupun ketika tinggal di kahyangan Saptapertala, Kunthi telah berusaha agar Sadewa dan Nakula dapat melupakan peristiwa yang mengerikan di Bale Sigala-gala, hingga saat ini si kembar belum mau memasuki bumi Hastina

Oleh karenya Kunthi dan kelima anaknya bertekad hidup seperti layaknya seorang Brahmana yang sedang menjalani laku tapa, berjalan tanpa tujuan, masuk keluar hutan dalam waktu yang tak terbatas. Mereka menggunakan pakaian dari kulit binatang, memakan buah-buahan dan akar-akaran yang ditemuinya di hutan.
Siang malam Bima dan Arjuna selalu waspada menjaga ibu dan saudara-saudaranya dari serangan binatang buas dan juga raksasa hutan.

Kabar gugurnya Prabu Dwaka terdengar jauh sampai di negara Pringgandani. Prabu Arimba raja Pringgandani yang bermuka raksasa ini masih terhitung sahabatnya Prabu Baka, terbakar hatinya mendengar kabar tersebut. Ia mengutus Arimbi adiknya, yang bermuka raseksi, untuk mencari tahu siapkah orang yang telah membunuh Prabu Dwaka. Jika sudah ketemu, Arimbi diberi kuasa untuk membunuhnya. “Namun jika kamu tidak dapat membunuhnya, segeralah pulang ke Pringgandani, biar aku sendiri yang akan membunuhnya.” kata Prabu Arima kepada Arimbi adiknya.

Saat itu juga Arimbi, meninggalkan Negara Pringgandani sendirian, menuju Negara Ekacakra. Sesampainya di Ekacakra ia mendapat keterangan untuk menuju ke Padepokan Giripurwa. Namun sesampainya di Giripurwa, yang dicari sudah tidak ada. Arimbi kecewa. Ia kemudian mencari keterangan mengenai ciri-ciri orang yang telah membunuh Prabu Dwaka

Setelah mendapat keterangan cukup jelas dari salah seorang warga Desa Kabayakan, mengenai ciri-ciri kesatria yang telah membunuh Prabu Dwaka, Arimbi segera mencari keberadaannya. Berkat pengalamannya dan daya penciumannya yang tajam Arimbi tidak kesulitan menemukan jejaknya.

Di Hutan Waranawata Kunthi dan kelima anaknya berada. Dan Arimbi telah menemukannya. Arimbi mengamati mereka dari balik lebatnya pepohonan. Menurut ciri-ciri yang disampaikan oleh warga Desa Kabayakan, sungguh benarlah bahwa keenam orang itu adalah Kunthi dan ke lima anaknya. Salah satu diantara anak Kunthi, adalah pembunuh Prabu Dwaka. Namanya Bimasena. orangnya tinggi perkasa.
Arimbi mengarahkan pengamatannya kepada orang yang dimaksud. Namun ketika ia melihat Bimasena, hatinya berdesir. Ada gelombang magnet yang luar biasa besar, yang menarik-narik hatinya. Arimbi tak kuasa menahan gejolak itu. Pada pandangan pertama, hati Arimbi telah tertambat kepada sosok perkasa yang mempesona.

Terdorong oleh hasratnya yang tak mungkin dibendung, Arimbi bergerak ringan menghampiri Bimasena yang sedang duduk bersama Ibunda Kunthi. Keduanya terkejut, terlebih Bima, yang tidak tahu dari mana arah datangnya, tiba-tiba ada sosok raseksi bersimpuh dihadapannya.

Sesampainya di depan Kunthi dan Bima, Arimbi menjadi lupa tujuan semula, untuk membuat perhitungan dengan orang yang membunuh Prabu Dwaka. Ketika mata Arimbi menatap Bima dari jarak dekat, ia terkena panah asmara, yang lepas dengan sendirinya dari pribadi mempesona. Kunthi menyapa dengan lembut, apa maksud kedatangannya? Arimbi tidak segera dapat menjawab pertanyaan Kunthi. memang pada semula ia bermaksud membuat perhitungan dengan orang yang telah membunuh Prabu Dwaka. Namun kenyataannya Arimbi tidak berdaya setelah menemukan orang yang dimaksud. Bahkan ia dengan terus terang menyatakan jatuh cinta kepada Bimasena. Kunthi tersenyum lembut. Ia memahami hati seorang wanita yang lebih mengutamakan perasaannya dibandingkan dengan pikirannya.

Arimbi yang diutus oleh Prabu Arimba raja Pringgandani, untuk mencari pembunuh Prabu Dwaka, telah menemukan orangnya di Hutan Waranawata, yang bernama Bimasena Dengan tidak terduga pula, ternyata Bimasena adalah anak Pandhudewanata, raja Hastinapura yang telah membunuh ayah Arimbi yang bernama Prabu Tremboko, raja Hastinapura sebelum Prabu Arimba..

Namun hal tersebut tidaklah mampu menyulut dendam dan kebencian Arimbi kepada Bimasena. Karena Arimbi telah terkena panah asmara, yang lepas dengan sendirinya dari pribadi mempesona sang Bimasena. Arimbi menjadi lupa tujuan semula, untuk membuat perhitungan dengan orang yang membunuh Prabu Dwaka..

Arimbi, yang adalah seorang rasaksa wanita, mempunyai postur yang tinggi besar, melebihi postur wanita pada umumnya, wanita biasa yang bukan raseksi, sangatlah mendambakan sosok tinggi besar dan gagah perkasa. Apalagi sosok tinggi besar dan gagah perkasa tersebut bukan dari golongan raksasa, tetapi dari golongan kesatria seperti halnya Bimasean. Tentu saja Arimbi terpana.

Sebagai seorang raseksi, Arimbi tidak sungkan-sungkan menyatakan gejolak hatinya yang meluap-luap, di depan Ibu Kunthi dan Bimasena, bahwa ia telah jatuh cinta kepada Bimasena pada pandangan pertamanya. Kunthi menanggapi pernyataan Arimbi, dengan senyum dan kelembutan. Namun Bima justru merasa risih dan tidak senang, sembari menggerutu, dasar raseksi, tidak tahu diri.

Atas sikap Bimasena tersebut, Arimbi menangis, memohon pertolongan Kunthi, agar Bimasena mau memperisterinya. Kunthi tidak dapat berbuat apa-apa. Karena pada dasarnya semuanya itu bergantung kepada Bimasena yang menjalaninya. Namun Kunthi menyarankan agar Arimbi mau bersabar.
Arimbi tidak sakit hati ditolak Bimasena. Ia justru semakin mengagumi sosok Bima yang jujur dan tegas. Panah Asmara yang tidak pernah dilepaskan Bimasena kepada Arimbi, pada kenyatanya telah menembus sangat dalam di lubuk hati Arimbi. Ajaib memang. Cinta membuat segalanya baru. Pandangan Arimbi terhadap Bimasena berubah seratus delapan puluh derajat. Dari musuh menjadi orang yang digandrunginya.
Walaupun Bimasena tidak pernah mempedulikannya, bahkan tidak senang, Arimbi tetap saja mengikuti kemana Bima dan keluarganya pergi. Nasihat Kunthi agar bersabar, menjadi kekuatan bagi Arimbi untuk bertahan dalam menyalakan api cintanya kepada Bimasena. Karena ia menyakini, dibalik kesabaran yang dijalaninya dengan tulus, ada sebuah harapan. Harapan bahwa jika tiba pada waktunya, ia dapat bersanding dengan pujaan hatinya. Saat itulah dapat diibaratkan seperti rumput kering yang mendamba siraman air hujan, untuk tumbuh menghijau.

Hingga sampai hitungan bulan, Bima tidak menampakkan perubahan sikap kepada Arimbi. Bahkan Bima semakin merasa risih terhadap tingkah laku Arimbi yang ditujukan kepada dirinya dan juga kepada keluarganya. Namun tidaklah demikian dengan Ibunda Kunthi. Kunthi justru merasa iba kepada Arimbi, yang tidak hanya mengikutki kemana Pandhawa pergi, tetapi juga selalu membantu, melayani dan menyediakan apa saja yang menjadi kebutuhan Kunthi dan Pandhawa.

Disuatu pagi nan cerah, datanglah beberapa punggawa Pringgandani yang diutus Prabu Arimba menemui Arimbi. Arimbi merasa dirinya telah mengkianati perintah kakaknya. Maka dengan jujur Arimbi berkata kepada utusan raja, bahwa ia tidak kuasa untuk berperang kepada orang yang membunuh Prabu Dwaka, apalagi sampai mencelakainya, karena ia telah jatuh cinta kepadanya.

Dengan baik-baik Arimbi memerintahkan beberapa punggawa utusan, untuk pulang dan melaporkan kepada raja apa adanya.

Prabu Arimba tak mampu mengendalikan emosinya, tatkala para punggawa memberikan laporan tentang keberadaan Arimbi dan juga sikap Arimbi yang telah membelot bersama musuh. Apalagi dalam laporan tersebut diungkapkan pula, bahwa Bimasena pembunuh Prabu Dwaka adalah anak Pandudewanata.
Braaak! Prabu Arimba memecah meja di depannya. Para punggawa gemetar ketakutan. Suara gemuruh didada Prabu Arimba menimbulkan hawa panas. Hawa panas tersebut memenuhi Balairung Negara Pringgandani.

Arimbi adalah satu-satunya adik perempuan dan sangat dicintainya. Namun ia sangat murka bilamana Arimbi jatuh cinta kepada anak Pandudewanata yang telah membunuh ayahanda Prabu Tremboko.

Semenjak naik tahta menggantikan Prabu Tremboko yang gugur di tangan Pandudewanata, Prabu Arimba ingin mengadakan perhitungan dengan Pandudewanata. Namun niat itu tidak kesampaian, dikarenakan Pandudewanata telah meninggal di pertapaan. Namun setelah diketahui dari laporan punggawa utusan, bahwa Pandudewanata mempunyai lima anak laki-laki, Prabu Arimba akan mengadakan perhitungan dengan mereka. Khususnya Bimasena yang sekaligus adalah pembunuh Prabu Dwaka, saudaranya.

Selagi bara dendam dihatinya mulai menyala kembali, Prabu Arimba segera memerintahkan perajurit pengawal raja, untuk mengikutinya memasuki hutan Waranawata, guna mengadakan perhitungan dengan Bimasena.

Lima adik Raja Arimba yang kesemuanya laki-laki kecuali Arimbi, ikut bersamanya. Mereka masing-masing adalah: Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa, Brajalamatan dan yang bungsu adalah Kala Bendana.
 
Kemarahan Prabu Arimba belum juga reda. Ingin rasanya ia menghajar Arimbi adiknya, yang telah berkhianat kepadanya, dengan mengabaikan perintahnya. Pada awalnya Arimbi menyanggupi perintah kakanya untuk mengadakan perhitungan dengan pembunuh Prabu Dwaka yang masih saudaranya. Namun setelah melihat pelakunya yang bernama Bimasena, Arimbi jatuh hati. Ia menjadi tak berdaya untuk melaksanakan perintah kakaknya. Oleh karenanya dengan jujur Arimbi mengatakan kepada utusan kakaknya bahwa Arimbi tidak mempunyai daya untuk melukai Bimasena, terlebih membunuhnya.

Oleh karenanya Arimba ingin segera menuju ke hutan Waranawata untuk menghukum Arimbi dan kemudian membunuh Bimasena dan saudaranya.
Di siang yang terik, Prabu Arimba dengan diiringi beberapa pengawal pilihan meninggalkan negara Pringgandani. Dadanya gemuruh karena kemarahan. Akibatnya matanya memerah dan kedua tangannya bergetar. Para pengawal tahu bahwa raja Arimba sedang dalam keadaan marah besar, dan jika tidak hati-hati dalam melayaninya, sedikit saja membuat kesalahan akan berakibat fatal.

Di hutan Waranawata, Arimbi merasa cemas. Ia tahu bahwa kakaknya akan sangat marah mendapat laporan utusannya, bahwa Arimbi telah jatuh hati kepada musuhnya. Maka dari itu, sebelum Arimba sampai di tengah hutan, tempat Kunthi dan anak-anaknya berada, Arimbi menyonsong kakanya di pinggir hutan. Benarlah apa yang perkirakan Arimbi, dari kejauhan ia melihat kakaknya yang diikuti beberapa pengawalnya menampakkan kemarahannya. Maka dari itu, sebelum Prabu Arimba melampiaskan kemarahannya, Arimbi mendahuluinya memeluk kakinya. Sembari menangis, Arimbi memohon belaskasihan kepada Prabu Arimba.

“Dhuh Kakanda Prabu, pada siapa lagi aku sesambat kalau bukan kepada Kakanda Prabu yang menjadi silih orang tuaku. Jikapun aku harus mendapat hukuman, hukumlah aku karena aku telah mengkianati Sang Raja. Bahkan jikapun aku harus dihukum mati, aku rela menerimanya. Namun sebelumnya aku akan mengatakan dengan sejujurnya bahwa aku sebagai wanita yang sudah dewasa, sedang jatuh cinta kepada seseorang. Rasa kasmaran itu tiba-tiba menyergapku. Dan aku tak kuasa melepaskannya. Walau aku tahu bahwa ia yang telah membuatku jatuh cinta tersebut adalah musuh kita. Kakanda Prabu salahkah aku?”
Dada Prabu Arimba naik turun, nafasnya tidak beraturan. Kemarahannya yang sudah mencapai puncak dicoba untuk ditahan. Sebetulnya dilubuk hati yang paling dalam, Prabu Arimba sangat menyayangi satu-satunya adik perempuannya. Sepeninggal ayahnya Prabu Tremboko, Prabu Arimba yang kemudian naik tahta menyadari perannya sebagai pengganti orang tuanya. Maka ketika Arimbi mengingatkan peran yang seharusnya diemban, kemarahan Prabu Arimba berangsur-angsur mereda. Air mata Arimbi yang membasahi kaki Prabu Arimba merambat naik dan menyiram dada yang panas gemuruh.

Walaupun dada masih tetap membusung dan kedua tanganya masih berkacak pinggang, tatapan mata Prabu Arimba mulai merunduk. Dipandanginya adiknya yang masih menangis memeluk kakinya. Pelan-pelan rasa iba telah menyusup di hatinya. Ia menyadari, bahwa adiknya telah tumbuh menjadi dewasa, tanpa ditunggui orang tua, dan sekarang sedang jatuh cinta. Jika saja prabu Tremboko masih hidup alangkah senangnya dia. Namun gara-gara Pandu ia terpaksa meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Tiba-tiba Prabu Arimba berteriak lantang, “Bangsat Pandudewanata, engkau telah memisahkan aku dan adik-adikku dengan ayahku. Terkutuklah engkau dan keturunanmu. Rama Prabu Tremboko, akan aku habisi hari ini keturunan Pandu, agar engkau berdiam di alam baka dengan damai..

Prabu Arimba lari meninggalkan Arimbi, masuk hutan ingin membinasakan keturunan Pandu. Belum jauh Prabu Arimba meninggalkan Arimbi, Bimasena menghadang di jalan. Prabu Arimba terkejut dengan keberanian orang ini. Apakah ini yang bernama Bimasena. Jika benar ini adalah Bimasena, pantas jika adiknya jatuh cinta kepadanya.

Sebelum terjadi perang tanding diantara keduanya, Arimbi telah menyusul dan mengatakan kepada Arimba bahwa itu adalah Bimasena, dan memohon agar sang Prabu tidak membunuhnya.

Jeritan Arimbi yang melaranganya agar kakaknya tidak berperang kepada Bimasena, justru membakar hati Arimba untuk segera menghabisi Bimasena. Dengan tenaga yang berlebih, Arimba menerjang Bimasena. Sejenak kemudian terjadilah perang tanding yang hebat.


Perang tanding yang dahsyat antara Bimasena dan Prabu Arimba berlangsung dipinggiran hutan Waranawata, disaksikan oleh Arimbi dan para perajurit pengawal dari Pringgandani. Dalam perang tersebut Prabu Arimba dan Bimasena saling mengeluarkan kesaktiannya. Daya kesaktian diantara keduanya sampai menimbulkan debu tanah yang bergulung-gulung, laksana awan mendung. Beberapa kali terjadi suara ledakan keras, menggoncang beberapa ranting pohonan yang berada disekitarnya. Akibatnya merontokan sebagian daun dan ranting pohon di hutan tersebut.

Melihat pertempuran yang kian sengit, Arimbi semakin cemas. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Ia kawatirkan jika salah satu diantaranya cidera atau bahkan mati. Oleh karenanya tak henti-hentinya ia berteriak, memohon agar peperangan dihentikan. Namun teriakan-teriakan Arimbi tak ada yang menghiraukannya. Perang tanding terus berlangsung. Bahkan semakin dahsyat.

Mereka yang menyaksikan terpaksa menjauhi arena perang tanding. Kecuali Arimbi yang tidak mau beranjak dari tempat semula. Ia begitu dekat dengan mereka yang berperang. Ia tidak mempedulikan dirinya sendiri. Ia lebih mencemaskan yang sedang berperang tanding. Baik itu Arimba maupun Bimasena.
Setelah peperangan berjalan beberapa lama, tiba-tiba Bimasena terlempar keluar arena, dibarengi suara tawa yang menggelegar-glegar. Arimbi segera mendekatinya, ditangisinya tubuh Bimasena yang tergeletak lemas di tanah. Ia tahu bahwa tenaga Bima telah tersedot habis oleh ilmu andalan yang dimiliki kakaknya.


Arimbi tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan terhadap Bima untuk memulihkan tenaganya. Namun ia tidak tega membiarkannya tubuh Bimasena tergeletak sendirian. Dikipasinya Bimasena yang pucat pasi tak sadarkan diri.

Arimba memandangi adiknya, yang sedang menunggui musuhnya dengan setia. Ada rasa iba dihatinya. Adiknya memang benar benar jatuh cinta kepada Bimasena. Disadarinya bahwa, ada kuasa dari atas yang menghendaki benih cinta itu bersemi di hati adiknya, dengan tanpa dapat ditolaknya.

Diakui pula bahwa Bimasena bukan orang sembarangan. Tubuhnya yang tinggi perkasa menjadi ideal jika berpasangan dengan raseksi Arimbi. Demikian pula wajahnya dan kesaktiannya, pantaslah jika adiknya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Namun sayang, bagi Arimba pesona Bimasena tidaklah mampu menutup luka batin karena gugurnya Ramanda Prabu Tremboko dari tangan Pandu.ayah Bimasena. Masih tergambar jelas peristiwa puluhan tahun lalu, ketika Pandudewanata yang kala itu menjadi raja di Hastinapura, mengirim surat tantangan kepada Ramanda Prabu Tremboko. Pada hal yang ia ketahui bahwa, Prabu Pandudewanata adalah sahabat Ramanda Prabu Temboko.

Walaupun Ramanda Prabu Arimba masih meragukan kebenaran surat tantangan tersebut, Prabu Pandudewanata dan para perajurit terbaiknya telah menggempur Pringgandani menyusul Patihnya, Gandamana yang lebih dahulu menyerang Pringgandani.

Perang yang tidak jelas penyebabnya pun akhirnya terjadi. Dan bahkan menjadi perang yang sangat hebat, antara dua negara besar yaitu Hastinapura dan Pringgandani. Dalam catatan sejarah perang besar tersebut dinamakan dengan Perang Pamukswa.

Di dalam perang Pamukswa itulah Rama Prabu Tremboko Gugur di tangan Pandudewanata. Aku sangat terpukul karenanya. Sebagai anak tertua aku harus bertanggungjawab atas kerusakan bangunan negara Pringgandani, serta para perajurit yang tercerai berai dan menjadi korban. Dalam kondisi yang belum siap, sembari melakukan pembenahan di sana-sini, Ibunda Ratu menyarankan agar aku menduduki tahta Pringgandani.

Maka tidak lama dari waktu gugurnya Prabu Tremboko, aku naik tahta disaksikan oleh seluruh kekuatan Pringgandani yang masih tersisa. Dalam acara resmi penobatanku, aku berjanji akan mengadakan perhitungan dengan Pandudewanata. Tepuk tanganpun bergemuruh mendukung tekadku.

Kini aku telah berhadapan dan berperang tanding dengan keturunan Pandu, dan sekarang ia dalam tak berdaya dihadapanku. Jika aku berniat membunuhnya, ibaratnya tinggal membalikan tangan. Tetapi aku tidak mau melakukannya. Karena jika aku lakukan, artinya aku tidak berwatak kesatria. Walaupun wujudku adalah raksasa, di dalam hatiku telah terpatri watak kesatria yang diajarkan dan diteladankan oleh Ramanda Prabu Tremboko. Maka aku akan menunggu kekuatan Bimasena pulih, dan kembali bertanding denganku.
Bimasena anak nomor dua yang lahir dari Ibunda Kunthi tersebut sesungguhnya bukanlah anak Pandudewanata. Ia adalah anak dari Dewa Bayu. Dewa yang berkuasa atas angin. Berkaitan dengan hal tersebut, secara tidak sengaja apa yang dilakukan oleh Arimbi untuk memulihkan tenaga Bimasena dengan cara dikipasi adalah tepat. Karena melalui angin yang menerpa wajah Bima, Dewa Bayu telah membelai putranya dan memulihkan tenaganya.

 Maka sebentar kemudian, setelah Arimbi mengipasi Bima, kekuatannya pulih kembali seperti semula, dan bahkan menjadi semakin segar. Bimasena kemudian meloncat untuk menghampiri Prabu Arimba.


 Berkat pertolongan Arimbi tubuh Bima yang lunglai karena tersedot oleh limu Arimba telah pulih kembali. Ia bangun dan menghampiri Arimba. Kini keduanya siap melanjutkan perang tanding. Sebentar kemudian perang tanding babak kedua terjadi. Lagi-lagi tenaga Bima cepat menyusut, sedangkan tenaga Arimba malah semakin bertambah.

Arimbi dapat memahami apa yang dilakukan Arimba kakanya, bahwa untuk menghadapi lawan setangguh Bima tiada pilihan lain kecuali mengeluarkan ilmu andalan Pringgandani yang khusus diwariskan kepada pemegang tahta. Ilmu andalan tersebut mempunyai daya sedot tenaga lawan. Proses penyedotan berlangsung pada saat terjadi benturan badan. Maka semakin sering dan semakin cepat badan beradu, akan semakin cepat pula tenaga tersedot.

Demikian yang terjadi pada diri Bima, tenaganya cepat menyusut tanpa diketahui penyebabnya. Hanya beberapa saat setelah perang tanding babak ke dua berlangsung, Bima sudah kehabisan tenaga. Ia tak mampu lagi melanjutkan perang tanding. Ia heran dengan apa yang terjadi pada dirinya. Semakin ia bernafsu melumpuhkan lawannya, semakin cepat tenaganya hilang.

Kesedihan menggumpal di hati Bima. Sedhih bukan karena ia takut kalah dan takut mati, melainkan ia meratapi mengapa dirinya tidak mampu berbuat banyak.

Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mencoba berteriak memberi khabar kepada Ibu dan saudara-saudaranya, untuk pamit mati. Namun dikarenakan tenaganya sangat lemah, tidak ada teriakan, yang ada adalah rintihan kekalahan yang hampir tak terdengar.
“Ibu Kunthi aku kalah. Aku pamit mati. Anakmu tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kunthi Ibuku aku mohon ampun, Punta kakakku dan adik-adikku maafkan aku.”
Matahari di ujung kulon semakin redup sinarnya. Sebentar lagi ia akan masuk keperaduan. Seakan-akan ia sengaja meninggalkan Bimasena karena tak sampai hati melihat orang terkuat di Pandhawa itu jatuh dalam ketidak berdayaan.

Sementara itu, Arimba yang melihat Bima tidak berdaya, hanya tertawa ringan. Ia tidak melakukan tindakan apapun juga terhadap lawannya yang sudah tidak berdaya. Arimba masih mencoba menghidupi jiwa kesatrianya, seperti yang diteladankan ayahnya Prabu Tremboko. Ia meninggalkan musuhnya dalam ketidak berdayaan, untuk memberi kesempatan memulihkan tenaganya.

Malam merambat pelan, sayup-sayup terdengar kidung pilu ditengah gulitanya hutan. Kunthi Puntadewa, Arjuna dan si kembar Nakula Sadewa berada dalam kecemasan. Mereka menanti Bima yang tak kunjung datang. Arjuna diutus menerobos lebatnya pepohonan dalam malam yang pekat, untuk menemukan Bima.
Pada waktu yang bersamaan dengan usaha Arjuna mencari Bima. Arimbi mendekati Bima dengan hati-hati. Disadarinya bahwa Bima tidak menyukai dirinya, membenci raut mukanya yang berparas raseksi. Namun Arimbi tahu bahwa Bima tak kuasa mengusirnya atau bahkan meninggalkan dirinya. Seperti ketika dikipasi dengan daun jati, Bima hanya pasrah.

Setelah berada disamping Bima, Arimbi melakukan hal yang sama, seperti yang pernah dilakukan sebelumnya, yaitu mengipasi wajah Bima. Karena dengan cara demikian tenaga Bima cepat pulih. Walaupun Arimbi heran, mengapa semudah dan secepat itu tenaga Bima pulih, ia tidak menemukan jawabannya.
Tidak seorangpun tahu kecuali Bima, bahwa pada saat Arimbi meniupkan anginnya ke wajah Bima melalui kipas, Dewa Bayu, datang bersamaan semilirnya angin malam, mengusap tubuh Bima sehingga menjadi kuat dan segar.

Bima segera meloncat berdiri dan siap untuk bertempur. Namun hari telah gelap, dan Arimba musuhnya tidak ada di depannya, yang ada hanyalah Arimbi si raseksi yang ia benci. Segeralah Bima meninggalkan tempat itu untuk menghindari Arimbi yang menjijikan.

Bima ingin menemui Kunthi dan saudara-saudaranya, sembari menunggu mentari pagi untuk meneruskan perang tanding melawan Arimba. Disepanjang langkahnya, Bima mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi pada saat berperang tanding melawan Arimba? Ia heran mengapa tenaganya cepat menjadi susut? Namun Bima tidak menemukan jawabannya.

Belum jauh Bima meninggalkan Arimbi yang diam tak bergerak, bertemulah ia dengan Arjuna adiknya, keduanya berlangkulan lega. Untuk kemudian bersama-sama menuju ke tempat Ibu Kunthi dan saudara-saudaranya berada.

Diwaktu yang sama Arimbi menemui kakaknya Prabu Arimba di kemah pinggir hutan.

“Kakanda Prabu, tidak lebih baikkah jika Kakanda berdamai dengan Bimasena.?” Prabu Arimba tidak segera menjawab. Hatinya sesak dan marah terhadap pertanyaan Arimbi. Bukankah adiknya tahu bahwa ketika upacara wisuda raja, aku bersumpah dihadapan rakyat Pringgandani, bahwa aku akan menagih hutang nyawa kepada Pandudewanata.

“Aku masih ingat, pada waktu penobatan raja, Kakanda berjanji akan mengadakan perhitungan hanya dengan Pandudewanata, tidak kepada anak-anaknya. Bimasena adalah anaknya. ia tidak berdosa, berdamailah dengannya Kakanda”

Benar juga kata Arimbi. Bima tidak bersalah, ayahnya yang bersalah. Tetapi ayahnya sudah meninggal. Tidak mungkin mengadakan perhitungan dengan orang yang sudah mati. Yang mungkin dilakukan adalah mengadakan perhitungan dengan yang masih hidup. Dan wajarlah jika kesalahan dan dosa orang tuanya ditimpakan kepada anaknya. Seperti halnya kepopuleran, kehormatan dan nama baik orang tua, anaknyalah yang ikut merasakan keuntungannya.

“Arimbi aku sudah bersumpah akan mengadakan perhitungan dengan Pandudewanata. Dengan darahnya yang masih mengalir di dalam pribadi anak-anaknya. jika engkau lebih menyayangi Bimasena, berpihaklah kepadanya dan lawanlah aku.”

Arimbi menangis. Ia tidak dapat memilih diantara ke duanya. Ia menghormati dan mencintai Arimba sebagai pengganti orang tuanya. Tetapi ia jatuh cinta kepada Bimasena.
Arimba habis kesabarannya. Adik yang sesungguhnya ia cintai tersebut diusir dari hadapannya. Dengan terisak Arimbi meninggalkan Arimba. Arimba menatap kepergian Arimbi dengan dingin. Hingga gelap malam menelan bayangnya.

Tatkala pagi tiba, Arimbi sudah berada di halaman rumah kayu tempat Kunthi dan ke lima anaknya tinggal. Bima menampakan wajah gelap. Tidak senang atas kehadiran Arimbi. Maka kemudian Arimbi diusirnya. Kunthi merasa kasihan kepada Arimbi.

“Sena anakku, jangan memperlakukan sesamamu tidak dengan hormat dan merendahkan martabatnya. Kalau pun engkau tidak senang jangan begitu caranya.”

“Ibunda, sejak awal aku sudah mengatakan tidak senang, tetapi ia selalu membuatku risih dan jijik.”
Memang akhirnya Kunthi dapat ikut merasakan apa yang dirasakan Bima, maka disarankannya agar Arimbi untuk sementara menjauhi tempat itu.

Matahari belum begitu tinggi.Prabu Arimba bergegas mendatangi Bimasena untuk segera membinasakan.anak-anak Pandu. Gara-gara Arimbi, perang tak kunjung usai. Maka kali ini naluri raksasanya lebih diberi tempat jika dibandingkan dengan sifat kesatrianya. Dengan keganasannya ia ingin secepatnya membinasakan semua keturunan Pandu sebelum matahari sepenggalah.

Bima cukup terkejut dan belum siap mendapat serangan mendadak dari Prabu Arimba. Beruntung ia masih sempat menghindar kesamping dan menusukkan Kuku Pancanaka ke dada Prabu Arimba. Namun dada tersebut sangat ulet, tidak mampu ditembus Kuku Pancanaka. Arimba tak mau melepaskan lawannya, segera ia menyusul dengan serangan berikutnya

Perang dahsyatpun terjadi lagi. Mereka saling serang dan masing-masing berusaha untuk menjatuhkan lawannya. Kunthi, Puntadewa, Harjuna, Nakula dan Sadewa, termasuk juga Arimbi cemas dibuatnya. Sedangkan para pengawal Pringgandani. tenang-tenang saja. Bahkan sesekali diantara mereka melempar senyum ejekan kepada kubu Bimasena.

Arimba mulai mengetrapkan ajian andalannya, maka setahap demi setahap tenaga Bima tersedot. Semakin banyak tenaga yang dikeluarkan semakin banyak pula tenaga yang tersedot.

Perang tanding antara Prabu Arimba dan Bimasena tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan perang tanding sebelumnya. Ketika Prabu Arimba mulai mengetrapkan ajian andalanya yang dapat menyedot tenaga lawan, maka kekuatan Bimasena susut dengan cepat. Tidak hanya itu, selain dapat menyedot tenaga lawan, ajian andalan Prabu Arimba menjadikan kulitnya alot seperti janget, tidak luka oleh segala macam senjata tajam, termasuk juga kuku Pancanaka.

Bima menyadari bahwa lawannya mulai mengetrapkan ajian andalannya, yang dapat mencuri tenaga lawan dengan tidak diketahui dan dirasakan oleh lawannya. Dua kali Bima menjadi korban ajian tersebut, sehingga ia kehabisan tenaga di peperangan. Untunglah, pada saat itu Arimba tidak mengabiskan Bima pada saat Bima tak berdaya. Namun untuk perang tanding yang ke tiga ini, jauh berbeda dengan perang tanding sebelumnya. Prabu Arimba tidak lagi menampakkan sifat kesatrianya, tetapi menonjolkan naluri raksasa yang ganas. Sepak terjangnya tidak lagi tenang dan mantap, tetapi kasar dan nagwur. Maka jika kali ini Bima sampai kehabisan tenaga di peperangan, pastilah Arimba akan melumatkannya. Bima tidak mau jatuh di peperangan melawan Arimba untuk ke tiga kalinya. Oleh karenanya Bima telah mempelajari bagaimana cara menghadapi ilmu andalan Prabu Arimba, yaitu dengan mengurangi sentuhan langsung dengan badan Arimba. Terlebih pada saat mengeluarkan tenaga besar, karena tenaga yang akan tersedot juga besar.

Selain mengurangi benturan langsung, Bima mengetrapkan ajian Angkusprana, angkus artinya kait dan prana artinya nafas atau angin. Dengan mengetrapkan aji angkusprana, Bima dapat mengkait dan menghimpun kekuatan angin dari Sembilan saudara tunggal bayu termasuk dirinya, yaitu: Dewa Bayu, Dewa Ruci, Anoman, Wil Jajagwreka, Gajah Situbanda, Naga Kuwara, Garuda Mahambira, dan Begawan Mainaka. Sembilan kekuatan angin yang dihimpun menjadi satu, membuat tenaga Bima mampu bertahan dan mengimbangi aji andalan Arimba. Sehingga perang tanding semakin panjang dan rame. Namun satu hal yang menggelisahkan Bima, bahwa Prabu Arimba tidak dapat luka oleh kuku pusaka Bimasena.

Menjelang tengah hari, Prabu Arimba meningkatkan serangannya dan sangat berambisi untuk segera menghabisi Bima. Bima kesulitan membendung serangannya dan mulai terdesak. Hantaman, tendangan dan gigitan acap kali menghampiri tubuh Bima. Hingga pada akhirnya Prabu Arimba berhasil menguasai Bimasena. Pada saat Bima akan dihabisi, tepat matahari bertahta pada puncaknya, Arimbi berteriak nyaring

“Bima! Tusuk pusarnya!!”

Keduanya sama-sama terkejut. Arimba memandang adiknya dengan ekspresi kemarahan. Jahanam Arimbi! engkau bocorkan titik kelemahanku. Sehabis hatinya mengumpat adiknya, Arimba memandang ke langit, kearah matahari yang persis berada di atas kepalanya. Pada saat itulah, Bima yang berada dalam cengkeramannya memanfaatkan kesempatan. Kuku ditangan Bima modot, muncul keluar dan segeralah ditusukkan di pusar Arimba. Raja raksasa sebesar anak gunung menggerang keras.. Bima kemudian menarik kukunya dan menjauhi lawannya.

Pusar Arimba menganga karena luka. Ia berjalan sempoyongan mendekati Arimbi adiknya. Bumi bergetar-getar karena langkahnya yang berat. Arimbi sangat kecemasan. Ia menanti dan pasrah apa yang akan dilakukan kakaknya, untuk menebus kesalahannya. Kunthi juga mencemaskan keselamatan Arimbi dan memberi isyarat kepada Arjuna untuk waspada. Semua mata tertuju kepada Arimba yang semakin gontai mendekati Arimbi.

Ketika tepat berada di depan Arimbi, raja Raksasa yang tinggi besar tersebut jatuh bertumpu pada dua tangan dan lututnya. Dugaan mereka yang mengamati peristiwa itu meleset. Prabu Arimba tidak menumpahkan kemarahannya kepada Arimbi. Dengan nada berat dan patah-patah ia berpesan kepada Arimbi, untuk menitipkan Negara Pringgandani dan merestui hubungannya dengan Bima yang sakti perkasa dan kesatria.

Tangis Arimbi memecah hutan Waranawata, mengiring gugurnya Kakanda Prabu Arimba, pengganti orang tuanya yang ia hormati dan cintai. Arimbi sangat bersedih, dirinya merasa berdosa, atas kepergian Kakanda Arimba ke alam keabadian

Siang hari itu, di saat matahari sedikit bergeser dari puncaknya, para pengawal Pringgandani membawa pulang rajanya yang sudah tidak bernyawa. Mereka tidak berani mengganggu Arimbi yang telah diwarisi kekuasaan Negara Pringgandani secara lesan oleh Prabu Arimba.

Sepeninggalnya para pengawal Pringgandani, Kunthi mendekati Arimbi, yang telah menyelamatkan nyawa Bimasena dan saudara-saudaranya. Sebagai tanda terimakasihnya, Kunthi membisikan mantra sakti ditelinganya. Dengan sepenuh hati Arimbi mendengarkan dan mngucapkan apa yang dibisikan Kunthi.
Sebentar kemudian keajaiban terjadi, Arimbi si raseksi perempuan berubah menjadi putri cantik, berkulit kuning langsat dengan postur tubuh yang tinggi besar. Naluri lelaki Bima terpana, ia mendekati Arimbi dan Arimbi pun segera menghaturkan sembah.

Semua mata memandang keduanya, dalam hati mereka berkata sungguh mereka adalah pasangan yang pantas dan ideal.

 Bima menundukkan kepalanya untuk menatap Arimbi yang bersimpuh menyembah dan memeluk kaki Bima. Raseksi Arimbi yang sudah menjelma menjadi seorang wanita nan cantik menawan mampu membuat Bima terpana. Jika menuruti nalurinya sebagai lelaki, Bima ingin membungkuk, memegang ke dua pundak Arimbi untuk diangkatnya dan kemudian dipeluknya erat-erat, agar payudaranya menghangatkan dadanya. Jika hal itu yang dilakukan, dapat dipastikan bahwa Arimbi bakal menyambut hangat pelukan Bima. Dikarenakan Arimbilah yang pada awal mula jatuh cinta kepada Bima.

Namun gejolak keinginan Bima tidak dengan serta merta dituruti. Sebagai seorang kesatria Bima berusaha untuk menjaga citranya. Maka dibiarkannya tangan Arimbi memeluk kakinya. Tidak seperti sebelumnya ketika masih berujud rakseksi, Bima merasa jijik dan selalu menghindari Arimbi.

Kunthi, Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa memandangi keduanya dengan perasaan senang. Dalam hati mereka sepakat bahwa pasangan Bimasena dan Arimbi merupakan pasangan yang serasi. Mereka juga bersyukur karena Bimasena tidak lagi membenci Arimbi yang telah banyak membatu Kunthi dan para Pandawa.
Arimbi merasa lega karena sembahnya diterima Bima. Titik terang mulai memancarkan harapan bahwa cinta Arimbi bakal diterima Bima. Ketika harapan mulai terbuka, Arimbi memberanikan diri untuk maju selangkah lagi dengan melakukan ngaras pada yaitu mencium kaki Bima. Ketika bibir Arimbi menyentuh kaki Bima, seluruh tubuh Bima bergetar, terutama detak jantungnya yang berdetak semakin cepat. Untuk menormalkan kembali detak jauntungnya, Bima memegang kedua pundak Arimbi, untuk di tarik ke atas, agar bibir yang basah bak delima merekah tidak lagi menempel dikaki Bima. Arimbi menuruti pundaknya diangkat Bima untuk berdiri berhadapan dengan Bima. Ke dua pasang mata saling menatap. Entah apa yang terbaca di palung hati mereka yang terdalam.

Hari-hari selanjutnya, Arimbi mengikuti penggembaraan Kunthi dan Pandawa di hutan Waranawata. Hubungan Arimbi dan Bima semakin intim. Kunthi mencoba membaca perasaan anak-anaknya selain Bima, terutama Puntadewa, apakah ada sesuatu yang mengganjal dihatinya melihat semakin dekatnya hubungan Bima dan Arimbi.

Untuk memastikannya Kunthi menemui Puntadewa secara khusus.

“Puntadewa anakku, seperti yang kita lihat bersama bahwa pertemuannya Bima dan Arimbi bukan aku yang merencana. Demikian kedekatan mereka yang semakin dekat bukan pula karena aku.”

“Aku paham Ibunda Kunthi, bahwa semuanya itu telah diatur oleh Sang Hyang Widiwasa”

“Jika demikian tentunya engkau sebagai saudara sulung rela dan ikhlas seandainya adikmu Bima akan mempunyai dua isteri.”
“Sungguh Ibunda Kunthi aku rela dan ikhlas.”
Kunthi lega mendengar pernyataan Puntadewa, walaupun dibalik kelegaan ada rasa kasihan terhadap Puntadewa.
Hari berikutnya seluruh anggota keluarga termasuk Arimbi dikumpulkan oleh Kunthi. Hal tersebut dilakukan demi membicarakan hubungan Bima dan Arimbi. Pada kesempatan tersebut Kunthi menghendaki agar hubungan antara Bima dan Arimbi diresmikan menjadi suami isteri. Mengingat bahwa diantara keduanya telah terjalin benang asmara yang sedang bertumbuh, saling mengikat dan saling membutuhkan, sehingga jika dipisahkan akan melukai keduanya.

Semua saudara Bima menyetujui kehendak ibu Kunthi. Maka segera setelah memilih hari yang baik bagi pasangan Bima dan Arimbi, mereka diresmikan sebagai suami isteri dengan selamatan yang sederhana.
Perkawinan Bima dengan Arimbi yang adalah bangsa raksasa menyusul perkawian Bima dengan Nagagini yang adalah bangsa ular merupakan wujud bahwa Pandawa Lima bisa manjing ajur ajer, luluh menjadi satu dengan semua golongan manusia. Bima kesatria yang gagah perkasa patuh, sederhana, berani, sakti, dan jujur memang pantas menjadi idaman banyak wanita. Oleh karena kejujuran dan kesederhanaannya Bima tak pernah berpikir yang macam-macam, tak pernah menolak dengan apa yang memang sudah menjadi tugasnya dan kewajibannya.. Hidup ini dijalaninya dengan apa adanya, mung saderma nglakoni hanya sebatas menjalani saja, karena sudah ada yang mengatur. Bagaikan air, Bima mengalir begitu saja sesuai dengan kehendakNya. Oleh karenanya ketika dipertemukan dengan Arimbi yang cantik Bima tak kuasa menolaknya.

Dengan pemahaman tersebut Bima tidak merasa bersikap kurang ajar terhadap Puntadewa kakaknya yang telah dua kali dilangkahi. Bima juga tidak merasa mengkianati Nagagini pada saat ia bercengkerama dengan Arimbi.

Sedangkan dipihak Arimbi Bima adalah segalanya. Hidup bersanding dengan Bima ibarat kejatuhan bulan di saat purnama, mendapat keberuntungan penuh. Oleh karenanya Arimbi tega mengorbankan Arimba Kakaknya demi cintanya kepada Bima.

Namun walaupun Arimbi telah bahagia bersanding dengan pujaan hati, hatinya sedih juga saat mengingat gugurnya Arimba yang sangat menyayangi dirinya. Sesungguhnya Arimbi tidak rela kalau dianggap membunuh kakanya melalui kekasihnya. Yang dilakukan adalah membela yang lemah tak berdaya. Jika akhirnya yang terjadi adalah kematian Kakaknya, itu sungguh diluar perhitungannya. Arimbi tahu bahwa jika Prabu Arimba ditusuk pusarnya ia akan lemas untuk sementara sehingga Bima dapat melepaskan cengkeramannya. Namun ia tidak tahu bahwa pada saat Arimbi berteriak “tusuk pusarnya” tepat pada saat bedug tengange, saat mata hari berada persis dipuncak ketinggian. Saat itulah kulit Arimba menjadi lunak seperti gethuk dan dengan mudah dikoyak dengan benda tajam. Dengan pembenaran tersebut Arimbi memperoleh keringanan beban hatinya.

Beberapa bulan berlalu, Bima dan Arimbi menjalani masa bualan madu.

“Kakanda Bima aku sunguh bahagia karena benih dari buah cinta kita berdua telah tumbuh di rahimku. Aku mendambakan anak laki-laki, agar nantinya dapat mewarisi Negara Pringgondani. Apakah Kanda Bima setuju?” tanya Arimbi manja. Bima menganguk-angguk sembari membetulkan posisi duduknya, agar Arimbi tidak jatuh dari pangkuannya. Angin hutan meniup perlahan mengusap sekujur tubuh mereka yang berpasihan.

Kidung Malam
Herjaka HS

Posting Komentar untuk "Bima, Arimbi dan Arimba"